kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 30 April 2006 tarukan valas
 

APRESIASI


Apresiasi Tertinggi dalam Resepsi Orang Bali

Ada Apa (Mengapa) dengan Ikan Terbungsu...?

 

ADA TIGA ekor ikan hidup di sebuah telaga bernama Alpasara. Ikan paling tua bernama Anangga Widuta. Ikan nomor dua bernama Predyumnati. Ikan bungsu bernama yatbawisyati. Ketiganya belum pernah terpisahkan dengan telaga, rumah mereka. Di sana kebutuhan akan makanan terpenuhi. Karena telaga itu luas dan tak terukur kedalaman airnya. Entah sudah berapa tahun lamanya mereka menikmati keindahan telaga itu, sama sekali tidak pernah mendapatkan bahaya.

Diceritakan sekarang musim kering. Mengeringlah telaga itu. Berkatalah ikan tertua kepada dua adiknya:

''Adikku, rupanya sekarang kita akan menghadapi masalah. Tentulah kita akan mati. Bagaimana caranya agar kita tetap hidup seperti sekarang. Lihatlah tonggak yang dulunya tenggelam itu. Sekarang ia sudah mendongak ke luar. Itulah ciri air kehidupan telaga ini akan semakin surut. Di angkasa burung Kekelik memelas-melas memohon hujan. Itu adalah ciri panas membara. Bila nanti telaga kita benar-benar kering, tentulah pencari ikan akan datang menangkap kita semua. Sekarang keinginan saya, kita mendahului meninggalkan telaga ini. Mumpung masih ada sisa air mengalir, ikuti alirannya itu. Kalau sudah sampai di laut, tidak akan ada lagi kecemasan kekurangan air.''

Menyahut ikan nomor dua: ''Baiklah Kak, beralasan sekali pendapat Kakak. Aku bukannya mengingkari kebenaran ucapanmu. Tapi bukankah tidak ada yang bisa menebak datangnya hujan? Karena sekarang belum benar-benar kering, sebaiknya jangan dulu meninggalkan telaga ini. Bila nanti terjadi yang Kakak khawatirkan, barulah pendapatmu kita lakukan.''

Lantas ikan terbungkus berkata : ''Apa sih yang mesti didebatkan panjang-panjang. Menurut pendapat saya, karena di sini tempat kelahiran saya, tempat saya mendapatkan kehidupan dari kecil, sekarang mendapatkan kesulitan lantas pergi dari sini, nista sekali perilaku seperti itu. Itu namanya meninggalkan asal. Jelek sekali konon manusia yang demikian. Karena di telaga ini saya menemukan kebahagiaan hidup, biarlah saya di sini menyongsong kematian.''

Ikan pertama, Anangga Widuta, benar-benar pergi meninggalkan telaga. Pada suatu hari datang pencari ikan. Ikan nomor dua pura-pura mati. Dengan mudah ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam bakul. Ketika ikan ketiga hendak ditangkap, ia berusaha keras melepaskan diri. Sehingga ia dipukul sampai mampus, dan juga dimasukkan ke dalam bakul yang sama.

Sebelum tiba di rumah, pencari ikan itu mencuci perolehannya di sungai besar. Ikan nomor dua yang pura-pura mati, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan ringan ia meloncat dan berenang mengikuti arus sungai.

Begitulah kisah tiga ekor ikan. Yang pertama, pergi sebelum datangnya bencana dengan kemampuan sendiri. Yang kedua, menyelamatkan diri saat ada bencana dengan ''bantuan'' orang lain. Yang ketika, mati dalam bencana karena sebuah keyakinan.

 

***

 

KISAH tiga ekor ikan di atas terdapat dalam cerita Tantri yang dikenal luas di Bali. Keharmonisan telaga, kebahagiaan si ikan, masalah hidup yang dihadapi, diskusi di antara ikan, serta pilihannya masing-masing, sangat relevan dengan hidup kita sehari-hari.

Ketiga ikan itu memiliki pendapat berbeda. Tapi mereka bisa menerima perbedaan itu. Tidak ada yang memaksakan pendiriannya, walau dalam keadaan kritis seperti itu. Ikan tertua tidak menggunakan pengaruh senioritas untuk menekan kedua adiknya untuk mengikuti jalan pikirannya. Ikan terkecil tidak juga merasa harus ikut kakak-kakaknya. Sungguh mengharukan. Mereka ikhlas menerima perbedaan itu. Lebih mengharukan lagi, mereka yakin akan pendirian masing-masing.

