Mengapa
Bisa Terjadi
''Hamil Anggur''?
''Hamil
anggur'' atau
yang dalam dunia
kedokteran
dikenal sebagai
mola hidatidosa
adalah suatu
kehamilan yang
berkembang tidak
wajar. Di
dalam rahim
tidak ditemukan
janin, melainkan
jaringan
berbentuk gelembung-gelembung
seperti buah
anggur yang
berisi cairan.
------------------
''HAMIL
anggur" sering
pula disebut mola
komplit (complete mole).
Sedangkan apabila
disertai janin
atau bagian
dari janin
disebut mola
parsialis (partial mole).
Bila ada
mola disertai
janin,
kejadiannya ada
dua kemungkinan.
Pertama,
kehamilan kembar,
satu janin
tumbuh normal dan
hasil konsepsi
atau pembuahan
yang satu lagi
menjadi mola
hidatidosa. Kedua,
hamil tunggal
yang berupa mola
parsialis.
Gejala
dan
Kepastian
Pada
permulaannya,
gejala "hamil
anggur" tidak
seberapa berbeda
dengan kehamilan
biasa, yaitu
adanya aktivitas
atau tanda-tanda
enek, muntah,
pusing, dan
lain-lain pada
ibu. Hanya
saja, dalam
kasus "hamil
anggur" ini
derajat
keluhannya sering
lebih hebat.
Selanjutnya,
perkembangan
lebih pesat,
rahim terlalu
cepat membesar
tidak sesuai
dengan umur
kehamilan.
Perdarahan merupakan
gejala utama
mola, seperti
penderita dengan
abortus
immineans
(keguguran).
Biasanya, gejala
inilah yang
menyebabkan penderita
datang ke
rumah sakit.
Sifat perdarahan
bisa intermitte,
sedikit-sedikit
atau sekaligus
banyak sehingga
menyebabkan syok
atau kematian.
Karena perdarahan
ini, maka
umumnya pasien
mola masuk
ke dalam
keadaan anemia
atau kurang
darah.
Gejala
ini sering
pula disertai
dengan gejala
menyerupai
preeklampsia seperti
nyeri kepala,
gangguan
penglihatan dan lain-lain.
Lantas,
bagaimana
memastikan seseorang
sedang "hamil
anggur" atau
tidak? Adanya
"hamil anggur"
harus dicurigai
bila ada
wanita usia
subur dengan
amenore (terlambat
haid), perdarahan
pervaginam, uterus/rahim
yang lebih besar
dari tuanya
kehamilan dan
tidak ditemukan
tanda kehamilan
pasti. Artinya,
dari pemeriksaan
melalui perabaan
tidak ditemukan
adanya janin
atau bagian
tubuh janin
dan detak
jantung janin
pun tidak
terdengar.
Untuk
memastikan "hamil
anggur" atau
tidak,
gejala-gejala tersebut
harus didukung
dengan
pemeriksaan laboratorium,
yaitu pemeriksaan
terhadap kadar
hormon (HCG/Humas
Chorionic
Gonadotropin) dalam
darah dan
urin, dimana
akan terdapat
peninggian kadar
hormon tersebut.
Bila belum
jelas, dapat
dilakukan
pemeriksaan foto abdomen,
biopsi
transplasental dan
pemeriksaan
dengan sonde uterus yang
diputar (perasat
Hanifa
Wikjnjosastro atau Acosta
Sisson). Di
samping itu,
bisa juga
dengan cara
melakukan
pemeriksaan USG (ultrasonografi),
dimana kasus
ini menunjukkan
gambar berupa
badai salju
(snow flake pattern) atau
sarang tawon
tanpa disertai
adanya janin.
Diagnosis yang paling tepat
adalah bila
dilihat gelembung
mola-nya, baik
melalui ekspulsi
spontan maupun
biopsi pasca
perasat Hanifa
Wiknjosastro atau
Acosta Sisson. Tetapi
bila ditunggu
sampai gelembung
mola keluar
biasanya sudah
terlambat karena
pengeluaran
gelembung umumnya
disertai
perdarahan yang banyak
dan keadaan
umum pasien
menurun. Yang
baik ialah
bila dapat
mendiagnosis sebelum
gelembung mola
keluar.
