S. Swarsi
Wanita Bali Tampak Kelelahan karena Susah Berubah
Dra. S.
Swarsi adalah sosok wanita energik. Sebagai ibu, ia tak hanya
mengurus kebutuhan keluarga, tapi juga sibuk dengan
urusan banten
dan menulis buku. Khusus untuk kegiatannya terakhir itu, ibu tiga
putra dan nenek empat cucu ini sudah menyusun buku "Upacara
Piodalan Alit di Sanggah/Merajan" dan buku "Upacara Bayi dalam
Kandungan sampai Bayi Umur 1 bulan 7 Hari". Berkat prestasinya
itu, istri Drs. I Wayan Geriya ini telah meraih penghargaan Satya
Lencana 30 tahun dari Presiden RI, sebagai Wanita Pembangunan
Indonesia dari Yayasan Citra Indonesia Jakarta, dan sebagai Guru
Teladan dan Ibu Teladan 1981. Berikut wawancara Bali Post dengan
S. Swarsi.
--------------
MENURUT
Anda, bagaimana gambaran wanita Bali secara umum?
Perempuan Bali itu sangat relegius, kesuciannya
cukup tinggi. Dalam Menawa Dharmasastra sloka 56/57 juga
disebutkan perempuan Bali itu memiliki kedudukan yang tinggi
normatifnya. Di samping itu, wanita Bali juga memiliki etos kerja
yang tinggi, artinya nak luh Bali nika sing demen natakin lima ken
kurenane. Etos kerja ini sebagai potensi budayawi untuk bisa lebih
cepat maju. Nah, etos kerja budayawi itulah yang mampu mendorong
perempuan Bali untuk bisa melakukan segala pekerjaannya, baik
kuliah, bekerja atau lainnya. Di samping itu, wanita Bali juga
memiliki komunitas, kebersamaan yang tinggi, dan kesetiaan pada
keluarga. Wanita Bali juga senang dengan kedamaian dan suka
mengalah. Walaupun sering terjadi pelecehan, wanita Bali itu tetap
damai dan tenang karena memang tidak senang dengan keributan.
Wanita sering dikatakan memiliki peran ganda,
maksudnya?
Wanita itu sebagai ibu rumah tangga, pendidik,
anggota masyarakat, dan di sisi lain juga berperan sebagai orang
yang bertugas menambah nafkah keluarga. Peran terpenting perempuan
adalah penerus keturunan. Peran ganda wanita sering disebut dengan
Panca Dharma Wanita. Jadi, peran ganda perempuan itu cukup luas.
Di zaman global kini, bagaimana Anda melihat wanita
Bali itu?
Wanita Bali kini kritis terhadap sesuatu dan berani
mempertanyakan. Dulu, wanita Bali itu memakai istilah gugon tuwon,
apa adanya, menganggap yang dulu itu selalu benar. Namun, setelah
berkembangnya ilmu pengetahuan, rasa keingintahuan itu tumbuh. Apa
yang akan dibuat, apa makna atau filosofis daripada banten, itu
menjadi pertanyaan mereka. Misalnya, membuat canang, apa saja
isinya, porosan memiliki arti apa, dan lain sebagainya. Kalau dulu
beda, suba ngae keto jeg suba ento ane beneh.
Wanita Bali amat terkait dengan wacana "banten" dan
"upakara". Bagaimana Anda melihat persoalan ini?
Banten sebenarnya simbolik dari rasa hormat kita
kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Di sisi lain, kalau dikaitkan
dengan Tri Rna, merupakan tiga utang kepada Dewa, leluhur, dan
Rsi. Utang kita juga ada dalam Panca Srada yang terkait pula
dengan banten. Sehingga, banten persembahan untuk Dewa akan
berbeda dengan persembahan untuk Bhuta Yadnya, dan seterusnya. Di
Bali ada dikotomi pembagian tugas pria dan wanita pada saat
upacara. Wanita bertugas membuat upakara, sehingga jauh sebelumnya
sudah sibuk membuat banten, jajan suci, dan lainnya. Begitulah
wanita Bali, odalan yang jauh sebelumnya sudah dipikirkan. Inilah
bukti bahwa peran wanita Bali sangat kompleks.
Adakah Anda lihat wanita Bali kini melakukan
perubahan secara spesifik?
