Mempersiapkan
Anak Masuk
Sekolah
SAYA
ibu rumah
tangga yang punya
usaha
kecil-kecilan di
rumah, memiliki
anak laki-laki
yang lahirnya
tanggung dengan
usia
sekolahnya kelak
Bu, kebetulan
lahirnya bulan September 2000.
Menurut
tetangga saya
yang kebetulan guru
di TK, tahun
ini sebenarnya
sudah bisa
masuk sekolah.
Tetapi
anaknya sangat
pemalu dan
lengket dengan
saya.
Tidur
juga masih
dengan saya,
kadang-kadang
masih ngompol
dan minumnya
juga masih
ngedot.
Ada
teman yang
menyarankan agar saya
menundanya sampai
tahun depan.
Tetapi
saya berharap
dengan masuk
sekolah dia
bisa lebih
mandiri dan
tidak terlalu
lengket dengan
saya.
Sebenarnya usia
berapa anak
siap masuk
sekolah?
Ny.
Lutfi, Denpasar
Kematangan
sekolah adalah
suatu kondisi
dimana anak
telah memiliki
kesiapan yang
cukup memadai
baik secara
fisik, psikologis,
kognitif dan
sosial dalam
memenuhi
tuntutan
lingkungan formal,
lembaga
prasekolah atau
sekolah yang akan
dimasukinya.
Kematangan
Fisik
Sebenarnya
usia
anak yang
dianggap matang
untuk memasuki
dunia sekolah
adalah pada
usia 5 sampai
6 tahun. Namun,
dengan makin
tingginya
kesadaran para
orangtua
akan
pentingnya stimulasi
belajar sejak
dini, banyak
anak-anak yang
pada usia 4
tahun sudah
menunjukkan minat
bersekolah.
Bahkan sekarang
ada taman
bermain untuk
anak mulai
usia 2,5
tahun. Hal yang
perlu
diperhitungkan adalah
apakah anak
sudah mencapai
perkembangan
fisik dasar yang
dibutuhkan untuk
mengikuti
kegiatan sekolah.
Misalnya
melompat, berlari,
berkoordinasi
dengan motorik
halus seperti
memegang krayon,
menendang bola,
dsb.
Kematangan
Mental, Bahasa
dan Sosial
Bagaimana
tingkat
kematangan mental, bahasa
dan sosial
anak?
Ketika
memasuki
lingkungan baru
dengan
orang-orang yang masih
asing baginya,
bagaimana
reaksinya?
Apakah
masih takut-takut
dan bersembunyi
di balik
punggung ibunya,
tetapi kemudian
mampu bersikap
biasa atau
malah masih
menjerit-jerit
ketakutan dan
minta pulang.
Memang
tiap anak
memiliki
kemampuan beradaptasi yang
berbeda-beda,
sebagai orangtua
Anda harus
memahami
kecepatan adaptasi
anak apakah
tergolong cepat,
sedang atau
lambat.
Sesekali
ajaklah anak
berkunjung ke
TK dekat rumah
untuk melihat
reaksi anak.
Apakah
dia tertarik
melihat teman
bermain dan
bernyanyi
bersama-sama atau
masih cuek-cuek
saja?
Bagaimana
dorongan
bersosialisasi dengan
teman sebaya
yang ditunjukkannya?
Meskipun
pemalu tetapi
maukah dia
bermain dengan
teman sebayanya?
Kurangnya
kesempatan
bersosialisasi dengan
teman sebaya
jangan-jangan yang
menyebabkan
kelengketan yang sangat
tinggi pada
figur ibu.
Bagi anak-anak
yang tidak
memiliki teman
sebaya di
lingkungan rumah,
dengan
masuk lembaga
pra-sekolah
memang dapat
merangsang
kemauannya untuk
bersosialisasi
dengan orang lain.
Namun,
sekali lagi
hanya target
sosialisasi dan
beradaptasi yang
kita tegakkan,
sehingga anak
dan guru tidak
terbebani.
Harus
diperhatikan pula
bagaimana kemampuan
anak memahami
tata aturan
yang diberlakukan,
kontrol diri,
pengertian
benar-salah dan
boleh-tidak boleh,
apakah sudah
cukup memadai?
Jangan sampai
di sekolah
nantinya, anak
hanya
akan
menjadi "trouble maker" karena
memang tidak
pernah diajarkan
bagaimana
mematuhi aturan
atau memang
masih susah
diatur.
Kemampuan
berkomunikasi
anak pun sudah
harus mencapai
tahap sempurna.
Mampu menyebutkan
nama,
membuat kalimat
dan berkomunikasi
secara dialogis
dengan orang
lain. Ini untuk
mengantisipasi
hal-hal yang mungkin
akan
terjadi, dengan
kemampuan
berkomunikasi yang cukup,
maka anak
akan mampu
menceritakan apa
yang sedang
terjadi pada
dirinya dan
apa saja
keinginannya.
