kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 30 April 2006 tarukan valas
 

SENI


Bagaimana Cara Orang Menalar Tuhan?

Judul                 :  Menalar Tuhan
Pengarang         :  Franz Magnis Suseno
Tebal                :  245 halaman
Penerbit            :  Kanisius 2006, Yogyakarta

----------

 

Abdul Wahid, 10 tahun, terselip di antara hiruk pikuk "teror alam" di Aceh akhir Desember silam. Ia kehilangan orangtua dan empat saudara kandungnya. Tubuhnya dekil, matanya kosong. Ia sebatang kara. "Hana lon tuho jak le" (Saya tak tahu mau ke mana lagi).

-----------

 

MEMAKAI bahasa Angelus Silesius, apakah benar bahwa ratap tangis si Abdul Wahid tersebut bisa jadi melahirkan kembali tangis Tuhan dalam hati kita? Apakah benar dalam diri Wahid, kita secara nyata mengalami misteri inkarnasi seperti yang dikatakan Dietrich Bonhoeffer, "Tuhan datang ke dunia sebagai dia, yang membiarkan dirinya disepak keluar dari dunia?"

Di lain matra, kita juga bisa bertanya dan tahu diri (tahu bahwa tidak tahu), "Bagaimana mungkin kita mampu menyikapi the collective melancholy, yang menimpa warga NAD dan Sumut lewat gempa 8,9 pada skala Richter dan tsunami dengan kecepatan gelombang 200-800 km perjam yang konon kabarnya 10 kali lipat lebih dashyat daripada bom atom Hiroshima? Mampukah kita sebagai manusia memahami "kiamat kecil" itu bersumber dari Tuhan sendiri? Di mana dan apa maksud Tuhan, yang kerap disebut Vaclav Havel, sebagai the mystery of Being itu? Apakah tsunami ini identik dengan kisah air bah dan perahu Nabi Nuh atau tragedi Sodom Gomora dalam buku yang sering kita sebut kitab suci itu?

Ternyata benarlah adagium klasik, "Siapa bisa menebak gerak-gerik Tuhan? Apakah Tuhan sedang marah atau tertawa? Apakah sedang melangkah maju atau mundur? Kalau memang benar kita sesat dan banyak dosa, kenapa kita tidak ditolongNya dengan cepat? Kenapa Tuhan membingungkan?" Mungkin benar, kalau Tuhan tidak lagi membingungkan, Dia bukan lagi Tuhan, God is a speak the Unspeakable! Seperti kata Gabriel Marcell, Tuhan bukanlah suatu "problem", tapi suatu "misteri" dalam hidup manusia.

Di sinilah jejak tapak pemikiran kritis Filsafat Ketuhanan mempunyai peluang untuk turun gunung: back to public, kembali ke ruang publik dan menjadi wacana publik. Filsafat Ketuhanan sendiri adalah refleksi rasional tentang hal-hal yang kita anggap suci, yaitu yang memiliki nilai terpenting (ultimate importance) demi dirinya sendiri. Maka, walaupun Sartre berkomentar, "Tuhan tak lagi relevan!", buku yang diterbitkan Kanisius ini mencoba mengangkat sebuah perbincangan dialektis antara konteks dan tekstual tentang menalar Tuhan, a beyond phenomena (bahasanya Derrida, "Yang Lain") dalam gulat geliat zamannya.

Menalar Tuhan sendiri, sejak permulaannya menjadi obsesi filsafat. Di permulaan abad ke-21, pertanyaan tentang Tuhan masih tetap berada di pusat pemikiran para filsuf. Kemudian, di panggung filsafat, muncullah paham ateisme di mana Tuhan berada di luar batas-batas wacana rasional. Situasi ini menghadapkan manusia intelektual yang tetap percaya pada Tuhan dengan pertanyaan: Apakah imannya ini lebih dari sekadar warisan indah pelbagai tradisi yang sudah berumur ribuan tahun? Apakah ia benar-benar dapat mempertanggungjawabkan kepercayaan kepada Tuhan secara rasional? Apakah masih masuk akal percaya kepada Tuhan?

Buku ini sendiri dibuka dengan sebuah pengantar, kemudian ada delapan bab utama, yang mencoba mengangkat ulang pelbagai pertanyaan dasariah, seperti, "Menalar Tuhan untuk Apa?", "Cara-cara Manusia Menghayati Ketuhanan", "Modernitas: Skeptisisme tentang Ketuhanan", "Lima Model Ateisme", "Agnostisisme", "Jalan-Jalan ke Tuhan I dan II", serta pemahaman komprehensif tentang "Tuhan dan Dunia".

 

Bukan soal Agama

Buku ini ditulis bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan juga bagi mereka yang tidak lagi percaya kepada Tuhan, tetapi dalam kejujuran intelektual ingin mendalami pertanyaan tentang pelbagai dasar rasional kepercayaan akan Tuhan. Buku ini jelas bukan mengenai agama, tapi mengenai Tuhan. Buku ini termasuk filsafat. Sebagai filsafat, buku ini tidak mendasarkan diri pada keyakinan salah satu agama, melainkan semata-mata pada pertimbangan-pertimbangan nalar. Buku ini tidak mau "membuktikan" adanya Tuhan, melainkan menunjukkan bahwa pada abad ke-21 pun, manusia tetap dapat percaya pada Tuhan tanpa harus menyangkal kejujuran intelektualnya.

Akhirnya, merupakan sebuah kenyataan bahwa refleksi filsafat Ketuhanan kerap menghilang dari ruang publik dalam dunia modern. Setelah menjadi "ratu ilmu pengetahuan" dalam Abad Pertengahan, ilmu ini kerap terkesan tidak berharga lagi di antara pelbagai disiplin ilmu lainnya. It's as a great subject without a subject matter, suatu bidang kajian yang yang luas tanpa bahan kajian yang jelas. Dunia modern yang demikian mengandalkan ilmu empiris menyebabkan prioritas berlebihan hanya kepada segala sesuatu yang dapat diukur, didemonstrasikan, serta direkayasa. Akibatnya, realitas yang diakui keberadaannya hanyalah yang material, fisikal dan natural saja.

Bahkan dalam pelbagai kritik ala Hegel, Freud, Feuerbach dan Marx misalnya, agama dan teologi kerap dianggap semacam tahapan infantil atau kekanak-kanakan yang mesti diatasi, "a repetition of the experience of the child" does theology have a future? Adalah tugas kita sekarang untuk merakit kembali segala bentuk pemisahan pemikiran keberimanan dari wilayah publik, tanpa harus menjadi dangkal dan sloganistik. Bukankah sungguh sebuah niat baik dan patut dirayakan, jika kita berusaha mengembalikan lagi bahasa dan refleksi iman kita ke wilayah publik, tidak melulu sibuk di altar perjamuan, tapi juga sungguh hidup di tengah pasar kehidupan? Demikianlah umpan telah dilempar ke air, adakah ikan akan terpancing, ataukah hanya sekadar gelombang kecil yang menyebar dari jatuhnya umpan itu?

 

* fr jost kokoh

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com