kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Paing, 6 Nopember 2006

 Desa Pakraman


Kerajinan Kuningan----
Peralihan
Generasi Ketiga Warga Budaga 

SATU kilometer sebelah barat Kota Semarapura, Klungkung dijumpai sebuah desa pakraman dengan kondisi pertanian yang nyaris habis. Jumlah penekunnya hanya tiga kepala keluarga (KK). Namanya Desa Pakraman Budaga. Luas areal Desa Pakraman Budaga memang tidak begitu luas, hanya 35 hektar. Semuanya untuk kepentingan pemukiman, industri dan areal untuk kepentingan desa adat seperti tempat beribadah (pura), kuburan dan tempat berusaha lainnya bagi warga sekitar. Jumlah penduduknya sebanyak 198 kepala keluarga (KK) atau 733 jiwa. Laki-laki 367 jiwa dan perempuan 366 jiwa. Sejak awal keberadaannya, ketika Budaga masih terbagi dalam dua banjar (Banjar Budaga Klod dan Budaga Kaler), warga pakraman ini sebenarnya menekuni sektor pertanian sebagai mata pencarian. Hanya, dunia itu sekarang sudah ditinggalkan. Alasan utamanya adalah terputusnya regenerasi penekun sektor pertanian. Lantas, warga meningkatkan perekonomiannya?

Dunia pertanian memang benar-benar tak bisa diandalkan lagi di desa pakraman yang berada di ketinggian 117 meter di atas permukaan laut itu. Penekunnya hanya tiga KK. Tidak banyak hasil produksi pertanian yang bisa diandalkan dari situ. Generasi muda yang orangtuanya dulu menekuni sektor pertanian, saat ini sudah tak ada lagi. Mereka lebih memilih menekuni dunia baru yang bisa dikerjakan di rumah. Kalaupun bekerja di tempat orang, itu pun masih berada di lingkungan Pakraman Budaga. Satu bidang pekerjaan yang beberapa tahun belakangan ini sangat menyita perhatian warga Desa Pakraman Budaga setelah beralih dari pertanian adalah kerajinan kuningan. Berbagai jenis hasil produksi bisa diciptakan dari bahan kuningan tersebut. Ada gongseng, gerondong, beraneka cetakan kue dan pemengku (bokor).

Khusus pemengku, sangat cepat peredarannya karena pemasarannya dirangkaikan dengan keberadaan bokor hasil produksi desa wisata Kamasan. Penjualannya bukan hanya di Bali, tetapi hingga ke luar Bali bahkan luar negeri. Namun, seiring memudarnya pesanan pemengku, surut juga pesanan pembuatan pemengku di Budaga. Jenis kerajinan pun ikut beralih meskipun masih menggunakan bahan yang sama, kuningan. Jenis kerajinan terbaru itu adalah genta (bajra). Bisa dikatakan, Desa Pakraman Budaga merupakan desa segudang kerajinan genta. Genta dan berbagai jenis peralatan pemujaan ida pedanda ikutannya, seperti nawasanga dan siwakrana, saat ini sangat diminati. Selain dipesan para pemangku seluruh Indonesia, juga dipesan oleh konsumen luar negeri untuk kepentingan aksesoris dan suvenir.

Ada satu kelompok perajin kuningan yang getol memproduksi kuningan tersebut, yakni Kelompok Perajin Kembang Kuning. Untuk satu orang anggota kelompok, hasil produksi mencapai 10 genta setiap bulan. Kalau dirupiahkan, hasilnya mencapai Rp 6 juta dengan biaya bahan baku antara Rp 3 juta hingga Rp 4 juta. Namun, hasil produksi itu sangat dipengaruhi keberadaan dan kedatangan wisatawan. Termasuk pesanan.

''Kalau kondisi pariwisata lesu, secara otomatis berimbas pada penurunan hasil produksi,'' ungkap seorang pengurus kelompok, Wayan Sudiarta. * baliputra

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)