kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 26 Juni 2005 tarukan valas
 

OPINI


Saat Elang Berperilaku Belalang

Sebagai dampak globalisasi, banyak bangsa telah kehilangan sebagian besar kedaulatannya. Para politisi dan para birokrat kehilangan sebagian besar kemampuannya untuk mempengaruhi rakyat. Kata-kata dari pemimpin tidak lagi dipercaya dan mereka kehilangan respek dari rakyatnya. Bahkan rakyat telah kehilangan minat untuk mendengar apa pun yang diucapkan pemimpinnya. Era negara bangsa telah berakhir!

(''Runaway World'', Anthony Giddens)

-----------------

 

KECUALI kalimat terakhir, Rubag membenarkan pendapat Direktur London School of Economics itu. Sebab, negara bangsa sebagai warisan berharga dari konsep modernisasi yang berkembang sejak terciptanya pertama kali alat cetak oleh Johann Gutenberg dan mesin uap oleh James Watt, masih tetap dibutuhkan kekuatan korporasi global. Dengan imbalan utang luar negeri, negara-negara bangsa dari Dunia Ketiga khususnya, bisa dimanfaatkan sebagai alat berstandar ganda. Semakin menumpuk utang luar negeri sebuah negara, kian hebat manfaatnya sebagai kepanjangan kaki dan tangan kapitalisme global. Tak peduli, negara-negara bangsa itu demokratis atau otoriter, yang penting bisa dikendalikan dari jarak jauh, seperti robot-robot disetir lewat remote control.

Negara-negara bangsa masih bisa diharapkan untuk membuat produk-produk hukum dengan berbagai istilah demi kepentingan pengontrolnya atas nama kepentingan umum. Lagi pula, semua negara bangsa masih memiliki alat-alat kekuasaan dengan hak memonopoli kekerasan, yang legalitas tindakannya dijamin hukum dan undang-undang. Letter of Intents (LoI) dan Structural Adjustment Programme (SAP) adalah pasal dan ayat-ayat dari "kitab suci" globalisasi bernama Washington Consensus yang harus dirujuk negara-negara bangsa yang banyak utang, bila membuat kebijakan publik. Liberalisasi pasar! Deregulasi semua aturan yang tidak bersahabat dengan pasar! Privatisasi semua BUMN demi efisiensi! Itulah tiga tuntutan klasik Trinitas Global yang bernama IMF, WTO, dan Bank Dunia yang harus diikuti, bila pinjaman mau ditambah atau dijadwal ulang pembayarannya.

Karena sekilas paham akan apa yang terjadi, Rubag tidak terkejut bila harga BBM naik, tarif listrik dan air minum mengikuti, berbagai jenis pajak juga melonjak dan galak, sebaliknya nilai uang turun dan upah atau gaji jalan di tempat. Rubag juga tidak terperanjat bila ada yang berteriak bahwa biaya sekolah dan kesehatan mahal, pekerja tetap digantikan karyawan kontrak, tunjangan hari raya, uang pensiun dan jaminan sosial ditiadakan dan PHK dilakukan tanpa alasan yang jelas. Malah tidak heran mendengar banyak perusahaan domestik  gulung tikar karena produk mereka digilas produk-produk impor dengan harga sama bahkan lebih murah, karena biaya masuk longgar. Para petani menjerit, karena produk pertanian mereka kalah bersaing harga dengan beras, jagung, jeruk dan produk pertanian impor lainnya, sementara harga pupuk terus meroket.

Rubag juga tidak terkesiap mendengar sebentar lagi air akan menjadi komoditas yang dikuasai investor sebab tanah yang sudah bersertifikat "hak milik" pun bisa dirampas dengan dalih demi kepentingan umum. Sebab, nota kesepakatan untuk mengikuti aturan (LoI) sudah ditandatangani, sehingga semua peraturan dan perundang-undangan di negara yang terdominasi harus mengikuti program penyesuaian struktural (SAP) yang mengacu pada pakem Konsensus Washington. Dengan demikian, kata atau istilah "kemerdekaan" di Millenium Ketiga ini  seyogyanya dikaji ulang atau diredefinisi.

Satu hal yang membuat Rubag geleng-geleng kepala adalah ketentuan ekspor tempe yang juga diatur SAP lewat WTO.  Untuk dimakan sendiri, sebagai warisan budaya, tempe tidak bermasalah. Tapi bila surplus dan hendak diekspor, pengusaha pribumi harus mendapat rekomendasi dari pemegang "hak paten"  yang ironisnya hanya dimiliki 19 perusahaan luar negeri. Hal lain adalah kisah sedih yang dialami pengerajin perak Desak Suwarti dari Desa Celuk, Gianyar, yang harus berurusan dengan WTO. Ia dituduh melanggar Hak Kekayaan Intelektual (Haki) atau Trade Related Intellectual Property Rights (TRIPs), karena menjual kepada orang lain desain produk yang pernah dibuatnya untuk konsumen berkebangsaan Amerika, yang selanjutnya mematenkan desain tersebut sebagai Haki miliknya.

