''Tri Sadhaka'',
Konsep Spiritual
Bukan
Wangsa
Adanya
pelinggih
tiga
Pandita Resi
di Pura
Penataran
Agung
Besakih seyogianya
menjadi
bahan renungan
kita
dalam menegakkan
ibu
pertiwi di Bali
khususnya
dan di
dunia regional
dan global
umumnya.
Mpu
Beradah, Sang Hyang
Siem
dan Resi
Markandia
memiliki
jasa
besar dalam
memberikan
tuntunan
kepada
rakyat di Bali
dalam
membangun ibu
pertiwi Bali
sebagai
wadah kehidupan
umat
manusia. Resi
Markandia
dalam
Lontar Bhuwana
Tattwa
dan sumber-sumber
lainnya
memiliki andil yang
cukup
besar pada
kemajuan Bali.
==========================================================
Adanya
Pura
Besakih pada
awalnya
dalam rintisan
Resi
Markandia. Demikian
juga
adanya pertanian
sistem
subak dan
desa
dengan corak
agrarisnya
atas
rintisan Resi
Markandia.
Demikian pula
pendirian
beberapa
pura
dengan nilai
spiritual yang diaktualkan
ke
dalam sistem ritual
dan
sosial.
Beliau
telah
berjasa besar
dalam
menanamkan konsep
Triji
Ratna Permata
sebagaimana
diajarkan
dalam
Canakya Niti.
Meskipun
secara
kognitif ajaran
tersebut
mungkin
belum dikenal
saat
itu.
Tiga
Ratna
Permata itu
adalah air,
tumbuh-tumbuhan
dan
kata-kata bijak.
Tiga
hal inilah yang
amat
dihargai dalam
kehidupan
sistem
subak dan
desa
agraris rintisan
Resi
Markandia dari
Waisnawa
Paksa
itu. Pertanian
dengan
sistem subak
dan
desa pakraman
dengan
corak desa
agraris
itu telah
mendidik
umat
untuk demikian
menghargai air,
tumbuh-tumbuhan
dan
kata-kata bijak
tersebut. Hal
ini
terjadi karena
pengabdian
Resi
Markandia-lah pada
awalnya yang
merintis.
Demikian
juga
kehadiran penganut
Buddha Mahayana di Bali
juga
banyak meletakkan
berbagai
jasa,
sampai kalau
ada
upacara besar
harus
juga dipimpin
oleh
Pandita Budha.
Sesungguhnya
ajaran
Sidharta Gautama
pada
abad ke-4 sebelum
Masehi
di India bukan
dimaksudkan
untuk
mendirikan suatu
agama. Sidharta
Gautama
setelah mencapai
kesadaran spiritual
atau
kesadaran budhi
disebut Buddha.
Kesadaran
budhi yang
beliau
capai itulah
diwartakan
untuk
memperbaiki keadaan
saat
itu. Keadaan
saat
itu dirusak
oleh
kesalahpahaman dalam
mengamalkan
ajaran
Weda. Saat
itu ada
dua
golongan penganut
Weda
yaitu Carwakas
dan
Titiyas. Untuk
melepaskan
diri
dari ikatan
nafsu
menurut Carwakas
dengan
cara memenuhi
setiap
gejolak nafsu.
Sedangkan
menurut
golongan Titiyas
untuk
melepaskan diri
dari
penguasaan nafsu,
maka
alat-alat nafsu
itu
harus disakiti
sampai
musnah. Pengumbaran
hawa
nafsu oleh
golongan
Carwakas
dan
penyiksaan alat-alat
indria
oleh golongan
Titiyas
menimbulkan rusaknya
keadaan
masyarakat penganut
Weda
saat itu.
Keadaan
inilah yang
diluruskan
oleh
Sidharta Gautama
saat
itu dengan
tiga
ajarannya yaitu
Sila,
Prajnya dan
Semadi.
Maksudnya berbuat
baik
dan benar (Sila)
dengan
dasar ilmu
pengetahuan (Prajnya)
serta
konsentrasi pada
kerja (Semadi).
Tiga
hal itulah
awalnya yang
diwartakan
oleh
Sidharta Gautama.
Ajaran yang universal
itu
juga dianut
oleh
orang Bali sejak
zaman
dahulu. Ajaran
ini
banyak berjasa
membuat
orang menjadi
tenang
dan damai
menapaki
kehidupan
di bumi
ini.
Demikian besar
juga
jasa-jasa agama dari
Buddha Paksa
di Bali.