Begini, wanita Bali juga sering kelelahan. Karena,
pada saat membuat banten upakara, mereka tak siap berubah. Mereka
menganggap apa yang dibuat dulu itu sudah paling benar. Padahal,
itu bisa dibuat esensinya saja. Misalnya, dalam membuat banten
suci bisa dibuat yang paling esensial, seperti saraswati-nya saja.
Wanita Bali yang tidak siap berubah itu akan menjadi kelelahan.
Ketika menggelar upacara piodalan di merajan, misalnya, seharusnya
odalan cenik perlu suci 10 biji, namun berkembang menjadi 60 biji.
Juga dalam membuat banten saiban yang sebenarnya 10 biji,
berkembang jadi 100 biji.
Anda punya solusi mengatasi kelelahan wanita Bali
itu?
Intinya, kelelahan itu terjadi karena mereka
sendiri membuat rumit dan terus susah berubah. Untuk itu, mereka
perlu diberikan pencerahan. Mereka perlu diberikan pemahaman
seputar simbolis atau filsafat dari banten yang dibuatnya itu.
Misalnya porosan, isinya apa saja, sebagai lambang siapa, dan
sebagainya.
Menurut Anda, siapa yang seharusnya memberikan
pencerahan kepada wanita Bali?
Sebetulnya, perkembangan seseorang terletak pada
dua faktor. Pertama, faktor internal yaitu dari diri sendiri. Hal
ini bisa dilakukan dengan cara rajin membaca. Kalau saya, setiap
akan matulung ke rumah orang yang punya upacara, saya selalu
membawa kertas dan pulpen. Kalau ada yang saya tidak bisa buat,
saya akan catat secara rinci perihal bahan, bagian, bentuk dan
artinya. Kalau merasa kurang pas, saya kemudian mencari sendiri.
Faktor kedua, motivasi eksternal. Sekarang ada banyak organisasi
Hindu seperti Wanita Hindu, Pasraman, Yayasan Acarya yang
merupakan wahana untuk pencerahan wanita terkait dengan upakara
dan banten. Memang variasi banten itu tergantung dari desa kala
patra serta dari tukang itu sendiri.
***
BAGAIMANA
wanita generasi muda Bali sekarang, apakah mereka juga tertarik
dengan budaya "majejahitan"?
Saya melihat, wanita muda Bali kini sudah terlihat
minatnya mempelajari apa yang dibuatnya itu. Kalau dulu, apa yang
dibuat oleh leluhurnya tidak akan dimengerti, tidak tahu arti dan
maksudnya. Yang penting mereka bisa membuatnya. Tetapi sekarang,
apa yang sudah dibuatnya selalu diimbangi dengan rasa ingin tahu.
Bukan hanya itu, mereka juga mencari-cari yang mana perlu
dikembangkan dan mana seharusnya dikurangi.
Artinya, generasi muda Bali kini banyak yang
berminat?
Ya. Di rumah saya sudah banyak yang berminat. Dulu
saya tidak bisa majejahitan, namun setelah matetegenan akhirnya
saya menjadi biasa. Hal itu menular pada anak dan menantu saya.
Kalau ngayah di banjar, wanita Bali sangat menonjol di bidang
seni. Walaupun dilakukan sambil ngerumpi, mereka bisa majejahitan.
Bisa dijelaskan kembali soal wanita Bali dan etos
kerjanya?
Wanita Bali sangat berperan dalam pendidikan.
Mereka melakukan atau menerapkan pendidikan sejak ia mengandung.
Mereka juga berhungan dengan ekonomi, misalnya terkait perolehan
atau pendapatan. Ingat, wanita Bali nak sing demen ngoyong. Lihat
saja ibu-ibu yang ada di desa. Mereka yang mencari nafkah di Pasar
Badung, semalam suntuk mereka nongkrong di sana, bahkan sampai
tertidur menunggui dagangnnya demi bisa menghidupi keluarganya.
Termasuk mereka yang sudah uzur. Semua itu sebagai bukti bahwa
mereka tidak mau menengadahkan tangan pada siapapun. Di situ juga
tampak etos kerjanya.
Tadi Anda menyinggung soal pencerahan. Apakah di
zaman global ini wanita Bali perlu diberikan pencerahan?
Ya. Pencerahan itu perlu untuk kesehatan mental.
Mereka harus memiliki kekuatan iman agar tidak menyesal, menangis,
bunuh diri atau lainnya. Dalam konsteks wanita di kehidupan rumah
tangga di Bali, dalam satu paon bisa ada sekian kepala keluaraga.
