''Pak Made, Please
Pray for Me...''
KALAU
bulan April, bagi manusia sedunia, dianggap bernuansa cinta dan
gosip lewat "April Love" dan "April Move",
bulan September justru berkesan sebaliknya. Menyeramkan dan bau
darah! Sembilan puluh delapan tahun silam, tanggal 19 dan 20,
terjadi pembantaian besar-besaran oleh serdadu kolonial Hindia
Belanda terhadap rakyat Denpasar, yang kemudian dikenal dengan
Puputan Badung. Akibat peristiwa 30 September 1965 yang
disingkat jadi Gestapu, selain menewaskan enam jenderal TNI-AD
dan seorang perwira pertama ribuan rakyat yang di antaranya
tidak tahu apa dosanya, juga terbantai sebagai akibatnya.
Kemudian, 11 September
2001, gedung kembar pencakar langit WTC New York dihantam dua
pesawat jet komersial bajakan, menyebabkan gedung kebanggaan
kapitalisme tersebut rata jadi tanah dan juga menewaskan 3.000
orang lebih. Malah ketika terjadi usaha pembebasan sandera di
Ossetia Rusia bulan September ini, 350 nyawa yang kebanyakan
anak-anak, melayang. Permukaan bumi jadi kemerah-merahan
tersiram darah, karena aura kemarahan dan dendam menyelimuti
sosok manusia, yang dengan bangga menyebut diri mahluk paling
sempurna ciptaan Tuhan.
''Semoga Pemilu Presiden
dan Wakil Presiden putaran kedua, 20 September mendatang, tidak
terpengaruh aura kekerasan yang dipancarkan bulan September.
Kalau kerusuhan sampai terjadi, jangan-jangan Indonesia yang
dianalogikan George Junus Adicondro sebagai cermin yang retak,
benar-benar jadi pecah seribu alias berantakan,'' renung Rubag
sembari membayangkan kerusuhan yang terjadi di berbagai belahan
dunia yang disaksikannya lewat layar kaca dan dibacanya di koran.
Saat larut dalam renungan,
Rubag yang siang itu duduk di piasan sanggah-nya, tiba-tiba
dikejutkan teriakan histeris anak-anaknya yang memintanya
bergegas ke ruang tamu. Tiba di tempat anak-anak, menantu serta
cucu-cucunya berkumpul, tanpa menerangkan apa yang terjadi, dia
ditunjukkan pemandangan yang tertayang di layar kaca. Melihat
panorama menyeramkan serta mendengar komentar reporter TV, dia
tahu bahwa menjelang tengah hari terjadi ledakan bom di gedung
Kedutaan Besar Australia, Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta.
Bom berdaya ledak besar, yang suaranya konon bisa terdengar
hingga jarak 15 km tersebut, telah menewaskan sembilan korban,
melukai ratusan orang serta memporak-porandakan TKP. Suara
sirene dari mobil ambulance dan pemadam kebakaran,
mengingatkannya pada Tragedi Legian Kuta, dua tahun silam.
Tanpa ingin mendengar atau
melihat lebih lanjut tutur serta komentar para saksi mata, yang
semuanya tampak mengalami shock berat dan berbicara dengan bibir
gemetar, Rubag kembali ke tempat dia sebelumnya merenung.
Perasaan geram, kecewa, murah dan waswas bercampur aduk di
hatinya, kendati secara pribadi dia tidak punya urusan dengan
para pelaku maupun korban peledakan itu. Sebagai manusia normal
yang masih punya perasaan dan otak rasional, rasa kemanusiaannya
benar-benar tersentuh. Padahal peristiwa Bom Legian dan Hotel
Marriot Jakarta yang menewaskan ratusan turis mancanegara dan
puluhan orang lokal, masih melekat segar pada memori hitam
sejarah kita. Malah karena peristiwa yang berturut-turut terjadi
tersebut, oleh pihak asing Indonesia dicap sebagai gudang
teroris. Celakanya, anak-anak bangsa yang tidak tahu urusan,
yang kini berdomisili di Australia menuai buah yang tidak
ditanamnya, terancam deportasi dan evakuasi, sehingga harus
angkat kaki dari Australia meninggalkan profesi studinya.
***
Rubag sulit membayangkan
masa depan bangsa yang selain mengalami berbagai krisis nasional,
kini seakan-akan sengaja menciptakan krisis internasional lewat
bom. Ini merupakan tindakan bunuh diri akibat kekecewaan karena
ketidakmampuan menanggulangi krisis yang kemudian berkembang
biak menjadi multikrisis. Krisis sosial tersebut bisa
dianalogikan dengan kondisi kritis dalam dunia medis. Seseorang
yang awalnya menderita satu macam penyakit, namun akhirnya
mengalami komplikasi, baik karena daya tahan tubuhnya terhadap
serangan penyakit berkurang maupun karena ketidaktahuannya
jenis-jenis pantangan yang harus dilakukan saat proses
pengobatan. Penyakit yang menggerayangi banyak organ dalam tubuh
tersebut, berimplikasi juga pada otak pasien, sehingga
menyebabkannya frustrasi. Sayang, egoisme yang kelewat besar
membuat pasien tersebut ngamuk, dengan pertimbangan bahwa kalau
dia mati akibat tidak tersembuhkan, orang-orang lain pun harus
ikut mati dan bila perlu dunia juga harus ikut kiamat. Dia tidak
rasional lagi, bahkan lupa kalau masih memiliki sanak-saudara,
yang akan ikut menanggung akibat perbuatannya.
