kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 30 April 2006 tarukan valas
 

POTRET


S. Swarsi

Wanita Bali Tampak Kelelahan karena Susah Berubah

 

Dra. S. Swarsi adalah sosok wanita energik. Sebagai ibu, ia tak hanya mengurus kebutuhan keluarga, tapi juga sibuk dengan urusan banten dan menulis buku. Khusus untuk kegiatannya terakhir itu, ibu tiga putra dan nenek empat cucu ini sudah menyusun buku "Upacara Piodalan Alit di Sanggah/Merajan" dan buku "Upacara Bayi dalam Kandungan sampai Bayi Umur 1 bulan 7 Hari". Berkat prestasinya itu, istri Drs. I Wayan Geriya ini telah meraih penghargaan Satya Lencana 30 tahun dari Presiden RI, sebagai Wanita Pembangunan Indonesia dari Yayasan Citra Indonesia Jakarta, dan sebagai Guru Teladan dan Ibu Teladan 1981. Berikut wawancara Bali Post dengan S. Swarsi.

--------------

 

MENURUT Anda, bagaimana gambaran wanita Bali secara umum?

Perempuan Bali itu sangat relegius, kesuciannya cukup tinggi. Dalam Menawa Dharmasastra sloka 56/57 juga  disebutkan perempuan Bali itu memiliki kedudukan yang tinggi normatifnya. Di samping itu, wanita Bali juga memiliki etos kerja yang tinggi, artinya nak luh Bali nika sing demen natakin lima ken kurenane. Etos kerja ini sebagai potensi budayawi untuk bisa lebih cepat maju. Nah, etos kerja budayawi itulah yang mampu mendorong perempuan Bali untuk bisa melakukan segala pekerjaannya, baik kuliah, bekerja atau lainnya. Di samping itu, wanita Bali juga memiliki komunitas, kebersamaan yang tinggi, dan kesetiaan pada keluarga. Wanita Bali juga senang dengan kedamaian dan suka mengalah. Walaupun sering terjadi pelecehan, wanita Bali itu tetap damai dan tenang karena memang tidak senang dengan keributan.

 

Wanita sering dikatakan memiliki peran ganda, maksudnya?

Wanita itu sebagai ibu rumah tangga, pendidik, anggota masyarakat, dan di sisi lain juga berperan sebagai orang yang bertugas menambah nafkah keluarga. Peran terpenting perempuan adalah penerus keturunan. Peran ganda wanita sering disebut dengan Panca Dharma Wanita. Jadi, peran ganda perempuan itu cukup luas.

 

Di zaman global kini, bagaimana Anda melihat wanita Bali itu?

Wanita Bali kini kritis terhadap sesuatu dan berani mempertanyakan. Dulu, wanita Bali itu memakai istilah gugon tuwon, apa adanya, menganggap yang dulu itu selalu benar. Namun, setelah berkembangnya ilmu pengetahuan, rasa keingintahuan itu tumbuh. Apa yang akan dibuat, apa makna atau filosofis daripada banten, itu menjadi pertanyaan mereka. Misalnya, membuat canang, apa saja isinya, porosan memiliki arti apa, dan lain sebagainya. Kalau dulu beda, suba ngae keto jeg suba ento ane beneh.

 

Wanita Bali amat terkait dengan wacana "banten" dan "upakara". Bagaimana Anda melihat persoalan ini?

Banten sebenarnya simbolik dari rasa hormat kita kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Di sisi lain, kalau dikaitkan dengan Tri Rna, merupakan tiga utang kepada Dewa, leluhur, dan Rsi. Utang kita juga ada dalam Panca Srada yang terkait pula dengan banten. Sehingga, banten persembahan untuk Dewa akan berbeda dengan persembahan untuk Bhuta Yadnya, dan seterusnya. Di Bali ada dikotomi pembagian tugas pria dan wanita pada saat upacara. Wanita bertugas membuat upakara, sehingga jauh sebelumnya sudah sibuk membuat banten, jajan suci, dan lainnya. Begitulah wanita Bali, odalan yang jauh sebelumnya sudah dipikirkan. Inilah bukti bahwa peran wanita Bali sangat kompleks.

 

Adakah Anda lihat wanita Bali kini melakukan perubahan secara spesifik?

