Pohon-pohon yang Menangis (2)
''JANGAN
bunuh aku!'' Tiba-tiba kalong dalam genggaman Wayan Geloyoh itu
menjerit. ''Aku bukan kalong biasa. Sayangilah aku sebagaimana
kamu menyayangi pohon-pohon!''
I Wayan Geloyoh tidak perduli akan rayuan kalong
itu. Ia memperkuat remasannya. Kalong itu kesakitan lalu menjerit
lagi. ''Jangan bunuh aku! Kalau kamu berbaik budi kepadaku, akan
kuberi hadiah sebuah keris sakti.''
''Bohong! Mana kerismu?'' tanya Wayan tidak
percaya.
''Ambillah di balik akar pohon beringin itu! Keris
itu dapat memenuhi segala permintaanmu. Acungkanlah tinggi-tinggi
di hadapan binatang yang kau jumpa. Lalu tinggal mengatakan apa
yang kau inginkan.''
Setelah mengambil keris, Wayan Geloyoh lalu melepas
kalong itu.
''Satu syarat yang tidak boleh aku lakukan adalah
jangan meminta sesuatu yang sudah menjadi hukum alam!'' kata
kalong itu sambil terbang jauh.
Keesokan harinya, menjelang matahari terbit, Wayan
Geloyoh tergopoh-gopoh menuruni hutan. Di depan rumahnya ia
melihat seekor burung kepodang bernyanyi-nyanyi. ''Hai,
Kepodang!'' serunya sambil mengacungkan keris tinggi-tinggi.
''Perutku sangat lapar, sediakanlah makanan yang banyak dan
enak-enak!''
Wah, ajaib benar! Di dapur telah tersedia makanan
yang segar dan gurih. Wayan makan sepuas-puasnya. Setelah kenyang
ia segera ke kebun. Di depan setiap hewan yang dijumpainya, ia
berteriak, ''Hai, Sapi!'' Bajaklah kebun itu! Hai, Semut! Tanamlah
jagung, mentimun, dan labu! Hai, Kuda! Angkutlah hasil kebun itu
ke pasar!''
Dalam waktu singkat, Wayan Geloyoh sudah menjadi
kaya. Ia punya banyak uang, ia punya rumah yang mewah. Di seluruh
desa lereng gunung Batukaru itu, Wayan Geloyoh adalah orang yang
terkaya. Ia tinggal memerintah dan bermalas-malasan. Lama-kelamaan
ia pun berlagak congkak dan tak perduli kepada penduduk di
sekitarnya.
Bumi berputar, waktu pun berjalan. Tibalah musim
hujan. Sepanjang hari air hujan seperti tumpah begitu saja dari
langit. Matahari tak kunjung memperlihatkan diri. Cuaca amat
dingin. Wayan Geloyoh mengurung diri dalam kamar. Sekujur tubuhnya
menggigil. Ia sangat benci kepada musim yang menjemukan.
Tiba-tiba ia teringat keris pemberian kalong itu.
Ia segera menghunusnya, lalu mengacung-acungkannya di dalam kebun.
''Hai, Matahari!'' teriaknya. ''Perlihatkan dirimu, usirlah
mendung tebal itu! Lihat badanku menggigil! Ubahlah cuaca dingin
menjadi panas!''
Perlahan-lahan langit terbuka. Matahari memancarkan
cahayanya. Sambil tersenyum sang matahari melihat I Wayan Geloyoh
membuka selimut tebalnya. Cuaca tidak dingin lagi. Makin lama
makin panas. Ya, makin panas! Panas di kebun, panas di rumah,
panas di mana-mana. Lihat sekarang! Tanaman Wayan Geloyoh
terbakar. Api menjalar menuju rumah. Api yang berkobar-kobar itu
lalu melalap rumah mewah itu. Tak lama kemudian dari dalam rumah
itu terdengar jeritan yang memilukan. Jeritan itu makin lemah lalu
menghilang.
Keesokan harinya penduduk lereng gunung Batukaru
berduyun-duyun melihat rumah yang terbakar itu. Semua menjadi abu.
Juga I Wayan Geloyoh dan keris yang sakti itu.
***
DONGENG
itu bukan saja mengandung tema pelestarian lingkungan, tetapi juga
pendidikan budi pekerti. Tokoh yang mula-mula hidup miskin, rajin
bekerja dan baik budi, setelah kaya berubah menjadi congkak, tidak
perduli lingkungan dan hidup bermalas-malasan. Perubahan sifat itu
disebabkan ia mendapatkan kemudahan hidup yang berlebihan sehingga
tidak mampu mengendalikan diri. Bukankah sudah diisyaratkan jangan
menggunakan keris sakti itu untuk melawan hukum alam?
Dongeng-dongeng yang mengandung tema dan pendidikan
budi pekerti seperti itu cukup banyak kita temukan. Yang menarik
dari dongeng yang luwes itu adalah kemungkinan beragamnya teknik
penyajian. Dongeng ini hanyalah kerangka dari model penyajian yang
mendorong aktif pendengar. Cerita itu dapat dilakukan dengan
tanya-jawab, dengan peragaan, simulasi atau dramatisasi. Bahkan
dapat dilakukan dengan bernyanyi dan bermain.
Dongeng yang disajikan dengan melibatkan
partisipasi aktif anak-anak jauh lebih kena dan berbobot daripada
cuma mendengarkan saja.
* made taro