kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Paing, 12 September 2004 tarukan valas
 

OPINI


''Pak Made, Please Pray for Me...''

KALAU bulan April, bagi manusia sedunia, dianggap bernuansa cinta dan gosip lewat "April Love" dan "April Move", bulan September justru berkesan sebaliknya. Menyeramkan dan bau darah! Sembilan puluh delapan tahun silam, tanggal 19 dan 20, terjadi pembantaian besar-besaran oleh serdadu kolonial Hindia Belanda terhadap rakyat Denpasar, yang kemudian dikenal dengan Puputan Badung. Akibat peristiwa 30 September 1965 yang disingkat jadi Gestapu, selain menewaskan enam jenderal TNI-AD dan seorang perwira pertama ribuan rakyat yang di antaranya tidak tahu apa dosanya, juga terbantai sebagai akibatnya.

Kemudian, 11 September 2001, gedung kembar pencakar langit WTC New York dihantam dua pesawat jet komersial bajakan, menyebabkan gedung kebanggaan kapitalisme tersebut rata jadi tanah dan juga menewaskan 3.000 orang lebih. Malah ketika terjadi usaha pembebasan sandera di Ossetia Rusia bulan September ini, 350 nyawa yang kebanyakan anak-anak, melayang. Permukaan bumi jadi kemerah-merahan tersiram darah, karena aura kemarahan dan dendam menyelimuti sosok manusia, yang dengan bangga menyebut diri mahluk paling sempurna ciptaan Tuhan.

''Semoga Pemilu Presiden dan Wakil Presiden putaran kedua, 20 September mendatang, tidak terpengaruh aura kekerasan yang dipancarkan bulan September. Kalau kerusuhan sampai terjadi, jangan-jangan Indonesia yang dianalogikan George Junus Adicondro sebagai cermin yang retak, benar-benar jadi pecah seribu alias berantakan,'' renung Rubag sembari membayangkan kerusuhan yang terjadi di berbagai belahan dunia yang disaksikannya lewat layar kaca dan dibacanya di koran.

Saat larut dalam renungan, Rubag yang siang itu duduk di piasan sanggah-nya, tiba-tiba dikejutkan teriakan histeris anak-anaknya yang memintanya bergegas ke ruang tamu. Tiba di tempat anak-anak, menantu serta cucu-cucunya berkumpul, tanpa menerangkan apa yang terjadi, dia ditunjukkan pemandangan yang tertayang di layar kaca. Melihat panorama menyeramkan serta mendengar komentar reporter TV, dia tahu bahwa menjelang tengah hari terjadi ledakan bom di gedung Kedutaan Besar Australia, Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Bom berdaya ledak besar, yang suaranya konon bisa terdengar hingga jarak 15 km tersebut, telah menewaskan sembilan korban, melukai ratusan orang serta memporak-porandakan TKP. Suara sirene dari mobil ambulance dan pemadam kebakaran, mengingatkannya pada Tragedi Legian Kuta, dua tahun silam.

Tanpa ingin mendengar atau melihat lebih lanjut tutur serta komentar para saksi mata, yang semuanya tampak mengalami shock berat dan berbicara dengan bibir gemetar, Rubag kembali ke tempat dia sebelumnya merenung. Perasaan geram, kecewa, murah dan waswas bercampur aduk di hatinya, kendati secara pribadi dia tidak punya urusan dengan para pelaku maupun korban peledakan itu. Sebagai manusia normal yang masih punya perasaan dan otak rasional, rasa kemanusiaannya benar-benar tersentuh. Padahal peristiwa Bom Legian dan Hotel Marriot Jakarta yang menewaskan ratusan turis mancanegara dan puluhan orang lokal, masih melekat segar pada memori hitam sejarah kita. Malah karena peristiwa yang berturut-turut terjadi tersebut, oleh pihak asing Indonesia dicap sebagai gudang teroris. Celakanya, anak-anak bangsa yang tidak tahu urusan, yang kini berdomisili di Australia menuai buah yang tidak ditanamnya, terancam deportasi dan evakuasi, sehingga harus angkat kaki dari Australia meninggalkan profesi studinya.

***

Rubag sulit membayangkan masa depan bangsa yang selain mengalami berbagai krisis nasional, kini seakan-akan sengaja menciptakan krisis internasional lewat bom. Ini merupakan tindakan bunuh diri akibat kekecewaan karena ketidakmampuan menanggulangi krisis yang kemudian berkembang biak menjadi multikrisis. Krisis sosial tersebut bisa dianalogikan dengan kondisi kritis dalam dunia medis. Seseorang yang awalnya menderita satu macam penyakit, namun akhirnya mengalami komplikasi, baik karena daya tahan tubuhnya terhadap serangan penyakit berkurang maupun karena ketidaktahuannya jenis-jenis pantangan yang harus dilakukan saat proses pengobatan. Penyakit yang menggerayangi banyak organ dalam tubuh tersebut, berimplikasi juga pada otak pasien, sehingga menyebabkannya frustrasi. Sayang, egoisme yang kelewat besar membuat pasien tersebut ngamuk, dengan pertimbangan bahwa kalau dia mati akibat tidak tersembuhkan, orang-orang lain pun harus ikut mati dan bila perlu dunia juga harus ikut kiamat. Dia tidak rasional lagi, bahkan lupa kalau masih memiliki sanak-saudara, yang akan ikut menanggung akibat perbuatannya.

