Gusti
Agung
Putu
dan
Ulun
Danu Beratan
Trini
chandamsi
kavayo
viyetire,
purupam
darsatam
visvacaksanam
apo
vata
osadhyastani
ekasmin
bhuvana
arpitani. (Atharvaveda
XVII.I.17).
Maksudnya:
Orang
bijak mendapatkan
tiga
benda yang menutup
seluruh
alam semesta.
Benda
itu
memiliki bentuk
dan
aspek yang berbeda
yaitu air,
udara
dan tanam-tanaman.
Semua
benda
itu disediakan
untuk
setiap dunia.
AIR,
udara
dan tumbuh-tumbuhan
adalah
sebagian dari
unsur
alam yang membentuk
bumi
ini.
Dengan
kehadiran
tiga
wujud alam
itu
disertai dengan
matahari yang
selalu
bersinar maka
terbangunlah
sumber
kehidupan bagi
hewan
dan umat
manusia
penghuni bumi
ini.
Eksistensi
sumber
alam itu
terjadi
atas anugerah
Tuhan Yang
Mahakuasa.
Karena
itu
Tuhan dipuja
sebagai
pencipta, pelindung
dan
pemralina dari
semua
unsur alam
beserta
dengan segala
isinya.
Tuhan
dipuja
sebagai Batara
Sangkara
sebagai
pencipta, pelindung
dan
pemralina tumbuh-tumbuhan.
Pura
Puncak
Mangu di
Kecamatan
Petang
sebagai media pemujaan
Tuhan
sebagai Batara
Sengkara.
Pura
Puncak
Mangu berada
di
hutan di
puncak
Gunung Mangu.
Saat
Gusti
Agung Putu
berhasil
mendirikan
Kerajaan
Mengwi
maka didirikanlah
Pura
Ulun Danu
Beratan.
Salah
satu
fungsi Pura
Ulun
Danu Beratan
adalah
sebagai Pesimpangan
dari
Batara yang dipuja
di Pura
Puncak
Mangu.
Sejarah
keberadaan
Pura
Ulun Danu
Beratan
di Desa
Candikuning,
Kecamatan
Baturiti,
Kabupaten
Tabanan
diuraikan dalam
Lontar
Babad Mengwi.
Diceritakan,
I Gusti
Agung Putu
dalam
suatu pertandingan
yang bersifat
kesatria
dikalahkan
oleh I
Gusti Ngurah
Batu
Tumpeng atau
Ki
Ngurah Kekeran.
Sebagai
orang yang
kalah, I
Gusti
Agung Putu
menjadi
tawanan dan
diserahkan
kepada I
Gusti
Ngurah Tabanan.
Oleh I
Ngurah Tabanan, I
Gusti
Agung Putu
diserahkan
kepada
seorang Patih
dari
Marga yang bernama I
Gusti
Bebalang.
Tidak
begitu lama
di
Marga, I Gusti
Agung
Putu berniat
meningkatkan
kesaktian
dan
kesuciannya.
Niat
ini
muncul atas
renungan
mendalam
karena
kalah dalam
perang
tanding melawan I
Gusti
Ngurah Batu
Tumpeng.
Untuk
meningkatkan kemampuan
diri,
ia
melakukan
tapa
brata di
puncak
Gunung Mangu.
Dalam
tapa brata
itu
Gusti
Agung
Putu mendapat
berbagai
pencerahan
dan
kesaktian sebagai
seorang
kesatria.
Setelah
I Gusti
Agung merasa
cukup
mapan, beliau
turun
gunung dan
mendirikan
istana
di Belayu
atau di
Bala
Ayu.
Di
sini I
Gusti Agung
Putu
banyak memiliki
pengikut.
Pertandingan
secara
kesatria lagi
diulang
melawan I Gusti
Ngurah
Batu Tumpeng.
Pertarungan
akhirnya
dimenangkan
oleh I
Gusti Agung
Putu.
Setelah
kemenangan itu
istananya
di
Belayu dipindahkan
ke
Bekak dengan
nama
Puri
Kaleran. Di
sini I
Gusti Agung
Putu
mendirikan tempat
pemujaan
dengan
nama
Taman
Ganter
dan istananya
bernama
Kawiapura. Setelah
mengalahkan
musuh-musuhnya
termasuk
membantu Raja
Tabanan
mengalahkan musuhnya,
selanjutnya
ia
mendirikan
tempat
pemujaan di
tepi
Danau Beratan
untuk
memuja Batara
di Pura
Puncak
Mangu.
Hal ini
terjadi menurut
Babad
Mengwi tahun
Saka 1556.
Pura
Ulun
Danu Beratan
tahap
demi tahap
diperluas
dan
disempurnakan bersama
dengan
rakyatnya, sehingga
menjadi
Pura Kahyangan
Jagat.
