Narkoba atau Bunuh Diri?
Mereka yang menyakiti tubuhnya sendiri begitu dahsyat, bukan
karena mereka tidak mencintai tubuh mereka, lebih dari itu, mereka
ingin membawanya ke Taman Eden dalam kemuliaan.
(Ephraim orang Siria)
-------------
SETELAH
tidak lagi jadi Kapolda Bali, nama dan
foto Komjen Pol. Made Mangku Pastika muncul kembali di koran-koran
terbitan Bali dan kini sebagai Kepala Pelaksana Harian Badan
Narkoba Nasional (Kalakhar-BNN). Dulu ketika jadi Kapolda Bali,
ucapannya senantiasa serius, minim humor, khususnya dalam
memberantas segala bentuk perjudian dan premanisme.
Kini, sebagai Kalakhar-BNN, kelakarnya mulai terdengar.
Meski sempat melontarkan "kutukan" terhadap para oknum anggota
kepolisian yang terlibat narkoba -- sebagai pemakai maupun
pengedar, ucapannya yang mengandung gurau, "Setelah Mangku pergi,
para dewa diusir" membuat para pendengarnya tergelak. Yang
dimaksud "dewa" adalah para petinggi Polda Bali berkasta "Pradewa"
yang dimutasi dari jabatannya setelah Mangku Pastika pergi dari
Bali.
Penjelasan Kalakhar-BNN soal konsumen narkoba di Indonesia
berjumlah empat juta orang, tidak begitu mengagetkan Rubag. Sebab,
ia saksikan di TV, di negeri ini sudah ada pabrik yang memproduksi
barang "haram" yang beberapa di antaranya berhasil digerebek
aparat keamanan. Justru kedudukan Bali di peringkat ketiga di
Indonesia dalam mencandu narkoba membuatnya tersentak.
Memang dalam beberapa tahun terakhir terungkap, Bali sebagai
primadona pariwisata nasional juga digunakan sebagai salah satu
titik perlintasan kriminal internasional. Tertangkapnya Corby dari
Australia di Bandara Ngurah Rai, yang kemudian dijuluki "Ratu
Mariyuana", kelompok sembilan dan seorang model (juga) dari
Australia serta belasan orang asing berkulit hitam di samping
buronan Interpol dalam kasus kriminal lain yang ngumpet di daerah
ini, merupakan bukti bahwa Bali sudah tercantum dalam "peta hitam"
dunia. Bahkan terorisme bom dan pelacuran antarbangsa yang bukan
produk asli Bali telah merusak ketenangan dan kesucian Pulau
Seribu Pura ini.
***
DALAM paparan "Dialektika Materialisme
Sejarah", Karl Marx ada menyebut bahwa "agama adalah candu
masyarakat". Kalau saja "bhagawan atheisme" itu masih hidup dan
menyaksikan perkembangan terakhir masyarakat dunia, Rubag yakin
dia akan mengubah postulatnya menjadi "candu nyaris menjadi agama
masyarakat".
Candu yang dalam sejarah Nusantara sering disebut madat atau apiun
adalah kata lain dari opium, kini memiliki banyak jenis dan nama,
digunakan secara luas tanpa membedakan ras, agama, jenis kelamin
bahkan status sosial dan ekonomi. Sering diberitakan di media
massa bahwa pengguna narkoba tidak hanya kaum berduit, juga banyak
dari kalangan tidak mampu secara ekonomis. Ironisnya, di antara
yang tertangkap -- sebagai pengedar maupun pemakai -- tak hanya
penganggur, juga oknum-oknum birokrat, legislatif, polisi dan
militer.
Lucunya, Indonesia yang keteter di bidang ekonomi, bahkan untuk
menjalankan roda pemerintahannya harus bersandar pada utang luar
negeri, memiliki pencandu narkoba empat juta orang!
Omzet bisnis obat terlarang itu, menurut Mangku Pastika, mencapai
Rp 12 trilyun per tahun dan tercatat 15 ribu korban tewas per
tahun akibat menggunakannya. Padahal jumlah anak-anak kurang gizi
dan mereka yang harus makan nasi aking agar bisa bertahan hidup
tak terhitung banyaknya di negeri ini.
