kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 1 Mei 2005 tarukan valas
 

GEBYAR


Jika
Dibina, Semua Berpotensi dan Berbakat
Dari Lomba Drama Modern PSR 2005

Lomba Drama Modern (LDM) pada Pekan Seni Remaja (PSR) ke-21 tahun 2005 telah berlangsung pada 18-23 April 2005, diikuti oleh 14 peserta dari 6 teater SLTP dan 8 teater SLTA se-Denpasar. Lomba digelar di SMKN 5 Denpasar dan di SMAN 1 Denpasar. Peserta dari tingkat SLTP masing-masing SMPN 1, SMPN 2, SMPN 3, SMPN 7, SMPK Santo Yoseph, dan SMP Harapan Nusantara. Sedangkan dari SLTA masing-masing SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 7, dan SMAK Santo Yoseph Denpasar. Dewan juri untuk tingkat SLTP adalah Gus Martin, Oka Rusmini, dan Wayan Suardika, sedangkan untuk SLTA adalah Kadek Suartaya, Mas Ruscitadewi, dan Nuryana Asmaudi.

------------------

HAL paling menonjol yang nampak pada lomba kali ini adalah semangat yang menggebu dari semua peserta, meski pelaksanaan lomba yang disiapkan panitia kurang memadadai. Namun karena semangat berteater dari seluruh peserta cukup tinggi, maka mereka tetap mengikuti lomba dengan baik, dengan semangat kemandirian dan keprihatinan masing-masing. Ada teater sekolah yang mengalami kemajuan, ada yang tak berkembang, bahkan ada juga yang mengalami penurunan kualitas jika dibanding tahun lalu.

Yang juga cukup menggembirakan pada lomba kali ini, ada keberanian dari beberapa teater sekolah yang mengangkat naskah-naskah besar yang biasa dimainkan oleh teater profesional. Naskah-naskah itu misalnya "Umang-Umang" (Arifin C. Noor), "Gerr" (Putu Wijaya), "Orang Asing" (Adaptasi D.Jaya Kusuma), "Peti Mati" (Ko Pao Kun), hingga "Kisah Cinta dan Lain-lain" (Arifin C.Noor). Selebihnya mengangkat naskah-naskah dari Bali, semisal "Tiga Tikus" (Putu Satria Kusuma), "Peti" (Gus Martin), "Upacara Tengah Malam", "Sang Pelamar" (Oka Rusmini), "Bui" (Syahruwardi Abbas), hingga "Rumah Bunga" (Mas Ruscitadewi).

Keberanian menggarap naskah-naskah besar itu tentu perlu dihargai. Hanya saja, mengangkat naskah besar perlu persiapan yang memadai, kesungguhan, serta kemampuan dan strategi memainkannya.

Kelemahan peserta yang memainkan naskah besar nampak pada stamina yang kurang terjaga, dinamika permainan yang lemah, karakter naskah dan penokohannya belum terangkat. Rata-rata mereka hanya sekadar bermain dengan berpanjang-panjang (berlama-lama). Banyak yang kedodoran, tak mampu menjaga greget dan dinamika permainan, apalagi mereka kurang berani (kurang mampu?) menyunting cerita (naskah).

Untuk kelompok yang memainkan naskah panjang yang ceritanya mengedepankan konflik psikologis, misalnya, nampak kurang bisa mengangkat karakter cerita dan penokohannya, juga kurang mampu membangun greget serta dinamika pemanggungannya, sehingga pentasnya jadi dingin, datar dan membosankan. Sebaliknya, naskah yang menonjolkan tragika dan konflik dramatika panggung (terutama yang melibatkan banyak pemain/kolosal) justru cenderung dimainkan ribut dan asal ramai, hingga nampak semrawut, gaduh, dan berisik. Terlebih lagi, rata-rata pemainnya tidak bisa mengontrol vokal, kurang sadar ruang, tak mampu menjaga bloking dengan baik, dan kurang bisa mengendalikan emosi.

 

Perlu Pembinaan

Tentang kelemahan vokal memang rata-rata dialami oleh peserta lomba tahun ini. Banyak pemain yang saat berdialog  suaranya dikeras-keraskan, bahkan sampai berteriak-teriak. Akibatnya, dialognya tidak bisa dinikmati, artikulasinya tak jelas, dan permainan jadi berisik, terlebih pada drama yang menggunakan banyak pemain. Sepertinya ada kesalahkaprahan, mereka mengira bermain drama suaranya harus dikeras-keraskan dengan teriak-teriak di panggung.

Banyak juga pemain yang irama ngomongnya terlalu dimelodramatikkan. Berbicara dengan vokal yang dibesar-besarkan (dibulatkan?) dan diiramakan (diindah-indahkan) seperti orang sedang baca puisi atau berdeklamasi. Lagi-lagi ada kesalahkaprahan, mereka mengira bermain drama itu suaranya harus dibesar-besarkan, dibulatkan, dan diiramakan sedemikian rupa agar terdengar indah. Akibatnya, dialog jadi tidak wajar, kaku, monoton, stamina pemain pun jadi terkuras. Ironisnya lagi, vokal yang dibuat-buat itu tidak selaras dengan karakter tokoh yang diperankan.

Pada sisi permainan, masih banyak pula kelompok teater yang terlalu memaksakan diri untuk memasukkan unsur humor dalam dramanya. Ini memang selalu terjadi dalam setiap LDM PSR. Ada semacam kecenderungan di kalangan anak-anak remaja/sekolahan, bahwa drama itu harus lucu dan memancing gerr penonton, sampai drama yang serius pun dipaksa diselingi humor berkepanjangan hingga menodai permainannya sendiri. Adegan yang sudah dibangun serius dari awal menjadi buyar. Akibatnya pertunjukan drama jadi kurang utuh.

Dinamika permainan juga banyak yang kurang bisa dibangun oleh sebagian besar peserta, terutama pada kelompok-kelompok yang bemain dengan durasi panjang. Kebetulan LDM PSR kali ini memang diberi waktu cukup lama, yakni tiga jam untuk persiapan dan permainan bagi masing-masing peserta, sehingga banyak di antara mereka yang keasyikan untuk berlama-lama manggung tanpa mempertimbangkan kualitas pementasannya.   

Hanya beberapa kelompok teater peserta saja yang mampu memanfaatkan kesempatan (waktu) tersebut dengan bermain lumayan bagus, bisa mengangkat karakter naskah dan penokohannya, menjaga keutuhan cerita, menata bloking dengan baik, para pemainnya bermain kompak dan bisa mengendalikan emosi, membangun greget, menjaga dinamika permainan dan estetika pemanggungan, sehingga suguhan dramanya utuh dan bisa dinikmati oleh penonton.

Sebenarnya, semua peserta memiliki potensi besar dan bakat yang bagus dalam bermain drama. Hanya saja mereka belum mendapat pembinaan secara maksimal, tepat dan memadahi, lantaran berbagai kendala yang dihadapi oleh teater sekolah. Apalagi pengumuman dari panitia PSR sangat mendadak, membuat mereka kurang persiapan. Diperparah lagi oleh pelaksanaan lomba yang kurang tertangani dengan baik dan rapi, tempat --ruangan atau gedung -- yang kurang memadai untuk bermain drama.

 

* nuryana asmaudi

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com