kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 11 Pebruari 2007 tarukan valas
 

DESAIN


Berduel dalam Gong Kebyar, Bersama Mengelus Jambrud

PESTA Kesenian Bali (PKB) 2007 akan berlangsung pada Juni-Juli mendatang. Kendati demikian, geliatnya sudah terlihat. Denyut dan gairah berkesenian itu terutama tampak pada mata acara yang dilombakan. Tentu saja lomba seni yang selama ini menjadi favorit masyarakat Bali dalam pesta seni yang sudah berlangsung lebih dari seperampat abad itu adalah kompetisi gong kebyar yang secara resmi disebut Festival Gong Kebyar. Wakil grup gong kebyar daerah tingkat II sejak hari-hari ini sudah mempersiapkan diri untuk berlaga di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar.

----------

 

Masing-masing kabupaten atau kota mempersiapkan dua tim gong kebyar yaitu kelompok dewasa dan kontingen anak-anak. Begitu sebuah sekaa atau sanggar sudah dipastikan akan menjadi utusan daerahnya masing-masing, kesibukan pun mulai memancar. Seluruh komponen yang terlibat dalam tim seperti para pelaku seni (penabuh, penari, dalang) termasuk para kreator (komposer dan koreografer), panitia magerial, dan pihak birokrasi masing-masing daerah tingkat II, semuannya bersatu padu menjalin kerja sama untuk tujuan yang sama: meraih juara bergengsi.

Yang berada pada barisan paling depan tentu para seniman, baik penyaji maupun penggarap. Seniman penyaji adalah para penabuh dan penari -- festival gong kebyar berintikan lomba tabuh yang juga mengkompetisi seni tari. Mereka ini sudah direkrut jauh-jauh hari. Ada yang mengunggulkan para pengerawit sekaa sebunan (banjar atau desa) dan ada pula gabungan dari seluruh kabupaten/kota, begitu juga penarinya.

Namun, beberapa tahun terakhirnya, demi hasrat menjadi yang terbaik, cenderung memadukan seluruh seniman kabupaten/kota yang dikualifikasikan memiliki potensi dalam bidangnya masing-masing.

Sejak dimulai pada 1968 dengan nama Meredangga Uttava, festival gong kebyar se-Bali ini memang bergemuruh. Peristiwa seni pentas yang digelar Listibiya Propinsi Bali itu menyedot perhatian masyarakat Bali.

Pada waktu itu, sekaa-sekaa sebunan lebih mengambil peran dan menuai kejayaan seperti Sekaa Gong Kebyar Belaluan Sadmerta Denpasar, Sekaa Gong Kebyar Jaya Kesuma Banjar Gladag Denpasar, Sekaa Gong Kebyar Banjar Pinda, Blahbatuh, Gianyar, dan beberapa sekaa gong kebyar dari Bali Utara. Pada lomba gong kebyar masa kini, peran sekaa sebunan diambil alih tim seniman gabungan yang langsung dikoordinir dan difasilitasi oleh badan terkait masing-masing pemerintah tingkat II.

 

Mewah Gemerlap

Sejak muncul di Bali Utara pada 1915, gong kebyar dan tari kebyar-nya memang begitu cepat populer di tengah masyarakat Bali. Demam gong kebyar yang merasuki Bali "membungkam" keberadaan bentuk-bentuk seni karawitan lainnya.

Pada 1950-an, tidak sedikit ensambel gamelan yang berbahan perunggu, semarapagulingan misalnya, dilebur menjadi gong kebyar. Kini hampir setiap banjar atau desa memiliki gamelan yang biasanya diukir berprada gemerlap. Gong kebyar juga diboyong ke mancanegara, dimainkan oleh para seniman setempat seperti Grup Gong Kebyar Sekar Jaya di Amerika Serikat dan Grup Sekar Jepun di Jepang.

Festival Gong Kebyar yang secara rutin digelar dalam PKB kiranya memperteguh kejayaan gamelan yang juga fleksibel difungsikan dalam konteks ritual keagamaan. Semangat kompetitif yang bergelora dalam ajang seni pertunjukan tabuh plus tari se-Bali itu mengobarkan gairah berkesenian. Coba tengok penampilan fisik gamelan ini. Kini jarang dijumpai gong kebyar lalengisan, polos tanpa ukiran, sebaliknya kebanyakan tampil dengan tongkrongan yang pahatan rumit berprada mewah gemerlap. Trend ini bukan hanya tampak dalam festival gong kebyar di PKB, juga hampir pada semua gong kebyar.

Lomba gong kebyar PKB memunculkan pula perkembangan penataan busana dan tata rias para penabuhnya. Para penabuh yang tampil dalam festival itu cenderung didandani kian gagah dengan busana seperti udeng, baju, saput dan kamen didesain modivikatif. Bersamaan dengan itu, para penabuh dalam kompetisi itu hadir dengan rona berseri klimis disertai polesan bedak dan gincu. Nah, ketika beraksi menabuh, terjadilah gerak gerik irama tubuh yang tidak hanya mengemuka karena respons dari instrumen atau komposisi musik yang sedang dimainkan, namun belakangan estetika geraknya memang dikoreografi khusus.

Sejak sekitar 10 tahun belakangan ini, kompetisi gong kebyar menjadi tontonan paling heboh dalam PKB. Euforia dari acara ini sudah membius jauh-jauh hari dan puncak histerianya adalah ketika berduel dalam babak-babak final. Karena itu bisa "dimaklumi" bila pementasan festival ini sering disertai dengan gemuruh fanatisme yang berlebihan dari sebagian pendukung atau simpatisan masing-masing tim. Maklum pula "radikalisme" pembelaan terhadap jagoannya masing-masing sering pula diekspresikan secara emosional sempit.

Sebuah kompetisi memang bias dan mungkin harus sadar dengan segala konsekuensinya, positif dan negatif. Jagat seni adalah sebuah objek dan subjek yang relatif. Oleh karena itu, juri dalam konteks festival gong kebyar tersebut sering menjadi sorotan tajam. Secara ekstrem, dipuji bagi yang meraih juara dan sebaliknya tak jarang dicaci -- kendati tidak secara langsung -- bagi yang tersungkur.

Isu-isu miring sering menerpa para juri festival ini. Tapi syukur letupan negatif itu tertutupi oleh atmosfir positif dari kompetisi ini. Sebab, kiranya tanggung jawab moral dan kejujuran para juri dalam kontribusinya memajukan seni kebyar ini, selama ini, masih terasa kental dilandasi idealisme untuk kemuliaan jagat seni, kesenian Bali, sebuah jambrud berbinar di khatulistiwa yang patut disayangi bersama.

* kadek suartaya

 

  

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com