Korban
Lumpur Blokir
Jalan
dan Rel
KA
Sidoarjo
(Bali Post)
Untuk
kesekian
kalinya,
Jalan
Raya Porong
dan Rel
Kereta
Api di KM 33+800
diblokir
ratusan
warga korban
lumpur
Senin (12/3) kemarin.
Akibatnya,
polisi
terpaksa melewatkan
mobil,
sepeda motor dan
kendaraan
kecil
lainnya melalui
jalan
tikus.
Sedangkan
kendaraan
besar
dari arah
Surabaya -
Porong
terpaksa harus
dibelokkan
dan
harus melewati
Krian -
Mojosari - Gempol.
Begitu
pula sebaliknya.
Akibatnya,
jalur
Surabaya
-
Malang
lumpuh total.
Tidak
hanya
itu, ratusan
warga
dari Perum TAS I yang
kini
menghuni pengungsian
di
Pasar Baru
Porong/PBP
berbuat
nekat.
Mereka
menutup
rel kereta
api/KA
di KM 33+800 kawasan
Porong
dengan tumpukan
glangsing yang
diisi
sirtu atau
karung
pasir dan
bongkahan
batu
besar sekitar
pukul 14.20 WIB.
Akibatnya,
perjalanan KA
jurusan
Surabaya
-
Malang
dan
Surabaya
- Banyuwangi
juga
lumpuh.
Kasi
Jalan
Rel Resort 85 Malang,
Sudarsono,
mengatakan,
ada
delapan kereta
api
mengangkut
penumpang,
barang
dan BBM dipastikan
tidak
bisa berangkat.
''Bagaimana
mau
berangkat, rel KA
di KM 33+800
ditutup
warga dengan
batu
dan glangsing,''
katanya.
Selain
menutup
rel KA dengan
glangsing
dan
bongkahan batu
besar,
kata Sudarsono,
puluhan
warga korban
lumpur
juga menggelar
aksi
duduk di
rel.
Akibatnya, jalur KA
yang melintasi
Porong
tidak bisa
lewat.
Sedangkan
jalan
Raya Porong (dua
jalur-red) yang
menghubungkan
Surabaya -
Malang (PP)
dipenuhi
pengunjukrasa.
Bahkan,
mereka
bergiliran menggelar
orasi
ditengah jalan
Porong
sekitar 5 meter dari
tanggul Lumpur
Lapindo yang
berbatasan
langsung
dengan
rel KA dan
jalan
Raya Porong
itu.
Jubir
pengunjukrasa,
Pujiono,
mengatakan,
aksi
blokade Raya
Porong
akan
berlangsung
seterusnya
sampai
tuntutan dipenuhi
Timnas
dan Lapindo. ''Warga
sudah
susah
karena
jadi korban
lumpur.
Kenapa
pemerintah
dalam
hal ini
Timnas
dan Lapindo
masih
menawar dengan
memberi
relokasi plus-plus.
Apapun bentuknya,
selain cash and carry
akan
kami
tolak,'' kata
Pujiono,
dengan nada
tinggi.
Dalam
rapat
terbatas yang dipimpin
Presiden
Susilo
Bambang Yudoyono,
pekan
lalu, pemerintah
tidak
menggubris tuntutan
cash and carry.
Tetapi
masih
menawar dengan
pola
memberikan ganti
rugi
berbentuk relokasi
plus-plus. Dan Bupati
Sidoarjo,
Wien
Hendarso, diberi
tugas
untuk mendekati
korban
lumpur sekaligus
mensosialisasikan
keputusan
relokasi plus-plus.
Namun,
keputusan
itu
ditolak mentah-mentah
oleh
warga. (059)