Pura Penataran Beratan--
Keindahan Alam dan Manisnya Madu Spiritual
Pura
Dangkahyangan Penataran Beratan atau disingkat Pura
Penataran Beratan adalah sebuah tempat suci yang
terletak di tepi Danau Beratan, Desa Candikuning,
Kecamatan Baturiti, Tabanan.
Keindahan alam yang terdiri atas air danau yang tenang
dan sejuk serta hijau pepohonan di sekitarnya menjadi
ciri khas dari pura ini.
Dari Kota Denpasar, untuk mencapai pura ini harus
menempuh jarak sekitar 51 km. Udara pegunungan
yang dingin akan menyapa
setiap pengunjung yang memasuki kawasan Candikuning.
Pura yang terletak pada ketinggian
1.200 meter dari permukaan laut ini memang terkenal
memiliki suhu yang sangat nyaman yakni berada pada
kisaran 18-22 derajat Celsius.
Sangat berbeda dengan suhu udara di
tempat lainnya yang rata-rata lebih tinggi.
Selain itu kabut tipis yang
menyelimuti daerah pegunungan ini menjadi pesona
tersendiri. Daerah Bedugul, Baturiti memang
terkenal dengan pesona alamnya, terutama berasal dari
pemandangan Danau Beratan.
Daerah ini sangat
subur dan sentra penanaman sayur dan tanaman hias.
Jika pemedek memasuki areal pura ini, pesona indahnya
alam dan getaran spiritual sangat terasa.
Di samping karena hawanya yang
sangat sejuk, air Danau Beratan yang tenang dan sejuk
seolah mengingatkan manusia pada keagungan spiritual.
Bagi para pemedek Pura Penataran
Beratan menjadi salah satu tujuan tirtayatra yang sangat
bermakna.
Sedangkan bagi para pelancong, areal pura
yang tergabung dalam objek wisata Danau Beratan ini
mampu memberikan rasa terang, senang dan damai dengan
pelukan pesona keindahan alamnya.
Di pura yang diperkirakan dibangun pada zaman kerajaan
di Bali ini, ada sesuatu keindahan yang sukar untuk
diterjemahkan ke dalam kata-kata.
Banyak pengunjung yang menyatakan
sebagai suatu keindahan yang menyentuh rasa terdalam,
semacam nektar (madu) spiritual. Sejauh
mata memandang, hijau pegunungan dan jernihnya air laut
akan menggugah perasaan
terdalam manusia, yang mengingatkan pada keagungan
ciptaan Tuhan yang harus dirawat dan dijaga oleh manusia.
Bisa menikmati alam yang indah ini merupakan satu
kesempatan yang indah yang mungkin
akan terus terbayang sepanjang perjalanan hidup.
Pura
pertama yang ditemui ketika memasuki areal ini
adalah Pelinggih Pande.
Di sini dapat ditemui peninggalan
prasejarah yang berupa sarkopagus, alat-alat rumah
tangga dan benda-benda peninggalan kuno lainnya.
Benda-benda ini dibuatkan pelinggih
sederhana di areal pura yang sempit itu.
Pura ini bersebelahan dengan pohon
beringin besar yang telah berusia lebih dari seratus
tahun. Setiap hari tertentu,
para pasemetonan Pande sering melakukan pemujaan di
tempat ini. Selain itu persis
di depan Pura Penataran terdapat Pura Dalem Purwa.
Pura Penataran Beratan merupakan pura utama yang terdiri
atas beberapa pelinggih dan meru.
Areal utama mandala dari pura ini
juga merupakan daerah yang terluas dari beberapa pura
yang ada. Selain pintu utama, pemedek dapat
memasuki pura melalui dua pintu bagian depan dan satu
pintu yang tembus persis di tepi danau.
Aturan di pura ini sangat ketat, di
utama mandala hanya dapat dimasuki oleh mereka yang
melakukan persembahyangan saja dan berpakaian adat.
Suasana di dalam pura terasa sangat
berbeda dengan di luar.
Di situ lebih tenang dan lebih khidmat, tanpa ada
wisatawan yang lalu-lalang, apalagi ditambah dengan bau
dupa yang semerbak. Umat yang
masuk ke dalam pura ini benar-benar bermaksud untuk
menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Sayang sekali,
kondisi pura ini memprihatinkan karena banyak bangunan
yang mulai lapuk serta keropos.
Sementara
itu, selain Pura Penataran, pura yang terletak pada
danau yakni pura dengan meru tumpang 11 dan meru tumpang
3 menjadi sorotan lensa para pengunjung.
Pura dengan meru tumpang 11
merupakan penghayatan terhadap Batara Pucak Mangu dan
tumpang 3 merupakan pemujaan Dewi Danu.
Dua pura yang terletak di danau
terutama saat air danau penuh menjadi pemandangan
tersendiri. Pura Dewi Danu merupakan
penghayatan akan
kesejahteraan bumi, di mana air merupakan sumber
kemakmuran dan kesejahteraan jagat.
Dengan melakukan pemujaan terhadap
Dewi Danu, diharapkan kesejahteraan masyarakat
Bali semakin
meningkat dan kesadaran manusia untuk memelihara
sumber-sumber alam semakin meningkat.
Sebab, mata
air merupakan sumber kehidupan bagi manusia.
