Jangan Anggap Remeh Demam tak Stabil
DEMAM
berdarah. Inilah kata-kata yang sering kita dengar dan menjadi
momok yang sangat menakutkan di masyarakat. Terlebih belakangan
ini. Penyakit ini memang dapat berakibat fatal bahkan kematian
jika tidak ditangani dengan baik. Namun tidak jarang pula penyakit
ini memberikan gejala yang sangat ringan atau sedang dan dapat
sembuh dengan baik tanpa penderita harus "ngamar" di rumah sakit.
-------------
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan suatu
penyakit yang disebabkan virus dengue. Virus ini biasanya
ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti, disamping pula
nyamuk Aedes Albopictus. Nyamuk ini biasanya bersarang pada
genangan air yang jernih, berwarna loreng dan memiliki kebiasaan
menggigit pada siang atau sore hari.
Ada empat jenis virus demam berdarah yang dapat
ditularkan oleh nyamuk ini yaitu virus dengue tipe 1, 2, 3 dan 4.
Keempat virus ini berpotensi penyakit yang sama dan dapat
mengakibatkan sindrom renjatan (syok) yang dapat menyebabkan
kematian. Berdasarkan data penelitian di beberapa tempat di
Indonesia menunjukkan bahwa virus dengue tipe 3 merupakan tipe
virus utama dan yang paling virulen di Indonesia.
Jika salah satu jenis virus dengue masuk ke dalam
tubuh melalui gigitan nyamuk, setelah 3-15 hari penderita akan
mengalami demam. Suhu badan meningkat tiba-tiba disertai adanya
nyeri kepala, nyeri pada tulang atau otot, mual, muntah dan batuk
ringan. Sakit kepala dapat terjadi pada seluruh kepala atau sakit
hanya di atas atau di belakang mata. Di sekitar mata mungkin dapat
ditemukan -- tidak selalu -- pembengkakan, mata berair, dan silau.
Otot-otot di sekitar mata terasa pegal.
Terdapat ruam (kemerahan) pada kulit yang terjadi
pada awal demam, terlihat jelas pada wajah dan dada. Ruam ini
biasanya berlangsung hanya beberapa jam dan tidak diperhatikan
oleh penderita. Ruam berikutnya muncul mulai pada panas hari ke
3-6, yang biasanya disertai dengan bintik-bintik merah (seukuran
ujung jarum) pada seluruh tubuh. Demam pada penderita DBD biasanya
sifatnya bifasik -- artinya, demam dapat naik dan kemudian turun,
naik lagi dan seterusnya.
Infeksi
Berulang
Virus dengue masuk ke tubuh melalui gigitan nyamuk
dan pada saat satu jenis virus masuk untuk yang pertama kalinya
(infeksi pertama) penderita akan mengalami gejala-gejala tanpa
adanya peningkatan kekentalan darah yang disebabkan kebocoran
plasma. Hal ini disebut dengan "demam dengue". Reaksi tubuh di
sini hampir sama dengan infeksi virus biasa. Sedangkan DBD baru
akan terjadi jika penderita mendapatkan infeksi berulang dengan
tipe virus dengue yang berlainan.
Hal ini dapat sangat berbahaya dan berakibat fatal.
Hal ini dikarenakan adanya ikatan antara antigen-antibodi antara
virus dengan tubuh yang menimbulkan beberapa reaksi yang
mengakibatkan terjadinya kebocoran plasma, dan sebagainya. Hal-hal
inilah yang menimbulkan manifestasi pendarahan seperti adanya
bintik-bintik merah pada kulit, muntah darah, berak berwarna
hitam, dll. Sampai adanya renjatan (syok) yang ditandai adanya
penurunan kesadaran, tangan dan kaki dingin, nadi lemah atau
bahkan tidak teraba.
Syok biasanya terjadi pada hari ke 3-7, biasanya
pada saat demam turun. Karena itu, jangan terkecoh karena merasa
anggota keluarga sudah agak baikan karena demamnya turun. Padahal
justru sebaliknya. Hal ini tentu saja dapat berakibat fatal karena
syok merupakan penyebab utama kematian pada penyakit ini.
Harus
Diwaspadai
Karenanya, DBD harus diwaspadai. Bisa saja, setiap
Anda atau keluarga mengalami demam yang sifatnya tidak stabil,
naik turun, harus memeriksakan diri ke dokter. Jangan dianggap
remeh, apalagi Indonesia adalah daerah endemis demam berdarah, hal
ini berarti bahwa demam berdarah dapat hadir setiap saat tanpa
mengenal musim.
Setelah tiga hari menderita demam, orang harus
wajib memeriksakan diri ke dokter. Walaupun di rumah penderita
belum ada bintik-bintik yang keluar, di dokter bintik-bintik itu
akan dipaksa keluar dengan tes tourniquet memakai tensimeter. Jika
tes positif, maka Anda wajib memeriksakan darah untuk mengetahui
apakah terjadi penurunan trombosit (keping-keping darah),
peningkatan hematokrit (kekentalan darah), penurunan Hb, atau
penurunan WBC (sel darah putih).
Pada penderita DBD akan tampak penurunan sel darah
putih (WBC), peningkatan kekentalan darah (hematokrit),
peningkatan Hb (terjadi sesuai dengan peningkatan kekentalan
darah). Berdasarkan pemeriksaan tersebut, dokter akan menentukan
apakah seseorang perlu dirawat di rumah sakit atau tidak.
Jika Anda dicurigai terkena "demam dengue" atau DBD
dan belun ada indikasi untuk masuk rumah sakit, yang harus Anda
lakukan adalah (1) banyak minum air, teh, sirup, susu, sari buah,
atau oralit, (2) minum obat penurun panas, disertai dengan kompres
jika demam muncul, (3) lakukan pemeriksaan lab sesuai petunjuk
dokter, bila perlu setiap hari, (4) antibiotika, jika hanya
terdapat kecurigaan infeksi bakteri, dan (5) istirahat yang cukup.
Apapun itu, mencegah lebih baik daripada mengobati.
Untuk memutuskan rantai penularannya, pemberantasan vektor
dianggap cara yang paling memadai saat ini. Sebenarnya nyamuk
Aedes Aegyti mudah diberantas karena sarangnya terbatas pada
tempat yang tergenang air bersih dan jarak terbangnya maksimal 100
meter. Tetapi untuk keberhasilan pemberantasan diperlukan total
coverage -- meliputi seluruh wilayah.
Yang dapat dilakukan adalah menggunakan insektisida
dan tanpa insektisida. Insektisida yang dapat dilakukan dengan
bubuk abate, pengasapan (fogging), atau insektisida semprot
lainnya. Sedangkan tanpa insektisida dapat dilakukan dengan
menguras bak mandi seminggu sekali, menutup rapat tempat
penampungan air, dan membersihkan halaman rumah dari kaleng-kaleng
bekas, botol atau tempat lain yang memungkinkan nyamuk dapat
berkembang biak.
* dr. luh
gede sri yenny