Penanganan
dan Prognosis
Penanganan
"hamil anggur"
terdiri dari
beberapa tahap
sbb.;
1. Memperbaiki
keadaan umum
penderita seperti
pemberian
tranfusi darah
untuk memperbaiki
syok atau
anemia yang terjadi.
2. Tindakan
mengeluarkan
jaringan mola --
ada dua
cara yaitu
vacum kuretase
atau kuret
vakum dan
histerektomi (pengangkatan
rahim).
Pengeluaran dengan
kuret vakum
lebih aman
daripada dengan
kuret tajam.
Untuk
histerektomi akan
dilakukan pada
wanita telah
cukup umur
(di atas
35 tahun) dan
cukup mempunyai
anak (anak
hidup tiga).
Alasan
dilakukannya histerektomi
adalah karena
umur atau
dan paritas
tinggi merupakan
faktor
prediksposisi untuk
terjadinya
keganasan.
3. Apabila
penderita dengan
kasus ini
menolak dilakukan
histerektomi,
maka dapat
dilakukan pemberian
terapi
profilaksis dengan
sitostatika (obat-obat
antikanker),
untuk menghindari
terjadinya
keganasan dengan
metastase (menyebar).
4. Pemeriksaan
tindak lanjut.
Lalu,
kapan penderita
mola dapat
dianggap sehat
kembali? Sampai
sekarang belum
ada kesepakatan.
Ada yang
menyatakan apabila
kadar hormon
HCG dan kali
berturut-turut normal. Tetapi
ada pula yang
menyebutkan bila
sudah melahirkan
anak yang normal.
Setelah dikuret, minimal
satu sampai
dua tahun
pertama penderita
harus terus
dievaluasi. Hal
ini perlu
dilakukan mengingat
adanya
kemungkinan keganasan
setelah mola
hidatidosa.
Caranya, dengan
melakukan
pemeriksaan ginekologi,
kadar HCG dan
radiologik secara
berkala.
Dengan
pemantauan ini,
kemungkinan
terjadinya mola
ganas dapat
terdeteksi lebih
dini sehingga
pengobatan bisa
dilakukan lebih
awal dengan
hasil yang
memuaskan. Hal ini
karena sifat
mola yang
menyerupai penyakit
kanker, yang bisa
menyebar sampai
ke paru-paru,
otak dan
sumsum tulang
belakang. Selama
pemantauan pasien
dianjurkan untuk
tidak hamil
yaitu dengan
menggunakan
kontrasepsi hormonal jika
masih ingin
anak atau
tubektomi jika
ingin
menghentikan fertilitas.
Terus,
bagaimana prognosis
penyakit ini?
Kematian pada
mola hidatidosa
disebabkan
perdarahan, infeksi,
eklampsia, payah
jantung (tirotoksikosis).
Di negara
maju, kematian
karena kasus
ini hampir
tidak ada
lagi, namun
di negara
berkembang masih
cukup tinggi
yaitu berkisar
antara 2,2% - 5,7%.
Sebagian besar
penderita akan
sehat kembali
setelah jaringan
mola dikeluarkan.
Namun, dalam
sejumlah kasus
pada penderita,
penyakit ini
dapat beralih
ke arah
keganasan yang
dalam istilah
kedokteran
disebut korikoarsinoma.
Terjadinya proses
keganasan paling
terbanyak terjadi
pada enam
bulan pertama
pasca-mola.
Terdapat juga
kemungkinan
adanya mola yang
berulang, tetapi
kasus ini
jarang terjadi.
Untuk
menentukan kapan
kembalinya fungsi
reproduksi
setelah mola
sebetulnya agak
sukar, karena
saat pemantauan
pasca-mola
penderita diharuskan
memakai
kontrasepsi. Tetapi
secara umum
dikatakan bahwa
kemampuan
reproduksi pasca-mola
tidak banyak
berbeda dari
kehamilan lainnya.
Anak-anak yang
dilahirkan setelah
mola hidatidosa
ternyata umumnya
normal.
* dr. km.
alit widnyana