kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 11 Pebruari 2007 tarukan valas
 

OPINI


Pasrah 24/7/365

''SETIAP pagi di Afrika, seekor gazelle (kijang) terjaga, dia tahu bahwa dia harus berlari lebih cepat dari singa tercepat, kalau tidak dia akan mati jadi mangsa. Setiap pagi seekor singa terjaga, dia tahu dia harus bisa mengejar gazelle atau dia akan mati kelaparan. Tidak peduli, apakah Anda seekor singa atau gazelle, ketika matahari terbit, Anda harus mulai berlari."

Rubag terhenyak membaca untaian kalimat Jack Perkowski yang konon dipetik dari khasanah kebijakan Afrika, kemudian dijadikan landasan berpikir dan bertindak dalam dunia yang oleh Anthony Giddens disebut "sedang berlari kencang" atau globalisasi ini.

Setuju atau tidak, ternyata konsep Darwin tentang "seleksi alam" telah berlangsung seperti kisah kijang dan singa dalam kancah negara dan bangsa setelah runtuhnya Tembok Berlin pada 9 November 1989. Malah sejak awal abad ke-21 praktik "yang kuat memangsa yang lemah" tidak lagi berlangsung secara alamiah, namun ilmiah berkat sains dan teknologi dibantu modal dan militer. Ketika kembali ke Spanyol, Columbus yang berhasil menjejakkan kakinya di Amerika yang disangkanya India lebih dari lima abad lalu, pada junjungannya Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, dia menyatakan "bumi ini bulat!". Itu merupakan fase awal globalisasi, yang ditandai otot dan lahirnya negara modern serta imperialisme.

Kemudian saat Thomas L. Friedman menjejakkan kakinya di kawasan Infosys Technologies Limited (ITL), Bangalore, India di awal tahun 2000-an, dia tercengang karena mengira dirinya berada di "Lembah Silikon" San Francisco. Beda dengan Columbus, Friedman benar-benar bertemu dengan ratusan orang India di Bangalore. Bahkan di antaranya menggunakan nama Amerika dengan berbagai logat Paman Sam yang pas, serta kemampuan otak dan keterampilan kerja yang tak kalah dari kaum Yankees. Sekembalinya di Amerika, pada kawan-kawannya Friedman menyatakan, "bumi ini datar!"

"Tahu mengapa Friedman mengatakan bumi ini datar? Gagasan itu justru terlontar dari mulut CEO ITL, Nandan Nilekani pada Friedman, saat memperagakan layar digital terbesar di Asia milik perusahaan itu. Lewat layar raksasa ini, kata Nilekani, mereka bisa duduk bersama dengan orang-orang di New York, London, Boston maupun San Francisco. Lapangan permainan makin 'didatarkan' dan kini bangsa India bisa turut bersaing dalam pekerjaan intelektual di tingkat dunia.  Amerika, imbuh Nilekani, akan terus ditantang di era globalisasi!" papar Rubag.

"Hebat! Ternyata India yang sering diejek sebagai negeri berhala karena rakyatnya menyembah banyak dewa-dewi, mulai unjuk gigi menantang prati sentana Einstein. Aku kira, kalimat 'lapangan permainan makin didatarkan' dipakai Friedman sebagai kalimat kunci untuk menyebut dunia ini datar. Tidak meleset bila Yasraf A.Piliang mengandaikan dunia seperti kertas yang dilipat-lipat kemudian ditusuk paku, sehingga ketika lipatan dibuka tampak jarak antara lubang sangat dekat. Ruang dan waktu tidak lagi menjadi sekat antara bangsa dan manusia di dunia," komentar Kudil.

"Juga sebagai negeri Ramayana, kijang India tak seperti kijang Afrika yang takut pada singa. Dia merupakan siluman Kala Marica yang tidak keder dengan sesama binatang, namun langkahnya baru terhenti saat tubuhnya ditembus panah Rama.    Tapi, apakah dalam persaingan global ini Amerika yang ditantang India bisa diandaikan sebagai Rama atau singa?" tanya Minggik.

