Apresiasi Tertinggi dalam Resepsi Orang Bali
Ada Apa (Mengapa) dengan Ikan Terbungsu...?
ADA TIGA
ekor ikan hidup di sebuah telaga bernama Alpasara. Ikan paling tua
bernama Anangga Widuta. Ikan nomor dua bernama Predyumnati. Ikan
bungsu bernama yatbawisyati. Ketiganya belum pernah terpisahkan
dengan telaga, rumah mereka. Di sana kebutuhan akan makanan
terpenuhi. Karena telaga itu luas dan tak terukur kedalaman
airnya. Entah sudah berapa tahun lamanya mereka menikmati
keindahan telaga itu, sama sekali tidak pernah mendapatkan bahaya.
Diceritakan sekarang musim kering. Mengeringlah
telaga itu. Berkatalah ikan tertua kepada dua adiknya:
''Adikku, rupanya sekarang kita akan menghadapi
masalah. Tentulah kita akan mati. Bagaimana caranya agar kita
tetap hidup seperti sekarang. Lihatlah tonggak yang dulunya
tenggelam itu. Sekarang ia sudah mendongak ke luar. Itulah ciri
air kehidupan telaga ini akan semakin surut. Di angkasa burung
Kekelik memelas-melas memohon hujan. Itu adalah ciri panas
membara. Bila nanti telaga kita benar-benar kering, tentulah
pencari ikan akan datang menangkap kita semua. Sekarang keinginan
saya, kita mendahului meninggalkan telaga ini. Mumpung masih ada
sisa air mengalir, ikuti alirannya itu. Kalau sudah sampai di
laut, tidak akan ada lagi kecemasan kekurangan air.''
Menyahut ikan nomor dua: ''Baiklah Kak, beralasan
sekali pendapat Kakak. Aku bukannya mengingkari kebenaran
ucapanmu. Tapi bukankah tidak ada yang bisa menebak datangnya
hujan? Karena sekarang belum benar-benar kering, sebaiknya jangan
dulu meninggalkan telaga ini. Bila nanti terjadi yang Kakak
khawatirkan, barulah pendapatmu kita lakukan.''
Lantas ikan terbungkus berkata : ''Apa sih yang
mesti didebatkan panjang-panjang. Menurut pendapat saya, karena di
sini tempat kelahiran saya, tempat saya mendapatkan kehidupan dari
kecil, sekarang mendapatkan kesulitan lantas pergi dari sini,
nista sekali perilaku seperti itu. Itu namanya meninggalkan asal.
Jelek sekali konon manusia yang demikian. Karena di telaga ini
saya menemukan kebahagiaan hidup, biarlah saya di sini menyongsong
kematian.''
Ikan pertama, Anangga Widuta, benar-benar pergi
meninggalkan telaga. Pada suatu hari datang pencari ikan. Ikan
nomor dua pura-pura mati. Dengan mudah ia ditangkap dan dimasukkan
ke dalam bakul. Ketika ikan ketiga hendak ditangkap, ia berusaha
keras melepaskan diri. Sehingga ia dipukul sampai mampus, dan juga
dimasukkan ke dalam bakul yang sama.
Sebelum tiba di rumah, pencari ikan itu mencuci
perolehannya di sungai besar. Ikan nomor dua yang pura-pura mati,
tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan ringan ia meloncat dan
berenang mengikuti arus sungai.
Begitulah kisah tiga ekor ikan. Yang pertama, pergi
sebelum datangnya bencana dengan kemampuan sendiri. Yang kedua,
menyelamatkan diri saat ada bencana dengan ''bantuan'' orang lain.
Yang ketika, mati dalam bencana karena sebuah keyakinan.
***
KISAH
tiga ekor ikan di atas terdapat dalam cerita Tantri yang dikenal
luas di Bali. Keharmonisan telaga, kebahagiaan si ikan, masalah
hidup yang dihadapi, diskusi di antara ikan, serta pilihannya
masing-masing, sangat relevan dengan hidup kita sehari-hari.
Ketiga ikan itu memiliki pendapat berbeda. Tapi
mereka bisa menerima perbedaan itu. Tidak ada yang memaksakan
pendiriannya, walau dalam keadaan kritis seperti itu. Ikan tertua
tidak menggunakan pengaruh senioritas untuk menekan kedua adiknya
untuk mengikuti jalan pikirannya. Ikan terkecil tidak juga merasa
harus ikut kakak-kakaknya. Sungguh mengharukan. Mereka ikhlas
menerima perbedaan itu. Lebih mengharukan lagi, mereka yakin akan
pendirian masing-masing.