Sungguh mengkhawatirkan bila sampai seluruh warisan tradisi budaya leluhur dipatenkan orang asing, sehingga kedekatan hubungan manusia-manusia sejagat akibat teknologi informasi yang oleh Marshall Mc Luhan disebut "Global Village", bergeser menjadi "Global Pillage" atau "Penjarahan Global". Bila fenomena itu terus berlangsung, bisa jadi tari Kecak, Barong, Oleg dan lain-lain akan dipatenkan kapitalisme global yang memproduksi segala aturan secara unilateral.

Di tengah-tengah kondisi yang merugikan rakyat secara tidak adil itu, mencuat mitologi globalisasi, baik lewat koran, televisi maupun diskusi, yang dilontarkan orang-orang yang mengaku lebih tahu. Di antaranya, ada yang menyerukan agar manusia-manusia Bali meningkatkan SDM untuk menghadapi era globalisasi, seakan-akan manusia Bali bodoh semua. Ada juga yang dengan gaya ultramodernis berkomentar bahwa manusia Bali tidak mempunyai semangat bersaing dan masih feodal dan terbelenggu dongeng dan mistik, padahal si komentator sendiri adalah pendongeng globalisasi, tanpa pernah membaca pendapat Paul Hirst dan Grahame Thompson yang mengatakan bahwa "globalisasi adalah mitos!".

Para komprador atau kaki-tangan globalisasi itu, bagi Rubag, juga belum pernah membaca ulasan Thomas Friedman, bahwa kapitalisme tidak bisa sukses seperti sekarang kalau hanya mengandalkan tangan-tangan tersembunyi, tanpa dibantu tangan-tangan yang mencekik dan menampar. Mc Donald's, kata Friedman, tidak akan sukses tanpa bantuan produsen mesin-mesin perang, Mc Donnell Douglas. Rupa-rupanya kearifan lama dipraktikkan, "Di mana tiada elang, kata belalang, akulah elang!"

"Cara nyebit taline, setata ngamis ke cerikan!" itulah posisi orang-orang yang berstatus rakyat. Mereka senantiasa dikalahkan dan disalahkan oleh mereka yang merasa lebih intelek dan lebih mapan ekonomi maupun sosial. Analoginya, seperti orang baru belajar membuat tali tradisional Bali berbahan bambu, yang karena ketidakterampilannya selalu membuang bagian paling tipis sembari mengumpat bambu yang dituduh tidak cocok untuk dijadikan tali. Perilaku seperti ini, oleh mantan majikan Rubag yang berasal dari Ranah Minang, Rahimi Sutan, dikomentari "Awak tak cancak manari, lantai dikato bajungkiek" yang diterjemahkan "Orang yang tidak bisa menari akan mengatakan tanah yang dipijaknya bergoyang".

***

 

ZAMAN sekarang, bagi Rubag, lebih cocok disebut Era Perbudakan daripada Era Globalisasi sesuai buku suci kaum neoliberal "The Road to Serfdom" yang ditulis nabinya Fredrich von Hayek. Karena itu, menjadi miskin, gagal dalam usaha, menganggur dan terpinggirkan, sering dianggap kondisi yang pantas diterima orang-orang bodoh, pemalas, lemah atau tidak mampu bersaing. Untuk itu, mereka diberi label macam-macam serta kadang-kadang dianalogikan dengan hewan atau tumbuh-tumbuhan, oleh mereka yang sukses. Orang-orang sukses menganggap keberhasilan mereka semata-mata didukung kemampuan fisik, mental, dan kecerdasan luar biasa.  Sementara kepongahan dan kelicikan yang lebih banyak mendukung kesuksesan itu diabaikan, bahkan diganti dengan "ketangguhan dan kerja keras". Sayang, mereka tidak pernah dengar pendapat Amartya Sen, bahwa orang-orang menjadi miskin lebih disebabkan tertutupnya semua peluang, karena tidak memiliki akses pada kekuasaan.

Dari sudut pandang orang yang lahir dan sampai tua di Bali, Rubag percaya kalau orang-orang Bali mau menerapkan cara-cara berbisnis seperti doktrin neoliberalis, mereka pasti bisa. Mereka dibekali local genious, ketahanan fisik dan kecerdasan otak, yang membuat karya seni dan budayanya tidak di bawah bangsa-bangsa lain. Kerajinan dan ketangguhannya dibuktikan oleh sawah-sawah bertingkat dan sistem subak, yang sayang sejak Orde Baru diganti kaum kapitalis dengan beton-beton, karena "pembangunan" dijadikan ideologi.

Soal keberanian dan harga diri, orang Bali juga tidak diragukan. Puputan Jagaraga, Badung, Klungkung dan Margarana membuktikan itu. Cuma, karena lima keyakinan sesuai ajaran agamanya yakni Panca Sarada, membuat orang Bali mengerem tindakan-tindakan yang dianggap bertentangan dengan kredo Hindu itu. Bahkan ketika bom diledakkan di Bali pun, mereka mengantisipasi dengan ritual keagamaan dan dalam batin menyebut "Karma Phala!". Celakanya, ketika elang-elang berperilaku seperti belalang, tiba-tiba ada belalang yang berlagak seperti elang menuduh mereka, bodoh, pemalas, lemah dan tidak mampu bersaing.

 

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com