kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 11 Pebruari 2007 tarukan valas
 

CERMIN


MIMBAR AGAMA KRISTEN PROTESTAN

Mengendalikan Emosi

''BERDIAM dirilah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.''

(Mazmur 37:7-8)

-----------------

 

Banyak orang tersandung konon karena mata mereka nanar ke banyak objek. Sebagian lagi tersesat karena tidak selektif terhadap apa yang mereka dengar. Dan tidak sedikit yang menyimpang dari tujuan, karena terlalu dikendalikan oleh emosi. Orang-orang jenis yang ketiga ini, tanpa mereka sendiri kehendaki, kadang-kadang ceria dan bahagia, tetapi tidak jarang tiba-tiba murung dan uring-uringan, dipontang-pantingkan naik turunnya suhu emosi mereka.

Tentu sama sekali tidak bermaksud meremehkan arti, fungsi dan dampak emosi. Emosi penting karena ia merupakan pendorong, pemicu dan pemacu jiwa. Ia pemberi dinamika serta warna-warni kehidupan. Ia juga membuat hidup tidak berlangsung datar, tawar dan hambar.

Namun, betapapun pentingnya emosi, ia tidak pantas dan tidak boleh menguasai serta mengendalikan kita. Sebaliknya, kita yang harus mengendalikannya. "Berdiam dirilah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia, jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. Berhentilah marah dan tinggalkan panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan." (Mazmur 37:7-8).

Mengendalikan emosi? Meninggalkan panas hati? Jangan marah? Bagaimana mungkin? Mungkin saja, sebab sesungguhnya emosi itu sendiri dikuasai dan dikendalikan oleh faktror-faktor lain. Jadi, ibarat menghadapi preman, cara yang paling efektif adalah pegang "pentolan"-nya. Emosi, misalnya, dipengaruhi oleh kondisi fisik kita. Kalau tubuh kita segar, emosi kita pun biasanya ceria. Sebaliknya, bayangkanlah bila gigi kita "senut-senut" dan "cekot-cekot".

Bila kepribadian kita diibaratkan lampu teplok, maka emosi adalah semprongnya. Kadang-kadang sumbunya memang menyala, tetapi cahayanya redup dan tidak maksimal. Mengapa? Karena semprongnya kotor. Secara teratur kita perlu membersihkan "semprong emosi" kita. Ini bisa dilakukan antara lain dengan menjaga tubuh kita, menghindari makanan atau minuman yang punya pengaruh buruk terhadap emosi, memelihara kebersihan dan kerapian rumah kita, dan sebagainya. Semuanya ini punya pengaruh kuat terhadap emosi, langsung maupun tidak.

Dan yang terutama, jagalah kondisi iman kita! Ketika orang melemparkan batu ke air, buyarlah bayang-bayang bulan purnama yang indah di permukaannya. Emosi adalah ibarat bayang-bayang di air, mudah sekali buyar dan berubah. Tetapi iman adalah laksana sang bulan purnama itu, tetap bercahaya, apapun yang kita lakukan dengan air di kolam kita.

Pahlawan Italia, Manzini, pernah berujar, "Tak peduli apakah sang surya sedang bersinar limpah menghangati siang di bumi Italia, atau sebaliknya kabut tebal dari utara yang menggelantung di atas kita, saya kira, itu tak boleh punya pengaruh sedikit pun terhadap kewajiban dan cinta akan tanah air kita". Kalau saja kita juga bisa berkata, "Tak peduli apakah emosi kita sedang membawa kita terbang melambung atau sebaliknya ia sedang menarik kita terjun menurun, itu tak punya pengaruh yang berarti bagi komitmenku kepada Tuhan.

* Pdt. I P  Widiarsana

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com