Pura
Ulun
Danu terdiri
atas
empat kompleks
pura.
Kompleks
pelinggih
Lingga
Petak, kompleks
Pura
Pesimpangan Puncak
Mangu,
kompleks Pura
Pesimpangan
Terate Bang
dan
kompleks Pura
Dalem
Purwa.
Kompleks
yang paling timur
adalah
pelinggih Meru
Tumpang
Tiga stana
Lingga
Petak.
Pura
ini
dikelilingi oleh
tembok
penyengker dengan
empat
pintu berupa
candi
bentar yang menghadap
keempat
penjuru.
Demikian
juga
pintu merunya
juga
ada empat
pintu yang
juga
mengarah ke
empat
penjuru.
Tahun
1968 konon
pura
ini pernah
dipugar.
Ternyata
di
dasarnya terdapat
tiga
buah batu
besar.
Yang paling
besar adalah
batu
dengan warna
putih
bulat panjang
diapit
oleh batu yang
lebih
kecil dengan
warna
merah dan
hitam
terletak berjejer.
Di
bawah
batu putih
itu
keluar mata air.
Karena
itulah
pelinggih Meru
ini
disebut linggih
Lingga
Petak.
Meru
Lingga
Petak inilah
sebagai
pemujaan Batara
Ulun
Danu Beratan.
Menurut
Drs. I Gst.
Agung
Gede Putra (alm)
-- yang pernah
menjabat
Kakanwil
Depag
Propinsi Bali dan
juga
pernah menjabat
Dirjen
Bimas Hindu dan
Buddha Departemen Agama RI
-- Meru
Tumpang Tiga
ini
mungkin sebagai
bentuk
pemujaan Siwa
Lingga yang
pada
zaman megalitikum
dipakai
wujud Lingga Yoni.
Pemujaan
Tuhan
dengan sarana
Lingga Yoni
untuk
memohon kesuburan
pertanian.
Gunung
Mangu
sebagai Lingganya
dan
Danau Beratan
sebagai
Yoninya.
Melalui
pertemuan
dua
unsur alam
itulah
Tuhan menciptakan
kesuburan.
Kompleks
yang kedua
terletak
di
sebelah barat
Pura
Lingga Petak
adalah
Pura Pesimpangan
Puncak
Mangu.
Dalam
Lontar Usana Bali,
Puncak
Mangu dinyatakan
sebagai
pemujaan Hyang
Danawa.
Dalam
hal ini
Pura
Lingga Petak
sebagai
Purusanya dan
Pesimpangan
Puncak
Mangu sebagai
Pradananya.
Pertemuan
dua
unsur inilah
memunculkan
kesuburan.
Dari
kesuburan
itu
munculah tumbuh-tumbuhan
dengan
Dewanya Sang Hyang
Sangkara.
Kompleks
yang ketiga
merupakan
kompleks yang
arealnya paling
luas
adalah kompleks
Pesimpangan
Pura
Terate Bang.
Di
Pura
ini ada
pelinggih
utama
adalah Meru
Tumpang
Pitu sebagai
pemujaan
Batara Brahma.
Ada
pelinggih
Kamulan
sebagai pemujaan
roh
suci (Dewa
Pitara)
dari leluhur raja.
Di
samping
itu ada
banyak
pelinggih pesimpangan.
Ada
pelinggih
Padmasari
Rong
Tiga sebagai
pemujaan Sang
Hyang Tri
Purusa.
Pelinggih
Gedong
Manjangan Saluwang
sebagai
stana Mpu
Kuturan.
Ada
Gedong
untuk Ratu
Pasek.
pda
Pelinggih Limas
Catu
untuk Batara
Rambut
Sadana.
Ada
Gedong Limas
Mujung
untuk Batara
Penyarikan.
Ada
juga
palinggih Paruman
Alit sebagai
stana
Batara Kabeh
dan
banyak lagi
ada
pelinggih pesimpangan.
Kompleks
keempat
di bagian
pojok
tenggara dari
kompleks
Terate Bang
adalah
Pesimpangan Dalem
Purwa.
Palinggih
yang paling utama
di Pura
Pesimpangan
Dalem
Pura ini
adalah
sebuah Gedong
Pelinggih
Batari
Uma Bhagawati
sebagai
Saktinya Batara
Siwa
pemberi kebahagiaan.
Meskipun
pura
ini sebagai
Pura
Ulun Danu
yaitu
hulunya kehidupan
pengairan
di pura
ini
juga dipuja
Batara Tri
Purusa
dan Batara Tri
Murti.
Tuhan
jiwa
alam semesta
dan
Tuhan sebagai
pencipta,
pemelihara
dan
pemralina.
*
I Ketut
Gobyah