Pasrah 24/7/365
''SETIAP
pagi di Afrika, seekor gazelle (kijang) terjaga, dia tahu bahwa
dia harus berlari lebih cepat dari singa tercepat, kalau tidak dia
akan mati jadi mangsa. Setiap pagi seekor singa terjaga, dia tahu
dia harus bisa mengejar gazelle atau dia akan mati kelaparan.
Tidak peduli, apakah Anda seekor singa atau gazelle, ketika
matahari terbit, Anda harus mulai berlari."
Rubag terhenyak membaca untaian kalimat Jack
Perkowski yang konon dipetik dari khasanah kebijakan Afrika,
kemudian dijadikan landasan berpikir dan bertindak dalam dunia
yang oleh Anthony Giddens disebut "sedang berlari kencang" atau
globalisasi ini.
Setuju atau tidak, ternyata konsep Darwin tentang
"seleksi alam" telah berlangsung seperti kisah kijang dan singa
dalam kancah negara dan bangsa setelah runtuhnya Tembok Berlin
pada 9 November 1989. Malah sejak awal abad ke-21 praktik "yang
kuat memangsa yang lemah" tidak lagi berlangsung secara alamiah,
namun ilmiah berkat sains dan teknologi dibantu modal dan militer.
Ketika kembali ke Spanyol, Columbus yang berhasil menjejakkan
kakinya di Amerika yang disangkanya India lebih dari lima abad
lalu, pada junjungannya Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, dia
menyatakan "bumi ini bulat!". Itu merupakan fase awal globalisasi,
yang ditandai otot dan lahirnya negara modern serta imperialisme.
Kemudian saat Thomas L. Friedman menjejakkan
kakinya di kawasan Infosys Technologies Limited (ITL), Bangalore,
India di awal tahun 2000-an, dia tercengang karena mengira dirinya
berada di "Lembah Silikon" San Francisco. Beda dengan Columbus,
Friedman benar-benar bertemu dengan ratusan orang India di
Bangalore. Bahkan di antaranya menggunakan nama Amerika dengan
berbagai logat Paman Sam yang pas, serta kemampuan otak dan
keterampilan kerja yang tak kalah dari kaum Yankees. Sekembalinya
di Amerika, pada kawan-kawannya Friedman menyatakan, "bumi ini
datar!"
"Tahu mengapa Friedman mengatakan bumi ini datar?
Gagasan itu justru terlontar dari mulut CEO ITL, Nandan Nilekani
pada Friedman, saat memperagakan layar digital terbesar di Asia
milik perusahaan itu. Lewat layar raksasa ini, kata Nilekani,
mereka bisa duduk bersama dengan orang-orang di New York, London,
Boston maupun San Francisco. Lapangan permainan makin 'didatarkan'
dan kini bangsa India bisa turut bersaing dalam pekerjaan
intelektual di tingkat dunia. Amerika, imbuh Nilekani, akan
terus ditantang di era globalisasi!" papar Rubag.
"Hebat! Ternyata India yang sering diejek sebagai
negeri berhala karena rakyatnya menyembah banyak dewa-dewi, mulai
unjuk gigi menantang prati sentana Einstein. Aku kira, kalimat
'lapangan permainan makin didatarkan' dipakai Friedman sebagai
kalimat kunci untuk menyebut dunia ini datar. Tidak meleset bila
Yasraf A.Piliang mengandaikan dunia seperti kertas yang
dilipat-lipat kemudian ditusuk paku, sehingga ketika lipatan
dibuka tampak jarak antara lubang sangat dekat. Ruang dan waktu
tidak lagi menjadi sekat antara bangsa dan manusia di dunia,"
komentar Kudil.
"Juga sebagai negeri Ramayana, kijang India tak
seperti kijang Afrika yang takut pada singa. Dia merupakan siluman
Kala Marica yang tidak keder dengan sesama binatang, namun
langkahnya baru terhenti saat tubuhnya ditembus panah Rama.
Tapi, apakah dalam persaingan global ini Amerika yang ditantang
India bisa diandaikan sebagai Rama atau singa?" tanya Minggik.