Bali khususnya, yang pasca-Bom Legian Kuta belum pulih benar kesehatan ekonominya, secara bertubi-tubi terserang masalah yang menghambat proses penyembuhan. Dari isu flu burung, demam berdarah, pencabutan kebijakan bebas visa untuk kunjungan singkat diganti visa on arrival, rencana pungutan US$ 30-40 buat keselamatan setiap wisatawan oleh YLKMI, sekarang kembali diguncang Tragedi Bom Kuningan. Rubag mengkhawatirkan, bila pemerintah Australia secara serius dan ketat melarang warganya berkunjung ke Bali lewat Travel Ban, suasana Kuta dan sekitarnya akan seperti saat Ketut Tantri, pengarang buku ''Revolusi di Nusa Damai'' berdomisili di daerah itu.

Sepi sunyi hanya terdengar debur ombak. Sebab, sehingga kini, mayoritas wisatawan yang berkunjung dan menginap di Kuta adalah warga Kangguru, yang menganggap Kuta sebagai back yard atau halaman belakang rumahnya. Mereka kebanyakan mengabaikan travel advisory yang masih diberlakukan pemerintah Australia pada warganya yang bersikeras untuk berlibur di Bali, dengan risiko ditanggung sendiri. Sekarang, bila kedutaan besar mereka, yang bisa dianggap representasi pemerintah Australia diserang, apakah kemarahan tidak menghapus cinta mereka pada Bali atau Kuta khususnya?

***

Rubag sering mendengar pidato, yang oratornya membusungkan dada mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Secara demografis dan geografis, dia membenarkan ucapan itu. Namun dari berbagai kemelut yang seakan-akan tidak henti-hentinya terjadi di berbagai sektor kehidupan, dia meragukan kebesaran tersebut. Kita nyaris tidak bersuara di bidang iptek, bahkan kering dari hadiah Nobel. Di bidang ekonomi, kita nyaris tersalip Vietnam, yang otak-otak pemimpinnya masih terbalut doktrin komunisme. Ironisnya, di mall dan swalayan berlimpah barang-barang produk negara Tirai Bambu, yang tidak kalah kadar kekomunisannya dibanding Vietnam. Malah dengan penduduk 220 juta, kita hanya mengantongi satu dari empat medali emas yang disediakan cabang bulu tangkis di Olympiade 2004 Athena. Namun dari sudut kerusuhan, baik kerusuhan antarsesama warga bangsa maupun dengan pihak asing, khususnya terorisme, kita menempati ranking anak tangga. Bom di Kedubes Australia Kamis 9 September bisa mengatrol peringkat lebih ke atas.

''Kebesaran'' yang aneh ini, dikhawatirkan akan menyebabkan Indonesia terkucilkan dalam pergaulan masyarakat dunia. Kebudayaan kita, yang sempat digembar-gemborkan bernilai tinggi dan juga pernah digunakan sebagai alat misi perdamaian buat menjalin hubungan diplomatik, bisa dianggap sebagai topeng. Topeng untuk menutupi kebrutalan dan kebengisan wajah sebenarnya yang bersembunyi di baliknya. Suara gamelan yang biasanya memukau pun didengar seperti suara genderang perang yang terkamuflase. Gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Gara-gara ulah segelintir orang yang terpikat mitologi kenikmatan sorgawi lalu merusak kehidupan duniawi, sehingga seluruh warga bangsa terkena getahnya. Mudah-mudahan masyarakat dunia memahami, bahwa masih banyak jumlah warga bangsa Indonesia yang cinta perdamaian dan persahabatan, meskipun mereka tidak akur dengan segala bentuk penjajahan.

''Pak Made, I don't understand people like that. Please pray for me to keep those mad extremist out of your beautiful home. You don't deserve it!'' Rubag menerima SMS dari Troy, warga Melbourne yang berkunjung ke Bali minimal tiga kali setahun, sebagai respons atas permintaan maaf Rubag atas bom yang meledak di kedubesnya di Jakarta.

Tanpa diminta pun Rubag jadi lebih sering sembahyang dan berdoa setelah Tragedi Bom 12 Oktober 2002 di Legian Kuta. Agaknya, bukan hanya dia, namun sebagian besar warga Bali melakukan hal yang sama, karena daerahnya yang dulu terkenal paling aman dan damai, tiba-tiba dijadikan kancah perang. Padahal masyarakat Bali, meskipun merasa terserang dari berbagai sudut, namun tidak memperlakukan para penyerangnya sebagai musuh yang harus dilenyapkan. Mereka berperang lewat doa. Sebab, itulah salah satu bagian dari konsep ajeg Bali.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com