Keinginan yang tidak
Terbendung
Pendidikan yang diperoleh
dan belajar dari lingkungan serta norma-norma hidup yang berlaku
di masyarakat menyebabkan seseorang mampu membendung keinginan
yang dianggap tidak sesuai dengan kehidupan biasa. Namun
keinginan itu tidak bisa dibendung kalau yang mendasari
keinginan itu untuk memenuhi kebutuhan dasar yang tersimpan rapi
di dalam memorinya. Kebutuhan untuk mendapatkan rasa aman,
dicintai dan disayang serta dihargai. Kebutuhan dasar ini
mempengaruhi pola berpikir, emosi dan bereaksi terhadap apa yang
dihadapinya.
SEORANG
ibu -- sebut saja namanya Ibu Jero, menulis surat kepada saya,
isinya sbb.: "Saya seorang ibu rumah tangga mempunyai
seorang putri. Saya seorang kleptomania sejak kelas 3 SD. Waktu
kecil seingat saya teman saya sedikit. Jika saya punya bekal
berlebih barulah mereka dekat dengan saya dan jika sebaliknya
mereka menjauh. Dari situ saya berpikir, kalau saya tidak punya
uang cukup, saya mengambilnya dari kantong celana bapak saya.
Saya anak perempuan
satu-satunya, kakak saya laki-laki semua. Sebenarnya saya sangat
dimanja oleh keluarga saya. Tetapi dari mana awalnya saya tidak
bisa mengakhiri semua kebiasaan itu, dari kecil-kecilan akhirnya
membesar. Orangtua saya mulai curiga, guru di sekolah pun
menginterogasi dan kemudian saya mengakuinya. Kalau tidak salah,
itu ketika saya kelas 5 SD.
Dua tahun kemudian,
kebiasaan itu muncul lagi karena saya ingin punya banyak teman
dengan mentraktir mereka. Saya perlu uang untuk itu. Meskipun
berkali-kali ketahuan, dihukum, dipukul oleh bapak, saya tetap
saja mengulangi. Sampai SMA pun kebiasaan itu terus berlanjut
dan setiap kali makin besar jumlahnya. Apalagi setelah saya
punya pacar, kebiasaan itu bahkan pernah saya lakukan di
rumahnya dan ketahuan, tetapi saya tak pernah mengakuinya sampai
akhirnya saya tamat dan bekerja.
Baru beberapa bulan
bekerja, saya sudah mencuri dan membelikan pacar saya home
theatre. Kemudian saya mencuri lagi untuk ulang tahun adiknya
dan untuk membeli cincin pertunangan kami. Akhirnya saya dipecat
karena penggelapan dan pacar saya menikah dengan orang lain,
orang yang saya kenal, bahkan dia tahu saya pacarnya. Itu karena
wanita itu hamil 8 bulan. Saya berterima kasih kasus penggelapan
itu tidak dibawa ke pengadilan karena kakak saya melunasi semua.
Setelah beberapa bulan
menganggur, saya pun bekerja pada perusahaan distributor. Saya
bertemu pria yang baik, berulang kali saya membohonginya dan
mendapat uang darinya. Sampai akhirnya kami menikah dan saya
melahirkan putri kami dan berhenti bekerja -- tentu saja dengan
masalah penggelapan uang lagi dan suami saya membayarnya. Dia
sudah memperingati saya, namun dua tahun kemudian saya lagi
melakukan penggelapan perhiasan dengan nilai puluhan juta.
Seluruh keluarga pun tahu, suami saya malu sekali karena kami
menikah tanpa persetujuan mereka. Kami jarang pulang kampung.
Setelah itu saya
membohongi ibu dan kakak saya. Saya meminta uang atas nama suami
dan itu terus berlanjut sampai sekarang terutama dengan ibu.
Saya pinjam uang di mana-mana, gali lubang tutup lubang. Sampai
suami membuat surat perjanjian, jika saya memiliki utang lagi,
dia tidak ada sangkut pautnya, itu tanggung jawab saya sendiri.
Suami saya capek dengan kelakuan saya. Dia bilang, "Jika
kamu berubah, itu adalah hadiah paling berharga dalam hidup saya."
