Pura Agung Besakih
Awalnya, Penamaman "Pancadatu" Hindari
Petaka
Pada Purnama Kadasa, Rabu (12/4) lalu, di Pura
Agung Besakih diselenggarakan piodalan atau upacara Betara Turun
Kabeh yang berlangsung (nyejer) selama sebelas hari. Masyarakat
umat Hindu berduyun-duyun pedek tangkil silih berganti ke Pura
terbesar di Bali yang dibangun di barat daya lambung Gunung Agung
itu. Apa saja yang bisa disimak dari Pura Agung Besakih? Makna apa
yang kira-kira bisa didapat dari ungkapan arsitekturnya?
---------------
PURA
Agung Besakih berlokasi di Desa Besakih, Kecamatan Rendang,
Kabupaten Karangasem. Mungkin sudah ribuan cerita pernah diungkap
dan ditulis tentang keagungan pura terbesar di Bali ini. Namun
sampai kini belum ditemui data pasti mengenai kapan pura ini
pertama kali didirikan. Informasi berupa data yang bernilai
historis maupun prasasti-prasasti yang diperoleh hanya sebatas
wujud pengembangan puranya. Hanya sekilas, konon ada dimuat dalam
lontar "Markandya Pura", mengisahkan kedatangan Rsi Markandya
bersama para pengikutnya dari Jawa Timur ke pulau Bali. Namun ada
sumber lain yang menyebutkan bahwa Rsi Markandya datang ke Bali
sekitar abad ke-8.
Disebutkan, mereka datang merabas hutan guna
dijadikan lahan pertanian. Sebelum pekerjaan itu dilakukan,
dilangsungkan upacara penanaman pancadatu (lima jenis logam mulia)
seperti emas, perak, tembaga, timah, besi, dengan maksud agar tak
tertimpa petaka atau marabahaya. Penataannya disesuaikan dengan
tatanan kosmologis (pengider-ider) jagat. Nah, tempat penanaman
pancadatu itulah akhirnya dinamakan Basuki, yang punya arti rahayu
(diberi keselamatan). Lantas para ahli memperkirakan tempat itu
sebagai Pura Agung Besakih.
Banyak pakar menilai, Pura Agung Besakih dalam
masyarakat Bali punya hubungan yang sangat erat antara
adat-istiadat dan kultur yang dilandasi oleh nilai-nilai ajaran
agama Hindu sebagai satu kesatuan sistem socioculture masyarakat
Bali yang bersifat sosial religius. Dengan kata lain sebagai wujud
cerminan nilai-nilai falsafah Hindu yang amat religius, indah,
menakjubkan dan bervibrasi spiritual.
Mpu Kuturan
Beberapa abad kemudian, Mpu Kuturan datang,
melakukan penataan kembali Pura Agung Besakih sekitar tahun 929
Saka (1007 M) semasa pemerintahan Raja Udayana. Ada dikisahkan,
penataan itu bertitik tolak dari Pura Paninjoan, yang dalam mata
batin beliau menghayati dan memahami secara holistik tatanan itu
sebagai satu kesatuan utuh (unity), untuk mencermati dan
menyempurnakan penataan pancadatu yang dilakukan Rsi Markandya
sebelumnya. Berangkat dari penataan itulah mulai ada kejelasan
adanya area pokok atau inti, area penyangga (diwujudkan dalam
konsep Catur Lawa, seperti Pura Penyarikan, Pande, Ratu Pasek,
Seganing), dan area penunjang.
Pada area inti antara lain terdapat candi bentar,
bale pegat, bale kulkul, bale pelegongan, bale pegambuhan, bale
ongkara, kori agung, bale pawedan, bale agung, bale pesamuan
agung, bale tengah, bale papelik, beberapa meru tumpang 11,
tumpang 9, tumpang 7, tumpang 5, tumpang 3, sanggar agung, bale
tengah, bale paruman alit, bebaturan, bale kembang sirang, bale
gong, gedong bale panggungan, dan bale kampuh. Area inti disebut
sebagai sapta petala (area tujuh lapis) atau kerap pula disebut
area luhuring ambal-ambal.
Pembagian ini bercermin dari adanya teori tujuh
pelapisan alam. Area ini juga dibagi berdasarkan konsep triloka --
alam bawah (bhur), tengah (bwah), atas (swah) yang dalam bahasa
keilmuan semesta disebut lapisan hidrosfer, litosfer dan atmosfer.
