Bagaimana Cara Orang Menalar Tuhan?
Judul
: Menalar Tuhan
Pengarang :
Franz Magnis Suseno
Tebal
: 245 halaman
Penerbit
: Kanisius 2006, Yogyakarta
----------
Abdul Wahid, 10 tahun, terselip di antara hiruk
pikuk "teror alam" di Aceh akhir Desember silam. Ia kehilangan
orangtua dan empat saudara kandungnya. Tubuhnya dekil, matanya
kosong. Ia sebatang kara. "Hana lon tuho jak le" (Saya tak tahu
mau ke mana lagi).
-----------
MEMAKAI
bahasa Angelus Silesius, apakah benar bahwa ratap tangis si Abdul
Wahid tersebut bisa jadi melahirkan kembali tangis Tuhan dalam
hati kita? Apakah benar dalam diri Wahid, kita secara nyata
mengalami misteri inkarnasi seperti yang dikatakan Dietrich
Bonhoeffer, "Tuhan datang ke dunia sebagai dia, yang membiarkan
dirinya disepak keluar dari dunia?"
Di lain matra, kita juga bisa bertanya dan tahu
diri (tahu bahwa tidak tahu), "Bagaimana mungkin kita mampu
menyikapi the collective melancholy, yang menimpa warga NAD dan
Sumut lewat gempa 8,9 pada skala Richter dan tsunami dengan
kecepatan gelombang 200-800 km perjam yang konon kabarnya 10 kali
lipat lebih dashyat daripada bom atom Hiroshima? Mampukah kita
sebagai manusia memahami "kiamat kecil" itu bersumber dari Tuhan
sendiri? Di mana dan apa maksud Tuhan, yang kerap disebut Vaclav
Havel, sebagai the mystery of Being itu? Apakah tsunami ini
identik dengan kisah air bah dan perahu Nabi Nuh atau tragedi
Sodom Gomora dalam buku yang sering kita sebut kitab suci itu?
Ternyata benarlah adagium klasik, "Siapa bisa
menebak gerak-gerik Tuhan? Apakah Tuhan sedang marah atau tertawa?
Apakah sedang melangkah maju atau mundur? Kalau memang benar kita
sesat dan banyak dosa, kenapa kita tidak ditolongNya dengan cepat?
Kenapa Tuhan membingungkan?" Mungkin benar, kalau Tuhan tidak lagi
membingungkan, Dia bukan lagi Tuhan, God is a speak the
Unspeakable! Seperti kata Gabriel Marcell, Tuhan bukanlah suatu
"problem", tapi suatu "misteri" dalam hidup manusia.
Di sinilah jejak tapak pemikiran kritis Filsafat
Ketuhanan mempunyai peluang untuk turun gunung: back to public,
kembali ke ruang publik dan menjadi wacana publik. Filsafat
Ketuhanan sendiri adalah refleksi rasional tentang hal-hal yang
kita anggap suci, yaitu yang memiliki nilai terpenting (ultimate
importance) demi dirinya sendiri. Maka, walaupun Sartre
berkomentar, "Tuhan tak lagi relevan!", buku yang diterbitkan
Kanisius ini mencoba mengangkat sebuah perbincangan dialektis
antara konteks dan tekstual tentang menalar Tuhan, a beyond
phenomena (bahasanya Derrida, "Yang Lain") dalam gulat geliat
zamannya.
Menalar Tuhan sendiri, sejak permulaannya menjadi
obsesi filsafat. Di permulaan abad ke-21, pertanyaan tentang Tuhan
masih tetap berada di pusat pemikiran para filsuf. Kemudian, di
panggung filsafat, muncullah paham ateisme di mana Tuhan berada di
luar batas-batas wacana rasional. Situasi ini menghadapkan manusia
intelektual yang tetap percaya pada Tuhan dengan pertanyaan:
Apakah imannya ini lebih dari sekadar warisan indah pelbagai
tradisi yang sudah berumur ribuan tahun? Apakah ia benar-benar
dapat mempertanggungjawabkan kepercayaan kepada Tuhan secara
rasional? Apakah masih masuk akal percaya kepada Tuhan?
Buku ini sendiri dibuka dengan sebuah pengantar,
kemudian ada delapan bab utama, yang mencoba mengangkat ulang
pelbagai pertanyaan dasariah, seperti, "Menalar Tuhan untuk Apa?",
"Cara-cara Manusia Menghayati Ketuhanan", "Modernitas: Skeptisisme
tentang Ketuhanan", "Lima Model Ateisme", "Agnostisisme",
"Jalan-Jalan ke Tuhan I dan II", serta pemahaman komprehensif
tentang "Tuhan dan Dunia".
Bukan soal
Agama
Buku ini ditulis bagi mereka yang percaya kepada
Tuhan dan juga bagi mereka yang tidak lagi percaya kepada Tuhan,
tetapi dalam kejujuran intelektual ingin mendalami pertanyaan
tentang pelbagai dasar rasional kepercayaan akan Tuhan. Buku ini
jelas bukan mengenai agama, tapi mengenai Tuhan. Buku ini termasuk
filsafat. Sebagai filsafat, buku ini tidak mendasarkan diri pada
keyakinan salah satu agama, melainkan semata-mata pada
pertimbangan-pertimbangan nalar. Buku ini tidak mau "membuktikan"
adanya Tuhan, melainkan menunjukkan bahwa pada abad ke-21 pun,
manusia tetap dapat percaya pada Tuhan tanpa harus menyangkal
kejujuran intelektualnya.
Akhirnya, merupakan sebuah kenyataan bahwa refleksi
filsafat Ketuhanan kerap menghilang dari ruang publik dalam dunia
modern. Setelah menjadi "ratu ilmu pengetahuan" dalam Abad
Pertengahan, ilmu ini kerap terkesan tidak berharga lagi di antara
pelbagai disiplin ilmu lainnya. It's as a great subject without a
subject matter, suatu bidang kajian yang yang luas tanpa bahan
kajian yang jelas. Dunia modern yang demikian mengandalkan ilmu
empiris menyebabkan prioritas berlebihan hanya kepada segala
sesuatu yang dapat diukur, didemonstrasikan, serta direkayasa.
Akibatnya, realitas yang diakui keberadaannya hanyalah yang
material, fisikal dan natural saja.
Bahkan dalam pelbagai kritik ala Hegel, Freud,
Feuerbach dan Marx misalnya, agama dan teologi kerap dianggap
semacam tahapan infantil atau kekanak-kanakan yang mesti diatasi,
"a repetition of the experience of the child" does theology have a
future? Adalah tugas kita sekarang untuk merakit kembali segala
bentuk pemisahan pemikiran keberimanan dari wilayah publik, tanpa
harus menjadi dangkal dan sloganistik. Bukankah sungguh sebuah
niat baik dan patut dirayakan, jika kita berusaha mengembalikan
lagi bahasa dan refleksi iman kita ke wilayah publik, tidak melulu
sibuk di altar perjamuan, tapi juga sungguh hidup di tengah pasar
kehidupan? Demikianlah umpan telah dilempar ke air, adakah ikan
akan terpancing, ataukah hanya sekadar gelombang kecil yang
menyebar dari jatuhnya umpan itu?
* fr jost
kokoh