kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 12 April 2006

 Bias Bali


Gusti
Agung Putu dan Ulun Danu Beratan

Trini chandamsi kavayo viyetire,
purupam
darsatam visvacaksanam
apo
vata osadhyastani
ekasmin
bhuvana arpitani. (Atharvaveda XVII.I.17).
 

Maksudnya: Orang bijak mendapatkan tiga benda yang menutup seluruh alam semesta. Benda itu memiliki bentuk dan aspek yang berbeda yaitu air, udara dan tanam-tanaman. Semua benda itu disediakan untuk setiap dunia. 

AIR, udara dan tumbuh-tumbuhan adalah sebagian dari unsur alam yang membentuk bumi ini. Dengan kehadiran tiga wujud alam itu disertai dengan matahari yang selalu bersinar maka terbangunlah sumber kehidupan bagi hewan dan umat manusia penghuni bumi ini.

Eksistensi sumber alam itu terjadi atas anugerah Tuhan Yang Mahakuasa. Karena itu Tuhan dipuja sebagai pencipta, pelindung dan pemralina dari semua unsur alam beserta dengan segala isinya.

Tuhan dipuja sebagai Batara Sangkara sebagai pencipta, pelindung dan pemralina tumbuh-tumbuhan. Pura Puncak Mangu di Kecamatan Petang sebagai media pemujaan Tuhan sebagai Batara Sengkara. Pura Puncak Mangu berada di hutan di puncak Gunung Mangu. Saat Gusti Agung Putu berhasil mendirikan Kerajaan Mengwi maka didirikanlah Pura Ulun Danu Beratan. Salah satu fungsi Pura Ulun Danu Beratan adalah sebagai Pesimpangan dari Batara yang dipuja di Pura Puncak Mangu.

Sejarah keberadaan Pura Ulun Danu Beratan di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan diuraikan dalam Lontar Babad Mengwi. Diceritakan, I Gusti Agung Putu dalam suatu pertandingan yang bersifat kesatria dikalahkan oleh I Gusti Ngurah Batu Tumpeng atau Ki Ngurah Kekeran. Sebagai orang yang kalah, I Gusti Agung Putu menjadi tawanan dan diserahkan kepada I Gusti Ngurah Tabanan. Oleh I Ngurah Tabanan, I Gusti Agung Putu diserahkan kepada seorang Patih dari Marga yang bernama I Gusti Bebalang. Tidak begitu lama di Marga, I Gusti Agung Putu berniat meningkatkan kesaktian dan kesuciannya. Niat ini muncul atas renungan mendalam karena kalah dalam perang tanding melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng. Untuk meningkatkan kemampuan diri, ia melakukan tapa brata di puncak Gunung Mangu. Dalam tapa brata itu  Gusti Agung Putu mendapat berbagai pencerahan dan kesaktian sebagai seorang kesatria.

Setelah I Gusti Agung merasa cukup mapan, beliau turun gunung dan mendirikan istana di Belayu atau di Bala Ayu. Di sini I Gusti Agung Putu banyak memiliki pengikut. Pertandingan secara kesatria lagi diulang melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng. Pertarungan akhirnya dimenangkan oleh I Gusti Agung Putu. Setelah kemenangan itu istananya di Belayu dipindahkan ke Bekak dengan nama Puri Kaleran. Di sini I Gusti Agung Putu mendirikan tempat pemujaan dengan nama Taman Ganter dan istananya bernama Kawiapura. Setelah mengalahkan musuh-musuhnya termasuk membantu Raja Tabanan mengalahkan musuhnya, selanjutnya ia mendirikan tempat pemujaan di tepi Danau Beratan untuk memuja Batara di Pura Puncak Mangu. Hal ini terjadi menurut Babad Mengwi tahun Saka 1556.

