kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Paing, 30 April 2006 tarukan valas
 

OPINI


Narkoba atau Bunuh Diri?

Mereka yang menyakiti tubuhnya sendiri begitu dahsyat, bukan karena mereka tidak mencintai tubuh mereka, lebih dari itu, mereka ingin membawanya ke Taman Eden dalam kemuliaan.

(Ephraim orang Siria)

-------------

 

SETELAH tidak lagi jadi Kapolda Bali, nama dan foto Komjen Pol. Made Mangku Pastika muncul kembali di koran-koran terbitan Bali dan kini sebagai Kepala Pelaksana Harian Badan Narkoba Nasional (Kalakhar-BNN). Dulu ketika jadi Kapolda Bali, ucapannya senantiasa serius, minim humor, khususnya dalam memberantas segala bentuk perjudian dan premanisme.   Kini, sebagai Kalakhar-BNN, kelakarnya mulai terdengar.

Meski sempat melontarkan "kutukan" terhadap para oknum anggota kepolisian yang terlibat narkoba -- sebagai pemakai maupun pengedar, ucapannya yang mengandung gurau, "Setelah Mangku pergi, para dewa diusir" membuat para pendengarnya tergelak. Yang dimaksud "dewa" adalah para petinggi Polda Bali berkasta "Pradewa" yang dimutasi dari jabatannya setelah Mangku Pastika pergi dari Bali.

Penjelasan Kalakhar-BNN soal konsumen narkoba di Indonesia berjumlah empat juta orang, tidak begitu mengagetkan Rubag. Sebab, ia saksikan di TV, di negeri ini sudah ada pabrik yang memproduksi barang "haram" yang beberapa di antaranya berhasil digerebek aparat keamanan. Justru kedudukan Bali di peringkat ketiga di Indonesia dalam mencandu narkoba membuatnya tersentak.

Memang dalam beberapa tahun terakhir terungkap, Bali sebagai primadona pariwisata nasional juga digunakan sebagai salah satu titik perlintasan kriminal internasional. Tertangkapnya Corby dari Australia di Bandara Ngurah Rai, yang kemudian dijuluki "Ratu Mariyuana", kelompok sembilan dan seorang model (juga) dari Australia serta belasan orang asing berkulit hitam di samping buronan Interpol dalam kasus kriminal lain yang ngumpet di daerah ini, merupakan bukti bahwa Bali sudah tercantum dalam "peta hitam" dunia. Bahkan terorisme bom dan pelacuran antarbangsa yang bukan produk asli Bali telah merusak ketenangan dan kesucian Pulau Seribu Pura ini.

***

 

DALAM paparan "Dialektika Materialisme Sejarah", Karl Marx ada menyebut bahwa "agama adalah candu masyarakat". Kalau saja "bhagawan atheisme" itu masih hidup dan menyaksikan perkembangan terakhir masyarakat dunia, Rubag yakin dia akan mengubah postulatnya menjadi "candu nyaris menjadi agama masyarakat".

Candu yang dalam sejarah Nusantara sering disebut madat atau apiun adalah kata lain dari opium, kini memiliki banyak jenis dan nama, digunakan secara luas tanpa membedakan ras, agama, jenis kelamin bahkan status sosial dan ekonomi. Sering diberitakan di media massa bahwa pengguna narkoba tidak hanya kaum berduit, juga banyak dari kalangan tidak mampu secara ekonomis. Ironisnya, di antara yang tertangkap -- sebagai pengedar maupun pemakai -- tak hanya penganggur, juga oknum-oknum birokrat, legislatif, polisi dan militer.

Lucunya, Indonesia yang keteter di bidang ekonomi, bahkan untuk menjalankan roda pemerintahannya harus bersandar pada utang luar negeri, memiliki pencandu narkoba empat juta orang!

Omzet bisnis obat terlarang itu, menurut Mangku Pastika, mencapai Rp 12 trilyun per tahun dan tercatat 15 ribu korban tewas per tahun akibat menggunakannya. Padahal jumlah anak-anak kurang gizi dan mereka yang harus makan nasi aking agar bisa bertahan hidup tak terhitung banyaknya di negeri ini.

