Membangkitkan Semangat NKRI
di "Taman Majapahit"
Kunjungan kerja Menbudpar Jero Wacik ke situs
Majapahit, beberapa hari yang lalu, kembali mencerahkan harapan
akan adanya revitalisasi situs Kerajaan Hindu yang berpusat di
Kecamatan Trowulan, Jawa Timur tersebut. Betapa tidak, dalam
kunjungan kerja itu, Menteri Jero Wacik yang didampingi beberapa
dirjennya, bersama Bupati Mojokerto, Ahmadi, secara serius
membahas rencana pembangunan serta pengembangan situs Majapahit.
Bagi masyarakat Bali yang sebagian besar berada dalam garis "wong
Majapahit", berita ini tentu sangat menggembirakan dan menyentuh.
-------------
IDE
yang dulu sempat muncul kemudian belakangan tenggelam, yaitu
pembangunan "Taman Majapahit" (Majapahit Park) sebagai pusat
informasi kebudayaan Majapahit yang terintegrasi, holistik dan
komprehensif, kembali mendapatkan tanda-tanda untuk segera dapat
direalisasi. Pada kesempatan kunjungan kerja itu, Menbudpar Jero
Wacik mengemukakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah
memerintahkan agar pelestarian dan pengembangan situs Majapahit
dijadikan prioritas, bersama dengan situs Sriwijaya.
Rencana besar pelestarian dan pengembangan situs
Majapahit di Trowulan sesungguhnya sudah menjadi impian lama. Pada
tahun 1986, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah
merampungkan
sebuah rencana induk (master plan) "Arkeologi untuk Bekas Kerajaan
Majapahit Trowulan". Dalam master plan tersebut secara tegas
dinyatakan oleh Dirjen Kebudayaan (waktu itu) Prof. Dr. Haryati
Soebadio bahwa pemugaran berbagai bangunan dalam situs Majapahit
mempunyai multitujuan, antara lain untuk melestarikan berbagai
jenis peninggalan, serta mengamankannya sebagai tujuan pariwisata.
Ditekankan juga bahwa pemugaran harus dapat difungsikan untuk
kepentingan masyarakat umum (Depdikbud RIP 1986: 1).
Dalam master plan tersebut, ada perencanaan yang
sistematis tentang penanganan dan penataan situs dan
bangunan-bangunannya seperti Kolam Segaran, Candi Menakjinggo,
Makam Putri Campa, Kubur Panjang, Candi Tikus, Gapura Bajang Ratu,
Kompleks Candi Kedaton, Kompleks Makam Troloyo, Candi Brahu, Candi
Gentong, Gapura Waringin Lawang, dan Candi Bhre Kahuripan. Telah
pula dirancang adanya jaringan jalan wisata budaya dengan berbagai
alternatifnya. Pengembangan rute alternatif wisata budaya ini
sangat membantu para wisatawan untuk menelusuri kejayaan masa lalu
secara efisien dan komprehensif.
Misalnya, pada alternatif pertama, dalam jalur
jalan sepanjang 6,840 km, wisatawan atau pengunjung sudah dapat
menyaksikan peninggalan arkeologi/situs Kerajaan Majapahit secara
relatif lengkap. Demikian pula dengan mengikuti rute alternatif
kedua, dalam gerakan sepanjang 8,880 km, berbagai situs penting
Kerajaan Majapahit sudah dapat ditelusuri.
Sayang, karena berbagai alasan dan situasi yang
berkembang, Rencana Induk ini belum dapat dilaksanakan sesuai
harapan. Berbagai upaya masih bersifat parsial dan tidak
terkoordinasi, bahkan di sana-sini sempat memunculkan
konflik-konflik yang semestinya tidak perlu terjadi. Kunjungan
kerja Menbudpar Jero Wacik ke situs ini, sebagaimana disebutkan di
tadi, kembali seakan menghidupkan sinar pagi di kegelapan lorong
malam yang panjang.
