Karaniya Metta Sutta
SEBAGIAN
besar umat Buddha pasti pernah mendengar tentang
Karaniya Metta Sutta. Sutta ini selalu dibaca dalam
setiap kebaktian bersama. Para bhikkhu juga membacanya
pada saat membaca paritta manggala (pemberkahan).
Walaupun demikian, kita tidak akan menjumpai Karaniya
Metta Sutta dalam Kitab Suci Tipitaka. Bait syair sutta
tersebut terdapat dalam Khuddhakaniyaka, Khuddhakapatha,
dengan nama Metta Sutta.
Sutta ini lahir ketika berlangsung musim hujan (masa
vassa di India), ketika para bhikkhu berdiam diri selama
satu bulan untuk melatih diri. Demikianlah yang pernah
terjadi, ketika Buddha Gotama tinggal di Savatti.
Sekelompok bhikkhu yang telah mendapat petunjuk
berkenaan dengan obyek latihan meditasi dari Buddha
Gotama melakukan perjalanan ke dalam hutan untuk
melewati masa vassa.
Para dewa pohon yang ada di hutan tersebut merasa kuatir
dengan kedatangan para bhikkhu tersebut. Mereka berharap
agar para bhikkhu segera meninggalkan tempat tersebut.
Karena para bhikkhu akan tinggal dalam jangka waktu yang
panjang untuk menjalani masa vassa, para dewa tersebut
menggangu para bhikkhu dengan berbagi cara sepanjang
malam agar mereka takut dan pergi.
Tinggal dalam kondisi seperti itu tentu saja memberatkan
bagi para bhikkhu. Mereka menghadap Buddha Gotama dan
menceritakan kesulitan yang terjadi. Buddha Gotama
mengajarkan Metta Sutta dan mengajurkan mereka untuk
kembali ke tempat sebelumnya. Metta Sutta tersebut dapat
dipergunakan sebagai pelindung sehingga tidak diganggu
oleh para makhluk yang tidak terlihat.
Para bhikkhu kembali ke hutan dan mempraktikkan apa yang
telah diajarkan oleh Buddha Gotama, menembus seluruh
lingkungan dengan pikiran cinta kasih (metta). Para dewa
terpengaruh dengan getaran cintakasih ini dan membiarkan
para bhikkhu berlatih meditasi dengan tenang gingga masa
vassa berakhir.
Bila diperhatikan secara teliti, Metta Sutta dapat
dibagi menjadi dua bagian. Pertama, tentang tingkah laku
atau norma yang harus dibutuhkan oleh seorang yang ingin
mencapai kesucian atau ketenangan. Mereka harus jujur,
cakap, tulus, mudah dinasihati, lemah lembut, tidak
sombang. Mereka juga merasa puas dengan apa yang sudah
dimiliki, mudah dirawat, tidak repot, hidup bersahaja,
sopan santu, memiliki indera yang tenang, dan sebagainya.
Bagian kedua menjelaskan tentang cara untuk melatih
cinta kasih, melalui apa yang dikenal dengan meditasi
cinta kasih. Cinta kasih terhadap makhluk di segenap
alam semesta, dikembangkan tanpa batas di dalam batin,
ke atas, bawah, dan di antaranya. Tidak berpikiran
sempit, tanpa dengki, tanpa permusuhan. Terus
mengembangkan cinta kasih pada saat berdiri, berjalan,
duduk, bahkan ketika berbaring sebelum terlelap tidur.
Hingga sekarang, efek dari Karaniya Metta Sutta ini
masih diakui oleh semua orang. Membaca sutta ini dengan
sepenuh hati, akan memberikan dampak yang sangat kuat
bagi lingkungan kita. Oleh karena itu, sebaiknya sutta
tersebut tidak hanya dibaca di lingkungan vihara saja.
Coba luangkan waktu untuk membaca paritta, termasuk
membaca sutta tersebut. Hasilnya akan lebih baik lagi
bila kita juga bisa melatih diri melakukan meditasi
cinta kasih.
Mudah-mudahan dengan kegiatan baik yang kita lakukan,
mengulang kembali Dhamma, kita bisa hidup lebih baik dan
terhindar dari segala kondisi buruk yang mungkin terjadi.
Semoga semua hidup berbahagia.