"Permainan baru dimulai, kita tidak bisa mengandaikan siapa jadi singa, kijang atau Rama. Meskipun fase awalnya dimulai tahun 1492-1800, namun globalisasi belum terasa karena masyarakat dunia dipengaruhi konflik dua ideologi dominan. Baru setelah runtuhnya Tembok Berlin dan dimulainya Millenium Baru yang disimbolkan Y2K, kapitalisme neoliberal menerjang ke seluruh dunia tanpa ideologi saingan lewat bantuan teknologi informasi," tutur Rubag.

"Memang masyarakat dunia sudah bisa saling berkomunikasi secara maya berkat bantuan kabel serat optik, namun di Indonesia kemajuan teknologi informasi (TI) belum dimanfaatkan optimal. Malah sebaliknya digunakan untuk menyebarkan gosip, provokasi, bahkan video porno. Selain India, apa tidak ada lagi kijang-kijang lain yang menantang singa Amerika?" tanya Dewa Ngurah.

"Ada! Friedman mengatakan Cina yang memusatkan wilayah Dalian yang terletak di sebelah timur Beijing, sebagai  pengembangan TI. Propinsi yang memiliki 22 universitas dengan 200.000 lebih mahasiswa itu mengembangkan sains dan teknologi rekayasa. Bila Amerika berhubungan dengan Bangalore di bidang outsourcing, Jepang menggunakan Dalian sebagai partnernya di bidang yang sama. Makanya para mahasiswa giat belajar bahasa dan huruf Jepang serta mengabaikan sentimen sejarah yang pernah mengganjal hubungan kedua negara itu. Sekarang, tulis Friedman, tidak kurang dari 2.800 perusahaan Jepang menyerahkan urusan administrasi, informasi dan data base-nya untuk diproses di Dalian atas perantara perusahaan outsourcing Ohmae & Associates milik pensiunan konsultan McKinsey & Company, Kenichi Ohmae."

"Apa itu outsourcing?" sela Momon.

"Outsourcing adalah para tenaga kerja yang dihimpun sebuah perusahaan yang kemudian dipekerjakan pada perusahaan lain yang membutuhkan. Menurut Friedman, di tahun 2005 ada 400.000 wajib pajak Amerika yang dikerjakan laporan pajaknya di India. Bahkan di rumah sakit kecil dan menengah Amerika, tulis Friedman, para ahli radiologinya meng-outsource tugas pembacaan CAT scan mereka ke dokter-dokter India. Untuk segala pekerjaan ini, mereka menggunakan motto '24/7/365', yang berarti 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, 365 hari setahun alias nonstop. Upahnya pun seperlima dari yang harus dibayar di Amerika. Malah, banyak anak SMU Amerika yang diajar para pendidik India di bidang matematika, kimia, geometri bahkan bahasa Inggris, lewat E-tutor" papar Rubag.

"Beh, kita di Indonesia Jumat adalah hari krida, Sabtu dan Minggu libur, hari-hari raya dan nasional tidak kerja.  Mottonya apa ya? Lucunya, pejabat kita selalu gembar-gembor soal globalisasi. Malah sering menakut-nakuti rakyat tentang persaingan bebas di era global, sopir taksi asing pun dikatakan kelak boleh beroperasi di Indonesia. Sedangkan menurut sebuah survei baru-baru ini, kinerja mereka pun masih amburadul. Mungkin mereka tahu kalau posisi mereka tidak mungkin di-outsourcing-kan  karena dilindungi UU dan konstitusi," ujar Minggik.

"Itulah risikonya jadi rakyat yang harus pasrah menerima segala macam gertakan. Dituntut bisa begini, pintar begitu, pandai dan cerdik dalam segala urusan, namun dikungkung birokrasi ketat dan berbelit-belit. Akhirnya, kita hanya mampu berlari lebih kencang dari kijang dan singa saat dilanda banjir, gempa dan tsunami, untuk menyelamatkan diri.  Selebihnya, pasrah 24/7/365!" ujar Kudil.

 

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com