Begini, wanita Bali juga sering kelelahan. Karena, pada saat membuat banten upakara, mereka tak siap berubah. Mereka menganggap apa yang dibuat dulu itu sudah paling benar. Padahal, itu bisa dibuat esensinya saja. Misalnya, dalam membuat banten suci bisa dibuat yang paling esensial, seperti saraswati-nya saja. Wanita Bali yang tidak siap berubah itu akan menjadi kelelahan. Ketika menggelar upacara piodalan di merajan, misalnya, seharusnya odalan cenik perlu suci 10 biji, namun berkembang menjadi 60 biji. Juga dalam membuat banten saiban yang sebenarnya 10 biji, berkembang jadi 100 biji.

 

Anda punya solusi mengatasi kelelahan wanita Bali itu?

Intinya, kelelahan itu terjadi karena mereka sendiri membuat rumit dan terus susah berubah. Untuk itu, mereka perlu diberikan pencerahan. Mereka perlu diberikan pemahaman seputar simbolis atau filsafat dari banten yang dibuatnya itu. Misalnya porosan, isinya apa saja, sebagai lambang siapa, dan sebagainya.

 

Menurut Anda, siapa yang seharusnya memberikan pencerahan kepada wanita Bali?

Sebetulnya, perkembangan seseorang terletak pada dua faktor. Pertama, faktor internal yaitu dari diri sendiri. Hal ini bisa dilakukan dengan cara rajin membaca. Kalau saya, setiap akan matulung ke rumah orang yang punya upacara, saya selalu membawa kertas dan pulpen. Kalau ada yang saya tidak bisa buat, saya akan catat secara rinci perihal bahan, bagian, bentuk dan artinya. Kalau merasa kurang pas, saya kemudian mencari sendiri. Faktor kedua, motivasi eksternal. Sekarang ada banyak organisasi Hindu seperti Wanita Hindu, Pasraman, Yayasan Acarya yang merupakan wahana untuk pencerahan wanita terkait dengan upakara dan banten. Memang variasi banten itu tergantung dari desa kala patra serta dari tukang itu sendiri.

 

***

 

BAGAIMANA wanita generasi muda Bali sekarang, apakah mereka juga tertarik dengan budaya "majejahitan"?

Saya melihat, wanita muda Bali kini sudah terlihat minatnya mempelajari apa yang dibuatnya itu. Kalau dulu, apa yang dibuat oleh leluhurnya tidak akan dimengerti, tidak tahu arti dan maksudnya. Yang penting mereka bisa membuatnya. Tetapi sekarang, apa yang sudah dibuatnya selalu diimbangi dengan rasa ingin tahu. Bukan hanya itu, mereka juga mencari-cari yang mana perlu dikembangkan dan mana seharusnya dikurangi.

 

Artinya, generasi muda Bali kini banyak yang berminat?

Ya. Di rumah saya sudah banyak yang berminat. Dulu saya tidak bisa majejahitan, namun setelah matetegenan akhirnya saya menjadi biasa. Hal itu menular pada anak dan menantu saya. Kalau ngayah di banjar, wanita Bali sangat menonjol di bidang seni. Walaupun dilakukan sambil ngerumpi, mereka bisa majejahitan.

 

Bisa dijelaskan kembali soal wanita Bali dan etos kerjanya?

Wanita Bali sangat berperan dalam pendidikan. Mereka melakukan atau menerapkan pendidikan sejak ia mengandung. Mereka juga berhungan dengan ekonomi, misalnya terkait perolehan atau pendapatan. Ingat, wanita Bali nak sing demen ngoyong. Lihat saja ibu-ibu yang ada di desa. Mereka yang mencari nafkah di Pasar Badung, semalam suntuk mereka nongkrong di sana, bahkan sampai tertidur menunggui dagangnnya demi bisa menghidupi keluarganya. Termasuk mereka yang sudah uzur. Semua itu sebagai bukti bahwa mereka tidak mau menengadahkan tangan pada siapapun. Di situ juga tampak etos kerjanya.

 

Tadi Anda menyinggung soal pencerahan. Apakah di zaman global ini wanita Bali perlu diberikan pencerahan?

Ya. Pencerahan itu perlu untuk kesehatan mental. Mereka harus memiliki kekuatan iman agar tidak menyesal, menangis, bunuh diri atau lainnya. Dalam konsteks wanita di kehidupan rumah tangga di Bali, dalam satu paon bisa ada sekian kepala keluaraga. Di sinilah perlu dijaga hubungan antara wanita satu dengan yang lainnya. Kalau tidak dijaga, pasti akan timbul konflik.

