Ba'asyir Mengaku tak
Terlibat
Jakarta (Bali
Post) -
Abu Bakar Ba'asyir mengaku tak terlibat peledakan bom di depan
Kedubes Australia Jakarta belum lama ini. Bahkan, amir tertinggi
Jamaah Islamiyah itu justru mengecam seluruh aksi pengeboman
yang terjadi di Indonesia, yang diduga polisi dilakukan oleh
jaringan Jamaah Islamiyah. Ba'asyir tidak bisa menerima alasan
dan motif apa pun terutama alasan agama, dalam melakukan aksi
terorisme. Maka itu ia minta pengeboman segera dihentikan.
Dia juga meminta polisi
dan pemerintah tidak mengaitkan setiap pengeboman dengan dirinya.
Demikian pesan Ustad Abu Bakar Ba'asyir dari balik terali besi
LP Cipinang seperti yang disampaikan juru bicara Majelis
Mujahidin Indonesia (MMI) Fauzan Al Anshari, Sabtu (11/9)
kemarin. Ba'asyir merupakan pemimpin tertinggi MMI. "Itu
pesan Ustad Ba'asyir yang disampaikan kepada saya," kata
Fauzan.
Dalam kasus bom Kuningan,
Ba'asyir juga punya alibi sangat kuat yakni dia sedang berada di
dalam penjara. Ia tampak melindungi Dr. Azahari. Menurut dia,
bom itu merupakan hasil tangan tiga negara yakni Amerika Serikat,
Israel, dan Australia. "Tidak mungkin bom itu hanya dibuat
oleh Dr. Azahari. Hebat betul dia bisa mengelabuhi intelijen dan
polisi," ujar Fausan menirukan pernyataan Ba'asyir.
Ba'asyir, kata Fauzan,
meminta kepolisian membuktikan kebenaran bila dirinya dituduh
terkait pengeboman ini. Dia meminta polisi tidak ragu-ragu dalam
mengungkap kasus ini, tetapi jangan mengikutkan penyidik
Australia.
Pesan ini sebenarnya
selain terkait dengan pengeboman juga terkait dengan pernyataan
Mabes Polri dan PM Australia John Howard yang menyebutkan bahwa
sebelum peledakan, seseorang telah memberi message agar Ba'asyir
dibebaskan. Jika tidak dibebaskan, orang itu mengancam akan
melakukan pengeboman. "Ustad Ba'asyir tidak memiliki
kepentingan dan hubungan apa pun dengan orang itu. Apalagi, itu
hanya pesan di SMS, yang tidak diketahui identitas resminya.
Ustad Ba'asyir meminta polisi menyelidiki nomor telepon yang
memberi pesan singkat itu," ungkap Fauzan. Bagi Ba'asyir,
pesan singkat itu memang sengaja direkayasa sebagai sebuah
skenario agar Ba'asyir tidak dibebaskan demi hukum. Agar ada
alasan baru untuk tetap mengganjar Ba'asyir sebagai pelaku
terorisme.
Operasi Intelijen
Pengamat intelijen, AC Manulang, justru melihat pengeboman di
Kuningan ini hasil tangan dingin operasi intelijen. Dia kemudian
menyitir pernyataan KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu yang
menyebutkan bahwa sekarang ini telah ada sekitar 60 ribu lebih
intelijen di Indonesia. "Saya menduga ada dua hal bahwa bom
Kuningan ini merupakan akibat dari perang intelijen dan terkait
langsung dengan pemilihan presiden di Indonesia dan di Amerika,"
kata Manulang.
Terkait pilpres, katanya,
karena Presiden Bush ingin tetap mempertahankan tahtanya.
Sedangkan di Indonesia, Amerika berkepentingan terhadap presiden
yang akan terpilih yang bisa diajak bekerja sama. "Amerika
ingin membuat Indonesia sebagai sarang terorisme dan mencap umat
Islam sebagai teroris. Saya yakin umat Islam bukan teroris.
Tetapi, Amerika memang mencitrakan seperti itu melalui aksi-aksi
bom belakangan ini," katanya. (kmb7)
|