***
RENCANA
pembangunan "Taman Majapahit" sebagai Pusat Informasi Kebudayaan
Majapahit yang integratif, holistik dan komprehensif, tampaknya
segera dapat direalisasikan. Hal ini terungkap dalam pertemuan
antara Menbudpar beserta jajarannya dengan Bupati Mojokerto.
Menbudpar yang juga didampingi Kepala Balai Pelestarian
Peninggalan Purbakala Jawa Timur, Drs. I Made Kusumajaya,
mengatakan bahwa pengembangan "Taman Majapahit" (atau apa pun
namanya), akan memberikan banyak manfaat.
Sebagaimana dirinci lebih detail oleh I Made
Kusumajaya, situs Majapahit akan dapat memberikan pelajaran
berharga untuk dijadikan cermin pembangunan bangsa dan negara
dewasa ini. Hal ini antara lain karena Majapahit -- sebagai
kerajaan besar -- telah secara nyata mengajarkan dan menerapkan
konsep multikultural yang berhasil menyatukan berbagai suku bangsa
di bumi nusantara. Kerajaan Majapahit, sebagaimana terbukti dari
berbagai situs dan tinggalan arkeologinya, ternyata memang
bercorak multikultur, dengan berbagai suku bangsa, agama, dan
budaya.
Revitalisasi tinggalan sejarah Majapahit ini akan
mampu membangkitkan kembali semangat persatuan dan kesatuan bangsa
dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lebih
lanjut yang patut digarisbawahi bahwa pembangunan kembali
situs-situs Majapahit bukan bertujuan membangkitkan kembali
kejayaan Majapahit masa lalu, melainkan untuk mendulang berbagai
nilai dan kearifan sejarah perjalanan bangsa, karena Majapahit
merupakan salah satu "sumur" nilai-nilai dan kearifan Dunia Timur.
Nilai-nilai kearifan atau kebijakan masa lalu ini akan sangat
penting untuk dijadikan cermin membangunan bangsa ini ke depan.
Pengembangan situs Majapahit juga akan memberikan
nilai tambah tersendiri di dalam pergaulan bangsa Indonesia dalam
tataran global. Secara jujur harus diakui, bangsa Indonesia masih
kalah dalam persaingan global pada berbagai aspek kehidupan
seperti teknologi dan ekonomi. Salah satu keunggulan yang dapat
dibanggakan oleh bangsa Indonesia adalah kebudayaan yang
adhiluhung. Dan situs Majapahit akan mampu menjadi "jendela"
melihat kebudayaan Indonesia yang jaya, dan oleh karenanya akan
mampu memberikan rasa bangga dan harga diri dalam pergaulan
internasional.
Bagi Kabupaten Mojokerto, pengembangan "Taman
Majapahit" dan revitalisasi situs Majapahit di Trowulan akan
memberikan dampak ganda, langsung maupun tidak. Di samping
nilai-nilai budaya, sejarah dan arkeologi yang sangat penting,
nilai ekonomi yang akan dibawa oleh pariwisata juga tidak kalah
penting, karena pembangunan "Taman Majapahit" ini akan mampu
menjadi objek dan daya tarik wisata. Masyarakat Trowulan juga akan
mendapatkan berbagai manfaat terkait dengan perkembangan
pariwisata, khususnya pariwisata budaya-religius yang dibawa oleh
angin segar revitalisasi situs Majapahit.
Jero Wacik dengan gamblang mengemukakan bahwa
impian membuat "Taman Majapahit" di Trowulan jangan lagi hanya
menjadi sekadar impian, bukan pula hanya sekadar wacana. Untuk
sebuah program besar ini, Menbudpar sudah berhasil menggandeng
sebuah organisasi nirlaba kerja sama Indonesia-Jepang, Nihindo.
Organisasi ini sangat tertarik untuk revitalisasi kebesaran
Majapahit, bukan saja dalam bentuk tangible atau budaya yang
kasatmata, juga budaya intangible seperti nilai, kearifan, norma
ketimuran, dan seterusnya. Nihindo bahkan sudah mengirimkan tim
expert-nya yang dipimpin Prof. Dr. Sugiyama Jiro.
* i.g. pitana