 

Anda memiliki solusi untuk menghadapi konflik wanita seperti itu?

Wanita harus keluar rumah. Wanita yang tidak dapat keluar rumah akan lebih cepat mengalami stres atau depresi. Karena, di rumah wanita menghadapi konflik itu-itu saja. Hubungan wanita dengan wanita lain adalah hubungan negatif dengan negatif. Kudiang je luwungne ban ngaba, pasti kal mauyutan. Agar konflik itu tak terjadi, sebaiknya mertua dianggap sebagai orangtua sendiri yang memiliki potensi besar.

 

***

 

BISA diceritakan mengenai kehidupan Anda sendiri?

Saya dilahirkan sebagai orang yang senang belajar dan bekerja. Bukan untuk membanggakan diri sendiri, tetapi memang kebanyakan wanita Bali seperti itu. Walaupun tidak tahu bunyi sloka dalam Bagawadgita, tetapi wanita Bali umumnya menerapkan hal itu. Saya dilahirkan di Jero Anggungan dan masuk SD di Sading yang harus melewati Tukad Ayung. Kalau air sungai besar, saya tidak akan bisa masuk. Saat itu, mencari kelulusan sangat sukar. Kalau betul-betul pintar baru bisa lulus. Setelah itu, saya menjadi guru SD pada tahun 1966.

 

Bagaimana soal cita-cita Anda?

Awalnya saya ingin menjadi perawat atau bidan karena saya ingin membantu orang yang pada saat itu agak susah bisa mendapatkan dokter atau perawat. Namun sayang, saya tidak lulus. Terus saya ingin mengikuti pendidikan Polwan, tapi tidak mendapat restu dari orangtua. Akhirnya saya memilih sekolah guru. Pada 1967, saya kemudian diangkat menjadi guru. Selanjutnya, saya menjadi kepala SD Batubulan pada 1977, dan seterusnya kemudian sebagai Kepala Balai Kajian Jarahnitra Denpasar pada 1996-2002.

 

Anda sudah menyusun dua buku terkait dengan pengetahuan upacara dalam agama Hindu, bisa diceritakan?

Semua itu karena keinginan saya belajar tentang upacara itu. Oleh karena saya sudah mendapatkan informasi, apa salahnya menyusun buku-buku tersebut. Di samping untuk mengingat atau dokumentasi, juga agar dapat saya sumbangkan untuk orang lain. Kalau ada waktu, saya akan menyusun buku perihal upacara prateka layon. Semua buku itu saya susun berdasar inspirasi dari tugas saya sebagai peneliti sejarah nilai tradisional. Saya rasa seorang penulis itu sama seperti seniman. Kalau sudah ada ide, langsung saja ditulis. Kalau tidak ada alat-alatnya, maka diingat terus, setelah sampai di rumah baru dituangkan.

 

Bagaimana dukungan dari keluarga?

Saya paling sering berkonsultasi dengan suami. Kalau memiliki kesusahan, saya lebih sering menceritakannya pada suami. Anak-anak juga mendukung.

 

* pewawancara:
  budarsana

 

BIODATA

Nama                :  Dra. S. Swarsi
Lahir                 :  Jeroan Anggungan, Mengwi, 17 Maret 1946
Pendidikan        :  Sarjana Antropologi (1981)
Pekerjaan         :  Peneliti Muda Bidang Jatrahnitra TMT
                           1 Juni 2001 (Koordinator Fungsional)

Suami               :  Drs. I Wayan Geriya, dosen Faksas Unud
Anak                 :  I Wayan Ria Arsika, S.S.
                           I Made Ria Suarjaya
                           I Komang Ria Sutriawan

Alamat              :  Banjar Batur, Desa Batubulan
                           Sukawati - Gianyar

 

Riwayat Pendidikan/Penghargaan:

- Kepala SD Batubulan (1977)

- Staf Perencanaan Kanwil Depdikbud Propinsi Bali (1977)

- Guru Teladan (1980)

- Ibu Rumah Tangga Teladan (1981)

- Kepala Seksi Kanwil Depdikbud Propinsi Bali (1985)

- Kepala Balai Kajian Jarahnitra Denpasar (1996-2002)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com