kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 1 Mei 2005 tarukan valas
 

CERMIN


Mempersiapkan
Anak Masuk Sekolah

SAYA ibu rumah tangga yang punya usaha kecil-kecilan di rumah, memiliki anak laki-laki yang lahirnya tanggung dengan usia sekolahnya kelak Bu, kebetulan lahirnya bulan September 2000. Menurut tetangga saya yang kebetulan guru di TK, tahun ini sebenarnya sudah bisa masuk sekolah. Tetapi anaknya sangat pemalu dan lengket dengan saya. Tidur juga masih dengan saya, kadang-kadang masih ngompol dan minumnya juga masih ngedot.

Ada teman yang menyarankan agar saya menundanya sampai tahun depan. Tetapi saya berharap dengan masuk sekolah dia bisa lebih mandiri dan tidak terlalu lengket dengan saya. Sebenarnya usia berapa anak siap masuk sekolah?

Ny. Lutfi, Denpasar     

 

Kematangan sekolah adalah suatu kondisi dimana anak telah memiliki kesiapan yang cukup memadai baik secara fisik, psikologis, kognitif dan sosial dalam memenuhi tuntutan  lingkungan formal, lembaga prasekolah atau sekolah yang akan dimasukinya.

 

Kematangan Fisik

Sebenarnya usia anak yang dianggap matang untuk memasuki dunia sekolah adalah pada usia 5 sampai 6 tahun. Namun, dengan makin tingginya kesadaran para orangtua akan pentingnya stimulasi belajar sejak dini, banyak anak-anak yang pada usia 4 tahun sudah menunjukkan minat bersekolah. Bahkan sekarang ada taman bermain untuk anak mulai usia 2,5 tahun. Hal yang perlu diperhitungkan adalah apakah anak sudah mencapai perkembangan fisik dasar yang dibutuhkan untuk mengikuti kegiatan sekolah. Misalnya melompat, berlari, berkoordinasi dengan motorik halus seperti memegang krayon, menendang bola, dsb.

 

Kematangan Mental, Bahasa dan Sosial

Bagaimana tingkat kematangan mental, bahasa dan sosial anak? Ketika memasuki lingkungan baru dengan orang-orang yang masih asing baginya, bagaimana reaksinya? Apakah masih takut-takut dan bersembunyi di balik punggung ibunya, tetapi kemudian mampu bersikap biasa atau malah masih menjerit-jerit ketakutan dan minta pulang. Memang tiap anak memiliki kemampuan beradaptasi yang berbeda-beda, sebagai orangtua Anda harus memahami kecepatan adaptasi anak apakah tergolong cepat, sedang atau lambat.

Sesekali ajaklah anak berkunjung ke TK dekat rumah untuk melihat reaksi anak. Apakah dia tertarik melihat teman bermain dan bernyanyi bersama-sama atau masih cuek-cuek saja?

Bagaimana dorongan bersosialisasi dengan teman sebaya yang ditunjukkannya? Meskipun pemalu tetapi maukah dia bermain dengan teman sebayanya? Kurangnya kesempatan bersosialisasi dengan teman sebaya jangan-jangan yang menyebabkan kelengketan yang sangat tinggi pada figur ibu. Bagi anak-anak yang tidak memiliki teman sebaya di lingkungan rumahdengan masuk lembaga pra-sekolah memang dapat merangsang kemauannya untuk bersosialisasi dengan orang lain. Namun, sekali lagi hanya target sosialisasi dan beradaptasi yang kita tegakkan, sehingga anak dan guru tidak terbebani.

Harus diperhatikan pula bagaimana kemampuan anak memahami tata aturan yang diberlakukan, kontrol diri, pengertian benar-salah dan boleh-tidak boleh, apakah sudah cukup memadai? Jangan sampai di sekolah nantinya, anak hanya akan menjadi "trouble maker" karena memang tidak pernah diajarkan bagaimana mematuhi aturan atau memang masih susah diatur.

Kemampuan berkomunikasi anak pun sudah harus mencapai tahap sempurna. Mampu menyebutkan nama, membuat kalimat dan berkomunikasi secara dialogis dengan orang lain. Ini untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin akan terjadi, dengan kemampuan berkomunikasi yang cukup, maka anak akan mampu menceritakan apa yang sedang terjadi pada dirinya dan apa saja keinginannya.

