Ayu Bulantrisna Djelantik
Menari, Otak Kiri dan Kanan Berjalan
dengan Baik
Banyak orang mengenal Dr.
dr. Ayu Bulantrisna Djelantik ini sebagai seorang
dokter ahli THT dan bekerja di Badan Kesehatan Dunia WHO.
Namun, banyak juga orang yang tidak mau
mengenalnya sebagai dokter, melainkan sebagai mantan penari
Legong yang jempolan. ''Saya tidak
akan pernah lupa, semua itu karena berkah dari kakek,'' ujar
cucu Raja Karangasem, putri pertama dari pasangan Dr. A.A.
Made Djelantik dan Astri Zwart ini. Belajar menari
serta langsung pentas pada usia
tujuh tahun, ibu tiga anak dan nenek tiga cucu ini mengaku
sering ''ketagihan'' menari di sela-sela kesibukannya di
bidang medis. ''Kalau sudah menari, saya
ketagihan, susah dihentikan,'' aku wanita kelahiran
Nederland,
8 September 1947 ini.
Berikut wawancara Bali Post dengannya.
-----------------
BAGAIMANA Anda tertarik menekuni seni tari
khususnya Legong?
Boleh dibilang saya bermuka dua.
Sebagian orang mengenal saya sebagai
seorang dokter ahli THT dan bekerja di Badan Kesehatan Dunia
WHO. Juga ada sekelompok orang yang
tidak mau mengenal saya sebagai dokter, melainkan mengenal
saya sebagai mantan penari Legong. Saya tidak
akan pernah lupa, semua itu karena
berkah dari kakek saya yang seorang Raja Karangasem.
Beliau memiliki keinginan yang luhur,
mengumpulkan semua cucunya untuk belajar tari.
Beliau khusus mendatangkan seorang guru
tari. Saya belajar menari saat umur tujuh tahun dan
mulai pentas saat menginjak usia
tujuh setengah tahun. Setelah belajar
menari, ternyata sangat menyenangkan. Bahkan saya
menjadi ketagihan, susah dihentikan.
Walau sekarang sudah
punya tiga cucu, saya tetap menari.
Tari apa yang
pertama kali Anda pelajari?
Tari Condong Kebyar yang saat ini keberadaannya
mungkin sudah punah.
Tari Condong Kebyar mirip seperti
Panjisemirang.
Setelah mendapatkan
tari Condong Kebyar, selanjutnya saya mempelajari berbagai
jenis tari, termasuk tari Baris. Kalau pentas, saya
menarikan Oleg Tamulilingan sebagi "laki"-nya, sedangkan yang
menjadi "wanita"-nya adalah saudara sendiri.
Saat itu ada tiga tarian
yang sering saya pentaskan seperti Oleg Tamulilingan, Baris
dan Condong Kebyar.
Ketika Anda masih anak-anak
apa sudah sering pentas?
Ya.
Umur sembilan tahun saya ikut bapak yang
bertugas di
London dan
Belanda.
Selama enam bulan saya bersekolah di
sana.
Diketahui bisa menari Bali, saya kemudian diminta untuk
menghibur orang-orang di
sana.
Mendapat pentas di luar negeri, hati saya
tentu menjadi senang. Dan saking
senangnya, datang dari luar negeri saya mendalami tari Legong
Peliatan, Ubud. Tidak hanya itu,
saya juga sempat belajar pada Pak Kakul dan memperdalam tari
Oleg Tamulilingan bersama Pak Mario.
Memang beliau-beliau ini memberikan
ilmunya secara profesional. Bahkan saya masih memiliki
foto yang dipegang sama Pak Mario
saat berlatih tari Oleg. Umur 10 tahun saya sudah dikenal
sebagai penari Legong
gaya
Peliatan. Pada zaman Presiden Soekarno,
saya sering diundang menari untuk menghibur tamu-tamu negara
di Istana Presiden Tampaksiring, Gianyar.
Lalu, setelah umur 12 tahun, saya diundang
menari di Istana Presiden di Jakarta.
Saat itu saya bergabung dengan salah satu
grup kesenian dari
Bali.
Bagaimana dengan studi atau pendidikan tinggi
Anda?
Tahun 1965, saya ke Bandung melanjutkan kuliah
kedokteran.
Menariknya, walau dalam keadaan kuliah
saya selalu diikutkan sebagai anggota misi kesenian
tradisional
Bali ke
luar negeri.
Misalnya ke
Kamboja,
Pakistan, Cina, Korea dan Jepang.
Bahkan ini dilakukan berulang-ulang.
Jadi sambil kuliah saya bisa mengikuti
misi kesenian. Ya, untung saja saya
diberikan izin khusus dari bapak Menteri Pendidikan saat itu,
sehingga dekan di kampus saya juga ikut-ikutan memberikan izin.
Walau meninggalkan kampus, tetapi saya
tidak pernah lupa dengan tanggung jawab sebagai mahasiswa.
Agar tidak ketinggalan, di mana pun acara
pentas saya selalu menyempatkan diri untuk membaca buku
kedokteran yang tebal itu. Sebelum
mendapat giliran pentas, saya belajar di belakang panggung.
