Renon
Mempertahankan
Budaya
Agraris
di
Tengah "Belantara"
Beton
WAWENGKON
(wilayah-red)
desa
pakraman di
masa
lalu adalah
hamparan
sawah
menghijau terhampar
luas.
Kawasan seluas 267,22
hektar (170
hektar
di antaranya
lahan
persawahan) ini
dikenal
sebagai lumbung
beras Kota
Denpasar.
Berbagai
varietas
padi
unggul, mulai
dari
Cicih Buluh,
Cicih
Bawang, Jo Gading,
Vokal
Batu, Vokal
Kedis
hingga Cicih
Beton,
tumbuh dengan
subur.
Bulir-bulir padi yang
ranum
siap mensejahterakan
masyarakat
Renon yang
mayoritas
memang
berprofesi sebagai
petani
tradisional.
Namun,
kejayaan
Renon
sebagai lumbung
beras
kini tengah
terancam.
Sejak
kebijakan land consolidation (LC)
menjamah
kawasan
berpenduduk sekitar
4.683 jiwa
ini di
era 1990-an silam,
padi-padi
varietas
unggul
itu sontak
menghilang.
Berganti
dengan "belantara"
beton yang
mengepung
dari
segala penjuru.
Kini,
ratusan hektar
areal
persawahan subur
itu
terus mengkerut.
Di-pukang-pukang
untuk
pemukiman, gedung
perkantoran,
sekolah,
pusat
aktivitas perekonomian
dan
peruntukan lainnya
hingga
tersisa tak
lebih
lebih dari 50
hektar.
Di tengah-tengah
kepungan "belantara"
beton
itu, akankah
krama
Renon mampu
mempertahankan
eksistensi
budaya
agraris yang sudah
mereka
warisi dari
generasi
ke
generasi?
Dihubungi
Minggu (13/8)
kemarin,
Bendesa
Pakraman Renon I Made
Sutama, B.E.
tidak
menampik bahwa
luas
areal persawahan
di
wilayahnya terus
menyusut. Paling
tidak, program LC
sudah "mencaplok"
sekitar 120
hektar
sawah subur
di
Renon selama
kurun
waktu dua
dasawarsa
terakhir.
Saat
ini, areal
persawahan yang
murni
berstatus jalur
hijau
tinggal tersisa 50
hektar yang
berlokasi
di
selatan Jalan
Tukad
Balian hingga
perbatasan
Sanur
dan Sidakarya.
Kendati
sawah terus
menyusut,
ternyata
mayoritas
krama
Renon masih
setia
menekuni profesi
leluhurnya
sebagai
petani. Tentu
saja,
dengan lahan
garapan yang
tidak
seberapa luas. "Saat
ini,
sekitar 70 persen
krama
ued (penduduk
asli-red)
Renon
masih menggantungkan
penghidupannya
dari
bertani. Umumnya,
lahan
garapan mereka
tersebar
di
Subak Renon yang
berlokasi
di
sebelah selatan
Jalan
Tukad Balian,"
katanya.
Godok
Awig-awig
Selain
jalur
hijau seluas
sekitar 50
hektar,
katanya, ada
juga
sejumlah krama yang
bertanam
padi di
atas
tanah yang sudah
di-LC-kan.
Terhimpit
bangunan-bangunan
beton yang
kepemilikannya
umumnya
dikuasai oleh
penduduk
pendatang.
Karena
sudah berstatus
tanah LC,
jelas
kondisi saluran
irigasi yang
memasok
kebutuhan air untuk
sawah
petani tidak
seoptimal
irigasi
di jalur
hijau.
Dia meyakini
sawah-sawah
di
sela-sela pemukiman
penduduk
pendatang
itu
lambat-laun akan
beralih
fungsi di
luar
peruntukan pertanian.
"Persawahan yang
berada
di atas
tanah LC
itu
luasnya sekitar 20
hektaran.
Namun,
tidak ada
jaminan
sawah itu
akan
bisa bertahan
dalam
waktu yang lama," katanya
dengan nada
pesimis.
Sutama
yang juga
pejabat
setingkat Kasubdin
di
Dinas PU Kota Denpasar
ini
menambahkan, krama
Renon
sudah punya
komitmen
untuk
mempertahankan areal
persawahan yang
masih
tersisa sekitar 50
hektar
itu. Saat
ini,
pihaknya tengah
menggodok
awig-awig yang
membatasi
krama
melepas kepemilikan
lahan
pertaniannya untuk
peruntukan
di luar
pertanian.
Proteksi
itu
dilakukan, mengingat
mayoritas
krama
Renon sejatinya
masih
mengusung budaya
agraris.
Artinya,
mereka
masih menyandarkan
sumber
penghidupannya dari
sektor
pertanian. "Meskipun
Renon
sudah berubah
wajah
menjadi daerah
perkotaan,
namun
krama di
sini
tampaknya sangat
sulit
beralih profesi
ke
bidang lain. Komposisi
mata
pencaharian krama
di sini,
70 persen
masih
bertani, 20 persen
merupakan
karyawan hotel
dan
sisanya berprofesi
sebagai
pedagang dan
pekerja
di sektor
jasa
lainnya. Kalau
jumlah
pegawai negeri,
masih
bisa dihitung
dengan
jari," katanya
sambil
menambahkan, mengingat
profesi
krama tidak
bergeser
pihaknya
sangat
berkepentingan untuk
melestarikan
areal
persawahan yang masih
tersisa.
Pernyataan
itu
dibenarkan Juru
Raksa (Bendahara-red)
Desa
Pakraman Renon Drs. I
Nyoman
Dama. Dia
membenarkan
bahwa
krama punya
komitmen
kuat
untuk melestarikan
areal
persawahan yang tersisa.
Kendati
begitu, pegawai BKD
Kota Denpasar
ini
mengaku sangat
berat
bagi Renon
untuk
mempertahankan predikat
sebagai
daerah lumbung
beras
Denpasar.
Pasalnya,
luas
areal persawahan yang
masih
tersisa sangat
tidak
mendukung untuk
kepentingan
itu. "Dulu,
Renon
memang dikenal
sebagai
sentra penghasil
beras
kualitas super seperti
Cicih
Buluh, Cicih
Bawang
dan cicih-cicih
lainnya.
Kini,
Renon terkenal
sebagai
penghasil cicih
beton yang
sebenarnya.
Artinya,
sawah-sawah
sebagian
besar
sudah ditanami
beton,"
katanya berseloroh.
*
w.sumatika