Dhanang Sasongko
Jadikan Belajar Itu sebagai Kebutuhan, bukan Kewajiban
KALI ini kita bicara seputar dunia
pendidikan dengan menghadirkan Dhanang Sasongko, Sekjen
Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena).
Belakangan ini trend pendidikan alternatif home schooling
(HS). Kita bisa menyebutkan beberapa contoh dari kalangan
selebriti seperti Nia Ramadhani, Kak Seto, Neno Warisman, dan
beberapa nama lainnya yang memilih alternatif HS ini. Dhanang
berpendapat, HS ada kelemahan dan keunggulannya. Kelemahannya
antara lain tidak ada kompetisi atau persaingan. Namun,
keunggulannya banyak, dan yang paling dominan adalah karena
terbatasnya jumlah peserta didik maka tutor bisa langsung
fokus pada potensi masing-masing peserta didik. Di HS ada yang
ingin jadi penyanyi, maka dia merasa tidak perlu untuk belajar
kimia dan fisika. Pengajar mengarahkan sesuai dengan bakat dan
potensi peserta didik masing-masing. Mereka yang mengikuti HS
nanti bisa mengikuti ujian kesetaraan sehingga lulus mempunyai
ijazah dan itu diakui pemerintah. Lebih jauh, berikut
wawancara dengan Dhanang Sasongko.
------------------
APA
sebetulnya "home schooling" (HS) itu? Apakah itu maksudnya
orang bersekolah di rumah dengan mengundang guru ke rumah atau
orang belajar bersama?
Kalau di Amerika Serikat (AS) dan di
negara-negara lain, HS sudah lama berkembang. Di Indonesia
mungkin ada yang namanya Proses Kegiatan Belajar Masyarakat
(PKBM). HS terdiri dari tiga jenis -- HS tunggal yang
penggiatnya adalah satu keluarga, HS majemuk yang terdiri dari
dua keluarga, dan HS komunitas. Komunitas ini dibentuk dengan
metode pembelajarannya secara tutorial. HS tunggal dilakukan
di rumah. HS itu adalah bagaimana proses kegiatan belajar, di
mana pun, kapan pun, dan dengan siapa saja.
Bagaimana sistemnya? Maksudnya, jika seseorang
ingin masuk ke HS, apakah dia harus berhubungan dengan Anda,
lalu apakah Anda mendesain kurikulum dan sistem sekolah
sendiri atau bagaimana?
Dia berarti harus masuk ke HS komunitas. HS
komunitas adalah beberapa keluarga memberikan kepercayaannya
untuk mendidik anak-anaknya ke dalam HS. Proses
pembelajarannya melalui tutorial. Ini ada di salah satu metode
HS Kak Seto.
Siapa tutornya?
Kami punya tim yang namanya Badan Tutorial.
Mereka terdiri dari lulusan berbagai jenis profesi pendidikan.
Mereka melaksanakan, misalnya, pertemuan dua kali dalam satu
minggu. Ada paket A setara dengan Sekolah Dasar (SD), paket B
setara Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan paket C setara
Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi kunjungannya adalah
kunjungan ke komunitas. Bila keluarga atau peserta didik
kekurangan informasi akademisnya, maka mereka bisa memanggil
gurunya ke suatu tempat. Jadi komunitas itu menyediakan suatu
tempat. Misalnya, komunitas Berkemas yang dipimpin Ibu Yaya
atau Mbak Neno Warisman itu tempatnya di Pejaten. Mereka
berkumpul selama tiga jam. Hari Senin adalah untuk setara SMA,
jadi anak kelas satu, dua, dan tiga belajar dalam satu
ruangan.
Kalau di sekolah formal kita melihat kelas satu
berada di dalam satu ruangan, kelas dua di ruang lain dengan
materi pelajaran yang berbeda. Jadi, bagaimana proses belajar
HS jika semua digabung dalam satu kelas karena pada akhirnya
mereka juga mengikuti ujian akhir?
Kita memberikan masing-masing peserta didik
kebebasan dalam memilih pembelajaran, tapi tidak terlepas dari
kurikulum. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum 2004 yaitu
kurikulum berbasis kompetensi, atau kurikulum terbaru
kurikulum 2006. Jadi, tetap ada acuannya karena nanti di ujung
dari proses pendidikan HS ada ujian kesetaraan. Kalau di
pendidikan formal itu Ujian Nasional (UN), sedangkan di
pendidikan nonformal komunitas ini ada ujian kesetaraan yang
diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Diknas)
atau komunitas yang sudah mendapatkan legalitas untuk bisa
menyelenggarakan ujian tersendiri.
Bagaimana jika ada yang sudah bosan di kelas
dua atau tidak nyaman di pendidikan formal, apakah dia dapat
pindah ke kelas tiga di HS?