Bali khususnya, yang
pasca-Bom Legian Kuta belum pulih benar kesehatan ekonominya,
secara bertubi-tubi terserang masalah yang menghambat proses
penyembuhan. Dari isu flu burung, demam berdarah, pencabutan
kebijakan bebas visa untuk kunjungan singkat diganti visa on
arrival, rencana pungutan US$ 30-40 buat keselamatan setiap
wisatawan oleh YLKMI, sekarang kembali diguncang Tragedi Bom
Kuningan. Rubag mengkhawatirkan, bila pemerintah Australia
secara serius dan ketat melarang warganya berkunjung ke Bali
lewat Travel Ban, suasana Kuta dan sekitarnya akan seperti saat
Ketut Tantri, pengarang buku ''Revolusi di Nusa Damai''
berdomisili di daerah itu.
Sepi sunyi hanya terdengar
debur ombak. Sebab, sehingga kini, mayoritas wisatawan yang
berkunjung dan menginap di Kuta adalah warga Kangguru, yang
menganggap Kuta sebagai back yard atau halaman belakang rumahnya.
Mereka kebanyakan mengabaikan travel advisory yang masih
diberlakukan pemerintah Australia pada warganya yang bersikeras
untuk berlibur di Bali, dengan risiko ditanggung sendiri.
Sekarang, bila kedutaan besar mereka, yang bisa dianggap
representasi pemerintah Australia diserang, apakah kemarahan
tidak menghapus cinta mereka pada Bali atau Kuta khususnya?
***
Rubag sering mendengar
pidato, yang oratornya membusungkan dada mengatakan bahwa bangsa
Indonesia adalah bangsa yang besar. Secara demografis dan
geografis, dia membenarkan ucapan itu. Namun dari berbagai
kemelut yang seakan-akan tidak henti-hentinya terjadi di
berbagai sektor kehidupan, dia meragukan kebesaran tersebut.
Kita nyaris tidak bersuara di bidang iptek, bahkan kering dari
hadiah Nobel. Di bidang ekonomi, kita nyaris tersalip Vietnam,
yang otak-otak pemimpinnya masih terbalut doktrin komunisme.
Ironisnya, di mall dan swalayan berlimpah barang-barang produk
negara Tirai Bambu, yang tidak kalah kadar kekomunisannya
dibanding Vietnam. Malah dengan penduduk 220 juta, kita hanya
mengantongi satu dari empat medali emas yang disediakan cabang
bulu tangkis di Olympiade 2004 Athena. Namun dari sudut
kerusuhan, baik kerusuhan antarsesama warga bangsa maupun dengan
pihak asing, khususnya terorisme, kita menempati ranking anak
tangga. Bom di Kedubes Australia Kamis 9 September bisa
mengatrol peringkat lebih ke atas.
''Kebesaran'' yang aneh
ini, dikhawatirkan akan menyebabkan Indonesia terkucilkan dalam
pergaulan masyarakat dunia. Kebudayaan kita, yang sempat
digembar-gemborkan bernilai tinggi dan juga pernah digunakan
sebagai alat misi perdamaian buat menjalin hubungan diplomatik,
bisa dianggap sebagai topeng. Topeng untuk menutupi kebrutalan
dan kebengisan wajah sebenarnya yang bersembunyi di baliknya.
Suara gamelan yang biasanya memukau pun didengar seperti suara
genderang perang yang terkamuflase. Gara-gara nila setitik rusak
susu sebelanga. Gara-gara ulah segelintir orang yang terpikat
mitologi kenikmatan sorgawi lalu merusak kehidupan duniawi,
sehingga seluruh warga bangsa terkena getahnya. Mudah-mudahan
masyarakat dunia memahami, bahwa masih banyak jumlah warga
bangsa Indonesia yang cinta perdamaian dan persahabatan,
meskipun mereka tidak akur dengan segala bentuk penjajahan.
''Pak Made, I don't
understand people like that. Please pray for me to keep those
mad extremist out of your beautiful home. You don't deserve
it!'' Rubag menerima SMS dari Troy, warga Melbourne yang
berkunjung ke Bali minimal tiga kali setahun, sebagai respons
atas permintaan maaf Rubag atas bom yang meledak di kedubesnya
di Jakarta.
Tanpa diminta pun Rubag
jadi lebih sering sembahyang dan berdoa setelah Tragedi Bom 12
Oktober 2002 di Legian Kuta. Agaknya, bukan hanya dia, namun
sebagian besar warga Bali melakukan hal yang sama, karena
daerahnya yang dulu terkenal paling aman dan damai, tiba-tiba
dijadikan kancah perang. Padahal masyarakat Bali, meskipun
merasa terserang dari berbagai sudut, namun tidak memperlakukan
para penyerangnya sebagai musuh yang harus dilenyapkan. Mereka
berperang lewat doa. Sebab, itulah salah satu bagian dari konsep
ajeg Bali.
* aridus
|