Pura Ulun Danu Beratan tahap demi tahap diperluas dan disempurnakan bersama dengan rakyatnya, sehingga menjadi Pura Kahyangan Jagat. Pura Ulun Danu terdiri atas empat kompleks pura. Kompleks pelinggih Lingga Petak, kompleks Pura Pesimpangan Puncak Mangu, kompleks Pura Pesimpangan Terate Bang dan kompleks Pura Dalem Purwa.

Kompleks yang paling timur adalah pelinggih Meru Tumpang Tiga stana Lingga Petak. Pura ini dikelilingi oleh tembok penyengker dengan empat pintu berupa candi bentar yang menghadap keempat penjuru. Demikian juga pintu merunya juga ada empat pintu yang juga mengarah ke empat penjuru. Tahun 1968 konon pura ini pernah dipugar. Ternyata di dasarnya terdapat tiga buah batu besar. Yang paling besar adalah batu dengan warna putih bulat panjang diapit oleh batu yang lebih kecil dengan warna merah dan hitam terletak berjejer. Di bawah batu putih itu keluar mata air. Karena itulah pelinggih Meru ini disebut linggih Lingga Petak. Meru Lingga Petak inilah sebagai pemujaan Batara Ulun Danu Beratan.

Menurut Drs. I Gst. Agung Gede Putra (alm) -- yang pernah menjabat Kakanwil Depag Propinsi Bali dan juga pernah menjabat Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI -- Meru Tumpang Tiga ini mungkin sebagai bentuk pemujaan Siwa Lingga yang pada zaman megalitikum dipakai wujud Lingga Yoni. Pemujaan Tuhan dengan sarana Lingga Yoni untuk memohon kesuburan pertanian. Gunung Mangu sebagai Lingganya dan Danau Beratan sebagai Yoninya. Melalui pertemuan dua unsur alam itulah Tuhan menciptakan kesuburan.

Kompleks yang kedua terletak di sebelah barat Pura Lingga Petak adalah Pura Pesimpangan Puncak Mangu. Dalam Lontar Usana Bali, Puncak Mangu dinyatakan sebagai pemujaan Hyang Danawa. Dalam hal ini Pura Lingga Petak sebagai Purusanya dan Pesimpangan Puncak Mangu sebagai Pradananya. Pertemuan dua unsur inilah memunculkan kesuburan. Dari kesuburan itu munculah tumbuh-tumbuhan dengan Dewanya Sang Hyang Sangkara.

Kompleks yang ketiga merupakan kompleks yang arealnya paling luas adalah kompleks Pesimpangan Pura Terate Bang. Di Pura ini ada pelinggih utama adalah Meru Tumpang Pitu sebagai pemujaan Batara Brahma. Ada pelinggih Kamulan sebagai pemujaan roh suci (Dewa Pitara) dari leluhur raja. Di samping itu ada banyak pelinggih pesimpangan. Ada pelinggih Padmasari Rong Tiga sebagai pemujaan Sang Hyang Tri Purusa. Pelinggih Gedong Manjangan Saluwang sebagai stana Mpu Kuturan. Ada Gedong untuk Ratu Pasek. pda Pelinggih Limas Catu untuk Batara Rambut Sadana. Ada Gedong Limas Mujung untuk Batara Penyarikan. Ada juga palinggih Paruman Alit sebagai stana Batara Kabeh dan banyak lagi ada pelinggih pesimpangan.

Kompleks keempat di bagian pojok tenggara dari kompleks Terate Bang adalah Pesimpangan Dalem Purwa. Palinggih yang paling utama di Pura Pesimpangan Dalem Pura ini adalah sebuah Gedong Pelinggih Batari Uma Bhagawati sebagai Saktinya Batara Siwa pemberi kebahagiaan.

Meskipun pura ini sebagai Pura Ulun Danu yaitu hulunya kehidupan pengairan di pura ini juga dipuja Batara Tri Purusa dan Batara Tri Murti. Tuhan jiwa alam semesta dan Tuhan sebagai pencipta, pemelihara dan pemralina.

* I Ketut Gobyah

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)