kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 19 September 2004 tarukan valas
 

BALI


Drama ''Puputan Badung'' dari Australia

Peristiwa ''Puputan Badung'' yang terjadi pada 20 September 1906, hampir satu abad silam, setiap tahun diperingati oleh masyarakat Bali, khususnya yang ada di Badung dan Denpasar. Meskipun demikian, banyak orang yang mungkin tidak tahu tentang latar belakang mengapa peristiwa itu terjadi. Kalaupun orang sedikit tahu tentang kisah puputan itu, kemungkinan hanya mengetahui salah satu versinya, yaitu versi menurut opini atau sudut pandang subjektif orang Bali.

DALAM peristiwa "Puputan Badung", orang Balilah yang telah menjadi korban, dan oleh sebab itu sering kesalahan ditimpakan sepenuhnya pada pihak Belanda. Dengan kata lain, pihak Belanda tidak memperoleh bahasa yang baik dari sudut pandang orang Bali. Tentu saja itu tidak salah.

engan memahami sedikit latar belakang terjadinya peristiwa tersebut barangkali orang dapat melakukan introspeksi untuk menghilangkan "dendam sejarah" yang mungkin ada.

Tentu saja setiap tulisan mengenai sejarah senantiasa merupakan suatu versi, sering menimbulkan kontroversi, bahkan ironi. Adakah kita (baca: orang Bali) ingin mengetahui peristiwa puputan itu dari sudut pandang orang lain? Bagaimanakah orang lain yang "tidak terlibat" dalam konflik berdarah tersebut memahami "Puputan Badung"? Sebuah naskah drama yang ditulis oleh seorang penulis Australia barangkali bisa memberikan gambaran dari sudut pandang yang lain, tentang peristiwa "Puputan Badung" itu.

ahun 1991, di Sydney, Australia, telah terbit sebuah naskah drama berjudul "Bali: Adat" yang ditulis oleh Graham Sheil. Graham Sheil adalah seorang penulis Australia kelahiran Melbourne dan telah menulis cukup banyak karya sastra dalam bentuk cerita pendek, novel, maupun drama. Ya, inilah drama "Puputan Badung" dari Australia.

Sebelum diterbitkan, naskah drama ini telah pernah dimainkan pada 1987 di La Boite Theatre, Brisbane, dan dipentaskan kembali oleh The Melbourne Theatre Company pada Festival Seni di Melbourne tahun 1991. Salah seorang pemainnya ketika itu adalah Tjokorda Raka Kerthyasa dari Puri Ubud.

rama ini ditulis oleh Graham Sheil berdasarkan atas sejumlah referensi sejarah tentang Bali di sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, sebagaimana pernah ditulis oleh Ida Anak Agung Gede Agung, Vicki Baum, Miguel Covarrubias, Adrian Vickers, Antony Forge, Made Bandem, dan Fredrik deBoer, dan penulis lainnya.

Jalan sepanjang Sanur-Denpasar yang kerap dilalui penulisnya saat berada di Bali barangkali menjadi ilham dalam menulis drama ini, karena lintasan peristiwa "Puputan Badung" antara lain terjadi pada lintasan jalan tersebut. ukup menarik untuk mengetahui latar belakang penulisan drama ini. Mengapa seorang penulis Australia begitu berminat menulis drama tentang "Puputan Badung"? Adakah karena itu merupakan wujud ekspresi kecintaannya pada Bali, seperti terungkap dalam wacana sejumlah tokoh dalam drama ini? Sudut pandang seperti apakah yang ingin disumbangkannya untuk memperkaya wacana tentang perang "Puputan Badung"?

Menurut pengarangnya, drama ini memang ditulis untuk memperingati peristiwa "Puputan Badung". Graham Sheil, tanpa menyebutkan secara jelas mengatakan bahwa di Bali ada empat peristiwa puputan besar. Salah satunya adalah Puputan Badung. Meskipun demikian, drama ini ditulis dengan memadatkan kisah sejarah tersebut.

Sejumlah tokoh yang disebutkan di dalamnya memang nyata, baik dari pihak kerajaan Badung maupun pihak Belanda, seperti Anak Agung Ngurah Made Agung (Cokorda Denpasar, Raja Badung), Residen, diplomat, dan pejabat militer Belanda yang saat itu bertugas di Denpasar seperti Van Horring, Hoboeken dan Goitois. Ketiga pejabat tersebut merepresentasikan adanya berbagai perbedaan pandangan dan sikap kalangan anggota pelaksana administrasi pemerintah kolonial Belanda tentang Bali.

Drama ini ditulis dengan pusat pengisahan pada Raja Badung dan kerajaannya pada waktu itu. Peristiwa puputan yang tidak menyenangkan itu ternyata sangat mempengaruhi pemikiran orang Belanda dan pelaksanaan administrasi kolonial Belanda di Bali pada khususnya, setelah kejadian itu.

epuluh tahun sebelum Graham Sheil mementaskan "Bali: Adat" di Australia, pada 1977, Anak Agung Alit Konta (alm.) dari Puri Dangin Kawi, Denpasar, lebih dulu telah menulis sebuah cerita dalam bentuk geguritan dengan judul "Puputan Badung, Bandana Pralaya".

