Kerajinan
Kuningan----
Peralihan
Generasi
Ketiga
Warga Budaga
SATU
kilometer sebelah
barat Kota
Semarapura,
Klungkung
dijumpai
sebuah
desa pakraman
dengan
kondisi pertanian
yang nyaris
habis.
Jumlah
penekunnya
hanya
tiga kepala
keluarga (KK).
Namanya
Desa Pakraman
Budaga.
Luas
areal
Desa Pakraman
Budaga
memang tidak
begitu
luas, hanya 35
hektar.
Semuanya
untuk
kepentingan pemukiman,
industri
dan
areal untuk
kepentingan
desa
adat seperti
tempat
beribadah (pura),
kuburan
dan tempat
berusaha
lainnya
bagi warga
sekitar.
Jumlah
penduduknya
sebanyak 198
kepala
keluarga (KK) atau
733 jiwa.
Laki-laki
367 jiwa
dan
perempuan 366 jiwa.
Sejak
awal
keberadaannya, ketika
Budaga
masih terbagi
dalam
dua banjar (Banjar
Budaga
Klod dan
Budaga
Kaler), warga
pakraman
ini
sebenarnya menekuni
sektor
pertanian sebagai
mata
pencarian.
Hanya,
dunia
itu sekarang
sudah
ditinggalkan.
Alasan
utamanya
adalah
terputusnya regenerasi
penekun
sektor pertanian.
Lantas,
warga
meningkatkan perekonomiannya?
Dunia
pertanian
memang
benar-benar tak
bisa
diandalkan lagi
di desa
pakraman yang
berada
di ketinggian 117
meter di
atas
permukaan laut
itu.
Penekunnya
hanya
tiga KK.
Tidak
banyak
hasil produksi
pertanian yang
bisa
diandalkan dari situ.
Generasi
muda yang
orangtuanya
dulu
menekuni sektor
pertanian,
saat
ini sudah
tak ada
lagi.
Mereka
lebih
memilih menekuni
dunia
baru yang bisa
dikerjakan
di
rumah.
Kalaupun
bekerja
di tempat
orang,
itu pun masih
berada
di lingkungan
Pakraman
Budaga.
Satu
bidang
pekerjaan yang beberapa
tahun
belakangan ini
sangat
menyita perhatian
warga
Desa Pakraman
Budaga
setelah beralih
dari
pertanian adalah
kerajinan
kuningan.
Berbagai
jenis
hasil produksi
bisa
diciptakan dari
bahan
kuningan tersebut.
Ada
gongseng,
gerondong,
beraneka
cetakan
kue dan
pemengku (bokor).
Khusus
pemengku,
sangat
cepat peredarannya
karena
pemasarannya dirangkaikan
dengan
keberadaan bokor
hasil
produksi desa
wisata
Kamasan.
Penjualannya
bukan
hanya di
Bali,
tetapi
hingga ke
luar Bali
bahkan
luar negeri.
Namun,
seiring
memudarnya pesanan
pemengku,
surut
juga pesanan
pembuatan
pemengku
di
Budaga. Jenis
kerajinan pun
ikut
beralih meskipun
masih
menggunakan bahan
yang sama,
kuningan.
Jenis
kerajinan
terbaru
itu adalah
genta (bajra).
Bisa
dikatakan,
Desa
Pakraman Budaga
merupakan
desa
segudang kerajinan
genta.
Genta
dan berbagai
jenis
peralatan pemujaan
ida
pedanda
ikutannya, seperti
nawasanga
dan
siwakrana, saat
ini
sangat diminati.
Selain
dipesan
para pemangku
seluruh
Indonesia, juga
dipesan
oleh konsumen
luar
negeri untuk
kepentingan
aksesoris
dan
suvenir.
Ada
satu
kelompok perajin
kuningan yang
getol
memproduksi kuningan
tersebut,
yakni
Kelompok Perajin
Kembang
Kuning.
Untuk
satu
orang anggota
kelompok,
hasil
produksi mencapai 10
genta
setiap bulan.
Kalau
dirupiahkan, hasilnya
mencapai
Rp 6
juta dengan
biaya
bahan baku
antara
Rp 3 juta
hingga
Rp 4 juta.
Namun,
hasil
produksi itu
sangat
dipengaruhi keberadaan
dan
kedatangan wisatawan.
Termasuk
pesanan.
''Kalau
kondisi pariwisata
lesu,
secara otomatis
berimbas
pada
penurunan hasil
produksi,''
ungkap
seorang pengurus
kelompok,
Wayan
Sudiarta.
*
baliputra