Itu tidak masalah karena berdasarkan prinsip
Diknas untuk ini adalah multi entry and multi exit atau mudah
untuk masuk dan mudah untuk keluar. Legalitasnya pun sudah
dijamin oleh pemerintah. Dalam Undang-Undang (UU) No.20/2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa
pendidikan kesetaraan adalah program pendidikan nonformal yang
menyelenggarakan pendidikan umum setara SD, SMP, maupun SMA.
Bagaimana metode pembelajaran untuk
masing-masing HS yaitu tunggal, majemuk, dan komunitas?
HS ini metode pembelajarannya tematik dan
konseptual serta aplikatif. Misalnya untuk tingkatan SD, dalam
mempelajari alat transportasi maka mereka bisa pergi langsung
naik alat transportasi. Misalnya, naik metro mini. Di metro
mini ada sopir, kondektur, dan kita harus membayar. Jadi di HS
kesempatan untuk mengenal langsung alat transportasi cukup
besar. Lalu mereka turun dan naik busway dengan harus beli
tiket dulu, antri. Kemarin saya mengajak mereka dari Grogol ke
stasiun kereta api kota untuk mengetahui bagaimana naik kereta
dan kondisinya seperti nanti kereta itu penuh. Itu terekam
sekali di otak anak-anak. Setelah itu, besoknya kami
memberikan paparan mengenai alat transportasi. Kami coba tes
ke anak-anak dan mereka bisa menulis mengenai alat
transportasi berlembar-lembar.
Apakah di situ mungkin keunggulan HS?
Ya, karena proses belajarnya tematik dan
aplikatif. Contoh lain, kami ajak mereka untuk belajar
menanam. Kami ajak ke ahlinya seperti ke Ciawi sekalian
outbond. Mereka belajar cara menanam. Besoknya kami coba
evaluasi dan mereka begitu antusias sehingga bisa menulis
berlembar-lembar. Benar-benar aplikatif. Kalau HS tunggal atau
sendiri, orangtua bisa mengajarkan dari dia bangun tidur dan
kapan dia mau belajar. Jadi, belajar bukan sebagai kewajiban,
tapi kebutuhan bagi anak-anak. Kalau saya sehari-hari mungkin
melihat proses pembelajaran yang seperti di rumah Kak Seto.
Anak beliau ada empat. Nah, yang tiga mengikuti HS dan yang
satu pendidikan formal.
Dalam hal ini, orangtua terjun langsung?
Iya, terjun langsung. Kalau misalnya kekurangan
informasi mengenai akademis, mereka bisa panggil tutor. Mereka
mau tahu tentang bahasa Inggris maka mereka bisa ambil kursus.
Waktunya bisa lebih banyak, dan belajar sangat menyenangkan
buat mereka karena memang didasari oleh kebutuhan.
Kalau melihat dari jenisnya, apakah HS
komunitas memiliki kelebihan atau keunggulan dari yang lain?
Ini harus dilihat dari kondisi orangtuanya.
Kalau kedua orangtua bekerja, tapi menginginkan anaknya untuk
HS mungkin lebih tepat ke HS komunitas. Sedangkan untuk HS
tunggal agak susah karena orangtua harus full. Untuk komunitas
itu sifatnya tutorial dan hadir di kegiatan komunitas.
***
PENDIDIKAN
bukan hanya soal kita menambah pengetahuan atau
ilmu di segala macam bidang, namun ada hal yang perlu juga
seperti interaksi dengan kawan-kawan lainnya. Bagaimana
sosialisasi pada murid HS?
Saya melihat sosialisasi anak-anak HS begitu
terjaga. Kami mengajak mereka ke pasar. Kami perkenalkan juga
kepada anak-anak tentang pasar. Kami tanya, "Apakah kamu
bersekolah atau tidak? Apa kegiatan kamu?" Lalu kami bawa juga
mereka ke alam terbuka dan ke rumah singgah. Kalau lingkungan
untuk pendidikan formal mungkin ada keterbatasannya. Temannya
hanya itu-itu saja. Besok ketemu si A dan besoknya ketemu si A
lagi karena satu lingkup sekolah. Sosialisasi di HS juga cukup
efektif karena mereka bisa lebih banyak waktunya untuk
berhubungan lewat internet. Mereka bisa lebih banyak ada
kesempatan untuk pergi ke luar. Jadi, mengenai sosialisasi tak
ada masalah. Yang paling penting juga adalah kami memberikan
kemandirian, yaitu dalam belajar dan mengambil keputusan. Kami
juga memberikan wawasan mengenai kewirausahaan. Sejak dini
mereka sudah dilatih untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.
Lalu, bagaimana kegiatan Anda dan teman-teman
di Asah Pena selama ini, sejak kapan dan bagaimana
keterlibatannya dalam proses HS ini?
