Jika
Dibina, Semua
Berpotensi dan
Berbakat
Dari Lomba Drama Modern PSR 2005
Lomba
Drama Modern (LDM) pada
Pekan Seni
Remaja (PSR) ke-21
tahun 2005 telah
berlangsung pada
18-23 April 2005, diikuti
oleh 14 peserta
dari 6 teater
SLTP dan 8 teater
SLTA se-Denpasar.
Lomba digelar
di SMKN 5
Denpasar dan
di SMAN 1
Denpasar. Peserta
dari tingkat
SLTP masing-masing SMPN 1, SMPN 2,
SMPN 3, SMPN 7, SMPK Santo Yoseph,
dan SMP Harapan
Nusantara.
Sedangkan dari SLTA
masing-masing SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3,
SMAN 4, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 7, dan
SMAK Santo Yoseph
Denpasar. Dewan
juri untuk
tingkat SLTP
adalah Gus Martin, Oka
Rusmini, dan
Wayan Suardika,
sedangkan untuk
SLTA adalah Kadek
Suartaya, Mas
Ruscitadewi, dan
Nuryana Asmaudi.
------------------
HAL
paling menonjol yang
nampak pada
lomba kali ini
adalah semangat
yang menggebu
dari semua
peserta, meski
pelaksanaan lomba
yang disiapkan
panitia kurang
memadadai. Namun
karena semangat
berteater dari
seluruh peserta
cukup tinggi,
maka mereka
tetap mengikuti
lomba dengan
baik, dengan
semangat
kemandirian dan
keprihatinan
masing-masing.
Ada
teater sekolah
yang mengalami
kemajuan, ada yang
tak berkembang,
bahkan ada
juga yang
mengalami penurunan
kualitas jika
dibanding tahun
lalu.
Yang juga
cukup
menggembirakan pada
lomba kali ini,
ada keberanian
dari beberapa
teater sekolah
yang mengangkat
naskah-naskah besar yang
biasa dimainkan
oleh teater
profesional.
Naskah-naskah itu
misalnya "Umang-Umang"
(Arifin C. Noor),
"Gerr" (Putu
Wijaya), "Orang
Asing" (Adaptasi
D.Jaya Kusuma),
"Peti Mati"
(Ko Pao
Kun), hingga "Kisah
Cinta dan
Lain-lain" (Arifin
C.Noor).
Selebihnya mengangkat
naskah-naskah
dari Bali, semisal "Tiga
Tikus" (Putu
Satria Kusuma),
"Peti" (Gus Martin), "Upacara
Tengah Malam",
"Sang Pelamar" (Oka
Rusmini), "Bui" (Syahruwardi
Abbas), hingga
"Rumah Bunga"
(Mas Ruscitadewi).
Keberanian
menggarap
naskah-naskah besar
itu tentu
perlu dihargai.
Hanya saja,
mengangkat naskah
besar perlu
persiapan yang
memadai, kesungguhan,
serta kemampuan
dan strategi
memainkannya.
Kelemahan
peserta yang
memainkan naskah
besar nampak
pada stamina yang
kurang terjaga,
dinamika
permainan yang lemah,
karakter naskah
dan penokohannya
belum terangkat.
Rata-rata mereka
hanya sekadar
bermain dengan
berpanjang-panjang (berlama-lama).
Banyak yang
kedodoran, tak
mampu menjaga
greget dan
dinamika
permainan, apalagi
mereka kurang
berani (kurang
mampu?)
menyunting cerita (naskah).
Untuk
kelompok yang
memainkan naskah
panjang yang
ceritanya mengedepankan
konflik
psikologis, misalnya,
nampak kurang
bisa mengangkat
karakter cerita
dan penokohannya,
juga kurang
mampu membangun
greget serta
dinamika
pemanggungannya, sehingga
pentasnya jadi
dingin, datar
dan membosankan.
