Korban
Pendaki
Rinjani Dievakuasi
Selong
(Suara NTB) -
Lima dari
tujuh
orang mahasiswa
pendaki
Gunung Rinjani yang
tewas,
hingga
pukul 20.00 Wita
Senin (12/3)
kemarin
berhasil dievakuasi
tim SAR.
Sementara
dua
korban lainnya
hingga
berita ini
ditulis
belum dapat
dievakuasi
lantaran
sulitnya
medan
dan
buruknya cuaca.
Pemantauan
Suara NTB,
Senin
kemarin menunjukkan
angin
kencang dengan
hujan
deras yang disertai
petir
menambah suasana
di
sekitar pos Taman
Nasional
Gunung
Rinjani (TNGR) cukup
dramatis.
''Di
Pelawangan,
tempat
para korban
dievakuasi
cuaca
lebih buruk
lagi,''
kata Ketua
Harian SAR
Lotim Raisin
Hamdi.
Para
keluarga
korban yang
menunggu
di pos TNGR
tampak
makin khawatir.
Lima korban yang
berhasil
dievakuasi
dan
telah teridentifikasi
masing-masing Herman
Wadi,
warga Rensing,
Kecamatan
Sakra
Barat, Lotim, M.
Zainuddin,
warga
Desa Gelanggang,
Kecamatan
Sakra
Timur, Lotim,
Anwar
Sadat, warga
Mujur,
Lombok Tengah,
Andi
Yusuf, warga
Mispalah,
Lombok
Tengah dan
Siswadi,
warga
Benyer, Desa
Bagik
Papan, Lombok
Timur.
Dua
korban
lainnya masing-masing
M. Fauzi,
warga
Desa Korleko,
Lotim
dan Abyanuddin,
warga
Dasan Tapen,
Apitaik,
Lotim
masih dalam
proses
evakuasi. ''Kemungkinan
kami
bisa mengevakuasi
mayat
dua korban
pada
Selasa dini
hari
nanti (hari
ini, red),''
kata Raisin. Para
korban yang
telah
dievakuasi langsung
diperiksa
oleh
tim
kesehatan
di
Puskesmas Sembalun.
Menurut
Kapolres
Lotim AKBP Drs.
Guruh
Achmad Fadianto yang
langsung
mengkoordinasikan
evakuasi
para
korban di
lapangan,
tidak
ditemukan adanya
tanda-tanda
kekerasan
pada
tubuh korban.
Hanya
saja, masih
dipertanyakan
soal
keberadaan mayat
para
korban di
Pelawangan yang
terletak
agak
berjauhan satu
sama
lainnya.
Bahkan
berjarak
sekitar 50 meter
antara
mayat yang satu
dengan
lainnya.
Para korban
yang merupakan
mahasiswa
Mabhad
Darul Quran
Wal
Hadits (MDQ), STIK dan
IAIH pada
Universitas
Syeikh
Zainuddin (Unisaz),
Anjani
itu adalah
pendaki
pemula yang dikabarkan
baru
pertama kali mendaki
Rinjani.
''Perlengkapan
pendakian
tidak
mereka bawa,''
kata
Kepala TNGR Ir. M. Arief
Toengkagie.
Lagipula,
mereka
tak melaporkan
pendakiannya
ke pos TNGR.
''Kalau
mereka
melapor ke pos TNGR,
maka
kita akan
melarang
pendakian,''
katanya,
mengingat
cuaca
buruk yang sering
muncul
sejak dua
bulan
terakhir.
Bahkan,
delapan
orang mahasiswa
dari IPB
dan
Unram ditambah
seorang porter
dipanggil
kembali
untuk turun
saat
kelompok pendaki
tersebut
baru
sampai
Pos
I. ''Kita tak
mau
resiko lebih
banyak
lagi,'' kata
Arief.
(038)