kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 30 April 2006 tarukan valas
 

BERITA


Membangkitkan Semangat NKRI
di "Taman Majapahit"

Kunjungan kerja Menbudpar Jero Wacik ke situs Majapahit, beberapa hari yang lalu, kembali mencerahkan harapan akan adanya revitalisasi situs Kerajaan Hindu yang berpusat di Kecamatan Trowulan, Jawa Timur tersebut. Betapa tidak, dalam kunjungan kerja itu, Menteri Jero Wacik yang didampingi beberapa dirjennya, bersama Bupati Mojokerto, Ahmadi, secara serius membahas rencana pembangunan serta pengembangan situs Majapahit. Bagi masyarakat Bali yang sebagian besar berada dalam garis "wong Majapahit", berita ini tentu sangat menggembirakan dan menyentuh.

-------------

 

IDE yang dulu sempat muncul kemudian belakangan tenggelam, yaitu pembangunan "Taman Majapahit" (Majapahit Park) sebagai pusat informasi kebudayaan Majapahit yang terintegrasi, holistik dan komprehensif, kembali mendapatkan tanda-tanda untuk segera dapat direalisasi. Pada kesempatan kunjungan kerja itu, Menbudpar Jero Wacik mengemukakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memerintahkan agar pelestarian dan pengembangan situs Majapahit dijadikan prioritas, bersama dengan situs Sriwijaya.

Rencana besar pelestarian dan pengembangan situs Majapahit di Trowulan sesungguhnya sudah menjadi impian lama. Pada tahun 1986, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah merampungkan sebuah rencana induk (master plan) "Arkeologi untuk Bekas Kerajaan Majapahit Trowulan". Dalam master plan tersebut secara tegas dinyatakan oleh Dirjen Kebudayaan (waktu itu) Prof. Dr. Haryati Soebadio bahwa pemugaran berbagai bangunan dalam situs Majapahit mempunyai multitujuan, antara lain untuk melestarikan berbagai jenis peninggalan, serta mengamankannya sebagai tujuan pariwisata. Ditekankan juga bahwa pemugaran harus dapat difungsikan untuk kepentingan masyarakat umum (Depdikbud RIP 1986: 1).

Dalam master plan tersebut, ada perencanaan yang sistematis tentang penanganan dan penataan situs dan bangunan-bangunannya seperti Kolam Segaran, Candi Menakjinggo, Makam Putri Campa, Kubur Panjang, Candi Tikus, Gapura Bajang Ratu, Kompleks Candi Kedaton, Kompleks Makam Troloyo, Candi Brahu, Candi Gentong, Gapura Waringin Lawang, dan Candi Bhre Kahuripan. Telah pula dirancang adanya jaringan jalan wisata budaya dengan berbagai alternatifnya. Pengembangan rute alternatif wisata budaya ini sangat membantu para wisatawan untuk menelusuri kejayaan masa lalu secara efisien dan komprehensif.

Misalnya, pada alternatif pertama, dalam jalur jalan sepanjang 6,840 km, wisatawan atau pengunjung sudah dapat menyaksikan peninggalan arkeologi/situs Kerajaan Majapahit secara relatif lengkap. Demikian pula dengan mengikuti rute alternatif kedua, dalam gerakan sepanjang 8,880 km, berbagai situs penting Kerajaan Majapahit sudah dapat ditelusuri.

Sayang, karena berbagai alasan dan situasi yang berkembang, Rencana Induk ini belum dapat dilaksanakan sesuai harapan. Berbagai upaya masih bersifat parsial dan tidak terkoordinasi, bahkan di sana-sini sempat memunculkan konflik-konflik yang semestinya tidak perlu terjadi. Kunjungan kerja Menbudpar Jero Wacik ke situs ini, sebagaimana disebutkan di tadi, kembali seakan menghidupkan sinar pagi di kegelapan lorong malam yang panjang.

