DARI WARUNG GLOBAL
Pembuat Kebijakan hanya Pikirkan Perut Sendiri
NEGARA
kita dibanggakan sebagai negara agraris, yang semestinya
tidak sampai bermasalah dengan yang namanya ketersediaan
pangan. Namun, kenyataannya kita rakyat Indonesia berada
di ambang krisis pangan. Bagaimana tidak, kini kita
telah impor beras. Ada apa dengan kebijakan pemerintah?
Jika kita lihat masyarakat kecil, apalagi petani, mereka
jauh dari sejahtera. Itu terlihat dari berbagai usaha
yang dilakukan untuk bertahan sebagai penyedia pangan.
Mereka tertindas dengan biaya produksi yang tinggi,
mulai dari bibit mahal, pupuk mahal, biaya traktor,
obat-obatan, biaya jemur, angkut, giling dan biaya tetek
bengek lainnya. Berapakah sesungguhnya pendapatan
mereka? Sungguh sangat menyedihkan. Sementara sang
pembuat kebijakan rupanya hanya memikirkan perutnya
sendiri. Pemerintah memang gagal, bahkan gagal besar.
Itulah opini yang muncul dalam acara Warung Global yang
disiarkan secara langsung oleh Radio Global 96,5 FM,
Senin (12/3) kemarin. Acara ini juga dipancarluaskan
oleh Radio Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.
--------------------------------
Sinda di Denpasar menggambarkan kinerja pejabat sekarang
semuanya seperti film Discovery Channel kalau ada seekor
kijang mati dimakan harimau maka sisanya dimakan burung.
Demikianlah kerjanya mereka yang hanya berebut untuk
urusan perutnya sendiri. Konsep apa yang mereka sodorkan
untuk masyarakat? Yang ada hanya ketika beras langka
dilakukan operasi pasar.
Gede Biasa di Denpasar menilai sudah terbukti dengan
adanya proyek impor beras; suatu bukti pemerintah gagal
dalam suatu penanganan. Di mana pemerintah sekarang
orientasinya ilmu dagang. Di segala aktivitasnya yang
dilakukan kalau tidak ada untungnya untuk golongan atau
pribadi tidak ada yang mau rugi. Jadi memang politik
daganglah yang digunakan, sedangkan negara ini terbentuk
dari negara kesatuan yang perekonomiannya diatur dengan
perekonomian kerakyatan.
Adnyana di Pedungan memaparkan sejak reformasi semuanya
hampir gagal atau gagal. Kalau dari segi politik mereka
berhasil berkuasa, namun dari sisi policy-nya tidak ada
yang benar sehingga beginilah akibatnya semua.
Menurut Mursi di Denpasar, kalau pemerintah dibilang
gagal sebenarnya tidak. Ini terbukti pemerintah bisa
menyediakan beras walaupun impor. Tetapi gagal membuat
rakyatnya mencari uang atau kesejahteraan petani yang
mereka tidak perhatikan.
Marbun di Nusa Dua menyatakan kalau sudah tidak menjabat
baru berkomentar, kenapa tidak dulu bicara? Sekarang
pemerintah ini gagal, karena begitu datang beras dari
luar negeri langsung didrop di pasar sehingga harganya
melambung. Semestinya jangan didrop di pasar, tetapi ke
desa-desa. Kalau ke pasar maka otomatis harganya naik.
Sekarang Indonesia sudah bergeser bukan negara agraris
lagi tetapi negara dagang-dagangan.
Ngurah Setiawan di Mas, Ubud merindukan sosok seperti
Pak Harto dan Menteri Penerangan Harmoko karena "menurut
Bapak Harto harga beras semisal Rp 2.000, apabila ada
yang tidak mengindahkan maka akan diamanken".
Informasinya pasti sehingga masyarakat menjadi tidak
bingung. Model seperti inilah penting untuk perberasan.
Sangging di Kemenuh berpendapat Indonesia adalah negara
agraris, tetapi perubahan itu telah ada sekarang. Para
pejabat mengimpor beras dengan harga-harga yang
ditentukan ke pasar-pasar. Dia sangat setuju dengan
kritikan bahwa negara Indonesia telah gagal dalam urusan
pangan. Salah satu contoh dengan operasi pasar telah
gagal pula menurunkan harga-harga beras itu sendiri.
Karena ini masalah pangan bisa-bisa rakyat berontak
karena masalah pangan. Jika 6 bulan lagi tetap begini
rakyat bisa berontak karena pangan.
Anton di Klungkung menyatakan memang pemerintah gagal
karena kalau kita tidak makan beras semisal gandum,
sementara gandum pun kita impor. Jadi memang seharusnya
dari pendidikan dulu dikondisikan bagaimana kita bisa
memproduksi beras dengan baik dan lainnya dengan baik
karena kalau kita lihat pangan yang kita makan hampir
semuanya impor. Misalnya buah dan beras. Ini sangat
menyedihkan. Yang tidak dimengerti kalau Vietnam saja
negara kecil mampu ekspor sementara kita sering studi
banding mana hasilnya? Padahal itu cara yang paling
gampang meniru yang sudah berhasil. Sementara meniru
yang berhasil saja kita tidak bisa. Sekarang
pemimpin-pemimpin kita memang bukan ahli di bidangnya.
Jadi kalau sudah tidak sesuai mereka turun saja. Carilah
tenaga-tenaga yang mampu untuk mengurus negara ini.
*
panca