Wiwin Astari
Membaca Lontar
KEGIATAN
makidung, makekawin, dan membaca lontar sering kali dianggap kuno
dan tradisional oleh kebanyakan remaja Bali kini. Namun, tidak
demikian halnya dengan Ni Luh Putu Wiwin Astari. Meski sering
diledek teman-temannya, toh gadis kelahiran Munggu, 4 April 1986,
ini tetap cuek. Ia tidak pernah malu, apalagi terpengaruh dengan
ledekan teman-temannya.
"Buat apa malu. Bisa membaca lontar itu kan bagus.
Kita bisa memetik hikmahnya dari lontar itu," kata Wiwin yang
pernah meraih juara I Macepet Anak-anak Putri pada Utsawa Dharma
Gita tingkat Propinsi Bali pada 1997, juara I Macepat Remaja Putri
pada Utsawa Dharma Gita tingkat Nasional dan juara II Lomba Tari
di Semarang pada 2003 ini.
Bagi Wiwin, bisa membaca lontar sangat bermanfaat
bagi dirinya sendiri. Dengan menguasai pembacaan lontar, makekawin
atau jenis tembang tradisional lainnya, ia merasa lebih tenang,
sabar, tidak emosional dalam mengarungi samudera kehidupannya.
Dari aktivitas warisan leluhur itu ia juga banyak mendapatkan
sesuluh hidup yang bisa dijadikan pedoman hidup sebagai remaja
Hindu. "Sering matembang juga menjadikan hidup itu sehat. Karena,
dalam mengucapkan salah satu suara itu, seseorang konon bisa
memperbaiki urat sarafnya," jelasnya.
Sekarang, Wiwin tengah sibuk mengadakan latihan
vokal untuk mengikuti persiapan Utsawa Dharma Gita mewakili
Kabupaten Badung. Pada lomba ini, ia akan membaca sloka kategori
remaja putri. "Mudah-mudah berjalan lancar," ujar Wiwin yang juga
penari langganan hotel dan beberapa kali terlibat sebagai peserta
parade tari daerah di Mataram dan Jakarta ini.
Pemilik tinggi-berat 165 cm dan 42 kg yang juga
hobi tata rias ini mengaku, seni tradisional khususnya tembang
digelutinya sejak anak-anak. Mula-mula ia belajar macepat,
selanjutnya makekawin, membaca lontar, dan membaca sloka. Ketika
SD, jika ada lomba macepat atau seni tembang tradisional lainnya,
ia selalu didapuk mewakili sekolahnya. Begitu pula pada saat ia
duduk di bangku SMP, wanita ini selalu mengharumkan nama
sekolahnya lewat kegiatan itu.
Putri ketiga dari pasangan Nyoman Wija Widastra dan
Ni Luh Sitiari ini cukup menguasai beberapa tari Bali. "Karena
senang menari itulah saya memilih melanjutkan ke SMKI," ujar
mahasiswi semester V, Fakultas Seni Pertunjukan Jurusan Seni Tari
ISI Denpasar ini. Biasa nembang, apakah Wiwin tak ingin jadi
penyanyi? "Ya ingin juga. Tapi, belum punya kesempatan," katanya
seraya menambahkan ia hanya tampil menyanyikan lagu-lagu pop Bali
pada acara ulang tahunan dan resepsi di desa.
(ana)