MIMBAR AGAMA KRISTEN
PROTESTAN
Mengendalikan Emosi
''BERDIAM
dirilah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia; jangan marah karena
orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan
tipu daya. Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu,
jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.''
(Mazmur 37:7-8)
-----------------
Banyak orang tersandung konon karena mata mereka
nanar ke banyak objek. Sebagian lagi tersesat karena tidak
selektif terhadap apa yang mereka dengar. Dan tidak sedikit yang
menyimpang dari tujuan, karena terlalu dikendalikan oleh emosi.
Orang-orang jenis yang ketiga ini, tanpa mereka sendiri kehendaki,
kadang-kadang ceria dan bahagia, tetapi tidak jarang tiba-tiba
murung dan uring-uringan, dipontang-pantingkan naik turunnya suhu
emosi mereka.
Tentu sama sekali tidak bermaksud meremehkan arti,
fungsi dan dampak emosi. Emosi penting karena ia merupakan
pendorong, pemicu dan pemacu jiwa. Ia pemberi dinamika serta
warna-warni kehidupan. Ia juga membuat hidup tidak berlangsung
datar, tawar dan hambar.
Namun, betapapun pentingnya emosi, ia tidak pantas
dan tidak boleh menguasai serta mengendalikan kita. Sebaliknya,
kita yang harus mengendalikannya. "Berdiam dirilah di hadapan
Tuhan dan nantikanlah Dia, jangan marah karena orang yang berhasil
dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. Berhentilah
marah dan tinggalkan panas hati itu, jangan marah, itu hanya
membawa kepada kejahatan." (Mazmur 37:7-8).
Mengendalikan emosi? Meninggalkan panas hati?
Jangan marah? Bagaimana mungkin? Mungkin saja, sebab sesungguhnya
emosi itu sendiri dikuasai dan dikendalikan oleh faktror-faktor
lain. Jadi, ibarat menghadapi preman, cara yang paling efektif
adalah pegang "pentolan"-nya. Emosi, misalnya, dipengaruhi oleh
kondisi fisik kita. Kalau tubuh kita segar, emosi kita pun
biasanya ceria. Sebaliknya, bayangkanlah bila gigi kita
"senut-senut" dan "cekot-cekot".
Bila kepribadian kita diibaratkan lampu teplok,
maka emosi adalah semprongnya. Kadang-kadang sumbunya memang
menyala, tetapi cahayanya redup dan tidak maksimal. Mengapa?
Karena semprongnya kotor. Secara teratur kita perlu membersihkan
"semprong emosi" kita. Ini bisa dilakukan antara lain dengan
menjaga tubuh kita, menghindari makanan atau minuman yang punya
pengaruh buruk terhadap emosi, memelihara kebersihan dan kerapian
rumah kita, dan sebagainya. Semuanya ini punya pengaruh kuat
terhadap emosi, langsung maupun tidak.
Dan yang terutama, jagalah kondisi iman kita!
Ketika orang melemparkan batu ke air, buyarlah bayang-bayang bulan
purnama yang indah di permukaannya. Emosi adalah ibarat
bayang-bayang di air, mudah sekali buyar dan berubah. Tetapi iman
adalah laksana sang bulan purnama itu, tetap bercahaya, apapun
yang kita lakukan dengan air di kolam kita.
Pahlawan Italia, Manzini, pernah berujar, "Tak
peduli apakah sang surya sedang bersinar limpah menghangati siang
di bumi Italia, atau sebaliknya kabut tebal dari utara yang
menggelantung di atas kita, saya kira, itu tak boleh punya
pengaruh sedikit pun terhadap kewajiban dan cinta akan tanah air
kita". Kalau saja kita juga bisa berkata, "Tak peduli apakah emosi
kita sedang membawa kita terbang melambung atau sebaliknya ia
sedang menarik kita terjun menurun, itu tak punya pengaruh yang
berarti bagi komitmenku kepada Tuhan.
* Pdt. I P
Widiarsana