Sebaliknya,
naskah yang menonjolkan
tragika dan
konflik dramatika
panggung (terutama
yang melibatkan
banyak pemain/kolosal)
justru cenderung
dimainkan ribut
dan asal
ramai, hingga
nampak semrawut,
gaduh, dan
berisik. Terlebih
lagi, rata-rata
pemainnya tidak
bisa mengontrol
vokal, kurang
sadar ruang,
tak mampu
menjaga bloking
dengan baik,
dan kurang
bisa
mengendalikan emosi.
Perlu
Pembinaan
Tentang
kelemahan vokal
memang rata-rata
dialami oleh
peserta lomba
tahun ini.
Banyak pemain
yang saat
berdialog suaranya
dikeras-keraskan,
bahkan sampai
berteriak-teriak.
Akibatnya, dialognya
tidak bisa
dinikmati,
artikulasinya tak
jelas, dan
permainan jadi
berisik, terlebih
pada drama yang
menggunakan banyak
pemain.
Sepertinya ada
kesalahkaprahan,
mereka mengira
bermain drama
suaranya harus
dikeras-keraskan
dengan teriak-teriak
di panggung.
Banyak
juga pemain
yang irama
ngomongnya terlalu
dimelodramatikkan.
Berbicara dengan
vokal yang
dibesar-besarkan (dibulatkan?)
dan diiramakan
(diindah-indahkan)
seperti orang
sedang baca
puisi atau
berdeklamasi.
Lagi-lagi ada
kesalahkaprahan,
mereka mengira
bermain drama itu
suaranya harus
dibesar-besarkan,
dibulatkan, dan
diiramakan
sedemikian rupa agar
terdengar indah.
Akibatnya, dialog
jadi tidak
wajar, kaku,
monoton, stamina
pemain pun jadi
terkuras.
Ironisnya lagi,
vokal yang
dibuat-buat itu
tidak selaras
dengan karakter
tokoh yang
diperankan.
Pada
sisi permainan,
masih banyak
pula kelompok
teater yang terlalu
memaksakan diri
untuk memasukkan
unsur humor dalam
dramanya. Ini
memang selalu
terjadi dalam
setiap LDM PSR.
Ada semacam
kecenderungan di
kalangan
anak-anak remaja/sekolahan,
bahwa drama itu
harus lucu
dan memancing
gerr penonton,
sampai drama yang
serius pun dipaksa
diselingi humor
berkepanjangan hingga
menodai
permainannya sendiri.
Adegan yang sudah
dibangun serius
dari awal
menjadi buyar.
Akibatnya
pertunjukan drama jadi
kurang utuh.
Dinamika
permainan juga
banyak yang
kurang bisa
dibangun oleh
sebagian besar
peserta, terutama
pada
kelompok-kelompok yang bemain
dengan durasi
panjang.
Kebetulan LDM PSR kali ini
memang diberi
waktu cukup
lama, yakni tiga
jam untuk
persiapan dan
permainan bagi
masing-masing
peserta, sehingga
banyak di
antara mereka
yang keasyikan
untuk berlama-lama
manggung tanpa
mempertimbangkan
kualitas pementasannya.
Hanya
beberapa kelompok
teater peserta
saja yang mampu
memanfaatkan
kesempatan (waktu)
tersebut dengan
bermain lumayan
bagus, bisa
mengangkat
karakter naskah
dan penokohannya,
menjaga keutuhan
cerita, menata
bloking dengan
baik, para
pemainnya bermain
kompak dan
bisa
mengendalikan emosi,
membangun greget,
menjaga dinamika
permainan dan
estetika
pemanggungan, sehingga
suguhan dramanya
utuh dan
bisa dinikmati
oleh penonton.
Sebenarnya,
semua peserta
memiliki potensi
besar dan
bakat yang bagus
dalam bermain
drama. Hanya saja
mereka belum
mendapat
pembinaan secara
maksimal, tepat
dan memadahi,
lantaran berbagai
kendala yang
dihadapi oleh
teater sekolah.
Apalagi
pengumuman dari
panitia PSR
sangat mendadak,
membuat mereka
kurang persiapan.
Diperparah lagi
oleh pelaksanaan
lomba yang kurang
tertangani dengan
baik dan
rapi, tempat
--ruangan atau
gedung -- yang
kurang memadai
untuk bermain
drama.
*
nuryana
asmaudi