kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Pon, 14 Agustus 2006

 Mimbar Buddha


Karaniya Metta Sutta
 

SEBAGIAN besar umat Buddha pasti pernah mendengar tentang Karaniya Metta Sutta. Sutta ini selalu dibaca dalam setiap kebaktian bersama. Para bhikkhu juga membacanya pada saat membaca paritta manggala (pemberkahan). Walaupun demikian, kita tidak akan menjumpai Karaniya Metta Sutta dalam Kitab Suci Tipitaka. Bait syair sutta tersebut terdapat dalam Khuddhakaniyaka, Khuddhakapatha, dengan nama Metta Sutta.

Sutta ini lahir ketika berlangsung musim hujan (masa vassa di India), ketika para bhikkhu berdiam diri selama satu bulan untuk melatih diri. Demikianlah yang pernah terjadi, ketika Buddha Gotama tinggal di Savatti. Sekelompok bhikkhu yang telah mendapat petunjuk berkenaan dengan obyek latihan meditasi dari Buddha Gotama melakukan perjalanan ke dalam hutan untuk melewati masa vassa.

Para dewa pohon yang ada di hutan tersebut merasa kuatir dengan kedatangan para bhikkhu tersebut. Mereka berharap agar para bhikkhu segera meninggalkan tempat tersebut. Karena para bhikkhu akan tinggal dalam jangka waktu yang panjang untuk menjalani masa vassa, para dewa tersebut menggangu para bhikkhu dengan berbagi cara sepanjang malam agar mereka takut dan pergi.

Tinggal dalam kondisi seperti itu tentu saja memberatkan bagi para bhikkhu. Mereka menghadap Buddha Gotama dan menceritakan kesulitan yang terjadi. Buddha Gotama mengajarkan Metta Sutta dan mengajurkan mereka untuk kembali ke tempat sebelumnya. Metta Sutta tersebut dapat dipergunakan sebagai pelindung sehingga tidak diganggu oleh para makhluk yang tidak terlihat.

Para bhikkhu kembali ke hutan dan mempraktikkan apa yang telah diajarkan oleh Buddha Gotama, menembus seluruh lingkungan dengan pikiran cinta kasih (metta). Para dewa terpengaruh dengan getaran cintakasih ini dan membiarkan para bhikkhu berlatih meditasi dengan tenang gingga masa vassa berakhir.

Bila diperhatikan secara teliti, Metta Sutta dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, tentang tingkah laku atau norma yang harus dibutuhkan oleh seorang yang ingin mencapai kesucian atau ketenangan. Mereka harus jujur, cakap, tulus, mudah dinasihati, lemah lembut, tidak sombang. Mereka juga merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki, mudah dirawat, tidak repot, hidup bersahaja, sopan santu, memiliki indera yang tenang, dan sebagainya.

Bagian kedua menjelaskan tentang cara untuk melatih cinta kasih, melalui apa yang dikenal dengan meditasi cinta kasih. Cinta kasih terhadap makhluk di segenap alam semesta, dikembangkan tanpa batas di dalam batin, ke atas, bawah, dan di antaranya. Tidak berpikiran sempit, tanpa dengki, tanpa permusuhan. Terus mengembangkan cinta kasih pada saat berdiri, berjalan, duduk, bahkan ketika berbaring sebelum terlelap tidur.

Hingga sekarang, efek dari Karaniya Metta Sutta ini masih diakui oleh semua orang. Membaca sutta ini dengan sepenuh hati, akan memberikan dampak yang sangat kuat bagi lingkungan kita. Oleh karena itu, sebaiknya sutta tersebut tidak hanya dibaca di lingkungan vihara saja. Coba luangkan waktu untuk membaca paritta, termasuk membaca sutta tersebut. Hasilnya akan lebih baik lagi bila kita juga bisa melatih diri melakukan meditasi cinta kasih.

Mudah-mudahan dengan kegiatan baik yang kita lakukan, mengulang kembali Dhamma, kita bisa hidup lebih baik dan terhindar dari segala kondisi buruk yang mungkin terjadi. Semoga semua hidup berbahagia.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)