Paradoksa yang sangat kompleks inilah yang harus dipecahkan jenderal polisi berbintang tiga itu, selain ide mendirikan rumah sakit khusus narkoba dan HIV. Sementara para ahli farmakologi berdalih bahwa faktor penyebab orang mengkonsumsi narkoba adalah pengaruh yang dimiliki barang-barang psikotropika itu. Psikotropika berasal dari bahasa Yunani, yakni psyche (jiwa) dan tropein (mengubah), sehingga psikotropika berarti zat-zat yang mempengaruhi jiwa dan otak.

Di antaranya yang paling berbahaya dan tak boleh diresepkan sebagai obat adalah LSD (lysergsaure diathylamid), DOM (dimetoksimetilamfetamina) yang sering disebut STP karena memberi rasa tenteram, tenang dan damai (serenity, tranquility and peace), meskalina dan PCP (Penilsikloheksilpiperidina) yang juga sering disebut debu malaikat (angel dust).

Rubag teringat lagu The Beatles di awal tahun 1960-an berjudul "Lucy in The Sky Like Blue Diamond" yang konon memuji kehebatan pengaruh LSD. Dr.Albert Hofmann penemu psikedelika itu pada 2 Mei 1938, mengembangkan jamur yang tumbuh pada gandum yang disebut ergot menjadi asam lisergat.  Kemudian lewat proses pada pabrik kimia Sandoz, Swiss,  terciptalah benda berbentuk kristal putih.

Hofmann yang konon tanpa sengaja menelan butir-butir LSD, menuturkan pengalamannya bahwa dia melihat dunia dan lingkungan tampak menyatu berwarna indah, suara sekecil apapun terdengar nyaring dan merdu, waktu pendek terasa panjang dan nyaris tak bisa menuturkan dengan kata-kata keindahan yang dihalusinasikannya. Kondisi seperti itu disebutnya psikedelik, zatnya psikedelika atau halusinogen.

***

 

UANG yang beredar dalam perdagangan narkoba dunia sungguh mencengangkan. Bahkan ada beberapa negara yang menggantungkan RAPBN-nya dari hasil penjualan narkotika. Terorisme global yang kini terjadi, menurut Mathias Brockers, ditengarai ada yang didanai dari bisnis hashish, kanabis dan opium. Konon kata assassin dalam bahasa Inggris yang berarti pembunuh, berasal dari kata hashish.

Di Persia pada abad ke-11, konon, sebelum melakukan pembunuhan, orang-orang mengkonsumsi hashis terlebih dulu agar otaknya tenang, tenteram dan damai di bawah halusinasi surgawi. Relevan dengan pendapat orang Siria bernama Ephraim, bahwa orang-orang rela menyakiti diri mereka sendiri demi khayalan yang tergurat di otaknya. Jadi, alasan para pengguna narkoba di abad modern, selain ikut-ikutan agar tidak dikucilkan teman-teman dan menghapus kejenuhan terhadap rutinitas, juga sebagai sarana untuk menghapus rasa takut agar bisa melakukan tindakan-tindakan yang tidak masuk akal.

Bom bunuh diri adalah tindakan yang dianggap lebih ksatria dan berani daripada bunuh diri, sebagai reaksi atas kekecewaan dan sakit hati atas masalah sosial dan ekonomi.

 Kasus bunuh diri di Indonesia belakangan ini nyaris setiap hari terberitakan di media massa. Sayang, perhatian pemerintah belum tampak untuk menanggulanginya, seperti halnya dalam kasus narkoba dan AIDS. Seakan-akan tindakan bunuh diri merupakan tanggung jawab setiap pelakunya, bukan urusan pemerintah sehingga tidak perlu dibentuk lembaga khusus seperti BNN untuk mencegah dan menanggulanginya. Padahal, tak sedikit penyebab bunuh diri akibat kesulitan ekonomi dan masalah sosial yang tak terpecahkan.

Bagi Rubag, kematian karena bunuh diri, maupun akibat narkoba dan AIDS, merupakan nyawa manusia yang melayang dengan sia-sia. Tidak jarang, karena masalah yang tampak sepele menyebabkan orang gantung diri, minum racun atau  harakiri. Semoga saja, kebingungan akibat multikrisis yang  berkepanjangan tidak menimbulkan bunuh diri massal. Bila itu terjadi, benar-benar kiamat sudah dekat.

* aridus

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com