Jutaan Kubik Air Bali Hilang di Danau Buyan
Denpasar
(Bali Post) -
Turunnya air Danau Buyan hingga mencapai 4,8 meter membuat pakar
lingkungan Putu Rumawan Salain angkat bicara. Namun, ia belum
berani mengatakan bahwa penurunan air di Danau Buyan sedalam 4,8
meter tersebut permanen, sebab belum ada kajian ilmiah mengenai
hal tersebut.
Jika memang benar penurunan air Danau Buyan hingga
4,8 meter, ia mengatakan kondisiya sangat tragis. Sebab, jika
diteliti lebih mendalam ada jutaan kubik air Bali yang telah
hilang di danau itu.
Namun, Rumawan mengatakan Bali sebenarnya masih
surplus air, dengan potensi air sebesar 7.288 meter kubik per
tahun. Potensi air permukaan 4.965,2 juta meter kubik per tahun
sementara kebutuhan air di Propinsi Bali hanya 4.239,71 juta meter
kubik per tahun. Sedangkan jumlah air di Danau Buyan mencaai
110,26 juta meter kubik.
Dikatakannya, kemungkinan penyebab penurunan air di
Danau Buyan yang merupakan penampung sumber air danau terbesar
kedua setelah Danau Batur tersebut disebabkan banyaknya perubahan
fungsi lahan di daerah sekitar danau dan terjadi endapan tanah
yang makin menjorok ke danau. Di samping maraknya perkebunan dan
pemanfaatan air lainnya di daerah tersebut.
Jika dikaitkan dengan pembangunan proyek
geothermal, ia mengatakan hal tersebut memang dapat mempengaruhi,
namun mungkin hanya dalam skala kecil. Hal tersebut mengingat
jarak proyek yang relatif jauh dari Danau Buyan dan hingga saat
ini masih belum beroperasi.
Dikatakan Rumawan, untuk menanggulangi masalah
tersebut, sebaiknya pihak-pihak terkait melakukan peralihan fungsi
lahan di sekitar Danau Buyan dan diarahkan untuk penyelamatan
sumber daya air. Contohnya dengan menanam tanaman yang tidak boros
air atau merusak tanah namun tetap memiliki nilai ekonomis.
''Perlu diteliti apakah tanaman apel atau teh dapat berkembang
dengan baik di daerah sekitar danau'' katanya.
Di pihak lain, salah satu tokoh pemerhati
lingkungan Dr. Kartini menyoroti tentang penyebab penurunan debit
air Danau Buyan dari sisi niskala. Menurutnya ada hal-hal lain
yang melampaui daya pikir manusia yang menjadi alasan kejadian
tersebut. Namun, Kartini tetap menekankan, penyebab niskala muncul
akibat hasil dari perbuatan manusia sendiri yang terlalu
mengeksploitasi alam secara berlebihan.
Belum
Stabil
Sementara itu, hujan yang turun sejak akhir Januari
lalu di kawasan Desa Pancasari Kecamatan Sukasada membuat air
Danau Buyan sempat naik. Namun, karena turunnya hujan itu tidak
stabil, kenaikan air danau itu baru diperkirakan mencapai sekitar
20 centimeter dan kemungkinan bias turun kembali.
Pantauan Bali Post Sabtu (10/2) kemarin,
menyebutkan permukaan air memang tampak lebih luas jika dilihat
dari batas pinggiran danau, daripada kondisi batas air pada awal
Januari lalu. Garis batas air itu tampak meluas hingga ke kawasan
yang sebelumnya ditumbuhi rumput. "Airnya memang naik, namun
sedikit. Hampir tak kelihatan," kata seorang pemancing yang
mengaku setiap hari memancing di Danau Buyan.
Seorang pedagang di pelataran parkir Danau Buyan
membenarkan air kelihatan lebih banyak pada dua minggu belakangan
ini. Penyebabnya mungkin hujan sudah mulai turun sejak digelarnya
upacara magpag toya atau Wisnu Kertih di Danau Buyan 28 Januari
lalu. "Usai digelar upacara, hujan langsung turun lebat tiga hari
berturut-turut sehingga air danau sempat naik," kata pedagang
perempuan yang berjualan di sebelah timur danau.
Namun, pedagang itu tetap saja belum yakin kalau
air danau itu bisa kembali seperti sediakala. Pasalnya, hujan yang
turun di kawasan Desa Pancasari dan sekitarnya tidak stabil. Hujan
lebat hanya tiga hari setelah digelar upacara, namun setelah itu
hujannya kembali seret. "Kadang-kadang hanya mendung, tapi tak
jadi hujan. Kadang-kadang hanya gerimis," ujarnya.
Prajuru Desa Pakraman Pancasari Wayan Sumadra
mengakui hujan yang turun di kawasan Desa Pancasari memang tak
stabil. Usai upacara memang terjadi hujan lebat dan sempat membuat
air danau naik sekitar 20 sentimeter, namun pada hari-hari
berikutnya hujan kembali tak menentu. Sebelumnya air danau itu
mengalami penurunan sekitar 5 meter, namun pada awal Februari
penurunan sempat berkurang menjadi 4,8 meter. "Mudah-mudahan air
itu terus naik sehingga Danau Buyan bisa kembali seperti pada
awalnya," ujarnya.
Sumadra mengatakan untuk mengupayakan agar danau
dan alam di kawasan Danau Buyan bisa kembali lestari, pihaknya
sudah melakukan berbagai upaya baik sekala maupun niskala. Secara
sekala, warga Desa Pancasari dan sekitar beberapa kali melakukan
penghijauan di kawasan danau. Secara niskala warga desa pakraman
juga sempat melaksanakan berbagai upacara, salah satunya adalah
Wisnu Kertih, 28 Januari lalu. Bahkan rencananya Minggu (11/2)
ini, prajuru Sad Desa yang menjadi pengempon Pura Ulun Danu Buyan
akan mengadakan pertemuan untuk membahas pemindahan sejumlah
pelinggih. "Beberapa pelinggih seperti surya dan taksu, lokasinya
dianggap tidak tepat, secara niskala berpengaruh terhadap
turunnnya air danau," kata Sumadra.
(can/ded/kmb15)