kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 11 Pebruari 2007 tarukan valas
 

KELUARGA


Perkawinan Manusia dengan Makhluk Lain
Cermin untuk Putri Duyung (2)

HARI itu juga Sven dan Lilli berangkat ke daratan. Lilli menunggu di laut yang dangkal. Sven melangkah ke daratan sambil mengingat-ingat rumahnya. Selang beberapa lama ia melihat ibunya sedang membuat kue.

''Ibu!'' katanya gembira. ''Aku Sven anakmu. Aku mencari cermin untuk Lilli, istriku.''

''Tidak! Kau bukan Sven. Anakku sudah mati sepuluh tahun yang lalu. Ayo pergi! Jangan ngaku-ngaku!''

''Benar, Bu! Aku Sven anakmu. Aku membawa istriku yang sedang menunggu di laut dangkal.''

Ibu Sven menatap pemuda aneh itu. Ia tambah curiga.

''Tidak! Muka anakku cokelat dan kasar, sedangkan mukamu halus dan bersih. Kamu penipu!'' Ia marah, lalu mengambil sebilah kayu hendak memukul Sven.

''Siapa kamu?'' Tiba-tiba ayahnya muncul.

''Aku Sven, anakmu, Ayah!''

Sang ayah pun tidak percaya. Ia mengambil tongkat, memukul dan mengusir Sven. Demikian pula yang terjadi di rumah neneknya. Sang nenek yang sedang merajut kaus kaki, melemparkan kaus kaki itu ke muka Sven. Sven sedih dan habis akal. Ia tidak berhasil membawa cermin untuk istrinya. Tinggal satu rumah lagi, yaitu rumah nenek cicitnya.

''Nenek! Aku Sven, cicitmu!''

Nenek yang tua renta itu tak henti-hentinya menggerakkan kursi goyangnya. Sambil duduk, ia bernyanyi, memutar-mutar ibu jarinya. Mendengar suara Sven, ia berhenti bernyanyi.

''Siapa kamu?'' katanya.

''Aku Sven, cicitmu! Aku memerlukan sebuah cermin untuk istriku, Putri Duyung.''

''Mendekatlah, Cicitku sayang. Ciumlah aku, setelah itu ambillah cermin yang tergantung itu,'' jawab Nenek Cicit.

Sven melepas rindu, memeluk dan mencium nenek cicitnya. Lalu segera menurunkan cermin dari tembok.

''Hai, siapa kamu?'' Tiba-tiba saudari sepupunya datang. ''Jangan kau ambil cermin itu! Cermin itu akan digunakan untuk upacara pernikahanku,'' katanya membentak. Sven tidak mau menyia-nyiakan waktu. Ia tidak ingin istrinya menunggu terlalu lama. Ia menggaet cermin itu lalu melarikannya cepat-cepat ke pantai.

''Maling, maling, maling....!'' teriak saudari sepupunya. Ibu Sven keluar membawa kayu, ayahnya keluar mengacung-acungkan tongkat, neneknya mengancam dengan jarum, dan orang-orang berteriak dan mengejar Sven. Di pantai, mereka beramai-ramai memukul, menendang dan menyiksanya.

Lilli, si Putri Duyung melihat keadaan yang mengerikan itu. Ia berteriak, memohon kepada ayahnya untuk meniupkan angin dan membuat gelombang besar. Benar, gelombang setinggi pohon kelapa menyerbu daratan. Air laut naik, menenggelamkan rumah-rumah penduduk. Di sana-sini terdengar teriakan histeris. Entah bagaimana kejadian selanjutnya, tak seorang pun yang mampu melukiskannya.

Setelah angin reda, air laut surut. Lilli berenang ke tengah samudra, menggendong suaminya yang luka parah. Tangan kanan putri duyung itu memegang sisi dan tangan kirinya memegang cermin. Lalu siapa itu di pantai? Dia adalah Nenek Cicit yang duduk di atas kursi goyang. Sambil menatap daratan yang sepi dan rata dengan tanah, ia berucap, ''Cobalah berbaik hati, kamu pasti dapat berbuat yang lebih bijaksana.''

 ***

 

Dongeng dari Denmark itu mengingatkan kita kepada bencana Tsunami yang menimpa Aceh, Sri Langka, Bangladesh, India dan Thailand. Bencana serupa juga menimpa wilayah lain dari bumi tercinta ini. Ada pesan yang menarik dari dongeng itu, yakni perbuatan manusia yang jauh dari hati yang bijaksana. Manusia hanya berbuat untuk kepentingannya sendiri, tanpa memperdulikan kepentingan alam dan kekuatan lain yang juga membutuhkan ketenangan dan kebahagiaan.

Mencermin dongeng-dongeng tentang perkawinan manusia dengan makhluk lain, cukup menarik. Dongeng itu bukan semata-mata menawarkan pengetahuan tentang alam dan kehidupan makhluk ajaib, tetapi lebih daripada itu. Ada kekuatan di luar kita yang juga memiliki perasaan dan pikiran, serta keinginan untuk mendapatkan kasih sayang.

Mungkin ada yang memandang dongeng itu mengarah kepada perkawinan yang terlarang, yakni perkawinan manusia dengan kodok, dengan bangau, ikan duyung, ular atau dengan makhluk rendah lainnya. Pandangan yang demikian menuduh dongeng-dongeng serupa itu vulgar dan tidak bermutu. Kenyataan menunjukkan bahwa cerita rakyat itu masih hidup dan digemari di masyarakat. Perkawinan yang dilakukan antara manusia dengan makhluk lain itu bukanlah perkawinan atas dasar pengumbaran nafsu yang rendah, tetapi jalinan cinta yang halus dan ajaib. Bentuk-bentuk yang rendah hanyalah bentuk simbolis yang maya dan sementara. Ada sifat-sifat yang harus dimuliakan oleh manusia yakni pengendalian diri, mengalahkan egoisme, sayang-menyayangi, rasa syukur dan terima kasih, serta sikap dan perbuatan yang didasari pikiran jernih.

Nah, cobalah cari pesan-pesan itu dalam ketiga dongeng tersebut.

 

* made taro

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com