Konsep tersebut di ataslah kemudian melahirkan konsep sapta
mandala (dibagi tujuh ruang) dalam area inti, dari hulu hingga
jaba sisi.
Perhatian
Raja
Periode berikutnya berlanjut pada zaman kerajaan
Gelgel, khususnya pada era pemerintahan Dalem Waturenggong. Lontar
Raja Purana "Pangandika ring Gunung Agung" menyebutkan bahwa
keberadaan Pura Besakih kian memperoleh perhatian besar tatkala
era keemasan kerajaan Gelgel di bawah pemerintahan Dalem
Waturenggong. Disebutkan pula, Pura Besakih, selain berfungsi
sebagai sthana Dewa Sambu di timur laut pangider bhuwana, pun
dalam ritualnya berfungsi sebagai titik sentral. Lantas Besakih
dinyatakan sebagai parahyangan "Madyanikang Padma Bhuwana",
berstatus sebagai Pura Sad Kahyangan (Padma Bhuwana) dan
Penyungsungan Jagat.
Dikisahkan, dalam masa kejayaan Dalem Waturenggong,
Raja dikenal sangat arif bijaksana dalam memimpin pemerintahan.
Pada saat inilah diperkirakan sejumlah padharman tumbuh di Bali.
Pada zaman ini pula diceritakan datang seorang tokoh agama, Mpu
Dwijendra pada 1489 M dari Jawa ke Bali yang diangkat oleh Raja
sebagai Bhagawanta Istana. Konon salah satu muridnya yang terkenal
pada waktu itu adalah Rakryan Panulisan Dawuh Bale Agung yang
berperan sebagai Penyarikan Dalem, lantaran beliau memiliki
keahlian di bidang kesusastraan dan filsafat. Di era kedatangan
Mpu Dwijendra (Dang Hyang Nirartha) dari Majapahit inilah dibangun
pula Padmasana Tiga di Penataran Agung Besakih.
Kawasan
Luas
Sesungguhnya, kawasan Pura Besakih memang sangat
luas. Terdapat tak kurang dari 18 Pura Pakideh (pura yang
tergolong pura umum), 13 pura pedharman dan lebih dari 15 pura
paibon. Sebagaimana sudah disebut, ada area inti, penyangga dan
penunjang, maka memasuki kawasan Pura Agung Besakih, dari bagian
hilir/bawah (soring ambal-ambal) hingga ke hulu, terdapat beberapa
gugus pura.
Paling depan dari kompleks pura itu adalah Pura
Pasimpangan. Sesudahnya, ada Pura Tirta Sudamala. Berikutnya Pura
Dalem Puri, Pura Tirta Empul dan Pura Manik Mas -- terletak di
seberang timur jalan dan sungai. Kelompok pura selanjutnya yang
tempatnya paling berdekatan adalah Pura Bangun Sakti, Pura Tirta
Tunggang, Pura Goa Raja, Pura Ulun Kulkul (Catur Lokapala-Barat).
Tak jauh dari situ, berdiri Pura Merajan Selonding, Pura Merajan
Kanginan dan Pura Banua Kawan. Selain itu dapat dijumpai adanya
wantilan, Pura Mrajapati Hyangaluh dan Bancingah Agung.
Sebelum menapaki sejumlah tangga (undag-undag),
area terdepan dari kompleks Pura Penataran Agung, pemedek akan
melewati sisi kanan dari Pura Basukian. Usai melewatinya, pemedek
akan dapat melangkah di undag bagian tengah yang hendak menuju
Pura Penataran Agung Besakih (sebagai pusat tengah) maupun melalui
undag samping yang hendak menuju Pura Pasimpenan Dukuh Sedaning,
Pura Ratu Pasek, kompleks pura pedharman, Pura Ratu Penyarikan,
Pura Kiduling Kreteg, hingga ke Pura Gelap (Catur Lokapala-Timur),
Pura Pangubengan dan Pura Tirta Pingit.
Di sayap kanan (sebelah barat laut) dari Pura
Penataran Agung terhadap Perantenan Suci. Tak jauh dari tempat ini
terdapat Pura Ratu Pande (Catur Lawa), Pura Batumadeg (Catur
Lokapala-Utara), Pura Tirta Sangku, Pura Paninjoan dan Pura Dukuh
Sedaning (Catur Lawa).
* n.g.
suardana