Terakhir, saya menari Expo di Osaka Jepang
selama tiga bulan. Setelah menikah
pada 1971, saya putuskan untuk berhenti menari.
Ternyata tidak bisa.
Ada saja
yang membuat saya menjadi menari.
Bahkan saat hamil empat bulan pun saya
juga bisa menari.
* * *
ANDA tidak hanya menari, tetapi juga mendirikan sebuah
bengkel tari yang mengumpulkan anak-anak muda untuk diajak
berlatih tari khususnya Legong.
Nah, mengapa Anda
lakukan itu?
Selama itu saya selalu menjadi penari untuk
orang lain. Tahun 1992, tiba-tiba timbul keinginan saya menari
bukan untuk orang lain. Saya ingin
memiliki grup kesenian sendiri yang bisa menampung
penari-penari lain dan bisa berbuat sesuai dengan kemauan
sendiri. Saya menampung anak-anak
muda dari segala agama dan segala etnis untuk memperdalam tari
Bali
khususnya tari Legong.
Dalam proses belajar ini saya memanggil seorang guru tari yang
dapat memberikan segala macam tari Legong.
Setelah sanggar tari terbentuk,
apa saja yang Anda lakukan?
Khusus untuk tari Legong, kami pernah
mengadakan Pekan Apresiasi Legong di Bandung pada 1994.
Dalam apresiasi ini merupakan pertama kali muncul dengan grup
sendiri dengan nama Bengkel Tari
Ayu Bulan. Sambil sibuk mempersiapkan
acara itu, saya juga sedang mengikuti kuliah Doktor PSB di
Belgia. Tentu sangat sibuk.
Dalam pekan apresiasi itu, mengapa mengambil
tari Legong, bukan jenis yang lain?
Keinginan saya hanya memperkenalkan tari Legong. Saya melihat, banyak orang yang
tidak mengenal Legong sesungguhnya.
Namun, banyak yang menggunakan Legong sebagai ikon.
Misalnya dipakai di postcard, poster,
kalender termasuk juga di TV. Sesungguhnya mereka tidak
mengerti apa makna dan apa maksud
seni legong secara mendalam. Melalui
apresiasi inilah saya ingin memperkenalkan Legong kepada semua
orang, sehingga mereka menjadi tahu.
Makanya, dalam apresiasi itu juga
dilengkapi dengan diskusi yang menghadirkan pakar tari
Bali
seperti Bu Edy, Pak Dibia dan anak-anak muda yang menjadi
sasarannya.
Menurut Anda, bagaimana perkembangan tari
Legong di Bali sekarang?
Saya senang dengan makin banyaknya kreasi tari
Legong.
Berarti Legong makin digali dan
disesuaikan dengan zamannya. Sayang
sekali bahwa masih sangat langka penulis kritik seni tari.
Padahal kritik itu
dapat memberi penilaian suatu koreografi dan juga memberikan
masukan yang mendidik masyarakat tentang berapresiasi seni.
Mempelajari berbagai Legong dari yang kuno
hingga terbaru, apakah Anda merasakan ada perbedaannya?
Kalau perbedaannya, mungkin mengikuti
perkembangan zaman.
Legong yang sekarang sudah jelas berubah.
Perubahan itu salah satunya disebabkan
dengan adanya tata panggung dan sebagainya.
Dulu, Legong ditarikan di bawah pohon
bersamaan dengan upacara ritual.
Tetapi sekarang sudah merupakan apresiasi seni sendiri yang
ditampilkan di panggung untuk hiburan.
Panggung sebagai tempat pentas juga
mengalami perubahan. Kalau dulu
berbentuk kalangan yang memanjang, tetapi sekarang sudah
berbentuk stage yang melebar.
Tetapi, biarkan saja, ini
memang harus mengikuti zaman.
* * *
SELAIN
menjadi penari, Anda juga seorang koreografer?
Saya merasa senang karena di luar Bali juga
banyak ada kantong-kantong budaya yang mendalami Legong serta
yang kreasi.
Saya bukan sendiri menciptakan tari, tetapi
kami buat beramai-ramai.
Awalnya menunjukkan diri sebagai pencinta Legong (1994),
kemudian menciptakan tari Legong Asmarandana (1996) dengan
melibatkan sekitar 20 penari yang menceritakan bagaimana Dewa
Asmara itu terbakar dan abunya menjadi bibit cinta yang kita
kenal sekarang. Kemudian membuat Legong
Witaraga yang koreografernya seorang STSI Bandung, sedangkan
idenya dari saya. Bahkan tari ini
sudah pernah dipentaskan di
Jakarta dan
Bandung.
Legong Witaraga yang diciptakan pada 2002 menceritakan
Arjunawiwaha yang memiliki nama
lain Witaraga. Penarinya ada sekitar 20
orang yang penampilannya selalu berubah-ubah, tetapi tidak ada
perubahan kostum. Kadang-kadang
menjadi bidadari, atau menjadi Pandawa.
Intinya, tampilannya abstrak.
Dia berubah peran
tetapi tidak mengganti kostum.