***

 

RENCANA pembangunan "Taman Majapahit" sebagai Pusat Informasi Kebudayaan Majapahit yang integratif, holistik dan komprehensif, tampaknya segera dapat direalisasikan. Hal ini terungkap dalam pertemuan antara Menbudpar beserta jajarannya dengan Bupati Mojokerto. Menbudpar yang juga didampingi Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur, Drs. I Made Kusumajaya, mengatakan bahwa pengembangan "Taman Majapahit" (atau apa pun namanya), akan memberikan banyak manfaat.

Sebagaimana dirinci lebih detail oleh I Made Kusumajaya, situs Majapahit akan dapat memberikan pelajaran berharga untuk dijadikan cermin pembangunan bangsa dan negara dewasa ini. Hal ini antara lain karena Majapahit -- sebagai kerajaan besar -- telah secara nyata mengajarkan dan menerapkan konsep multikultural yang berhasil menyatukan berbagai suku bangsa di bumi nusantara. Kerajaan Majapahit, sebagaimana terbukti dari berbagai situs dan tinggalan arkeologinya, ternyata memang bercorak multikultur, dengan berbagai suku bangsa, agama, dan budaya.

Revitalisasi tinggalan sejarah Majapahit ini akan mampu membangkitkan kembali semangat persatuan dan kesatuan bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lebih lanjut yang patut digarisbawahi bahwa pembangunan kembali situs-situs Majapahit bukan bertujuan membangkitkan kembali kejayaan Majapahit masa lalu, melainkan untuk mendulang berbagai nilai dan kearifan sejarah perjalanan bangsa, karena Majapahit merupakan salah satu "sumur" nilai-nilai dan kearifan Dunia Timur. Nilai-nilai kearifan atau kebijakan masa lalu ini akan sangat penting untuk dijadikan cermin membangunan bangsa ini ke depan.

Pengembangan situs Majapahit juga akan memberikan nilai tambah tersendiri di dalam pergaulan bangsa Indonesia dalam tataran global. Secara jujur harus diakui, bangsa Indonesia masih kalah dalam persaingan global pada berbagai aspek kehidupan seperti teknologi dan ekonomi. Salah satu keunggulan yang dapat dibanggakan oleh bangsa Indonesia adalah kebudayaan yang adhiluhung. Dan situs Majapahit akan mampu menjadi "jendela" melihat kebudayaan Indonesia yang jaya, dan oleh karenanya akan mampu memberikan rasa bangga dan harga diri dalam pergaulan internasional.

Bagi Kabupaten Mojokerto, pengembangan "Taman Majapahit" dan revitalisasi situs Majapahit di Trowulan akan memberikan dampak ganda, langsung maupun tidak. Di samping nilai-nilai budaya, sejarah dan arkeologi yang sangat penting, nilai ekonomi yang akan dibawa oleh pariwisata juga tidak kalah penting, karena pembangunan "Taman Majapahit" ini akan mampu menjadi objek dan daya tarik wisata. Masyarakat Trowulan juga akan mendapatkan berbagai manfaat terkait dengan perkembangan pariwisata, khususnya pariwisata budaya-religius yang dibawa oleh angin segar revitalisasi situs Majapahit.

Jero Wacik dengan gamblang mengemukakan bahwa impian membuat "Taman Majapahit" di Trowulan jangan lagi hanya menjadi sekadar impian, bukan pula hanya sekadar wacana. Untuk sebuah program besar ini, Menbudpar sudah berhasil menggandeng sebuah organisasi nirlaba kerja sama Indonesia-Jepang, Nihindo. Organisasi ini sangat tertarik untuk revitalisasi kebesaran Majapahit, bukan saja dalam bentuk tangible atau budaya yang kasatmata, juga budaya intangible seperti nilai, kearifan, norma ketimuran, dan seterusnya. Nihindo bahkan sudah mengirimkan tim expert-nya yang dipimpin Prof. Dr. Sugiyama Jiro. * i.g. pitana

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com