Pendapat masing-masing terbentuk karena pengalaman berbeda atas kejadian yang mungkin sama. Perbedaan pandangan tidak menyusahkan kebersamaan hidup mereka. Seperti musik yang harmonis dibangun oleh bunyi berbeda-beda. Begitulah hidup tiga ekor ikan yang dalam bahasa sekarang disebut demokratis.

Ketiga ikan itu memiliki pembenarnya masing-masing. Ikan pertama, teguh mempertahankan hidup. Ia tidak terikat oleh tempat dan kenangan di tempat itu. Ia mampu memprediksikan apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Sepertinya ia penganut paham kebebasan. Tanpa adanya kebebasan, tidak mungkin ia punya semangat hidup. Kebebasan itu ia cari walau akan menempuh perjalanan panjang meninggalkan rumah asal. Termasuk meninggalkan saudara-saudaranya. Begitulah ikan pertama yang bernama Anangga Widuta, yang secara harfiah berarti ia yang memikirkan dan tahu apa yang akan terjadi.'

Ikan kedua berpikir bertahan dengan apa yang ada, dan bila sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan, barulah mencari kehidupan baru. Sangat fragmatis. Nikmati apa yang ada. Dan bila sudah tidak ada lagi yang bisa dinikmati, barulah nanti berpikir mencari jalan ke luarnya. Begitulah ikan kedua, Predyumnati, yang secara harfiah berarti ia yang cekatan dan tangkas.

Ikan ketiga, yang terbungsu, justru masa bodoh dengan ancaman masa depan. Ia berpikir lebih baik mati daripada meninggalkan tempat kelahiran. Tempat kelahiran, kenangan, baginya jauh lebih penting daripada nyawa. Ia tidak hendak memecahkan masalah, tetapi memilih mati bersama masalah itu.

Ikan manakah yang benar?

 

Sulit menilai benar tidaknya sebuah keputusan. Apalagi ketika keputusan itu baru direncanakan. Hasil keputusan baru akan nampak kemudian. Nilainya tergantung bagaimana keputusan itu dijalankan. Bila setia dan konsisten dalam menjalaninya, maka keputusan itu bisa benar. Seperti pendaki gunung yang tidak berjalan di jalur setapak yang sudah ada. Serta merta orang akan mengatakan pendaki itu salah jalan. Namun, jika si pendaki teguh dengan pilihan, terus berjalan walau dibilang salah, ia akan sampai juga di puncak. Bisa jadi sampai duluan daripada yang menempuh jalur umum. Setelah sampai, barulah orang akan mengatakan ternyata keputusannya benar. Bila tidak berhasil, dalam hal apapun, tentu dikatakan karena salah mengambil keputusan. Itu adalah renungan personal. Pada level ini, apa yang disebut benar adalah milik pribadi. Seperti juga Tuhan, sesungguhnya milik pribadi.

Tidak dipungkiri memang ada kebenaran yang dilembagakan di sekeliling kita. Kebenaran sebuah ajaran dilembagakan dalam praktik hidup bersama dalam bentuk tradisi. Benar dan salah menjadi sangat jelas. Bahkan satu ajaran cenderung ''menyalahkan'' ajaran yang lain. Kisah tiga ekor ikan di atas sudah pasti muncul dari latar belakang ajaran. Menurut asal-usulnya, cerita Tantri yang berkembang di Bali bersumber dari kitab Panca Tantra yang berkembang di India. Ajaran yang dikandungnya adalah prinsip-prinsip Tantra.

Dalam Tantra diajarkan bagaimana yang ''jatuh ke tanah, hanya dengan bertumpu pada tanah bisa kembali bangkit.'' Sastra Kawi yang berkembang di Bali dengan terang menunjukkan bahwa tubuh ini dianalogikan dengan tanah. Atma jatuh ke dalam pelukan tubuh, sehingga ia lupa pada jatidirinya. Maka dengan menjadikan tubuh sebagai tumpuan, orang bisa bangkit lepas dari cengkraman tubuh. Di sini dampak jelas bahwa Tuhan adalah sangat pribadi. Pencarian orang pada Tuhan adalah pencarian sendiri. Belum ada mitologi atau cerita mengajarkan orang mencari Tuhan ramai-ramai. Tuhan menerima seseorang sebagai Pribadi, tidak sebagai rombongan. Namun jangan lupa, pendapat itu ada pada level filosofi. Nampaknya ikan nomor satu mereprentasikan pandangan ini. Ia sepintas nampak individualis. Ia ingin bersatu dengan samudera luas dengan menggunakan kemampuannya sendiri.