Sebagai seorang dokter, penari, pelatih serta
koreografer bagaimana cara Anda
mengatur waktunya?
Kalau mengatur waktu
kan
ada hari Minggu, ada Sabtu dan juga ada malam.
Memang sekarang saya menjadi lebih sibuk.
Mungkin dua-duanya
tidak sempurna, tetapi dua-duanya tetap bisa jalan.
Apa
yang Anda lakukan lebih fokus sekarang?
Sejak dua tahun lalu saya baru berada di
seberang yaitu di Amerika.
Tetapi saya menjadi lebih sering ke
Bali,
karena saya merasa jarak Amerika-Bali lebih dekat dari pada
Amerika-Bandung. Walaupun saya pensiun dari dokter,
tetapi masih sangat terlibat dengan ilmu kedokteran yang
bersifat internasional. Saya
mendapat tugas untuk forum Asia Tenggara menangani pencegahan
penyakit ketulian dan gangguan pendengaran.
Kebetulan juga saya seorang ahli THT.
Walupun demikian, ternyata saya juga tetap
terlibat dalam urusan kesenian
Bali.
Di Amerika juga banyak grup atau
sekaa-sekaa tradisional
Bali yang
ternyata sering membutuhkan saya untuk menari bahkan melatih
tari.
Sekarang ini saya sedang membuat Janger
ibu-ibu
Indonesia
untuk menyambut 17 Agustus di San Fransisco.
Di samping itu, saya juga sebagai Dewan
Penyantun Masyarakat Seni Pertunjukan di Indonesia.
Sebelumnya sebagai
Dewan Pengurus Masyarakat Seni Pertunjukan yang sempat
mengadakan festival di Tirta Gangga yang menghadirkan 300
seniman seni pertunjukan untuk membicarakan segala sesuatu
tentang seni.
* * *
SEBAGAI
orang puri yang sudah lama meninggalkan tanah kelahiran,
bagaimana Anda melihat Puri Karangasem sekarang?
Saya hanya mau orang-orang Bali mengetahui
bahwa Puri Karangasem sudah diganti dengan generasi muda yang
sudah jauh dengan hal-hal yang feodal.
Bahkan kami sudah hidup di dunia lain,
tidak seperti dulu atau pada zaman kakek.
Mudah-mudahan makin lama masyarakatnya makin demokratis.
Hal ini juga bisa dilihat pada ayah saya
sebagai bagian generasi di bawah raja yang sudah tidak
menyenangi hal-hal yang feodal itu. Kekuasaan oleh
seorang raja itu tidak ada sama
sekali, walaupun feodal dalam bentuk lain itu masih ada.
Hanya sekarang pelan-pelan kekuasaan itu
harus pindah ke rakyat. Sebagai
keluarga puri, saya sangat menyadari sekali.
Dan yang sangat terkesan adalah sifat
adilnya. Buktinya dari zaman tante
saya, semua anak yang perempuan disekolahkan juga.
Boleh sekolah ke Jawa ataupun di
Bali.
Diberikan kesempatan itu, akhirnya banyak
yang menjadi wanita sukses, seperti ada yang menjadi ahli
filsafat dan ada anak perempuan menjadi salah satu hakim agung
senior di Jakarta. Jadi kakek saya
tidak pernah membeda-bedakan anaknya.
Lalu, kenapa Anda memilih menjadi dokter?
Lucu sekali itu.
Dulu saya melihat kakak-kakak Legong itu
pada umur-umur tertentu berhenti menari karena kawin, kemudian
membuat warung kopi. Sehingga
banyak yang mengatakan pedagang itu mantan penari Legong.
Hal ini hampir semua dilakukan oleh
kakak-kakak Legong generasi sebelum saya.
Dengan kejadian itu saya ingin menunjukkan
bahwa penari itu bukan orang bodoh.
Bahkan penari itu adalah orang yang sangat berisi.
Jadi saya tidak menghalangi diri untuk
bersekolah terus. Bahkan saya
merasakan dengan menari pelajaran itu bisa lebih maju.
Buktinya, dulu saya pernah menjadi bintang
pelajar SMP se-Bali. Dengan menari,
selain otak kiri, otak kanan juga berjalan dengan baik.
Anehnya, kalau malamnya menari besoknya
saya pasti mendapat nilai sepuluh.
Padahal tidak dapat tidur. Saat
menjadi siswa SMA, saya kembali dicalonkan menjadi bintang
pelajar. Tetapi sayang, pada saat
itu saya harus berangkat ke luar negeri membawa misi kesenian.
Atau menjadi dokter
mungkin juga karena saya sebagai anak pertama yang harus
bertanggung jawab atau mungkin juga karena ayah saya juga
seorang dokter.
* pewawancara:
budarsana
BIODATA
Nama
: Dr. dr. Ayu Bulantrisna
Djelantik
Lahir
: Devender, Nederland, 8 September 1947
Suami
: Djoko Tom Soejoto
Anak
:
Krishna,
Bismo dan Asmara serta 3 cucu
Alamat
: Auburn, California bagian Utara, USA