Menjadi Diri Sendiri,
Anugerah Terbesar Saya
TAK
banyak hal yang berubah pada diri I Gusti Ngurah Putra Wiryanata,
B.A. atau lebih populer dipanggil Pan Kobar ini. Wajahnya masih
tetap ekspresif, suaranya penuh tekanan dalam setiap merangkai
kisah-kisah lama yang terbenam di benaknya. Tidak terlihat bahwa
usianya makin uzur. Semangat masih menggantung tinggi, setiap
masa lalunya diusik, matanya langsung berbinar.
Lahir
di Denpasar, 31 Juli 1932, tentu banyak pengalaman yang bisa
digali darinya. Karena, di dalam perjalanan hidupnyalah semua
sejarah stasiun RRI bisa dicukil. Misalnya, dari situ bisa
diambil maknanya, bagaimana dengan SDM yang sedikit beragam
pekerjaan bisa diselesaikan. "Kuncinya, orang-orang dulu
itu mau belajar. Malu rasanya kalau kerja di ruang publik dengan
kualitas yang payah," papar Putra serius. Lelaki bertubuh
besar, kakek sebelas cucu ini, memang dibesarkan pada masa-masa
sulit. Di mana pendidikan dan kehausan menggali informasi
menjadi prioritas untuk orang-orang yang ingin maju. Hasilnya,
bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan Jepang pun dikuasainya.
Yang menarik dari tokoh
satu ini adalah sulitnya mengorek peran besar yang telah
dibuatnya untuk kemajuan RRI Denpasar, sekali pun tidak memegang
jabatan penting. Baginya, telah membuat masyarakat Bali senang
adalah hal termahal yang dimilikinya. Ayah empat anak yang
tadinya berprofesi sebagai guru ini ternyata sangat prihatin
dengan kondisi generasi muda saat ini. Suatu hari, pernah sebuah
sekolah menerimanya sebagai tenaga guru bahasa asing. "Beda
jauh kondisi anak-anak sekarang dengan dulu. Dulu murid sangat
hormat pada guru, sekarang tidak lagi. Mungkin karena saya
berasal dari pendidikan sebuah masa lalu, saya pun stres dengan
kondisi murid-murid sekarang," suaranya terdengar berat.
Lantas, dengan berat hati dia pun mengundurkan diri sebagai
tenaga guru -- sebuah profesi yang sangat dicintainya.
Putra sepertinya sadar,
hidup adalah rangkaian-rangkaian air yang mudah pecah dan tidak
bisa diduga kapan pecah. Kesadaran dan hidupnya yang sublim
membuat karakternya biasa-biasa saja. Dia tidak memimpikan jadi
tokoh atau ditulis heroik di dalam buku-buku sejarah atau
dikenang besar-besaran. "Bagi saya menjadi diri sendiri
seperti saat ini adalah anugerah terbesar," paparnya tenang.
Di rumahnya yang penuh hiasan lukisan barong dan akuarium
besar-besar adalah temannya mengisi hari-hari tua bersama istri
yang disuntingnya pada 12 Februari 1959. "Saya bertemu
istri ketika sama-sama bekerja di RRI Denpasar," paparnya
tersenyum.
Ketuaan agaknya tidak
membuat Putra harus diam saja, masih banyak orang-orang yang
mencarinya. Bahkan saat ini dia terikat kontrak dengan sebuah PH
asal Jerman yang memilihnya sebagai pemain dalam film mereka.
Kepiawaian berekspresi dan memainkan peran ternyata diperoleh
Putra dari sang sutradara dan penulis naskah TV dan drama
terbaik Bali, Ida Bagus Anom Ranuara, di bawah bendera Teater
Mini Badung yang fenomenal itu. "Dari pak Anom Ranuara-lah
saya baru menemukan jati diri menjadi manusia yang lain. Anehnya,
entah mengapa saya ini selalu mendapat peran antagonis.
Kadang-kadang ada juga penggemar saya yang protes. Tapi bagi
saya setiap peran yang disodorkan pak Anom itu membuat saya
belajar banyak dan lebih memahami orang lain," papar Putra.
Pendidikan, pengalaman
hidup, gesekan-gesekan hidup yang tumpang tindih membuat lelaki
yang masih energik ini memang terlihat tetap gagah, tetap
memiliki konsentrasi jernih menghafal tahun-tahun bersejarah
dalam hidupnya. Olah raga tenis juga jadi pilihannya untuk
menjaga kebugaran. "Satu minggu bisa lima kali,"
paparnya soal bermain tenis itu. Lalu, apa lagi yang diinginkan?
"Saya bersyukur telah bisa melihat, merasakan, dan menjadi
apa saja yang saya inginkan. Saya bisa melihat anak-anak saya
tumbuh jadi sarjana, menikah. Saya juga bisa melihat cucu saya.
Apa lagi, tinggal menunggu SMS dari Sang Hyang Suratma saja,"
paparnya tertawa sambil melambai dari pintu masuk rumahnya.
Tubuhnya tetap tegak, sorot matanya tajam, menunjukkan energi
hidup masih betah tumbuh di dalam tubuhnya. (osi)
|