Keunikan lain dari areal pura
ini adalah adanya sejenis pagoda yang terdapat arca
Buddha. Banyak pengunjung yang mengira bahwa
tempat ini khusus dibangun untuk memuja
Sang Buddha, tetapi konon
bangunan ini justru dibangun oleh umat Hindu.
Akan tetapi
hingga kini masyarakat Hindu jarang melakukan pemujaan
di tempat ini, hanya ada beberapa umat Buddha yang
melakukan sembah bakti.
Hampir setiap hari banyak pemedek dari berbagai daerah
berdatangan untuk tujuan tertentu di antaranya upacara
yang berhubungan dengan pitra yadnya maupun dewa yadnya.
Selain itu,
pura ini diyakini sebagai tempat untuk memohon
kemakmuran dan rezeki.
10 Pengider
Terdapat 10 pura pengider pada Pura Penataran Beratan.
Masing-masing dewa yang distanakan
pada pura pengider ini berbeda. Kesepuluh pura
pengider itu adalah Pura Pucak Mangu, Pura Manik
Umawang (Ulun Danu), Pura Rejeng Besi, Pura Pucak Resi
Sangkur, Pura Pucak Candi Mas, Pura Teratai Bang,
terletak di lokasi Kebun Raya.
Pura Batu Meringgit
terletak di lokasi Kebun Raya, Pura Pucak Pungangan,
Pura Pucak Sari, dan Pura Kayu Sugih.
Pada saat piodalan yang jatuh pada Anggarkasih
Julungwangi ini, kesepuluh Batara yang berstana di
masing-masing pura pengider distanakan dan dipuja selama
piodalan berlangsung.
Namun, dalam
keseharian Tri Murti yakni Brahma, Wisnu dan Siwa
merupakan fokus pemujaan di pura ini.
Menurut beberapa sumber pemujaan Tri Murti di pura ini
merupakan suatu bentuk pencarian spiritual yang seimbang
dan selaras atau sesuai dengan masyarakat Bali.
Pura ini di-empon oleh empat satakan,
yang merupakan pengempon secara turun-temurun.
Satakan Candikuning sebagai pekandel dari pura ini yang
terdiri atas
lima
desa pakraman, Satakan Bangah, Satakan Baturiti dan
Satakan Antapan. Keempat satakan ini
bekerja bahu-membahu dalam pelaksanaan piodalan maupun
perawatan dari pura ini.
Sementara Puri Marga
merupakan penganceng, sedangkan Puri Mengwi, Belayu dan
Perean sebagai pengabeh.
Ketua Badan Pengelola Objek Wisata Penataran Beratan IGN
Budana Arta menyatakan sejak 30 tahun terakhir Pura
Penataran ini tidak pernah direhab, sehingga kondisinya
banyak yang sudah lapuk. Menurutnya,
sebagai suatu tempat pemujaan, kelayakan pura ini patut
dipertimbangkan. Sedangkan
sebagai tempat wisata keunikan berupa kekunoan sering
dianggap alami merupakan satu daya tarik tersendiri.
Akan tetapi
sebagai tempat pemujaan dianggap sangat layak untuk
dilakukan rehab.
Artha menyatakan sejak Maret lalu telah dilakukan rehab
tahap I yang terdiri atas tujuh pelinggih yang sudah
keropos. Dana yang dibutuhkan untuk
hal ini sebesar Rp 600 juta.
Sedangkan untuk tahap II nanti, pihaknya merencanakan
akan melakukan rehab pagar,
candi dan bangunan lainnya yang diperkirakan menelan
dana sebesar Rp 2 milyar.
Kesepuluh pura pengider ini sangat terkenal di kalangan
masyarakat Baturiti, bahkan Pura Pucak Sangkur sering
dikaitkan dengan tempat memohon bagi para pejabat di
lingkungan Propinsi Bali.
Pada saat bulan purnama banyak
pemedek yang tangkil baik dengan tujuan peningkatan
spiritual maupun keinginan duniawi.
Alamnya yang teduh
dan tenang di pura ini sering dijadikan sebagai tempat
meditasi banyak penekun spiritual.
Suatu kekeliruan yang telah meluas terjadi bahwa Pura
Penataran ini sering disebut Pura Ulun Danu.
Menurut Artha, setelah dilakukan rembuk antartokoh-tokoh
ternyata yang benar merupakan Pura Penataran.
Sedangkan yang dinyatakan sebagai
Pura Ulun Danu adalah Pura Manik Umawang yang letaknya
memang di daerah hulu dari danau. Nama Ulun
Danu terus melekat dengan belum digantinya pelang
nama objek wisata Ulun Danu
di pintu masuk areal ini.
untuk hal tersebut, Artha mengaku akan segera
mengganti papan nama tersebut dengan nama pura yang
sebenarnya. Selain itu, sejarah pembangunan pura yang
belum tercatat akan
diupayakan untuk dikumpulkan sumber-sumbernya yang
selanjutnya akan dibukukan.
Selain melakukan rehab terhadap pura yang ada di areal
objek wisata Beratan, menurut Artha, tugas berat lainnya
yang harus dilakukannya bersama seluruh komponen
masyarakat Bali adalah menjaga kelestarian tempat
tersebut. Seluruh masyarakat
Bali
hendaknya menjaga sumber alam ini dengan bijak.
Sebab, jika terjadi penyusutan volume air yang
diakibatkan oleh perilaku manusia, kesuburan dan
keindahan alam Bali akan
terancam. Sebab, danau
merupakan sumber kesuburan jagat.
*
surpi