Menurut Anak Agung Alit Konta, karyanya tersebut ditulis berdasarkan sejumlah sumber sejarah, seperti penuturan yang dilakukan oleh sejumlah orang yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut, di antaranya Pan Redep, AA Biang Anom, AA Raka Tegug, dan memanfaatkan sejumlah sumber tertulis seperti kidung "Bhuwana Winasa" dan sejumlah perjanjian antara Belanda dengan Raja Badung.

enurut I Gusti Ngurah Pindha (alm.), sebelum Alit Konta menulis geguritan ini, telah ada pula karya geguritan lain yang mengisahkan tentang Puputan Badung. Selebihnya kisah heroik tersebut lebih sering ditemukan dalam bentuk cerita dari mulut ke mulut.

Drama "Bali: Adat" mengisahkan tentang pertemuan dua kebudayaan, Belanda dan Bali, yang saling bertentangan. "When the Dutch colonised Bali they discovered a Hindu culture which was tottally opposed to their own," ungkap Graham Sheil. Perang "Puputan Badung", menurut Graham Sheil, berakhir pada kekalahan dan kemenangan di kedua belah pihak. Artinya, sesungguhnya tidak ada yang menang maupun kalah dalam perang itu. Dari segi realitas, Belanda memenangkan perang itu, namun dari segi nilai, kehormatan dan harga diri, apa yang dilakukan oleh Raja Badung lebih bernilai.

Graham Sheil, dengan keandalannya dalam aspek retorika dan estetika, telah membuat drama ini menjadi sesuatu yang menarik, baik sebagai bacaan maupun sebagai naskah yang akan dipentaskan. Namun karena drama ini tidak melulu merupakan hasil karya estetik, kemudian penulisannya dilakukan atas sejumlah data sejarah, dan penulisnya pun tidak memiliki kepentingan untuk terlibat dalam konflik Bali vs Belanda tersebut, maka orang bisa menemukan hal-hal yang sangat manusiawi di dalam drama ini.

Drama ini pun tidak melulu menggambarkan kehebatan dan kebaikan tokoh hero, atau yang dianggap orang sebagai hero. Pembaca Bali sepertinya perlu sedikit kearifan dan kesiapan dalam membaca drama ini, terutama bagi mereka yang memiliki hubungan emosional dengan peristiwa "Puputan Badung.

Peristiwa "Puputan Badung" yang terjadi pada 20 September 1906, 98 tahun silam, merupakan peristiwa heroik yang tidak boleh dilupakan, sebagai salah satu tonggak sejarah perjalanan bangsa Indonesia dalam menggapai kemerdekaan. Meskipun peristiwa tersebut bersifat lokal dan terjadi di wilayah Badung, namun ia memiliki makna serta nilai yang sangat luhur, bila dilihat dari upaya bangsa ini dalam mempertahankan harga diri, martabat serta kehormatannya.

Menurut Cokorda Ngurah Gede Pamecutan (alm.), "Puputan Badung" adalah lembaran sejarah yang tak mungkin dapat dilupakan karena merupakan kenangan yang tetap segar dalam ingatan orang tentang kepahlawanan rakyat, para ksatria, pendeta dan raja-raja di Denpasar (Satria, Kesiman) dan Pemecutan yang telah gugur dalam perjuangan menghadapi penjajahan Belanda.

Bangsa Belanda telah menjajah hampir seluruh wilayah nusantara, selama hampir tiga setengah abad, bila dihitung secara kumulatif. Oleh sebab itu, setiap bentuk penentangan dan perlawanan selama masa penjajahan, entah itu dilakukan sebelum atau setelah lahirnya semangat kebangsaan 20 Mei 1908, harus dilihat sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan. Selama masa penjajahan itu, pemerintah kolonial Belanda telah menjadi "musuh bersama" suku-suku bangsa di nusantara, yang mencintai kedamaian dan kemerdekaan. Karena itu, mereka yang gugur dalam pertempuran mempertahankan martabat dan kedaulatan bangsa, selayaknya dihargai sebagai pahlawan nasional.

Peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi di Bali -- Puputan Jagaraga, Klungkung, dan Badung -- tidak hanya Puputan Margarana, semestinya diperingati secara serentak, tidak saja di wilayah-wilayah di mana peristiwa itu terjadi, tetapi juga di seluruh Bali. Karena bertepatan dengan pelaksanaan pilpres tahap II, peringatan hari "Puputan Badung" kali ini rupanya dilakukan tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya.
raham Sheil dari Australia saja memperingati lho.... * windhu sancaya

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com