Tiga Anak Meninggal, Satu Lumpuh
NASIB
kurang beruntung dialami pasutri IW Suardana (38) dan Ni Wayan
Kerti (37) dari Banjar Seloni, Culik, Kecamatan Abang, Karangasem.
Tiga anak laki-lakinya dari enam bersaudara telah meninggal. Kini
anak bungsunya Ni Wayan Putu Librayani (7) menderita lumpuh,
jangankan berjalan duduk pun tak mampu.
Penderitaan keluarga kurang mampu ini belum
berhenti, karena sebuah gubuknya, tempat tinggalnya berlima,
terancam tergusur. Masalahnya, kata Kerti Sabtu (29/4) kemarin di
Culik, tanah pekarangan tempat membangun rumahnya kini cuma
berstatus pinjam pakai. Sementara, si pemilik tanah itu kini sudah
menjual tanah mereka. ''Barangkali kami diberikan meminjam satu
setengah tahun lagi atau sebelum pemilik tanah yang baru akan
membangun di tanah hak miliknya ini,'' katanya.
.JPG)
Kerti mengaku bernasib tak beruntung. Tiga anak
lelakinya sudah meninggal. Ada yang meninggal saat berumur tujuh
tahun, ada yang tiada usai upacara enam bulanan. Sebelum ketiga
anaknya meninggal gejala sakitnya nyaris sama, sakit panas
berkepanjangan disertai batuk dan badannya kurus. Saat dibawa ke
puskesmas masih mau menyusu, namun pulang berobat tak mau lagi
diteteki dan akhirnya kurus lalu meninggal.
Lebih menyedihkan, saat anak bungsunya lahir,
Librayani kerap sakit-sakitan. Sampai kini lumpuh dan tak bisa
berbicara.
Kerti mengatakan, Kamis (27/4) lalu, Kepala Dinas
Kesehatan Karangasem dr. IA Suci Astiti, M.Kes. bersama petugas
dari Puskesmas Abang di Culik berkesempatan menjenguknya. Dokter
Suci, kata Kerti menyampaikan kalau Librayani menderita infeksi
saraf yang cukup berat. ''Kami tetap menyayanginya dan masih
berusaha mencari jalan, karena berharap kondisinya lebih baik.
Kami juga berharap ada yang membantu memberi jalan keluar,''
ujarnya.
Selama ini, katanya, anaknya memang tak ada yang
diberi minum susu. Sebagai buruh, pendapatannya tak cukup.
Suaminya Suardana bekerja di sebuah hotel di Bunutan. Turis
belakangan sepi sehingga pendapatannya dicukupkan untuk bisa makan
sekeluarga.
Kerti mengaku tak tega menuntut terlalu banyak
kepada suaminya. Masalahnya, suaminya juga sudah tampak cukup
berat berpikir setelah kehilangan tiga anak lelakinya. ''Saya cuma
kadang-kadang membantu orang bercocok tanam atau mengangkut hasil
pertanian. Saat ada orang membangun rumah, saya juga kerap ikut
mengangkut bahannya dan diberi upah,'' ujar Kerti.
Dia mengatakan cuma memelihara seekor babi. Namun
babinya sejak beberapa hari ini sakit dan tak kuat makan. Kerti
sekeluarga tinggal dalam rumah kecil bertembok batako berukuran 3
x 4 m. Rumah beratap seng itu terdiri dari satu kamar dengan dua
balai. Dia membuat serambi dari bambu di samping rumah untuk
menempatkan barang. Bangunan dapur tak ada, tungku api kayu bakar
untuk memasak beratap langit.
Pasutri Suardana-Kerti tak sendirian miskin di
Culik. Saudaranya yang tinggal di selatan rumah Kerti, kondisi
perekonomiannya tak jauh berbeda. (bud)