kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 12 September 2004 tarukan valas
 

POTRET


Menjadi Diri Sendiri, Anugerah Terbesar Saya

TAK banyak hal yang berubah pada diri I Gusti Ngurah Putra Wiryanata, B.A. atau lebih populer dipanggil Pan Kobar ini. Wajahnya masih tetap ekspresif, suaranya penuh tekanan dalam setiap merangkai kisah-kisah lama yang terbenam di benaknya. Tidak terlihat bahwa usianya makin uzur. Semangat masih menggantung tinggi, setiap masa lalunya diusik, matanya langsung berbinar.

Lahir di Denpasar, 31 Juli 1932, tentu banyak pengalaman yang bisa digali darinya. Karena, di dalam perjalanan hidupnyalah semua sejarah stasiun RRI bisa dicukil. Misalnya, dari situ bisa diambil maknanya, bagaimana dengan SDM yang sedikit beragam pekerjaan bisa diselesaikan. "Kuncinya, orang-orang dulu itu mau belajar. Malu rasanya kalau kerja di ruang publik dengan kualitas yang payah," papar Putra serius. Lelaki bertubuh besar, kakek sebelas cucu ini, memang dibesarkan pada masa-masa sulit. Di mana pendidikan dan kehausan menggali informasi menjadi prioritas untuk orang-orang yang ingin maju. Hasilnya, bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan Jepang pun dikuasainya.

Yang menarik dari tokoh satu ini adalah sulitnya mengorek peran besar yang telah dibuatnya untuk kemajuan RRI Denpasar, sekali pun tidak memegang jabatan penting. Baginya, telah membuat masyarakat Bali senang adalah hal termahal yang dimilikinya. Ayah empat anak yang tadinya berprofesi sebagai guru ini ternyata sangat prihatin dengan kondisi generasi muda saat ini. Suatu hari, pernah sebuah sekolah menerimanya sebagai tenaga guru bahasa asing. "Beda jauh kondisi anak-anak sekarang dengan dulu. Dulu murid sangat hormat pada guru, sekarang tidak lagi. Mungkin karena saya berasal dari pendidikan sebuah masa lalu, saya pun stres dengan kondisi murid-murid sekarang," suaranya terdengar berat. Lantas, dengan berat hati dia pun mengundurkan diri sebagai tenaga guru -- sebuah profesi yang sangat dicintainya.

Putra sepertinya sadar, hidup adalah rangkaian-rangkaian air yang mudah pecah dan tidak bisa diduga kapan pecah. Kesadaran dan hidupnya yang sublim membuat karakternya biasa-biasa saja. Dia tidak memimpikan jadi tokoh atau ditulis heroik di dalam buku-buku sejarah atau dikenang besar-besaran. "Bagi saya menjadi diri sendiri seperti saat ini adalah anugerah terbesar," paparnya tenang. Di rumahnya yang penuh hiasan lukisan barong dan akuarium besar-besar adalah temannya mengisi hari-hari tua bersama istri yang disuntingnya pada 12 Februari 1959. "Saya bertemu istri ketika sama-sama bekerja di RRI Denpasar," paparnya tersenyum.

Ketuaan agaknya tidak membuat Putra harus diam saja, masih banyak orang-orang yang mencarinya. Bahkan saat ini dia terikat kontrak dengan sebuah PH asal Jerman yang memilihnya sebagai pemain dalam film mereka. Kepiawaian berekspresi dan memainkan peran ternyata diperoleh Putra dari sang sutradara dan penulis naskah TV dan drama terbaik Bali, Ida Bagus Anom Ranuara, di bawah bendera Teater Mini Badung yang fenomenal itu. "Dari pak Anom Ranuara-lah saya baru menemukan jati diri menjadi manusia yang lain. Anehnya, entah mengapa saya ini selalu mendapat peran antagonis. Kadang-kadang ada juga penggemar saya yang protes. Tapi bagi saya setiap peran yang disodorkan pak Anom itu membuat saya belajar banyak dan lebih memahami orang lain," papar Putra.

Pendidikan, pengalaman hidup, gesekan-gesekan hidup yang tumpang tindih membuat lelaki yang masih energik ini memang terlihat tetap gagah, tetap memiliki konsentrasi jernih menghafal tahun-tahun bersejarah dalam hidupnya. Olah raga tenis juga jadi pilihannya untuk menjaga kebugaran. "Satu minggu bisa lima kali," paparnya soal bermain tenis itu. Lalu, apa lagi yang diinginkan? "Saya bersyukur telah bisa melihat, merasakan, dan menjadi apa saja yang saya inginkan. Saya bisa melihat anak-anak saya tumbuh jadi sarjana, menikah. Saya juga bisa melihat cucu saya. Apa lagi, tinggal menunggu SMS dari Sang Hyang Suratma saja," paparnya tertawa sambil melambai dari pintu masuk rumahnya. Tubuhnya tetap tegak, sorot matanya tajam, menunjukkan energi hidup masih betah tumbuh di dalam tubuhnya. (osi)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com