kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Wage, 13 Maret 2007

 Bali


DARI WARUNG GLOBAL

Pembuat Kebijakan hanya Pikirkan Perut Sendiri
 

NEGARA kita dibanggakan sebagai negara agraris, yang semestinya tidak sampai bermasalah dengan yang namanya ketersediaan pangan. Namun, kenyataannya kita rakyat Indonesia berada di ambang krisis pangan. Bagaimana tidak, kini kita telah impor beras. Ada apa dengan kebijakan pemerintah? Jika kita lihat masyarakat kecil, apalagi petani, mereka jauh dari sejahtera. Itu terlihat dari berbagai usaha yang dilakukan untuk bertahan sebagai penyedia pangan. Mereka tertindas dengan biaya produksi yang tinggi, mulai dari bibit mahal, pupuk mahal, biaya traktor, obat-obatan, biaya jemur, angkut, giling dan biaya tetek bengek lainnya. Berapakah sesungguhnya pendapatan mereka? Sungguh sangat menyedihkan. Sementara sang pembuat kebijakan rupanya hanya memikirkan perutnya sendiri. Pemerintah memang gagal, bahkan gagal besar. Itulah opini yang muncul dalam acara Warung Global yang disiarkan secara langsung oleh Radio Global 96,5 FM, Senin (12/3) kemarin. Acara ini juga dipancarluaskan oleh Radio Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.

--------------------------------

Sinda di Denpasar menggambarkan kinerja pejabat sekarang semuanya seperti film Discovery Channel kalau ada seekor kijang mati dimakan harimau maka sisanya dimakan burung. Demikianlah kerjanya mereka yang hanya berebut untuk urusan perutnya sendiri. Konsep apa yang mereka sodorkan untuk masyarakat? Yang ada hanya ketika beras langka dilakukan operasi pasar.

Gede Biasa di Denpasar menilai sudah terbukti dengan adanya proyek impor beras; suatu bukti pemerintah gagal dalam suatu penanganan. Di mana pemerintah sekarang orientasinya ilmu dagang. Di segala aktivitasnya yang dilakukan kalau tidak ada untungnya untuk golongan atau pribadi tidak ada yang mau rugi. Jadi memang politik daganglah yang digunakan, sedangkan negara ini terbentuk dari negara kesatuan yang perekonomiannya diatur dengan perekonomian kerakyatan.

Adnyana di Pedungan memaparkan sejak reformasi semuanya hampir gagal atau gagal. Kalau dari segi politik mereka berhasil berkuasa, namun dari sisi policy-nya tidak ada yang benar sehingga beginilah akibatnya semua.

Menurut Mursi di Denpasar, kalau pemerintah dibilang gagal sebenarnya tidak. Ini terbukti pemerintah bisa menyediakan beras walaupun impor. Tetapi gagal membuat rakyatnya mencari uang atau kesejahteraan petani yang mereka tidak perhatikan.

Marbun di Nusa Dua menyatakan kalau sudah tidak menjabat baru berkomentar, kenapa tidak dulu bicara? Sekarang pemerintah ini gagal, karena begitu datang beras dari luar negeri langsung didrop di pasar sehingga harganya melambung. Semestinya jangan didrop di pasar, tetapi ke desa-desa. Kalau ke pasar maka otomatis harganya naik. Sekarang Indonesia sudah bergeser bukan negara agraris lagi tetapi negara dagang-dagangan.

Ngurah Setiawan di Mas, Ubud merindukan sosok seperti Pak Harto dan Menteri Penerangan Harmoko karena "menurut Bapak Harto harga beras semisal Rp 2.000, apabila ada yang tidak mengindahkan maka akan diamanken". Informasinya pasti sehingga masyarakat menjadi tidak bingung. Model seperti inilah penting untuk perberasan.

Sangging di Kemenuh berpendapat Indonesia adalah negara agraris, tetapi perubahan itu telah ada sekarang. Para pejabat mengimpor beras dengan harga-harga yang ditentukan ke pasar-pasar. Dia sangat setuju dengan kritikan bahwa negara Indonesia telah gagal dalam urusan pangan. Salah satu contoh dengan operasi pasar telah gagal pula menurunkan harga-harga beras itu sendiri. Karena ini masalah pangan bisa-bisa rakyat berontak karena masalah pangan. Jika 6 bulan lagi tetap begini rakyat bisa berontak karena pangan.

Anton di Klungkung menyatakan memang pemerintah gagal karena kalau kita tidak makan beras semisal gandum, sementara gandum pun kita impor. Jadi memang seharusnya dari pendidikan dulu dikondisikan bagaimana kita bisa memproduksi beras dengan baik dan lainnya dengan baik karena kalau kita lihat pangan yang kita makan hampir semuanya impor. Misalnya buah dan beras. Ini sangat menyedihkan. Yang tidak dimengerti kalau Vietnam saja negara kecil mampu ekspor sementara kita sering studi banding mana hasilnya? Padahal itu cara yang paling gampang meniru yang sudah berhasil. Sementara meniru yang berhasil saja kita tidak bisa. Sekarang pemimpin-pemimpin kita memang bukan ahli di bidangnya. Jadi kalau sudah tidak sesuai mereka turun saja. Carilah tenaga-tenaga yang mampu untuk mengurus negara ini.

* panca

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)