 

Kemampuan Kognitif

Hal yang sangat perlu diperhatikan oleh para orangtua adalah mengamati bagaimana kemampuan anak berkonsentrasi, daya tangkap dan mengontrol dirinya sehingga nantinya dapat menjaga rentang konsentrasinya hanya pada satu titik yaitu gurunya. Dengan catatan anak di bawah 5 tahun memang hanya mampu berkonsentrasi sampai 20 menit, kemudian mereka akan mengalihkan perhatiannya dan beristirahat selama beberapa menit untuk mampu berkonsentrasi kembali.

 

Mempersiapkan Anak Masuk TK

Tidak perlu terburu-buru Bu, justru PR ibu cukup banyak untuk mempersiapkannya agar kelak sekolah tidak menjadi sumber trauma baginya.

Ajarkan kemandirian dan kontrol diri. Kemandirian anak merupakan hal penting yang tidak dapat dikesampingkan. Mulailah ajarkan anak memegang sendok dan garpu secara benar untuk membiasakan makan sendiri, secara bertahap ganti dot dengan gelas, latihlah memegang pensil untuk menulis, mengontrol gerakan-gerakannya terutama gerakan kasarnya seperti berjalan, berlari atau melompat dengan hati-hati. Belajar membuka dan menutup celana ketika akan buang air, membersihkan diri setelah buang air besar dan kemampuan mengurus diri sendiri yang lainnya. Atau latihlah anak bagaimana meminta tolong atau meminta izin pada gurunya ketika ingin buang air, kalau memang kemampuannya belum sempurna.

Ini hal yang cukup penting dan harus diperhatikan orangtua, ada beberapa kasus dimana akibat anak mengompol atau buang air di kelas lantas diejek teman-temannya, anak mengalami trauma dan kemudian mogok sekolah.

Pahami kemampuan sosialnya. Kemampuan bersosialisasi dengan teman sebaya dan beradaptasi dengan lingkungan baru pada tiap anak berbeda-beda. Ada anak yang pada hari pertama masuk sekolah tidak perlu lagi ditunggui orangtua atau pengasuhnya, tetapi ada beberapa anak yang memerlukan waktu lama untuk mengadaptasikannya. Kecemasan berpisah (Separated Anxiety) ini wajar terjadi pada anak-anak dengan kemampuan adaptasi yang agak lambat, tetapi dengan kesabaran dan latihan bertahap maka akan menghilang dengan sendirinya.

Amati rentang konsentrasi. Rendahnya rentang konsentrasi anak sering dikeluhkan oleh para guru. Beberapa anak yang cenderung hiperaktif maksimal hanya bertahan duduk selama 10 menit, menit berikutnya dia sudah menjadi "provokator" dan mengganggu teman-temannya. Ini harus diwaspadai para orangtua yang memiliki anak-anak yang cenderung sangat aktif, sukar duduk diam dan susah diatur. Lebih baik berkonsultasilah lebih dulu dengan para ahli (Psikiater Anak, Psikolog dan Speech Therapist) untuk merencanakan dan melakukan terapi guna melatih dan meningkatkan rentang konsentrasi dan kontrol dirinya.

 

* Sebenarnya usia anak yang dianggap matang untuk memasuki dunia sekolah adalah pada usia 5 sampai 6 tahun. Namun, dengan makin tingginya kesadaran para orangtua akan pentingnya stimulasi belajar sejak dini, banyak anak-anak yang pada usia 4 tahun sudah menunjukkan minat bersekolah. Bahkan sekarang ada taman bermain untuk anak mulai usia 2,5 tahun.

* Pahami kemampuan sosialnya. Kemampuan bersosialisasi dengan teman sebaya dan beradaptasi dengan lingkungan baru pada tiap anak berbeda-beda. Ada anak yang pada hari pertama masuk sekolah tidak perlu lagi ditunggui orangtua atau pengasuhnya, tetapi ada beberapa anak yang memerlukan waktu lama untuk mengadaptasikannya.

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com