Berduel dalam Gong Kebyar, Bersama Mengelus
Jambrud
PESTA
Kesenian Bali (PKB) 2007 akan berlangsung pada Juni-Juli
mendatang. Kendati demikian, geliatnya sudah terlihat. Denyut dan
gairah berkesenian itu terutama tampak pada mata acara yang
dilombakan. Tentu saja lomba seni yang selama ini menjadi favorit
masyarakat Bali dalam pesta seni yang sudah berlangsung lebih dari
seperampat abad itu adalah kompetisi gong kebyar yang secara resmi
disebut Festival Gong Kebyar. Wakil grup gong kebyar daerah
tingkat II sejak hari-hari ini sudah mempersiapkan diri untuk
berlaga di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar.
----------
Masing-masing kabupaten atau kota mempersiapkan dua
tim gong kebyar yaitu kelompok dewasa dan kontingen anak-anak.
Begitu sebuah sekaa atau sanggar sudah dipastikan akan menjadi
utusan daerahnya masing-masing, kesibukan pun mulai memancar.
Seluruh komponen yang terlibat dalam tim seperti para pelaku seni
(penabuh, penari, dalang) termasuk para kreator (komposer dan
koreografer), panitia magerial, dan pihak birokrasi masing-masing
daerah tingkat II, semuannya bersatu padu menjalin kerja sama
untuk tujuan yang sama: meraih juara bergengsi.
Yang berada pada barisan paling depan tentu para
seniman, baik penyaji maupun penggarap. Seniman penyaji adalah
para penabuh dan penari -- festival gong kebyar berintikan lomba
tabuh yang juga mengkompetisi seni tari. Mereka ini sudah direkrut
jauh-jauh hari. Ada yang mengunggulkan para pengerawit sekaa
sebunan (banjar atau desa) dan ada pula gabungan dari seluruh
kabupaten/kota, begitu juga penarinya.
Namun, beberapa tahun terakhirnya, demi hasrat
menjadi yang terbaik, cenderung memadukan seluruh seniman
kabupaten/kota yang dikualifikasikan memiliki potensi dalam
bidangnya masing-masing.
Sejak dimulai pada 1968 dengan nama Meredangga
Uttava, festival gong kebyar se-Bali ini memang bergemuruh.
Peristiwa seni pentas yang digelar Listibiya Propinsi Bali itu
menyedot perhatian masyarakat Bali.
Pada waktu itu, sekaa-sekaa sebunan lebih mengambil
peran dan menuai kejayaan seperti Sekaa Gong Kebyar Belaluan
Sadmerta Denpasar, Sekaa Gong Kebyar Jaya Kesuma Banjar Gladag
Denpasar, Sekaa Gong Kebyar Banjar Pinda, Blahbatuh, Gianyar, dan
beberapa sekaa gong kebyar dari Bali Utara. Pada lomba gong kebyar
masa kini, peran sekaa sebunan diambil alih tim seniman gabungan
yang langsung dikoordinir dan difasilitasi oleh badan terkait
masing-masing pemerintah tingkat II.
Mewah Gemerlap
Sejak muncul di Bali Utara pada 1915, gong kebyar
dan tari kebyar-nya memang begitu cepat populer di tengah
masyarakat Bali. Demam gong kebyar yang merasuki Bali "membungkam"
keberadaan bentuk-bentuk seni karawitan lainnya.
Pada 1950-an, tidak sedikit ensambel gamelan yang
berbahan perunggu, semarapagulingan misalnya, dilebur menjadi gong
kebyar. Kini hampir setiap banjar atau desa memiliki gamelan yang
biasanya diukir berprada gemerlap. Gong kebyar juga diboyong ke
mancanegara, dimainkan oleh para seniman setempat seperti Grup
Gong Kebyar Sekar Jaya di Amerika Serikat dan Grup Sekar Jepun di
Jepang.
Festival Gong Kebyar yang secara rutin digelar
dalam PKB kiranya memperteguh kejayaan gamelan yang juga fleksibel
difungsikan dalam konteks ritual keagamaan. Semangat kompetitif
yang bergelora dalam ajang seni pertunjukan tabuh plus tari
se-Bali itu mengobarkan gairah berkesenian. Coba tengok penampilan
fisik gamelan ini. Kini jarang dijumpai gong kebyar lalengisan,
polos tanpa ukiran, sebaliknya kebanyakan tampil dengan
tongkrongan yang pahatan rumit berprada mewah gemerlap. Trend ini
bukan hanya tampak dalam festival gong kebyar di PKB, juga hampir
pada semua gong kebyar.
Lomba gong kebyar PKB memunculkan pula perkembangan
penataan busana dan tata rias para penabuhnya. Para penabuh yang
tampil dalam festival itu cenderung didandani kian gagah dengan
busana seperti udeng, baju, saput dan kamen didesain modivikatif.
Bersamaan dengan itu, para penabuh dalam kompetisi itu hadir
dengan rona berseri klimis disertai polesan bedak dan gincu. Nah,
ketika beraksi menabuh, terjadilah gerak gerik irama tubuh yang
tidak hanya mengemuka karena respons dari instrumen atau komposisi
musik yang sedang dimainkan, namun belakangan estetika geraknya
memang dikoreografi khusus.
Sejak sekitar 10 tahun belakangan ini, kompetisi
gong kebyar menjadi tontonan paling heboh dalam PKB. Euforia dari
acara ini sudah membius jauh-jauh hari dan puncak histerianya
adalah ketika berduel dalam babak-babak final. Karena itu bisa
"dimaklumi" bila pementasan festival ini sering disertai dengan
gemuruh fanatisme yang berlebihan dari sebagian pendukung atau
simpatisan masing-masing tim. Maklum pula "radikalisme" pembelaan
terhadap jagoannya masing-masing sering pula diekspresikan secara
emosional sempit.
Sebuah kompetisi memang bias dan mungkin harus
sadar dengan segala konsekuensinya, positif dan negatif. Jagat
seni adalah sebuah objek dan subjek yang relatif. Oleh karena itu,
juri dalam konteks festival gong kebyar tersebut sering menjadi
sorotan tajam. Secara ekstrem, dipuji bagi yang meraih juara dan
sebaliknya tak jarang dicaci -- kendati tidak secara langsung --
bagi yang tersungkur.
Isu-isu miring sering menerpa para juri festival
ini. Tapi syukur letupan negatif itu tertutupi oleh atmosfir
positif dari kompetisi ini. Sebab, kiranya tanggung jawab moral
dan kejujuran para juri dalam kontribusinya memajukan seni kebyar
ini, selama ini, masih terasa kental dilandasi idealisme untuk
kemuliaan jagat seni, kesenian Bali, sebuah jambrud berbinar di
khatulistiwa yang patut disayangi bersama.
* kadek
suartaya