kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 30 April 2006 tarukan valas
 

BERITA


Tiga Anak Meninggal, Satu Lumpuh

NASIB kurang beruntung dialami pasutri IW Suardana (38) dan Ni Wayan Kerti (37) dari Banjar Seloni, Culik, Kecamatan Abang, Karangasem. Tiga anak laki-lakinya dari enam bersaudara telah meninggal. Kini anak bungsunya Ni Wayan Putu Librayani (7) menderita lumpuh, jangankan berjalan duduk pun tak mampu.

Penderitaan keluarga kurang mampu ini belum berhenti, karena sebuah gubuknya, tempat tinggalnya berlima, terancam tergusur. Masalahnya, kata Kerti Sabtu (29/4) kemarin di Culik, tanah pekarangan tempat membangun rumahnya kini cuma berstatus pinjam pakai. Sementara, si pemilik tanah itu kini sudah menjual tanah mereka. ''Barangkali kami diberikan meminjam satu setengah tahun lagi atau sebelum pemilik tanah yang baru akan membangun di tanah hak miliknya ini,'' katanya.

Kerti mengaku bernasib tak beruntung. Tiga anak lelakinya sudah meninggal. Ada yang meninggal saat berumur tujuh tahun, ada yang tiada usai upacara enam bulanan. Sebelum ketiga anaknya meninggal gejala sakitnya nyaris sama, sakit panas berkepanjangan disertai batuk dan badannya kurus. Saat dibawa ke puskesmas masih mau menyusu, namun pulang berobat tak mau lagi diteteki dan akhirnya kurus lalu meninggal.

Lebih menyedihkan, saat anak bungsunya lahir, Librayani kerap sakit-sakitan. Sampai kini lumpuh dan tak bisa berbicara.

Kerti mengatakan, Kamis (27/4) lalu, Kepala Dinas Kesehatan Karangasem dr. IA Suci Astiti, M.Kes. bersama petugas dari Puskesmas Abang di Culik berkesempatan menjenguknya. Dokter Suci, kata Kerti menyampaikan kalau Librayani menderita infeksi saraf yang cukup berat. ''Kami tetap menyayanginya dan masih berusaha mencari jalan, karena berharap kondisinya lebih baik. Kami juga berharap ada yang membantu memberi jalan keluar,'' ujarnya.

Selama ini, katanya, anaknya memang tak ada yang diberi minum susu. Sebagai buruh, pendapatannya tak cukup. Suaminya Suardana bekerja di sebuah hotel di Bunutan. Turis belakangan sepi sehingga pendapatannya dicukupkan untuk bisa makan sekeluarga.

Kerti mengaku tak tega menuntut terlalu banyak kepada suaminya. Masalahnya, suaminya juga sudah tampak cukup berat berpikir setelah kehilangan tiga anak lelakinya. ''Saya cuma  kadang-kadang membantu orang bercocok tanam atau mengangkut hasil pertanian. Saat ada orang membangun rumah, saya juga kerap ikut mengangkut bahannya dan diberi upah,'' ujar Kerti.

Dia mengatakan cuma memelihara seekor babi. Namun babinya sejak beberapa hari ini sakit dan tak kuat makan. Kerti sekeluarga tinggal dalam rumah kecil bertembok batako berukuran 3 x 4 m. Rumah beratap seng itu terdiri dari satu kamar dengan dua balai. Dia membuat serambi dari bambu di samping rumah untuk menempatkan barang. Bangunan dapur tak ada, tungku api kayu bakar untuk memasak beratap langit.

Pasutri Suardana-Kerti tak sendirian miskin di Culik. Saudaranya yang tinggal di selatan rumah Kerti, kondisi perekonomiannya tak jauh berbeda. (bud)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com