Saat Elang Berperilaku Belalang
Sebagai dampak globalisasi, banyak bangsa telah kehilangan
sebagian besar kedaulatannya. Para politisi dan para birokrat
kehilangan sebagian besar kemampuannya untuk mempengaruhi rakyat.
Kata-kata dari pemimpin tidak lagi dipercaya dan mereka kehilangan
respek dari rakyatnya. Bahkan rakyat telah kehilangan minat untuk
mendengar apa pun yang diucapkan pemimpinnya. Era negara bangsa
telah berakhir!
(''Runaway World'', Anthony Giddens)
-----------------
KECUALI kalimat terakhir, Rubag membenarkan
pendapat Direktur London School of Economics itu. Sebab, negara
bangsa sebagai warisan berharga dari konsep modernisasi yang
berkembang sejak terciptanya pertama kali alat cetak oleh Johann
Gutenberg dan mesin uap oleh James Watt, masih tetap
dibutuhkan
kekuatan korporasi global. Dengan imbalan utang luar negeri,
negara-negara bangsa dari Dunia Ketiga khususnya, bisa
dimanfaatkan sebagai alat berstandar ganda. Semakin menumpuk utang
luar negeri sebuah negara, kian hebat manfaatnya sebagai
kepanjangan kaki dan tangan kapitalisme global. Tak peduli,
negara-negara bangsa itu demokratis atau otoriter, yang penting
bisa dikendalikan dari jarak jauh, seperti robot-robot disetir
lewat remote control.
Negara-negara bangsa masih bisa diharapkan untuk membuat
produk-produk hukum dengan berbagai istilah demi kepentingan
pengontrolnya atas nama kepentingan umum. Lagi pula, semua negara
bangsa masih memiliki alat-alat kekuasaan dengan hak memonopoli
kekerasan, yang legalitas tindakannya dijamin hukum dan
undang-undang. Letter of Intents (LoI) dan Structural Adjustment
Programme (SAP) adalah pasal dan ayat-ayat dari "kitab suci"
globalisasi bernama Washington Consensus yang harus dirujuk
negara-negara bangsa yang banyak utang, bila membuat kebijakan
publik. Liberalisasi pasar! Deregulasi semua aturan yang tidak
bersahabat dengan pasar! Privatisasi semua BUMN demi efisiensi!
Itulah tiga tuntutan klasik Trinitas Global yang bernama IMF, WTO,
dan Bank Dunia yang harus diikuti, bila pinjaman mau ditambah atau
dijadwal ulang pembayarannya.
Karena sekilas paham akan apa yang terjadi, Rubag tidak terkejut
bila harga BBM naik, tarif listrik dan air minum mengikuti,
berbagai jenis pajak juga melonjak dan galak, sebaliknya nilai
uang turun dan upah atau gaji jalan di tempat. Rubag juga tidak
terperanjat bila ada yang berteriak bahwa biaya sekolah dan
kesehatan mahal, pekerja tetap digantikan karyawan kontrak,
tunjangan hari raya, uang pensiun dan jaminan sosial ditiadakan
dan PHK dilakukan tanpa alasan yang jelas. Malah tidak heran
mendengar banyak perusahaan domestik gulung tikar karena
produk mereka digilas produk-produk impor dengan harga sama bahkan
lebih murah, karena biaya masuk longgar. Para petani menjerit,
karena produk pertanian mereka kalah bersaing harga dengan beras,
jagung, jeruk dan produk pertanian impor lainnya, sementara harga
pupuk terus meroket.
Rubag juga tidak terkesiap mendengar sebentar lagi air akan
menjadi komoditas yang dikuasai investor sebab tanah yang sudah
bersertifikat "hak milik" pun bisa dirampas dengan dalih demi
kepentingan umum. Sebab, nota kesepakatan untuk mengikuti aturan
(LoI) sudah ditandatangani, sehingga semua peraturan dan
perundang-undangan di negara yang terdominasi harus mengikuti
program penyesuaian struktural (SAP) yang mengacu pada pakem
Konsensus Washington. Dengan demikian, kata atau istilah
"kemerdekaan" di Millenium Ketiga ini seyogyanya dikaji
ulang atau diredefinisi.
Satu hal yang membuat Rubag geleng-geleng kepala adalah ketentuan
ekspor tempe yang juga diatur SAP lewat WTO. Untuk dimakan
sendiri, sebagai warisan budaya, tempe tidak bermasalah. Tapi bila
surplus dan hendak diekspor, pengusaha pribumi harus mendapat
rekomendasi dari pemegang "hak paten" yang ironisnya hanya
dimiliki 19 perusahaan luar negeri. Hal lain adalah kisah sedih
yang dialami pengerajin perak Desak Suwarti dari Desa Celuk,
Gianyar, yang harus berurusan dengan WTO. Ia dituduh melanggar Hak
Kekayaan Intelektual (Haki) atau Trade Related Intellectual
Property Rights (TRIPs), karena menjual kepada orang lain desain
produk yang pernah dibuatnya untuk konsumen berkebangsaan Amerika,
yang selanjutnya mematenkan desain tersebut sebagai Haki miliknya.
