kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 30 April 2006 tarukan valas
 

KELUARGA


Pohon-pohon yang Menangis (2)

''JANGAN bunuh aku!'' Tiba-tiba kalong dalam genggaman Wayan Geloyoh itu menjerit. ''Aku bukan kalong biasa. Sayangilah aku sebagaimana kamu menyayangi pohon-pohon!''

I Wayan Geloyoh tidak perduli akan rayuan kalong itu. Ia memperkuat remasannya. Kalong itu kesakitan lalu menjerit lagi. ''Jangan bunuh aku! Kalau kamu berbaik budi kepadaku, akan kuberi hadiah sebuah keris sakti.''

''Bohong! Mana kerismu?'' tanya Wayan tidak percaya.

''Ambillah di balik akar pohon beringin itu! Keris itu dapat memenuhi segala permintaanmu. Acungkanlah tinggi-tinggi di hadapan binatang yang kau jumpa. Lalu tinggal mengatakan apa yang kau inginkan.''

Setelah mengambil keris, Wayan Geloyoh lalu melepas kalong itu.

''Satu syarat yang tidak boleh aku lakukan adalah jangan meminta sesuatu yang sudah menjadi hukum alam!'' kata kalong itu sambil terbang jauh.

Keesokan harinya, menjelang matahari terbit, Wayan Geloyoh tergopoh-gopoh menuruni hutan. Di depan rumahnya ia melihat seekor burung kepodang bernyanyi-nyanyi. ''Hai, Kepodang!'' serunya sambil mengacungkan keris tinggi-tinggi. ''Perutku sangat lapar, sediakanlah makanan yang banyak dan enak-enak!''

Wah, ajaib benar! Di dapur telah tersedia makanan yang segar dan gurih. Wayan makan sepuas-puasnya. Setelah kenyang ia segera ke kebun. Di depan setiap hewan yang dijumpainya, ia berteriak, ''Hai, Sapi!'' Bajaklah kebun itu! Hai, Semut! Tanamlah jagung, mentimun, dan labu! Hai, Kuda! Angkutlah hasil kebun itu ke pasar!''

Dalam waktu singkat, Wayan Geloyoh sudah menjadi kaya. Ia punya banyak uang, ia punya rumah yang mewah. Di seluruh desa lereng gunung Batukaru itu, Wayan Geloyoh adalah orang yang terkaya. Ia tinggal memerintah dan bermalas-malasan. Lama-kelamaan ia pun berlagak congkak dan tak perduli kepada penduduk di sekitarnya.

Bumi berputar, waktu pun berjalan. Tibalah musim hujan. Sepanjang hari air hujan seperti tumpah begitu saja dari langit. Matahari tak kunjung memperlihatkan diri. Cuaca amat dingin. Wayan Geloyoh mengurung diri dalam kamar. Sekujur tubuhnya menggigil. Ia sangat benci kepada musim yang menjemukan.

Tiba-tiba ia teringat keris pemberian kalong itu. Ia segera menghunusnya, lalu mengacung-acungkannya di dalam kebun. ''Hai, Matahari!'' teriaknya. ''Perlihatkan dirimu, usirlah mendung tebal itu! Lihat badanku menggigil! Ubahlah cuaca dingin menjadi panas!''

Perlahan-lahan langit terbuka. Matahari memancarkan cahayanya. Sambil tersenyum sang matahari melihat I Wayan Geloyoh membuka selimut tebalnya. Cuaca tidak dingin lagi. Makin lama makin panas. Ya, makin panas! Panas di kebun, panas di rumah, panas di mana-mana. Lihat sekarang! Tanaman Wayan Geloyoh terbakar. Api menjalar menuju rumah. Api yang berkobar-kobar itu lalu melalap rumah mewah itu. Tak lama kemudian dari dalam rumah itu terdengar jeritan yang memilukan. Jeritan itu makin lemah lalu menghilang.

Keesokan harinya penduduk lereng gunung Batukaru berduyun-duyun melihat rumah yang terbakar itu. Semua menjadi abu. Juga I Wayan Geloyoh dan keris yang sakti itu.

***

 

DONGENG itu bukan saja mengandung tema pelestarian lingkungan, tetapi juga pendidikan budi pekerti. Tokoh yang mula-mula hidup miskin, rajin bekerja dan baik budi, setelah kaya berubah menjadi congkak, tidak perduli lingkungan dan hidup bermalas-malasan. Perubahan sifat itu disebabkan ia mendapatkan kemudahan hidup yang berlebihan sehingga tidak mampu mengendalikan diri. Bukankah sudah diisyaratkan jangan menggunakan keris sakti itu untuk melawan hukum alam?

Dongeng-dongeng yang mengandung tema dan pendidikan budi pekerti seperti itu cukup banyak kita temukan. Yang menarik dari dongeng yang luwes itu adalah kemungkinan beragamnya teknik penyajian. Dongeng ini hanyalah kerangka dari model penyajian yang mendorong aktif pendengar. Cerita itu dapat dilakukan dengan tanya-jawab, dengan peragaan, simulasi atau dramatisasi. Bahkan dapat dilakukan dengan bernyanyi dan bermain.

Dongeng yang disajikan dengan melibatkan partisipasi aktif anak-anak jauh lebih kena dan berbobot daripada cuma mendengarkan saja.

* made taro

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com