Paradoksa yang sangat kompleks inilah yang harus dipecahkan
jenderal polisi berbintang tiga itu, selain ide mendirikan rumah
sakit khusus narkoba dan HIV. Sementara para ahli farmakologi
berdalih bahwa faktor penyebab orang mengkonsumsi narkoba adalah
pengaruh yang dimiliki barang-barang psikotropika itu.
Psikotropika berasal dari bahasa Yunani, yakni psyche (jiwa) dan
tropein (mengubah), sehingga psikotropika berarti zat-zat yang
mempengaruhi jiwa dan otak.
Di antaranya yang paling berbahaya dan tak boleh diresepkan
sebagai obat adalah LSD (lysergsaure diathylamid), DOM
(dimetoksimetilamfetamina) yang sering disebut STP karena memberi
rasa tenteram, tenang dan damai (serenity, tranquility and peace),
meskalina dan PCP (Penilsikloheksilpiperidina) yang juga sering
disebut debu malaikat (angel dust).
Rubag teringat lagu The Beatles di awal tahun 1960-an berjudul
"Lucy in The Sky Like Blue Diamond" yang konon memuji kehebatan
pengaruh LSD. Dr.Albert Hofmann penemu psikedelika itu pada 2 Mei
1938, mengembangkan jamur yang tumbuh pada gandum yang disebut
ergot menjadi asam lisergat. Kemudian lewat proses pada
pabrik kimia Sandoz, Swiss, terciptalah benda berbentuk
kristal putih.
Hofmann yang konon tanpa sengaja menelan butir-butir LSD,
menuturkan pengalamannya bahwa dia melihat dunia dan lingkungan
tampak menyatu berwarna indah, suara sekecil apapun terdengar
nyaring dan merdu, waktu pendek terasa panjang dan nyaris tak bisa
menuturkan dengan kata-kata keindahan yang dihalusinasikannya.
Kondisi seperti itu disebutnya psikedelik, zatnya psikedelika atau
halusinogen.
***
UANG yang beredar dalam perdagangan narkoba
dunia sungguh mencengangkan. Bahkan ada beberapa negara yang
menggantungkan RAPBN-nya dari hasil penjualan narkotika. Terorisme
global yang kini terjadi, menurut Mathias Brockers, ditengarai ada
yang didanai dari bisnis hashish, kanabis dan opium. Konon kata
assassin dalam bahasa Inggris yang berarti pembunuh, berasal dari
kata hashish.
Di Persia pada abad ke-11, konon, sebelum melakukan pembunuhan,
orang-orang mengkonsumsi hashis terlebih dulu agar otaknya tenang,
tenteram dan damai di bawah halusinasi surgawi. Relevan dengan
pendapat orang Siria bernama Ephraim, bahwa orang-orang rela
menyakiti diri mereka sendiri demi khayalan yang tergurat di
otaknya. Jadi, alasan para pengguna narkoba di abad modern, selain
ikut-ikutan agar tidak dikucilkan teman-teman dan menghapus
kejenuhan terhadap rutinitas, juga sebagai sarana untuk menghapus
rasa takut agar bisa melakukan tindakan-tindakan yang tidak masuk
akal.
Bom bunuh diri adalah tindakan yang dianggap lebih ksatria dan
berani daripada bunuh diri, sebagai reaksi atas kekecewaan dan
sakit hati atas masalah sosial dan ekonomi.
Kasus bunuh diri di Indonesia belakangan ini nyaris setiap hari
terberitakan di media massa. Sayang, perhatian pemerintah belum
tampak untuk menanggulanginya, seperti halnya dalam kasus narkoba
dan AIDS. Seakan-akan tindakan bunuh diri merupakan tanggung jawab
setiap pelakunya, bukan urusan pemerintah sehingga tidak perlu
dibentuk lembaga khusus seperti BNN untuk mencegah dan
menanggulanginya. Padahal, tak sedikit penyebab bunuh diri akibat
kesulitan ekonomi dan masalah sosial yang tak terpecahkan.
Bagi Rubag, kematian karena bunuh diri, maupun akibat narkoba dan
AIDS, merupakan nyawa manusia yang melayang dengan sia-sia. Tidak
jarang, karena masalah yang tampak sepele menyebabkan orang
gantung diri, minum racun atau harakiri. Semoga saja,
kebingungan akibat multikrisis yang berkepanjangan tidak
menimbulkan bunuh diri massal. Bila itu terjadi, benar-benar
kiamat sudah dekat.
* aridus