kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 11 Pebruari 2007 tarukan valas
 

BERITA


Wiwin Astari

Membaca Lontar

KEGIATAN makidung, makekawin, dan membaca lontar sering kali dianggap kuno dan tradisional oleh kebanyakan remaja Bali kini. Namun, tidak demikian halnya dengan Ni Luh Putu Wiwin Astari. Meski sering diledek teman-temannya, toh gadis kelahiran Munggu, 4 April 1986, ini tetap cuek. Ia tidak pernah malu, apalagi terpengaruh dengan ledekan teman-temannya.

"Buat apa malu. Bisa membaca lontar itu kan bagus. Kita bisa memetik hikmahnya dari lontar itu," kata Wiwin yang pernah meraih juara I Macepet Anak-anak Putri pada Utsawa Dharma Gita tingkat Propinsi Bali pada 1997, juara I Macepat Remaja Putri pada Utsawa Dharma Gita tingkat Nasional dan juara II Lomba Tari di Semarang pada 2003 ini.

Bagi Wiwin, bisa membaca lontar sangat bermanfaat bagi dirinya sendiri. Dengan menguasai pembacaan lontar, makekawin atau jenis tembang tradisional lainnya, ia merasa lebih tenang, sabar, tidak emosional dalam mengarungi samudera kehidupannya. Dari aktivitas warisan leluhur itu ia juga banyak mendapatkan sesuluh hidup yang bisa dijadikan pedoman hidup sebagai remaja Hindu. "Sering matembang juga menjadikan hidup itu sehat. Karena, dalam mengucapkan salah satu suara itu, seseorang konon bisa memperbaiki urat sarafnya," jelasnya.

Sekarang, Wiwin tengah sibuk mengadakan latihan vokal untuk mengikuti persiapan Utsawa Dharma Gita mewakili Kabupaten Badung. Pada lomba ini, ia akan membaca sloka kategori remaja putri. "Mudah-mudah berjalan lancar," ujar Wiwin yang juga penari langganan hotel dan beberapa kali terlibat sebagai peserta parade tari daerah di Mataram dan Jakarta ini.

Pemilik tinggi-berat 165 cm dan 42 kg yang juga hobi tata rias ini mengaku, seni tradisional khususnya tembang digelutinya sejak anak-anak. Mula-mula ia belajar macepat, selanjutnya makekawin, membaca lontar, dan membaca sloka. Ketika SD, jika ada lomba macepat atau seni tembang tradisional lainnya, ia selalu didapuk mewakili sekolahnya. Begitu pula pada saat ia duduk di bangku SMP, wanita ini selalu mengharumkan nama sekolahnya lewat kegiatan itu.

Putri ketiga dari pasangan Nyoman Wija Widastra dan Ni Luh Sitiari ini cukup menguasai beberapa tari Bali. "Karena senang menari itulah saya memilih melanjutkan ke SMKI," ujar mahasiswi semester V, Fakultas Seni Pertunjukan Jurusan Seni Tari ISI Denpasar ini. Biasa nembang, apakah Wiwin tak ingin jadi penyanyi? "Ya ingin juga. Tapi, belum punya kesempatan," katanya seraya menambahkan ia hanya tampil menyanyikan lagu-lagu pop Bali pada acara ulang tahunan dan resepsi di desa. (ana)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com