"Permainan baru dimulai, kita tidak bisa
mengandaikan siapa jadi singa, kijang atau Rama. Meskipun fase
awalnya dimulai tahun 1492-1800, namun globalisasi belum terasa
karena masyarakat dunia dipengaruhi konflik dua ideologi dominan.
Baru setelah runtuhnya Tembok Berlin dan dimulainya Millenium Baru
yang disimbolkan Y2K, kapitalisme neoliberal menerjang ke seluruh
dunia tanpa ideologi saingan lewat bantuan teknologi informasi,"
tutur Rubag.
"Memang masyarakat dunia sudah bisa saling
berkomunikasi secara maya berkat bantuan kabel serat optik, namun
di Indonesia kemajuan teknologi informasi (TI) belum dimanfaatkan
optimal. Malah sebaliknya digunakan untuk menyebarkan gosip,
provokasi, bahkan video porno. Selain India, apa tidak ada lagi
kijang-kijang lain yang menantang singa Amerika?" tanya Dewa
Ngurah.
"Ada! Friedman mengatakan Cina yang memusatkan
wilayah Dalian yang terletak di sebelah timur Beijing, sebagai
pengembangan TI. Propinsi yang memiliki 22 universitas dengan
200.000 lebih mahasiswa itu mengembangkan sains dan teknologi
rekayasa. Bila Amerika berhubungan dengan Bangalore di bidang
outsourcing, Jepang menggunakan Dalian sebagai partnernya di
bidang yang sama. Makanya para mahasiswa giat belajar bahasa dan
huruf Jepang serta mengabaikan sentimen sejarah yang pernah
mengganjal hubungan kedua negara itu. Sekarang, tulis Friedman,
tidak kurang dari 2.800 perusahaan Jepang menyerahkan urusan
administrasi, informasi dan data base-nya untuk diproses di Dalian
atas perantara perusahaan outsourcing Ohmae & Associates milik
pensiunan konsultan McKinsey & Company, Kenichi Ohmae."
"Apa itu outsourcing?" sela Momon.
"Outsourcing adalah para tenaga kerja yang dihimpun
sebuah perusahaan yang kemudian dipekerjakan pada perusahaan lain
yang membutuhkan. Menurut Friedman, di tahun 2005 ada 400.000
wajib pajak Amerika yang dikerjakan laporan pajaknya di India.
Bahkan di rumah sakit kecil dan menengah Amerika, tulis Friedman,
para ahli radiologinya meng-outsource tugas pembacaan CAT scan
mereka ke dokter-dokter India. Untuk segala pekerjaan ini, mereka
menggunakan motto '24/7/365', yang berarti 24 jam sehari, tujuh
hari seminggu, 365 hari setahun alias nonstop. Upahnya pun
seperlima dari yang harus dibayar di Amerika. Malah, banyak anak
SMU Amerika yang diajar para pendidik India di bidang matematika,
kimia, geometri bahkan bahasa Inggris, lewat E-tutor" papar Rubag.
"Beh, kita di Indonesia Jumat adalah hari krida,
Sabtu dan Minggu libur, hari-hari raya dan nasional tidak kerja.
Mottonya apa ya? Lucunya, pejabat kita selalu gembar-gembor soal
globalisasi. Malah sering menakut-nakuti rakyat tentang persaingan
bebas di era global, sopir taksi asing pun dikatakan kelak boleh
beroperasi di Indonesia. Sedangkan menurut sebuah survei baru-baru
ini, kinerja mereka pun masih amburadul. Mungkin mereka tahu kalau
posisi mereka tidak mungkin di-outsourcing-kan karena
dilindungi UU dan konstitusi," ujar Minggik.
"Itulah risikonya jadi rakyat yang harus pasrah
menerima segala macam gertakan. Dituntut bisa begini, pintar
begitu, pandai dan cerdik dalam segala urusan, namun dikungkung
birokrasi ketat dan berbelit-belit. Akhirnya, kita hanya mampu
berlari lebih kencang dari kijang dan singa saat dilanda banjir,
gempa dan tsunami, untuk menyelamatkan diri. Selebihnya,
pasrah 24/7/365!" ujar Kudil.
* aridus