kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 11 Pebruari 2007 tarukan valas
 

KELUARGA


Jangan Anggap Remeh Demam tak Stabil

DEMAM berdarah. Inilah kata-kata yang sering kita dengar dan menjadi momok yang sangat menakutkan di masyarakat. Terlebih belakangan ini. Penyakit ini memang dapat berakibat fatal bahkan kematian jika tidak ditangani dengan baik. Namun tidak jarang pula penyakit ini memberikan gejala yang sangat ringan atau sedang dan dapat sembuh dengan baik tanpa penderita harus "ngamar" di rumah sakit.

-------------

 

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan suatu penyakit yang disebabkan virus dengue. Virus ini biasanya ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti, disamping pula nyamuk Aedes Albopictus. Nyamuk ini biasanya bersarang pada genangan air yang jernih, berwarna loreng dan memiliki kebiasaan menggigit pada siang atau sore hari.

Ada empat jenis virus demam berdarah yang dapat ditularkan oleh nyamuk ini yaitu virus dengue tipe 1, 2, 3 dan 4. Keempat virus ini berpotensi penyakit yang sama dan dapat mengakibatkan sindrom renjatan (syok) yang dapat menyebabkan kematian. Berdasarkan data penelitian di beberapa tempat di Indonesia menunjukkan bahwa virus dengue tipe 3 merupakan tipe virus utama dan yang paling virulen di Indonesia.

Jika salah satu jenis virus dengue masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk, setelah 3-15 hari penderita akan mengalami demam. Suhu badan meningkat tiba-tiba disertai adanya nyeri kepala, nyeri pada tulang atau otot, mual, muntah dan batuk ringan. Sakit kepala dapat terjadi pada seluruh kepala atau sakit hanya di atas atau di belakang mata. Di sekitar mata mungkin dapat ditemukan -- tidak selalu -- pembengkakan, mata berair, dan silau. Otot-otot di sekitar mata terasa pegal.

Terdapat ruam (kemerahan) pada kulit yang terjadi pada awal demam, terlihat jelas pada wajah dan dada. Ruam ini biasanya berlangsung hanya beberapa jam dan tidak diperhatikan oleh penderita. Ruam berikutnya muncul mulai pada panas hari ke 3-6, yang biasanya disertai dengan bintik-bintik merah (seukuran ujung jarum) pada seluruh tubuh. Demam pada penderita DBD biasanya sifatnya bifasik -- artinya, demam dapat naik dan kemudian turun, naik lagi dan seterusnya.

 

Infeksi Berulang

Virus dengue masuk ke tubuh melalui gigitan nyamuk dan pada saat satu jenis virus masuk untuk yang pertama kalinya (infeksi pertama) penderita akan mengalami gejala-gejala tanpa adanya peningkatan kekentalan darah yang disebabkan kebocoran plasma. Hal ini disebut dengan "demam dengue". Reaksi tubuh di sini hampir sama dengan infeksi virus biasa. Sedangkan DBD baru akan terjadi jika penderita mendapatkan infeksi berulang dengan tipe virus dengue yang berlainan.

Hal ini dapat sangat berbahaya dan berakibat fatal. Hal ini dikarenakan adanya ikatan antara antigen-antibodi antara virus dengan tubuh yang menimbulkan beberapa reaksi yang mengakibatkan terjadinya kebocoran plasma, dan sebagainya. Hal-hal inilah yang menimbulkan manifestasi pendarahan seperti adanya bintik-bintik merah pada kulit, muntah darah, berak berwarna hitam, dll. Sampai adanya renjatan (syok) yang ditandai adanya penurunan kesadaran, tangan dan kaki dingin, nadi lemah atau bahkan tidak teraba.

Syok biasanya terjadi pada hari ke 3-7, biasanya pada saat demam turun. Karena itu, jangan terkecoh karena merasa anggota keluarga sudah agak baikan karena demamnya turun. Padahal justru sebaliknya. Hal ini tentu saja dapat berakibat fatal karena syok merupakan penyebab utama kematian pada penyakit ini.

 

Harus Diwaspadai
Karenanya, DBD harus diwaspadai. Bisa saja, setiap Anda atau keluarga mengalami demam yang sifatnya tidak stabil, naik turun, harus memeriksakan diri ke dokter. Jangan dianggap remeh, apalagi Indonesia adalah daerah endemis demam berdarah, hal ini berarti bahwa demam berdarah dapat hadir setiap saat tanpa mengenal musim.

Setelah tiga hari menderita demam, orang harus wajib memeriksakan diri ke dokter. Walaupun di rumah penderita belum ada bintik-bintik yang keluar, di dokter bintik-bintik itu akan dipaksa keluar dengan tes tourniquet memakai tensimeter. Jika tes positif, maka Anda wajib memeriksakan darah untuk mengetahui apakah terjadi penurunan trombosit (keping-keping darah), peningkatan hematokrit (kekentalan darah), penurunan Hb, atau penurunan WBC (sel darah putih).

Pada penderita DBD akan tampak penurunan sel darah putih (WBC), peningkatan kekentalan darah (hematokrit), peningkatan Hb (terjadi sesuai dengan peningkatan kekentalan darah). Berdasarkan pemeriksaan tersebut, dokter akan menentukan apakah seseorang perlu dirawat di rumah sakit atau tidak.

Jika Anda dicurigai terkena "demam dengue" atau DBD dan belun ada indikasi untuk masuk rumah sakit, yang harus Anda lakukan adalah (1) banyak minum air, teh, sirup, susu, sari buah, atau oralit, (2) minum obat penurun panas, disertai dengan kompres jika demam muncul, (3) lakukan pemeriksaan lab sesuai petunjuk dokter, bila perlu setiap hari, (4) antibiotika, jika hanya terdapat kecurigaan infeksi bakteri, dan (5) istirahat yang cukup.

Apapun itu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk memutuskan rantai penularannya, pemberantasan vektor dianggap cara yang paling memadai saat ini. Sebenarnya nyamuk Aedes Aegyti mudah diberantas karena sarangnya terbatas pada tempat yang tergenang air bersih dan jarak terbangnya maksimal 100 meter. Tetapi untuk keberhasilan pemberantasan diperlukan total coverage -- meliputi seluruh wilayah.

Yang dapat dilakukan adalah menggunakan insektisida dan tanpa insektisida. Insektisida yang dapat dilakukan dengan bubuk abate, pengasapan (fogging), atau insektisida semprot lainnya. Sedangkan tanpa insektisida dapat dilakukan dengan menguras bak mandi seminggu sekali, menutup rapat tempat penampungan air, dan membersihkan halaman rumah dari kaleng-kaleng bekas, botol atau tempat lain yang memungkinkan nyamuk dapat berkembang biak.

* dr. luh gede sri yenny

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com