kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 21 Pebruari 2007

 Bias bali


''Tri Sadhaka'', Konsep Spiritual Bukan Wangsa

Adanya pelinggih tiga Pandita Resi di Pura Penataran Agung Besakih seyogianya menjadi bahan renungan kita dalam menegakkan ibu pertiwi di Bali khususnya dan di dunia regional dan global umumnya. Mpu Beradah, Sang Hyang Siem dan Resi Markandia memiliki jasa besar dalam memberikan tuntunan kepada rakyat di Bali dalam membangun ibu pertiwi Bali sebagai wadah kehidupan umat manusia. Resi Markandia dalam Lontar Bhuwana Tattwa dan sumber-sumber lainnya memiliki andil yang cukup besar pada kemajuan Bali.

========================================================== 

Adanya Pura Besakih pada awalnya dalam rintisan Resi Markandia. Demikian juga adanya pertanian sistem subak dan desa dengan corak agrarisnya atas rintisan Resi Markandia. Demikian pula pendirian beberapa pura dengan nilai spiritual yang diaktualkan ke dalam sistem ritual dan sosial.

Beliau telah berjasa besar dalam menanamkan konsep Triji Ratna Permata sebagaimana diajarkan dalam Canakya Niti. Meskipun secara kognitif ajaran tersebut mungkin belum dikenal saat itu.

Tiga Ratna Permata itu adalah air, tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak. Tiga hal inilah yang amat dihargai dalam kehidupan sistem subak dan desa agraris rintisan Resi Markandia dari Waisnawa Paksa itu. Pertanian dengan sistem subak dan desa pakraman dengan corak desa agraris itu telah mendidik umat untuk demikian menghargai air, tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak tersebut. Hal ini terjadi karena pengabdian Resi Markandia-lah pada awalnya yang merintis.

Demikian juga kehadiran penganut Buddha Mahayana di Bali juga banyak meletakkan berbagai jasa, sampai kalau ada upacara besar harus juga dipimpin oleh Pandita Budha. Sesungguhnya ajaran Sidharta Gautama pada abad ke-4 sebelum Masehi di India bukan dimaksudkan untuk mendirikan suatu agama. Sidharta Gautama setelah mencapai kesadaran spiritual atau kesadaran budhi disebut Buddha.  

Kesadaran budhi yang beliau capai itulah diwartakan untuk memperbaiki keadaan saat itu. Keadaan saat itu dirusak oleh kesalahpahaman dalam mengamalkan ajaran Weda. Saat itu ada dua golongan penganut Weda yaitu Carwakas dan Titiyas. Untuk melepaskan diri dari ikatan nafsu menurut Carwakas dengan cara memenuhi setiap gejolak nafsu. Sedangkan menurut golongan Titiyas untuk melepaskan diri dari penguasaan nafsu, maka alat-alat nafsu itu harus disakiti sampai musnah. Pengumbaran hawa nafsu oleh golongan Carwakas dan penyiksaan alat-alat indria oleh golongan Titiyas menimbulkan rusaknya keadaan masyarakat penganut Weda saat itu.

Keadaan inilah yang diluruskan oleh Sidharta Gautama saat itu dengan tiga ajarannya yaitu Sila, Prajnya dan Semadi. Maksudnya berbuat baik dan benar (Sila) dengan dasar ilmu pengetahuan (Prajnya) serta konsentrasi pada kerja (Semadi). Tiga hal itulah awalnya yang diwartakan oleh Sidharta Gautama. Ajaran yang universal itu juga dianut oleh orang Bali sejak zaman dahulu. Ajaran ini banyak berjasa membuat orang menjadi tenang dan damai menapaki kehidupan di bumi ini. Demikian besar juga jasa-jasa agama dari Buddha Paksa di Bali.

 

Karena itu ada Pelinggih Sang Hyang Siem di Penataran Agung Besakih. Di tengah-tengah di antara Pelinggih Resi Markandia dan Sang Hyang Siem ada Pelinggih Mpu Beradah yang beragama Hindu dari Siwa Paksa. Mpu Beradah salah satu dari Panca Tirtha sudah amat dikenal oleh kalangan umat Hindu di Bali. Beliau adalah saudara dari Mpu Kuturan yang juga sebagai mpu yang amat besar jasa-jasanya dalam memajukan kehidupan sosial budaya dengan landasan spiritual keagamaan di Bali.

 

Mpu Beradah distanakan di Pelinggih Gedong atau Meru Tumpang Siki di Pura Penataran Agung Besakih. Tiga pandita tersebut berasal dari sekta atau paksa keagamaan Hindu yang berbeda-beda. Meskipun paksa keagamaannya berbeda-beda tetapi semuanya memiliki jasa yang cukup besar bagi Bali dalam artian keseluruhannya.

 

Tiga pandita tersebut distanakan di tiga pelinggih berjejer sejajar tidak ada yang tinggi rendah. Apa artinya warisan budaya spiritual leluhur orang Bali di Besakih itu. Tiga pandita tersebut bukan dimunculkan berdasarkan konsep kewangsaan. Pendirian tiga pelinggih untuk tiga pandita resi tersebut didasarkan pada kualitas spiritual.

 

Beliau berbeda-besa sekte atau paksa keagamaannya tetapi karena bijak dalam mengelola perbedaan maka perbedaan itu memberikan kontribusi yang amat bermakna bagi kemajuan Bali. Tentunya hal itu akan menjadi warisan yang bisu tanpa arti kalau peninggalan tersebut tidak diterjemahkan dalam konteks kekinian yang semakin pluralistis.

 

Dari perbedaan itu hendaknya kita ambil dari hasil akhirnya. Apa hasil akhir dari setiap unsur yang berbeda itu, apa ada memberikan kontribusi pada kehidupan yang sehat, kemajuan pendidikan dan kepedulian umat pada sesamanya. Kalau dari unsur yang berbeda-beda itu keluarannya sama yaitu dapat memberikan kontribusi pada kemajuan hidup bersama di bumi ini.

 

Mereka bisa menikmati kehidupan yang semakin sehat lahir batin, semakin berilmu pengetahuan dan semakin peduli dengan penderitaan sesama. Kalau hal itu dihasilkan tentunya sangat kontraproduktif mempersoalkan perbedaan. Apalagi Sri Swami Siwananda dalam buku ''All About Hinduism'' menyatakan bahwa agama Hindu menyajikan hidangan spiritual kepada setiap orang sesuai dengan pertumbuhan rohani mereka masing-masing.

 

Karena itu tidak ada pertentangan dalam perbedaan Hindu yang indah ini. Apalagi di Indonesia UUD 1945 menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk beragama serta beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu. Kitab suci Weda dan sejarah tradisi Hindu di Bali juga amat menjamin adanya perbedaan metode untuk mencapai tujuan hidup yang sama menurut agama Hindu.

 

Peru direnungkan kembali dengan bijak eksistensi Sadhaka di Bali tidak lagi bernuansa kewangsaan tetapi berorientasi pada kualitas spiritual. Karena yang diwariskan oleh sastra-sastra suci Hindu tidak ada nuansa kewangsaannya dalam filosofinya. Ke depan dinamika sosial itu akan semakin tegas, jelas dan keras melakukan tuntutan kesetaraan, persaudaraan dan kemerdekaan dalam kehidupan bersama dalam kehidupan beragama Hindu ini.

Pendirian tiga pelinggih untuk tiga resi di belakang Padma Tiga di Pura Penataran Agung Besakih itu patut kita jadikan acuan dalam membina perbedaan. Apalagi menyangkut keyakinan beragama sebagai hak yang paling asasi di muka bumi ini. * wiana

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)