Asah Pena baru saja menandatangani MoU dengan
pemerintah sekitar 10 Januari 2007. Asah Pena adalah singkatan
dari asosiasi sekolah rumah dan pendidikan alternatif. Ini
merupakan suatu wadah home schooler atau peserta didik baik
tunggal, majemuk, ataupun komunitas. Asah Pena dibentuk atas
keinginan masyarakat dan didukung oleh Depertemen Pendidikan
Nasional. Kelihatannya cukup efektif karena selama ini
pendidikan alternatif selalu dicitrakan dengan pendidikan yang
kurang berkualitas. Dengan adanya Asah Pena, maka bisa didata
secara administratif seberapa banyak sekolah alternatif, HS,
dan sebagainya.
Berapa banyak peserta didik HS saat ini di
Jakarta?
Banyak. Home schooler yang terdata di Jakarta
ada 600-an. Dan untuk HS komunitas ada 8-10 komunitas.
Apa kira-kira yang harus dilakukan bila ingin
menyekolahkan anak melalui pendidikan alternatif atau HS
karena informasinya sangat terbatas?
Jika ingin mendapatkan informasi mengenai HS,
bisa melalui Asah Pena di nomor telepon 0817-831813 atau
perwakilan Asah Pena di telepon (021) 8195601. Biayanya
berbeda-beda seperti ada uang pangkal, iuran tahunan, dan
iuran bulanan. Metoda pengajarannya dengan tutorial.
Apakah belajarnya setiap hari?
Belajarnya satu minggu dua kali sebanyak tiga
jam untuk masing-masing pertemuan. Kami mengarahkan supaya
mereka nanti banyak belajar di rumah dan di lingkungan yang
mereka mau belajar. Kalau mau menyelenggarakan HS tunggal,
mereka bisa konsultasi ke Asah Pena dan mungkin rekan atau
kerabatnya yang sudah menjalankan HS. Kami bisa mengambil
metode bermacam-macam. Kalau kita mau kurikulum nasional maka
materi pembelajarannya bisa didapat di toko buku dan
sebagainya. Kalau mau mencoba kurikulumnya Neno Warisman, maka
bisa berhubungan dengan Mbak Neno. Nanti kurikulumnya bisa
diberikan. Ada juga metodenya Kak Seto atau Berkemas. Ada 8
sampai 10 komunitas dan mereka sangat terbuka untuk memberikan
informasi mengenai kurikulum.
Bagaimana dengan sertifikat atau ijazah
kelulusan untuk HS karena biasanya kita mau tidak mau harus
memiliki itu untuk mendapatkan akreditasi dan segala macamnya.
Apakah legalitas itu sudah ada dari Diknas?
Diknas sangat memperhatikan pendidikan
alternatif. Kini sudah ada Direktorat Pendidikan Kesetaraan.
Itu adalah pecahan dari Sub Direktorat Pendidikan Masyarakat
untuk merespons HS, banyaknya Proses Kegiatan Belajar
Masyarakat (PKBM), dan banyaknya kekecewaan terhadap Ujian
Nasional (UN). Orang tidak perlu khawatir untuk mendapatkan
ijazah kesetaraan. Di SD ada ijazah kesetaraan untuk tingkat
SD. Orang bisa ikut ujian kesetaraan dan jika lulus akan
mendapatkan ijazah Kesetaraan SD, lalu SMP dan SMA juga ada.
Ini bisa diterima oleh berbagai sekolah dan universitas. Jadi
sudah dilegalitas oleh pemerintah.
Anda melihat ada kelemahan di situ?
Dalam hal ini memang ada kelemahannya di HS,
yaitu tidak ada kompetisi atau persaingan. Tapi keunggulannya
yang paling dominan adalah, dengan terbatasnya jumlah peserta
didik maka tutor bisa langsung fokus pada potensi
masing-masing anak peserta didik. Di HS ada yang ingin jadi
penyanyi, maka dia merasa tidak perlu untuk belajar kimia dan
fisika. Kami mengarahkan sesuai dengan bakat dan potensi
peserta didik masing-masing. Ujian kesetaraan itu nanti ada
yang namanya percepatan yang mungkin kualitasnya masih di
bawah Ujian Nasional, tapi mereka bisa dipermudah dengan
program percepatan. Misalnya, untuk menghadapi ujian biasanya
kami intensif untuk tutorial terus selama dua bulan.
Sejak kapan HS ada di Indonesia dan apakah ada
kisah sukses orang-orang yang ikut HS karena di masyarakat dia
mendapatkan sertifikasi hampir sama dengan orang-orang yang
sekolah formal?
Mungkin kita bisa melihat pada Ki Hajar
Dewantoro. Jika saya melihat dari sejarah Ki Hajar Dewantoro,
tidak ada anak-anaknya mengikuti sekolah Belanda. Mereka HS.
Lalu Ketua BEM UI sekarang ikut HS juga. Kalau di luar negeri
yaitu Bill Gates dan Thomas Alfa Edison. Kalau saya membaca
sejarahnya, mereka tidak belajar di sekolah formal, malah
banyak yang melakukan eksperimen di rumahnya. Ini untuk
memperkuat supaya kita tidak khawatir. HS sama dengan sekolah
formal pada umumnya. (*)