Sungguh mengkhawatirkan bila sampai seluruh warisan tradisi budaya
leluhur dipatenkan orang asing, sehingga kedekatan hubungan
manusia-manusia sejagat akibat teknologi informasi yang oleh
Marshall Mc Luhan disebut "Global Village", bergeser menjadi
"Global Pillage" atau "Penjarahan Global". Bila fenomena itu terus
berlangsung, bisa jadi tari Kecak, Barong, Oleg dan lain-lain akan
dipatenkan kapitalisme global yang memproduksi segala aturan
secara unilateral.
Di tengah-tengah kondisi yang merugikan rakyat secara tidak adil
itu, mencuat mitologi globalisasi, baik lewat koran, televisi
maupun diskusi, yang dilontarkan orang-orang yang mengaku lebih
tahu. Di antaranya, ada yang menyerukan agar manusia-manusia Bali
meningkatkan SDM untuk menghadapi era globalisasi, seakan-akan
manusia Bali bodoh semua. Ada juga yang dengan gaya ultramodernis
berkomentar bahwa manusia Bali tidak mempunyai semangat bersaing
dan masih feodal dan terbelenggu dongeng dan mistik, padahal si
komentator sendiri adalah pendongeng globalisasi, tanpa pernah
membaca pendapat Paul Hirst dan Grahame Thompson yang mengatakan
bahwa "globalisasi adalah mitos!".
Para komprador atau kaki-tangan globalisasi itu, bagi Rubag, juga
belum pernah membaca ulasan Thomas Friedman, bahwa kapitalisme
tidak bisa sukses seperti sekarang kalau hanya mengandalkan
tangan-tangan tersembunyi, tanpa dibantu tangan-tangan yang
mencekik dan menampar. Mc Donald's, kata Friedman, tidak akan
sukses tanpa bantuan produsen mesin-mesin perang, Mc Donnell
Douglas. Rupa-rupanya kearifan lama dipraktikkan, "Di mana tiada
elang, kata belalang, akulah elang!"
"Cara nyebit taline, setata ngamis ke cerikan!" itulah posisi
orang-orang yang berstatus rakyat. Mereka senantiasa dikalahkan
dan disalahkan oleh mereka yang merasa lebih intelek dan lebih
mapan ekonomi maupun sosial. Analoginya, seperti orang baru
belajar membuat tali tradisional Bali berbahan bambu, yang karena
ketidakterampilannya selalu membuang bagian paling tipis sembari
mengumpat bambu yang dituduh tidak cocok untuk dijadikan tali.
Perilaku seperti ini, oleh mantan majikan Rubag yang berasal dari
Ranah Minang, Rahimi Sutan, dikomentari "Awak tak cancak manari,
lantai dikato bajungkiek" yang diterjemahkan "Orang yang tidak
bisa menari akan mengatakan tanah yang dipijaknya bergoyang".
***
ZAMAN sekarang, bagi Rubag, lebih cocok
disebut Era Perbudakan daripada Era Globalisasi sesuai buku suci
kaum neoliberal "The Road to Serfdom" yang ditulis nabinya
Fredrich von Hayek. Karena itu, menjadi miskin, gagal dalam usaha,
menganggur dan terpinggirkan, sering dianggap kondisi yang pantas
diterima orang-orang bodoh, pemalas, lemah atau tidak mampu
bersaing. Untuk itu, mereka diberi label macam-macam serta
kadang-kadang dianalogikan dengan hewan atau tumbuh-tumbuhan, oleh
mereka yang sukses. Orang-orang sukses menganggap keberhasilan
mereka semata-mata didukung kemampuan fisik, mental, dan
kecerdasan luar biasa. Sementara kepongahan dan kelicikan
yang lebih banyak mendukung kesuksesan itu diabaikan, bahkan
diganti dengan "ketangguhan dan kerja keras". Sayang, mereka tidak
pernah dengar pendapat Amartya Sen, bahwa orang-orang menjadi
miskin lebih disebabkan tertutupnya semua peluang, karena tidak
memiliki akses pada kekuasaan.
Dari sudut pandang orang yang lahir dan sampai tua di Bali, Rubag
percaya kalau orang-orang Bali mau menerapkan cara-cara berbisnis
seperti doktrin neoliberalis, mereka pasti bisa. Mereka dibekali
local genious, ketahanan fisik dan kecerdasan otak, yang membuat
karya seni dan budayanya tidak di bawah bangsa-bangsa lain.
Kerajinan dan ketangguhannya dibuktikan oleh sawah-sawah
bertingkat dan sistem subak, yang sayang sejak Orde Baru diganti
kaum kapitalis dengan beton-beton, karena "pembangunan" dijadikan
ideologi.
Soal keberanian dan harga diri, orang Bali juga tidak diragukan.
Puputan Jagaraga, Badung, Klungkung dan Margarana membuktikan itu.
Cuma, karena lima keyakinan sesuai ajaran agamanya yakni Panca
Sarada, membuat orang Bali mengerem tindakan-tindakan yang
dianggap bertentangan dengan kredo Hindu itu. Bahkan ketika bom
diledakkan di Bali pun, mereka mengantisipasi dengan ritual
keagamaan dan dalam batin menyebut "Karma Phala!". Celakanya,
ketika elang-elang berperilaku seperti belalang, tiba-tiba ada
belalang yang berlagak seperti elang menuduh mereka, bodoh,
pemalas, lemah dan tidak mampu bersaing.
* aridus