kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Pon, 14 Agustus 2006

 Nusatenggara


RSU Sering Jadi ''Sapi Perahan'' Daerah
 

Mataram (Suara NTB)-
Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari mengungkapkan, keberadaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), belakangan ini sering dijadikan ''sapi perahan'' oleh pemerintah propinsi, kabupaten/kota dalam upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sementara, pemerintah daerah bersangkutan dalam mengganggarkan sektor kesehatan dalam APBD, termasuk biaya operasional rumah sakit di setiap tahun anggaran di daerah masing-masing sangat minim.

Kenyataannya, kata Menteri, daerah bersangkutan menjadikan RSUD yang berlokasi di daerahnya sebagai sumber PAD. ''Itu sebuah realita yang kita lihat di lapangan. Seluruh pemerintah daerah di Indonesia menjadikan RSUD sebagai sumber pendapatan bagi daerah. Namun, pada kenyataannya, anggaran bagi kesehatan termasuk operasional rumah sakit hanya 3-4 persen. Sementara, minimal anggaran untuk kesehatan dalam APBD adalah 15 persen,'' ujarnya, ketika memberikan pengarahan pada Rapat Kerja dengan Muspida NTB dan jajaran kesehatan se NTB, di Mataram, Sabtu (12/8) malam.

Semestinya, menurut dia, pemerintah daerah menjadikan RSUD bukan sebagai tempat mencari sumber pendapatan bagi daerah, tetapi bagaimana lebih optimal memanfaatkan RSUD sebagai tempat melayani kesehatan. Termasuk, memberikan pelayanan kesehatan optimal kepada masyarakat miskin.

Diakuinya, semenjak RSUD ditangani daerah atau di zaman otonomi daerah, pemerintah pusat dalam hal ini, Departemen Kesehatan tetap menyalurkan bantuan kapada rumah sakit di daerah, termasuk biaya pengobatan. Namun, praktiknya di lapangan, justru sebaliknya. Dana peruntukan kesehatan tersebut oleh beberapa pemerintah daerah justru dialihkan pada sektor lainnya, seperti pembangunan stadion.

Banyaknya pengalihan dana kesehatan dari pusat, lanjutnya, membuktikan pihak daerah tidak serius memperhatikan kesehatan di daerah. Untuk itu, tegasnya, Departemen Kesehatan tidak lagi akan mengucurkan bantuan kesehatan bagi daerah yang menyalahgunakan bantuan untuk keperluan lain.

Tak salah kemudian, lanjut Menteri, di masa datang, keberadaan RSUD di seluruh Indonesia kemungkinan besar, statusnya akan dirubah menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Dalam arti, peranan RSUD di masa datang lebih terfokus untuk melayani kesehatan masyarakat daripada mencari pendapatan tambahan PAD dari RSUD. ''Menjadikan RSUD sebagai BLU, sedang disusun PP (Peraturan Pemerintah-red). Kalau RSUD sudah menjadi BLU, baik RSUD maupun puskesmas tidak lagi setor untuk PAD,'' tegasnya.

 

Menkes Kecewa

Di NTB, semenjak mencuatnya kasus busung lapar tahun lalu, ungkapnya, perhatian pemerintah daerah bagi kesehatan pada APBD masih belum optimal. Termasuk, pemerintah propinsi yang menganggarkan 9 persen untuk dana kesehatan dari semestinya 15 persen, sementara kabupaten/kota di NTB baru berkisar 5 hingga 7 persen. Sebelum mencuat kasus busung lapar, rata-rata pemerintah propinsi hingga kabupaten di NTB, anggaran kesehatan di tiap tahun anggaran hanya 3-4 persen. Kondisi tersebut, tentu saja membuat Menkes kecewa.

Kekecewaan Menkes semakin bertambah setelah melihat bupati/wali kota se-NTB tak hadir pada acara pengarahan tersebut. Padahal, ujarnya, bupati/wali kota bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan uneg-unegnya tentang persoalan kesehatan di daerah. ''Seharusnya, bupati/wali kota hadir di sini. Mereka bisa menyampaikan aspirasinya tentang persoalan kesehatan di daerah mereka,'' ujarnya dengan nada kecewa.

Sebelumnya, Wakil Gubernur NTB Drs. H. BonyoThamrin Rayes, dalam kesempatan tersebut mengungkapkan, permasalahan kesehatan di NTB merupakan permasalahan yang membutuhkan tindakan serius dari pemerintah daerah maupun pusat. Wagub tidak menampik, jika masalah kesehatan di NTB berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB yang masih berada di urutan 33 dari 33 propinsi. ''Terus terang, Bu Menteri, NTB masih seperti dulu. Dalam arti, IPMnya masih kalah jauh dengan Papua yang masih memakai koteka dan Maluku,'' selorohnya di luar konteks sambutan yang dipersiapkan. (ham)


Klik di Sini
 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)