Kemampuan
Kognitif
Hal yang
sangat perlu
diperhatikan oleh
para orangtua
adalah mengamati
bagaimana
kemampuan anak
berkonsentrasi,
daya tangkap
dan mengontrol
dirinya sehingga
nantinya dapat
menjaga rentang
konsentrasinya
hanya pada
satu titik
yaitu gurunya.
Dengan catatan
anak di
bawah 5 tahun
memang hanya
mampu
berkonsentrasi sampai 20
menit, kemudian
mereka akan
mengalihkan
perhatiannya dan
beristirahat
selama beberapa
menit untuk
mampu
berkonsentrasi kembali.
Mempersiapkan
Anak Masuk
TK
Tidak
perlu
terburu-buru Bu, justru PR
ibu cukup
banyak untuk
mempersiapkannya agar
kelak sekolah
tidak menjadi
sumber trauma
baginya.
Ajarkan
kemandirian dan
kontrol diri.
Kemandirian
anak merupakan
hal penting
yang tidak dapat
dikesampingkan.
Mulailah
ajarkan anak
memegang sendok
dan garpu
secara benar
untuk membiasakan
makan sendiri,
secara bertahap
ganti dot dengan
gelas, latihlah
memegang pensil
untuk menulis,
mengontrol
gerakan-gerakannya terutama
gerakan kasarnya
seperti berjalan,
berlari atau
melompat dengan
hati-hati.
Belajar membuka
dan menutup
celana ketika
akan
buang air,
membersihkan diri
setelah buang
air besar dan
kemampuan
mengurus diri
sendiri yang
lainnya. Atau
latihlah anak
bagaimana meminta
tolong atau
meminta izin
pada gurunya
ketika ingin
buang air, kalau
memang
kemampuannya belum
sempurna.
Ini
hal yang cukup
penting dan
harus
diperhatikan orangtua,
ada beberapa
kasus dimana
akibat anak
mengompol atau
buang air di
kelas lantas
diejek
teman-temannya, anak
mengalami trauma
dan kemudian
mogok sekolah.
Pahami
kemampuan
sosialnya.
Kemampuan
bersosialisasi
dengan teman
sebaya dan
beradaptasi
dengan lingkungan
baru pada
tiap anak
berbeda-beda.
Ada
anak yang pada
hari pertama
masuk sekolah
tidak perlu
lagi ditunggui
orangtua atau
pengasuhnya,
tetapi ada
beberapa anak yang
memerlukan waktu
lama untuk
mengadaptasikannya.
Kecemasan
berpisah (Separated Anxiety) ini
wajar terjadi
pada anak-anak
dengan kemampuan
adaptasi yang
agak lambat,
tetapi dengan
kesabaran dan
latihan bertahap
maka
akan
menghilang dengan
sendirinya.
Amati
rentang
konsentrasi.
Rendahnya
rentang
konsentrasi anak
sering dikeluhkan
oleh para
guru. Beberapa
anak yang
cenderung hiperaktif
maksimal hanya
bertahan duduk
selama 10 menit,
menit berikutnya
dia sudah
menjadi "provokator"
dan mengganggu
teman-temannya.
Ini harus
diwaspadai para
orangtua yang
memiliki anak-anak yang
cenderung sangat
aktif, sukar
duduk diam
dan
susah
diatur. Lebih
baik
berkonsultasilah lebih
dulu dengan
para ahli
(Psikiater Anak,
Psikolog dan
Speech Therapist) untuk
merencanakan dan
melakukan terapi
guna melatih
dan meningkatkan
rentang
konsentrasi dan
kontrol dirinya.
* Sebenarnya
usia
anak yang
dianggap matang
untuk memasuki
dunia sekolah
adalah pada
usia 5 sampai
6 tahun. Namun,
dengan makin
tingginya
kesadaran para
orangtua
akan
pentingnya stimulasi
belajar sejak
dini, banyak
anak-anak yang
pada usia 4
tahun sudah
menunjukkan minat
bersekolah.
Bahkan sekarang
ada taman
bermain untuk
anak mulai
usia 2,5
tahun.
* Pahami
kemampuan
sosialnya.
Kemampuan
bersosialisasi dengan
teman sebaya
dan beradaptasi
dengan lingkungan
baru pada
tiap anak
berbeda-beda.
Ada
anak yang pada
hari pertama
masuk sekolah
tidak perlu
lagi ditunggui
orangtua atau
pengasuhnya,
tetapi ada
beberapa anak yang
memerlukan waktu
lama untuk
mengadaptasikannya.