Di sinilah perlu dijaga hubungan antara wanita satu dengan yang
lainnya. Kalau tidak dijaga, pasti akan timbul konflik.
Anda memiliki solusi untuk menghadapi konflik
wanita seperti itu?
Wanita harus keluar rumah. Wanita yang tidak dapat
keluar rumah akan lebih cepat mengalami stres atau depresi.
Karena, di rumah wanita menghadapi konflik itu-itu saja. Hubungan
wanita dengan wanita lain adalah hubungan negatif dengan negatif.
Kudiang je luwungne ban ngaba, pasti kal mauyutan. Agar konflik
itu tak terjadi, sebaiknya mertua dianggap sebagai orangtua
sendiri yang memiliki potensi besar.
***
BISA
diceritakan mengenai kehidupan Anda sendiri?
Saya dilahirkan sebagai orang yang senang belajar
dan bekerja. Bukan untuk membanggakan diri sendiri, tetapi memang
kebanyakan wanita Bali seperti itu. Walaupun tidak tahu bunyi
sloka dalam Bagawadgita, tetapi wanita Bali umumnya menerapkan hal
itu. Saya dilahirkan di Jero Anggungan dan masuk SD di Sading yang
harus melewati Tukad Ayung. Kalau air sungai besar, saya tidak
akan bisa masuk. Saat itu, mencari kelulusan sangat sukar. Kalau
betul-betul pintar baru bisa lulus. Setelah itu, saya menjadi guru
SD pada tahun 1966.
Bagaimana soal cita-cita Anda?
Awalnya saya ingin menjadi perawat atau bidan
karena saya ingin membantu orang yang pada saat itu agak susah
bisa mendapatkan dokter atau perawat. Namun sayang, saya tidak
lulus. Terus saya ingin mengikuti pendidikan Polwan, tapi tidak
mendapat restu dari orangtua. Akhirnya saya memilih sekolah guru.
Pada 1967, saya kemudian diangkat menjadi guru. Selanjutnya, saya
menjadi kepala SD Batubulan pada 1977, dan seterusnya kemudian
sebagai Kepala Balai Kajian Jarahnitra Denpasar pada 1996-2002.
Anda sudah menyusun dua buku terkait dengan
pengetahuan upacara dalam agama Hindu, bisa diceritakan?
Semua itu karena keinginan saya belajar tentang
upacara itu. Oleh karena saya sudah mendapatkan informasi, apa
salahnya menyusun buku-buku tersebut. Di samping untuk mengingat
atau dokumentasi, juga agar dapat saya sumbangkan untuk orang
lain. Kalau ada waktu, saya akan menyusun buku perihal upacara
prateka layon. Semua buku itu saya susun berdasar inspirasi dari
tugas saya sebagai peneliti sejarah nilai tradisional. Saya rasa
seorang penulis itu sama seperti seniman. Kalau sudah ada ide,
langsung saja ditulis. Kalau tidak ada alat-alatnya, maka diingat
terus, setelah sampai di rumah baru dituangkan.
Bagaimana dukungan dari keluarga?
Saya paling sering berkonsultasi dengan suami.
Kalau memiliki kesusahan, saya lebih sering menceritakannya pada
suami. Anak-anak juga mendukung.
*
pewawancara:
budarsana
BIODATA
Nama
: Dra. S. Swarsi
Lahir
: Jeroan Anggungan, Mengwi, 17 Maret 1946
Pendidikan :
Sarjana Antropologi (1981)
Pekerjaan :
Peneliti Muda Bidang Jatrahnitra TMT
1 Juni 2001 (Koordinator Fungsional)
Suami
: Drs. I Wayan Geriya, dosen Faksas Unud
Anak
: I Wayan Ria Arsika, S.S.
I Made Ria Suarjaya
I Komang Ria Sutriawan
Alamat
: Banjar Batur, Desa Batubulan
Sukawati - Gianyar
Riwayat
Pendidikan/Penghargaan:
- Kepala SD Batubulan (1977)
- Staf Perencanaan Kanwil Depdikbud Propinsi Bali
(1977)
- Guru Teladan (1980)
- Ibu Rumah Tangga Teladan (1981)
- Kepala Seksi Kanwil Depdikbud Propinsi Bali
(1985)
- Kepala Balai Kajian Jarahnitra Denpasar
(1996-2002)