Perkawinan Manusia dengan Makhluk Lain
Cermin untuk Putri Duyung (2)
HARI
itu juga Sven dan Lilli berangkat ke daratan. Lilli menunggu di
laut yang dangkal. Sven melangkah ke daratan sambil
mengingat-ingat rumahnya. Selang beberapa lama ia melihat ibunya
sedang membuat kue.
''Ibu!'' katanya gembira. ''Aku Sven anakmu. Aku
mencari cermin untuk Lilli, istriku.''
''Tidak! Kau bukan Sven. Anakku sudah mati sepuluh
tahun yang lalu. Ayo pergi! Jangan ngaku-ngaku!''
''Benar, Bu! Aku Sven anakmu. Aku membawa istriku
yang sedang menunggu di laut dangkal.''
Ibu Sven menatap pemuda aneh itu. Ia tambah curiga.
''Tidak! Muka anakku cokelat dan kasar, sedangkan
mukamu halus dan bersih. Kamu penipu!'' Ia marah, lalu mengambil
sebilah kayu hendak memukul Sven.
''Siapa kamu?'' Tiba-tiba ayahnya muncul.
''Aku Sven, anakmu, Ayah!''
Sang ayah pun tidak percaya. Ia mengambil tongkat,
memukul dan mengusir Sven. Demikian pula yang terjadi di rumah
neneknya. Sang nenek yang sedang merajut kaus kaki, melemparkan
kaus kaki itu ke muka Sven. Sven sedih dan habis akal. Ia tidak
berhasil membawa cermin untuk istrinya. Tinggal satu rumah lagi,
yaitu rumah nenek cicitnya.
''Nenek! Aku Sven, cicitmu!''
Nenek yang tua renta itu tak henti-hentinya
menggerakkan kursi goyangnya. Sambil duduk, ia bernyanyi,
memutar-mutar ibu jarinya. Mendengar suara Sven, ia berhenti
bernyanyi.
''Siapa kamu?'' katanya.
''Aku Sven, cicitmu! Aku memerlukan sebuah cermin
untuk istriku, Putri Duyung.''
''Mendekatlah, Cicitku sayang. Ciumlah aku, setelah
itu ambillah cermin yang tergantung itu,'' jawab Nenek Cicit.
Sven melepas rindu, memeluk dan mencium nenek
cicitnya. Lalu segera menurunkan cermin dari tembok.
''Hai, siapa kamu?'' Tiba-tiba saudari sepupunya
datang. ''Jangan kau ambil cermin itu! Cermin itu akan digunakan
untuk upacara pernikahanku,'' katanya membentak. Sven tidak mau
menyia-nyiakan waktu. Ia tidak ingin istrinya menunggu terlalu
lama. Ia menggaet cermin itu lalu melarikannya cepat-cepat ke
pantai.
''Maling, maling, maling....!'' teriak saudari
sepupunya. Ibu Sven keluar membawa kayu, ayahnya keluar
mengacung-acungkan tongkat, neneknya mengancam dengan jarum, dan
orang-orang berteriak dan mengejar Sven. Di pantai, mereka
beramai-ramai memukul, menendang dan menyiksanya.
Lilli, si Putri Duyung melihat keadaan yang
mengerikan itu. Ia berteriak, memohon kepada ayahnya untuk
meniupkan angin dan membuat gelombang besar. Benar, gelombang
setinggi pohon kelapa menyerbu daratan. Air laut naik,
menenggelamkan rumah-rumah penduduk. Di sana-sini terdengar
teriakan histeris. Entah bagaimana kejadian selanjutnya, tak
seorang pun yang mampu melukiskannya.
Setelah angin reda, air laut surut. Lilli berenang
ke tengah samudra, menggendong suaminya yang luka parah. Tangan
kanan putri duyung itu memegang sisi dan tangan kirinya memegang
cermin. Lalu siapa itu di pantai? Dia adalah Nenek Cicit yang
duduk di atas kursi goyang. Sambil menatap daratan yang sepi dan
rata dengan tanah, ia berucap, ''Cobalah berbaik hati, kamu pasti
dapat berbuat yang lebih bijaksana.''
***
Dongeng dari Denmark itu mengingatkan kita kepada
bencana Tsunami yang menimpa Aceh, Sri Langka, Bangladesh, India
dan Thailand. Bencana serupa juga menimpa wilayah lain dari bumi
tercinta ini. Ada pesan yang menarik dari dongeng itu, yakni
perbuatan manusia yang jauh dari hati yang bijaksana. Manusia
hanya berbuat untuk kepentingannya sendiri, tanpa memperdulikan
kepentingan alam dan kekuatan lain yang juga membutuhkan
ketenangan dan kebahagiaan.
Mencermin dongeng-dongeng tentang perkawinan
manusia dengan makhluk lain, cukup menarik. Dongeng itu bukan
semata-mata menawarkan pengetahuan tentang alam dan kehidupan
makhluk ajaib, tetapi lebih daripada itu. Ada kekuatan di luar
kita yang juga memiliki perasaan dan pikiran, serta keinginan
untuk mendapatkan kasih sayang.
Mungkin ada yang memandang dongeng itu mengarah
kepada perkawinan yang terlarang, yakni perkawinan manusia dengan
kodok, dengan bangau, ikan duyung, ular atau dengan makhluk rendah
lainnya. Pandangan yang demikian menuduh dongeng-dongeng serupa
itu vulgar dan tidak bermutu. Kenyataan menunjukkan bahwa cerita
rakyat itu masih hidup dan digemari di masyarakat. Perkawinan yang
dilakukan antara manusia dengan makhluk lain itu bukanlah
perkawinan atas dasar pengumbaran nafsu yang rendah, tetapi
jalinan cinta yang halus dan ajaib. Bentuk-bentuk yang rendah
hanyalah bentuk simbolis yang maya dan sementara. Ada sifat-sifat
yang harus dimuliakan oleh manusia yakni pengendalian diri,
mengalahkan egoisme, sayang-menyayangi, rasa syukur dan terima
kasih, serta sikap dan perbuatan yang didasari pikiran jernih.
Nah, cobalah cari pesan-pesan itu dalam ketiga
dongeng tersebut.
* made taro