Pura Ponjok Batu
Paropakaranam yesam, jagarti hrdaye satam
Nasyanti vipadas tesam, sampadah syuh pade pade.
(Canakya Nitisastra, XVII.15)
Maksudnya:
Beliau yang selalu dalam hatinya memikirkan
kepentingan-kepentingan orang lain, segala kesulitannya
musnah dan memperoleh keberuntungan dalam setiap
langkahnya.
HATI
nurani Resi Vyasa sangat terkesan ikut berbahagia
menyaksikan dua ekor induk burung dengan penuh kasih
memberikan makan pada anak-anaknya. Curahan kasih sayang
induk burung dengan anak-anaknya itu sangat menggetarkan
hati Resi Vyasa yang sedang merenungkan keindahan alam
di tepi Sungai Gangga. Sejak itu Resi Vyasa sangat ingin
berputra agar dapat menyalurkan kasih sayang dengan hati
nurani yang suci.
Karena kerinduan yang suci itu Dewa Narada datang pada
Resi Vyasa. Dewa Narada menyatakan bahwa kalau Resi
Vyasa ingin berputra, hidupnya harus melalui upaya
mewujudkan empat tujuan hidup yang disebut Catur
Purusartha. Empat tujuan hidup itu adalah Dharma, Artha,
Kama dan barulah dapat mencapai Moksha.
Kalau Resi Vyasa tidak menempuh hidup sukla Brahmacari
beliau bisa hidup dengan hanya mencapai Dharma saja
terus dapat mencapai Moksha. Sejak itulah Dewa Narada
mengajarkan tentang Catur Purusartha pada Resi Vyasa.
Dengan Catur Purusartha itulah umat penganut Veda tujuan
hidupnya menjadi sangat jelas.
Demikian juga halnya Danghyang Dwijendra ketika sedang
menikmati indahnya pemandangan alam berupa lautan yang
berpadu dengan daratan dipayungi oleh langit biru di
sebuah tanjung di Bali Utara. Pemandangan yang
menggetarkan hati nurani sang Pandita itu sekarang
terkenal dengan Ponjok Batu.
Danghyang Dwijendra sangat asyik menyaksikan indahnya
pemandangan yang menggetarkan batin sang Pandita. Entah
berapa lama Danghyang Dwijendra duduk di atas batu yang
agak besar di tanjung tersebut. Sebagai seorang Pandita
swadharma beliau hanyalah memikirkan kepentingan orang
lain atau masyarakat luas agar bisa hidup sejahtera dan
bahagia lahir batin.
Hal itulah yang senantiasa selalu dipikirkan sebagai
seorang Pandita. Danghyang Dwijendra juga sedang asyik
memikirkan untuk meninjau keadaan masyarakat di Sasak (Lombok).
Untuk di Bali, Beliau merasa sudah banyak membantu Raja
dalam memberikan tuntutan pada masyarakat di Bali.
Saat Beliau melepaskan pandangan ke laut lepas ke arah
timur laut, Beliau melihat ada perahu kandas. Tiang
layar perahu yang kandas itu patah, bocor dan
tali-temalinya patah semua. Awaknya sejumlah tujuh orang
juga dalam keadaan pingsan semuanya. Keadaan itu
menyebabkan Danghyang Dwijendra naluri kepanditaan
Beliau muncul. Beliau sangat iba melihat kenyataan itu
dan berusaha memberi pertolongan pada awak perahu yang
nasibnya lagi sial itu.
Dengan kekuatan rohani yang sangat mumpuni Danghyang
Dwijendra berhasil membuat tujuh awak perahu itu siuman
kembali. Tujuh awak perahu itu sangat berterima kasih
pada Danghyang Dwijendra atas pertolongan yang Beliau
berikan dengan kadar keikhlasan yang amat tinggi itu.
Tanpa pertolongan Pandita Sakti itu mereka sangat yakin
tidak mungkin bisa hidup kembali.
Tujuh awak perahu itu pun menceritakan asal-usul
terjadinya musibah yang menimpa diri mereka.
Sesungguhnya mereka sangat yakin tidak mungkin bisa
hidup dalam musibah tersebut. Mereka sudah sangat pasrah
atas nasib yang menimpa dirinya setelah berbagai usaha
dilakukan atas kecelakaan tersebut. Ketujuh orang awak
perahu itu menyatakan dirinya dari Sasak.
Dang Hyang Dwijendra menganjurkan agar mereka
memperbaiki perahunya dengan seksama sebelum kembali ke
Sasak. Tujuh awak perahu itu pun diberikan berbagai
petunjuk dalam memahami dan dan mengatasi berbagai
persoalan hidup di dunia ini. Semua petunjuk itu di
ikuti oleh awak perahu dari Sasak itu.
Setelah beberapa lama awak perahu itu diajak bermalam di
daerah Tejakula, Buleleng Utara itu tibalah gilirannya
untuk bersiap-siap kembali ke Sasak. Danghyang Dwijendra
pun menyatakan ikut karena memang sudah lama beliau
niatkan untuk meninjau keadaan masyarakat Sasak. Pagi
hari Beliau pun ikut berangkat ke Sasak dan sampai di
Sasak dengan selamat.
Batu tempat Danghyang Dwijendra bermeditasi di Bai Utara
itu setiap malam mengeluarkan sinar yang sangat ajaib
dan menimbulkan vibrasi spiritual yang sangat luar biasa.
Karena itu, umat yang datang tidak semata-mata ingin
menyaksikan batu-batu yang bersinar saja, tetapi mereka
juga bersembahyang pada Hyang Widhi atau karunia itu.
Akhirnya umat mendirikan Pura yang diberi nama Ponjok
Batu artinya tanjung batu. Pelinggih utama di Pura
Ponjok Batu pada awalnya adalah dalam wujud Sanggar
Agung. Pada mulanya Pura Ponjok Batu itu terletak di
sebelah selatan jalan dengan areal yang tidak begitu
luas.
Pura Ponjok Batu itu kini sudah diperluas dan berada di
sebelah utara jalan dari Singaraja menuju Karangasem.
Pura Ponjok Batu itu kini sudah jauh lebih megah dan
luas sehingga mampu menampung umat yang cukup banyak,
terutama saat ada upacara Pujawali atau hari raya
keagamaan Hindu lainnya.
Mengapa sampai batu-batu tempat Danghyang Dwijendra
bermeditasi dan menolong awak perahu dari Sasak itu
bersinar. Hal ini mungkin dapat kita pahami kalau
ditinjau dari kacamata spiritual. Seorang Pandita
menurut konsep Hindu adalah orang suci yang hidupnya
hanya untuk memikirkan dan memperhatikan nasib orang
lain. Demikian juga mereka yang ditolong juga sangat
berterima kasih dan tulus menerima. Bertemunya dua
ketulusan itulah menyebabkan turunnya anugerah Tuhan
berupa vibrasi kesucian dalam wujud sinar itu.
*
I Ketut Gobyah