kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Pon, 14 Agustus 2006

 Desa Pakraman


Renon
Mempertahankan Budaya Agraris di Tengah "Belantara" Beton 

WAWENGKON (wilayah-red) desa pakraman di masa lalu adalah hamparan sawah menghijau terhampar luas. Kawasan seluas 267,22 hektar (170 hektar di antaranya lahan persawahan) ini dikenal sebagai lumbung beras Kota Denpasar. Berbagai varietas padi unggul, mulai dari Cicih Buluh, Cicih Bawang, Jo Gading, Vokal Batu, Vokal Kedis hingga Cicih Beton, tumbuh dengan subur. Bulir-bulir padi yang ranum siap mensejahterakan masyarakat Renon yang mayoritas memang berprofesi sebagai petani tradisional.

Namun, kejayaan Renon sebagai lumbung beras kini tengah terancam. Sejak kebijakan land consolidation (LC) menjamah kawasan berpenduduk sekitar 4.683 jiwa ini di era 1990-an silam, padi-padi varietas unggul itu sontak menghilang. Berganti dengan "belantara" beton yang mengepung dari segala penjuru. Kini, ratusan hektar areal persawahan subur itu terus mengkerut. Di-pukang-pukang untuk pemukiman, gedung perkantoran, sekolah, pusat aktivitas perekonomian dan peruntukan lainnya hingga tersisa tak lebih lebih dari 50 hektar. Di tengah-tengah kepungan "belantara" beton itu, akankah krama Renon mampu mempertahankan eksistensi budaya agraris yang sudah mereka warisi dari generasi ke generasi?

 

Dihubungi Minggu (13/8) kemarin, Bendesa Pakraman Renon I Made Sutama, B.E. tidak menampik bahwa luas areal persawahan di wilayahnya terus menyusut. Paling tidak, program LC sudah "mencaplok" sekitar 120 hektar sawah subur di Renon selama kurun waktu dua dasawarsa terakhir. Saat ini, areal persawahan yang murni berstatus jalur hijau tinggal tersisa 50 hektar yang berlokasi di selatan Jalan Tukad Balian hingga perbatasan Sanur dan Sidakarya. Kendati sawah terus menyusut, ternyata mayoritas krama Renon masih setia menekuni profesi leluhurnya sebagai petani. Tentu saja, dengan lahan garapan yang tidak seberapa luas. "Saat ini, sekitar 70 persen krama ued  (penduduk asli-red) Renon masih menggantungkan penghidupannya dari bertani. Umumnya, lahan garapan mereka tersebar di Subak Renon yang berlokasi di sebelah selatan Jalan Tukad Balian," katanya.

 

 

Godok Awig-awig

 

Selain jalur hijau seluas sekitar 50 hektar, katanya, ada juga sejumlah krama yang bertanam padi di atas tanah yang sudah di-LC-kan. Terhimpit bangunan-bangunan beton yang kepemilikannya umumnya dikuasai oleh penduduk pendatang. Karena sudah berstatus tanah LC, jelas kondisi saluran irigasi yang memasok kebutuhan air untuk sawah petani tidak seoptimal irigasi di jalur hijau. Dia meyakini sawah-sawah di sela-sela pemukiman penduduk pendatang itu lambat-laun akan beralih fungsi di luar peruntukan pertanian. "Persawahan yang berada di atas tanah LC itu luasnya sekitar 20 hektaran. Namun, tidak ada jaminan sawah itu akan bisa bertahan dalam waktu yang lama," katanya dengan nada pesimis.

 

Sutama yang juga pejabat setingkat Kasubdin di Dinas PU Kota Denpasar ini menambahkan, krama Renon sudah punya komitmen untuk mempertahankan areal persawahan yang masih tersisa sekitar 50 hektar itu. Saat ini, pihaknya tengah menggodok awig-awig yang membatasi krama melepas kepemilikan lahan pertaniannya untuk peruntukan di luar pertanian. Proteksi itu dilakukan, mengingat mayoritas krama Renon sejatinya masih mengusung budaya agraris. Artinya, mereka masih menyandarkan sumber penghidupannya dari sektor pertanian. "Meskipun Renon sudah berubah wajah menjadi daerah perkotaan, namun krama di sini tampaknya sangat sulit beralih profesi ke bidang lain. Komposisi mata pencaharian krama di sini, 70 persen masih bertani, 20 persen merupakan karyawan hotel dan sisanya berprofesi sebagai pedagang dan pekerja di sektor jasa lainnya. Kalau jumlah pegawai negeri, masih bisa dihitung dengan jari," katanya sambil menambahkan, mengingat profesi krama tidak bergeser pihaknya sangat berkepentingan untuk melestarikan areal persawahan yang masih tersisa.

 

 

 

Pernyataan itu dibenarkan Juru Raksa (Bendahara-red) Desa Pakraman Renon Drs. I Nyoman Dama. Dia membenarkan bahwa krama punya komitmen kuat untuk melestarikan areal persawahan yang tersisa. Kendati begitu, pegawai BKD Kota Denpasar ini mengaku sangat berat bagi Renon untuk mempertahankan predikat sebagai daerah lumbung beras  Denpasar. Pasalnya, luas areal persawahan yang masih tersisa sangat tidak mendukung untuk kepentingan itu. "Dulu, Renon memang dikenal sebagai sentra penghasil beras kualitas super seperti Cicih Buluh, Cicih Bawang dan cicih-cicih lainnya. Kini, Renon terkenal sebagai penghasil cicih beton yang sebenarnya. Artinya, sawah-sawah sebagian besar sudah ditanami beton," katanya berseloroh.

* w.sumatika

 

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)