Praktik keagamaan yang ada di Bali adalah tafsir dari ajaran yang ada. Nampaknya ada pertimbangan khusus mengapa Tuhan yang sangat pribadi itu dalam tafsir Bali menjadi milik bersama. Kolektivitas menjadi milik bersama. Kolektivitas menjadi signifikan dalam menempuh cita-cita agama. Tafsir kolektif itu dikristalisasikan menjadi tradisi yang dijaga oleh mitos, babad, cerita, dan sejumlah doktrin etika. Tafsir Bali itu berhubungan dengan apa yang dikatakan oleh ikan terbungsu. Etika lokal itulah yang menjadi isi pikiran ikan nomor tiga.

Terlepas dari semua itu ada pertanyaan mendasar. Mengapa tidak ada ikan memikirkan nasib telaga? Ketiganya sibuk dengan diri sendiri. Ikan pertama mau pergi mencari laut. Ikan kedua mau menikmati apa yang masih bisa dinikmati sambil menunggu siapa tahu akan turun hujan. Ikan ketiga, yang paling tahu ''etika'', justru memilih mati di telaga itu, karena yakin bahwa itulah yang benar dalam pikirannya. Dengan memilih mati, ia bukan saja tidak menyelamatkan hidupnya, juga tidak berbuat apa-apa untuk telaga.

Tidak ada yang perduli dengan nasib telaga yang indah itu. Mereka hanya memikirkan diri masing-masing. Mereka semua sesungguhnya individualis. Ikan pertama adalah individualis terang-terangan. Ikan kedua individualis-opportunis. Ikan ketiga adalah infividualis malu-malu.

Dari cerita kita mengetahui ikan pertama telah melepaskan diri ketika bencana belum datang. Ia terbukti mampu merealisasikan ucapannya. Ikan kedua melepaskan diri dalam perjalanan dengan mengandalkan ketangkasan sendiri dan memanfaakan kelengahan lawan. Sedangkan ikan ketiga mati di tempat ketika bencana baru tiba. Ia terbukti tidak mampu melepaskan diri dari bencana. Ia mampus dipukul.

Menurut induk ceritanya, tema kisah tiga ekor ikan itu adalah bagaimana melepaskan diri dari kematian. Hanya yang tidak memiliki tubuh yang tidak mati. Itulah ikan pertama yang bernama Anangga yang berarti tak bertubuh (a-tidak, -angga tubuh). Dalam konteks sekarang, apa artinya hidup tanpa memiliki tubuh?

Pulau Bali bisa dianalogikan sebagai telaga di atas. Maka orang Bali dan orang yang ada di Bali adalah ikan-ikannya. Banyak kumbang dari berbagai penjuru menikmati keindahan tunjungnya. Kecemasan kini datang bersamaan dengan mulai surutnya air-kehidupan. Tanah sawah menyempit, air sungai menjadi aliran buntu, panas seperti sekam yang bisa meledak kapan saja, angin membawa virus, udara tak lagi layak hirup. Tanah, air, api, angin dan udara tidak lagi harmoni. Berbagai upacara ritual digelar sesuai tuntunan tradisi, bertujuan mengharmoniskan kembali kelima unsur alam itu. Berbagai diskusi dan seminar pun diadakan untuk mencari jalan ke luar. Sungguh banyak yang telah dilakukan orang Bali dan orang yang ada di Bali. Namun bersamaan dengan itu, saja kejadian yang membuat kita lantas berpikir, mungkin ada yang tidak benar dengan semua ini.

Konon seorang Bhagawan Basubaga yang bijaksana menyimak kisah tiga ikan itu, kemudian menggubah sajak yang kurang lebih terjemahannya:

''Siapa yang memahami hal-hal mendatang, ia mampu melepaskan diri. Demikian pula yang tangkas, trampil dan cerdas. Sedangkan yang masa bodoh, niscaya menemukan kematiannya."

Sajak Sang Bhagawan berbicara tentang pengetahuan dan pembebasan. Secara implisit ia memberikan apresiasi yang tinggi pada ikan pertama dan ikan kedua. Masih ada satu pertanyaan yang tidak mungkin dijawab sekarang di sini: mengapakah dalam resepsi masyarakat Bali, justru ikan nomor tiga yang mendapatkan apresiasi paling tinggi?

 

IBM Dharma Palguna

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com