Karena
itu ada
Pelinggih Sang
Hyang
Siem di
Penataran
Agung
Besakih. Di
tengah-tengah
di
antara Pelinggih
Resi
Markandia dan Sang
Hyang
Siem ada
Pelinggih
Mpu
Beradah yang beragama
Hindu dari
Siwa
Paksa. Mpu
Beradah
salah satu
dari
Panca Tirtha
sudah
amat dikenal
oleh
kalangan umat Hindu
di Bali.
Beliau
adalah saudara
dari
Mpu Kuturan yang
juga
sebagai mpu yang
amat
besar jasa-jasanya
dalam
memajukan kehidupan
sosial
budaya dengan
landasan spiritual
keagamaan
di Bali.
Mpu
Beradah
distanakan di
Pelinggih
Gedong
atau Meru
Tumpang
Siki di
Pura
Penataran Agung
Besakih.
Tiga
pandita tersebut
berasal
dari sekta
atau
paksa keagamaan Hindu
yang berbeda-beda.
Meskipun
paksa
keagamaannya berbeda-beda
tetapi
semuanya memiliki
jasa yang
cukup
besar bagi Bali
dalam
artian keseluruhannya.
Tiga
pandita
tersebut distanakan
di tiga
pelinggih
berjejer
sejajar
tidak ada yang
tinggi
rendah. Apa
artinya
warisan budaya
spiritual leluhur
orang Bali
di
Besakih itu.
Tiga
pandita tersebut
bukan
dimunculkan berdasarkan
konsep
kewangsaan. Pendirian
tiga
pelinggih untuk
tiga
pandita resi
tersebut
didasarkan
pada
kualitas spiritual.
Beliau
berbeda-besa
sekte
atau paksa
keagamaannya
tetapi
karena bijak
dalam
mengelola perbedaan
maka
perbedaan itu
memberikan
kontribusi yang
amat
bermakna bagi
kemajuan Bali.
Tentunya
hal itu
akan
menjadi warisan yang
bisu
tanpa arti
kalau
peninggalan tersebut
tidak
diterjemahkan dalam
konteks
kekinian yang semakin
pluralistis.
Dari perbedaan
itu
hendaknya kita
ambil
dari hasil
akhirnya.
Apa
hasil akhir
dari
setiap unsur yang
berbeda
itu, apa
ada
memberikan kontribusi
pada
kehidupan yang sehat,
kemajuan
pendidikan
dan
kepedulian umat
pada
sesamanya. Kalau
dari
unsur yang berbeda-beda
itu
keluarannya sama
yaitu
dapat memberikan
kontribusi
pada
kemajuan hidup
bersama
di bumi
ini.
Mereka
bisa
menikmati kehidupan
yang semakin
sehat
lahir batin,
semakin
berilmu pengetahuan
dan
semakin peduli
dengan
penderitaan sesama.
Kalau
hal itu
dihasilkan
tentunya
sangat
kontraproduktif
mempersoalkan perbedaan.
Apalagi Sri Swami
Siwananda
dalam
buku ''All About Hinduism''
menyatakan bahwa
agama Hindu menyajikan
hidangan spiritual
kepada
setiap orang
sesuai
dengan pertumbuhan
rohani
mereka masing-masing.
Karena
itu
tidak ada
pertentangan
dalam
perbedaan Hindu yang indah
ini.
Apalagi di Indonesia
UUD 1945 menjamin
kemerdekaan
setiap
penduduk untuk
beragama
serta
beribadah sesuai
dengan agama
dan
kepercayaannya itu.
Kitab
suci Weda
dan
sejarah tradisi Hindu
di Bali
juga amat
menjamin
adanya
perbedaan metode
untuk
mencapai tujuan
hidup yang
sama
menurut agama Hindu.
Peru direnungkan
kembali
dengan bijak
eksistensi
Sadhaka
di Bali tidak
lagi
bernuansa kewangsaan
tetapi
berorientasi pada
kualitas spiritual.
Karena yang
diwariskan
oleh
sastra-sastra suci
Hindu tidak
ada
nuansa kewangsaannya
dalam
filosofinya. Ke
depan
dinamika sosial
itu
akan semakin
tegas,
jelas dan
keras
melakukan tuntutan
kesetaraan,
persaudaraan
dan
kemerdekaan dalam
kehidupan
bersama
dalam kehidupan
beragama Hindu
ini.
Pendirian
tiga
pelinggih untuk
tiga
resi di
belakang
Padma
Tiga di
Pura
Penataran Agung
Besakih
itu patut
kita
jadikan acuan
dalam
membina perbedaan.
Apalagi
menyangkut keyakinan
beragama
sebagai
hak yang paling asasi
di muka
bumi
ini. *
wiana