Pendapat masing-masing terbentuk karena pengalaman
berbeda atas kejadian yang mungkin sama. Perbedaan pandangan tidak
menyusahkan kebersamaan hidup mereka. Seperti musik yang harmonis
dibangun oleh bunyi berbeda-beda. Begitulah hidup tiga ekor ikan
yang dalam bahasa sekarang disebut demokratis.
Ketiga ikan itu memiliki pembenarnya masing-masing.
Ikan pertama, teguh mempertahankan hidup. Ia tidak terikat oleh
tempat dan kenangan di tempat itu. Ia mampu memprediksikan apa
yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Sepertinya ia
penganut paham kebebasan. Tanpa adanya kebebasan, tidak mungkin ia
punya semangat hidup. Kebebasan itu ia cari walau akan menempuh
perjalanan panjang meninggalkan rumah asal. Termasuk meninggalkan
saudara-saudaranya. Begitulah ikan pertama yang bernama Anangga
Widuta, yang secara harfiah berarti ia yang memikirkan dan tahu
apa yang akan terjadi.'
Ikan kedua berpikir bertahan dengan apa yang ada,
dan bila sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan, barulah
mencari kehidupan baru. Sangat fragmatis. Nikmati apa yang ada.
Dan bila sudah tidak ada lagi yang bisa dinikmati, barulah nanti
berpikir mencari jalan ke luarnya. Begitulah ikan kedua,
Predyumnati, yang secara harfiah berarti ia yang cekatan dan
tangkas.
Ikan ketiga, yang terbungsu, justru masa bodoh
dengan ancaman masa depan. Ia berpikir lebih baik mati daripada
meninggalkan tempat kelahiran. Tempat kelahiran, kenangan, baginya
jauh lebih penting daripada nyawa. Ia tidak hendak memecahkan
masalah, tetapi memilih mati bersama masalah itu.
Ikan manakah yang benar?
Sulit menilai benar tidaknya sebuah keputusan.
Apalagi ketika keputusan itu baru direncanakan. Hasil keputusan
baru akan nampak kemudian. Nilainya tergantung bagaimana keputusan
itu dijalankan. Bila setia dan konsisten dalam menjalaninya, maka
keputusan itu bisa benar. Seperti pendaki gunung yang tidak
berjalan di jalur setapak yang sudah ada. Serta merta orang akan
mengatakan pendaki itu salah jalan. Namun, jika si pendaki teguh
dengan pilihan, terus berjalan walau dibilang salah, ia akan
sampai juga di puncak. Bisa jadi sampai duluan daripada yang
menempuh jalur umum. Setelah sampai, barulah orang akan mengatakan
ternyata keputusannya benar. Bila tidak berhasil, dalam hal
apapun, tentu dikatakan karena salah mengambil keputusan. Itu
adalah renungan personal. Pada level ini, apa yang disebut benar
adalah milik pribadi. Seperti juga Tuhan, sesungguhnya milik
pribadi.
Tidak dipungkiri memang ada kebenaran yang
dilembagakan di sekeliling kita. Kebenaran sebuah ajaran
dilembagakan dalam praktik hidup bersama dalam bentuk tradisi.
Benar dan salah menjadi sangat jelas. Bahkan satu ajaran cenderung
''menyalahkan'' ajaran yang lain. Kisah tiga ekor ikan di atas
sudah pasti muncul dari latar belakang ajaran. Menurut
asal-usulnya, cerita Tantri yang berkembang di Bali bersumber dari
kitab Panca Tantra yang berkembang di India. Ajaran yang
dikandungnya adalah prinsip-prinsip Tantra.
Dalam Tantra diajarkan bagaimana yang ''jatuh ke
tanah, hanya dengan bertumpu pada tanah bisa kembali bangkit.''
Sastra Kawi yang berkembang di Bali dengan terang menunjukkan
bahwa tubuh ini dianalogikan dengan tanah. Atma jatuh ke dalam
pelukan tubuh, sehingga ia lupa pada jatidirinya. Maka dengan
menjadikan tubuh sebagai tumpuan, orang bisa bangkit lepas dari
cengkraman tubuh. Di sini dampak jelas bahwa Tuhan adalah sangat
pribadi. Pencarian orang pada Tuhan adalah pencarian sendiri.
Belum ada mitologi atau cerita mengajarkan orang mencari Tuhan
ramai-ramai. Tuhan menerima seseorang sebagai Pribadi, tidak
sebagai rombongan. Namun jangan lupa, pendapat itu ada pada level
filosofi. Nampaknya ikan nomor satu mereprentasikan pandangan ini.
Ia sepintas nampak individualis. Ia ingin bersatu dengan samudera
luas dengan menggunakan kemampuannya sendiri.
Praktik keagamaan yang ada di Bali adalah tafsir
dari ajaran yang ada. Nampaknya ada pertimbangan khusus mengapa
Tuhan yang sangat pribadi itu dalam tafsir Bali menjadi milik
bersama. Kolektivitas menjadi milik bersama. Kolektivitas menjadi
signifikan dalam menempuh cita-cita agama. Tafsir kolektif itu
dikristalisasikan menjadi tradisi yang dijaga oleh mitos, babad,
cerita, dan sejumlah doktrin etika. Tafsir Bali itu berhubungan
dengan apa yang dikatakan oleh ikan terbungsu. Etika lokal itulah
yang menjadi isi pikiran ikan nomor tiga.
Terlepas dari semua itu ada pertanyaan mendasar.
Mengapa tidak ada ikan memikirkan nasib telaga? Ketiganya sibuk
dengan diri sendiri. Ikan pertama mau pergi mencari laut. Ikan
kedua mau menikmati apa yang masih bisa dinikmati sambil menunggu
siapa tahu akan turun hujan. Ikan ketiga, yang paling tahu
''etika'', justru memilih mati di telaga itu, karena yakin bahwa
itulah yang benar dalam pikirannya. Dengan memilih mati, ia bukan
saja tidak menyelamatkan hidupnya, juga tidak berbuat apa-apa
untuk telaga.
Tidak ada yang perduli dengan nasib telaga yang
indah itu. Mereka hanya memikirkan diri masing-masing. Mereka
semua sesungguhnya individualis. Ikan pertama adalah individualis
terang-terangan. Ikan kedua individualis-opportunis. Ikan ketiga
adalah infividualis malu-malu.
Dari cerita kita mengetahui ikan pertama telah
melepaskan diri ketika bencana belum datang. Ia terbukti mampu
merealisasikan ucapannya. Ikan kedua melepaskan diri dalam
perjalanan dengan mengandalkan ketangkasan sendiri dan memanfaakan
kelengahan lawan. Sedangkan ikan ketiga mati di tempat ketika
bencana baru tiba. Ia terbukti tidak mampu melepaskan diri dari
bencana. Ia mampus dipukul.
Menurut induk ceritanya, tema kisah tiga ekor ikan
itu adalah bagaimana melepaskan diri dari kematian. Hanya yang
tidak memiliki tubuh yang tidak mati. Itulah ikan pertama yang
bernama Anangga yang berarti tak bertubuh (a-tidak, -angga tubuh).
Dalam konteks sekarang, apa artinya hidup tanpa memiliki tubuh?
Pulau Bali bisa dianalogikan sebagai telaga di
atas. Maka orang Bali dan orang yang ada di Bali adalah
ikan-ikannya. Banyak kumbang dari berbagai penjuru menikmati
keindahan tunjungnya. Kecemasan kini datang bersamaan dengan mulai
surutnya air-kehidupan. Tanah sawah menyempit, air sungai menjadi
aliran buntu, panas seperti sekam yang bisa meledak kapan saja,
angin membawa virus, udara tak lagi layak hirup. Tanah, air, api,
angin dan udara tidak lagi harmoni. Berbagai upacara ritual
digelar sesuai tuntunan tradisi, bertujuan mengharmoniskan kembali
kelima unsur alam itu. Berbagai diskusi dan seminar pun diadakan
untuk mencari jalan ke luar. Sungguh banyak yang telah dilakukan
orang Bali dan orang yang ada di Bali. Namun bersamaan dengan itu,
saja kejadian yang membuat kita lantas berpikir, mungkin ada yang
tidak benar dengan semua ini.
Konon seorang Bhagawan Basubaga yang bijaksana
menyimak kisah tiga ikan itu, kemudian menggubah sajak yang kurang
lebih terjemahannya:
''Siapa yang memahami hal-hal mendatang, ia mampu
melepaskan diri. Demikian pula yang tangkas, trampil dan cerdas.
Sedangkan yang masa bodoh, niscaya menemukan kematiannya."
Sajak Sang Bhagawan berbicara tentang pengetahuan
dan pembebasan. Secara implisit ia memberikan apresiasi yang
tinggi pada ikan pertama dan ikan kedua. Masih ada satu pertanyaan
yang tidak mungkin dijawab sekarang di sini: mengapakah dalam
resepsi masyarakat Bali, justru ikan nomor tiga yang mendapatkan
apresiasi paling tinggi?
IBM Dharma
Palguna