Sebenarnya, saya sangat ingin berubah. Karena itu saya perlu
bantuan. Bagaimana cara mengendalikannya? Setiap kali saya
berusaha, selalu ada keinginan lain yang membuat saya
mengulanginya lagi. Saya ingin memperbaiki hubungan saya dengan
suami, keluarga dan orangtua serta ketiga kakak saya. Sebenarnya
apa pun yang saya kerjakan selalu berkembang tetapi kelemahannya
ada pada uang. Tolonglah saya!"
Masa Kecil sebagai
Pemicu
Ibu Jero melakukan tindakan mencuri untuk mendapatkan teman,
untuk dihargai sebagai orang yang punya, orang yang royal, orang
yang peduli, dan alasan lain agar ia punya tempat khusus di hati
orang lain. Ia tidak bisa membendung keinginan untuk memperoleh
apa yang diinginkan. Ia menilai kalau ia bisa memenuhi kebutuhan
materi seseorang baru ia akan mendapat penghargaan darinya. Ia
menilai uang atau kekayaan akan mengubah pandangan orang
terhadap dirinya. Karena ia anak perempuan satu-satunya, dimanja
dan hidup di lingkungan kakak-kakak yang semuanya laki-laki,
tentu di mata kakaknya ia tidak berarti. Ia tak punya kekuatan
untuk mengalahkan kakaknya. Ia tak punya kemampuan lebih
dibandingkan kakaknya. Ia tak berarti di rumah karena ia anak
kecil, perempuan yang dianggap lemah. Ia ingin seperti kakaknya
memperoleh perhatian besar dari orangtuanya. Ia memang dimanja
oleh orangtuanya, semua keinginannya pasti dipenuhi, namun satu
yang tidak bisa dipenuhi bahwa ia sama dengan kakak-kakak,
laki-lakinya. Ia merasakan ada sesuatu yang beda di rumahnya. Ia
tak punya kebiasaan untuk berjuang. Kemungkinan untuk memenuhi
keinginan materi sulit didapatkannya. Mungkin orangtuanya ketat
dalam keuangan. Ia tidak begitu saja diberikan uang, kalau pun
diberikan uang sebatas untuk keperluan pergi ke sekolah.
Ia perlu teman, ia perlu
orang yang bisa menghargai kehadiran dirinya. Ia ingin bergaul
dengan teman-temannya. Waktu kelas III SD merupakan pengalaman
pemulaan penggunakan uang untuk mendekati dan mengikat
kawan-kawannya akrab dengan dirinya. Ia merasakan betapa
kawan-kawannya menghargai dirinya. Pengalaman disayang dan
didekati oleh kawan-kawannya merupakan pengalaman yang tersimpan
rapi di memorinya. Uang ternyata mampu memenuhi kebutuhan untuk
dihargai oleh teman-temannya. Permulaan pula ia menggunakan
kemampuan untuk memperoleh uang dengan mudah, dengan jeli
melihat keadaan di sekelilingnya, jeli melihat ada uang di
kantong bapaknya. Tidak memerlukan perjuangan, hasil bisa
diperoleh seketika.
Pengalaman pertama ini
terukir rapi di memorinya. Keinginan untuk memperoleh rasa
dihargai, disayang, dan diperhatikan terus mencuat setelah ia
menginjak remaja dan dewasa. Dengan pendidikan yang diperoleh,
dengan pengalaman yang dialaminya, membuat ia kreatif untuk
memperoleh materi agar bisa memenuhi keinginan disayang dan
dihargai oleh orang lain. Ia tidak memikirkan risiko yang akan
dialaminya. Ia mengetahui itu salah, namun keinginan untuk
memperoleh kebutuhan dasar dihargai itu lebih kuat menguasai
dirinya. Setelah mendapat hukuman, ia merasa menyesal, jera,
takut kehilangan suami, takut kehilangan orang yang dicintai dan
akhirnya ia terundung ketakutan, namun terus mengulang kembali
keinginan itu.
Gejala
Obsesif-Kompulsif
Ibu Jero tidak menderita gangguan kleptomania seperti yang ia
duga. Seorang dikatakan menderita kleptomania kalau ia terdorong
berulang-ulang untuk mencuri sesuatu -- entah berupa uang,
barang atau benda lainnya -- dan setelah memperolehnya ia tidak
gunakan, ia buang atau diberikan kepada orang lain atau
dikumpulkan. Permulaan sebelum melakukan aksi, ia mengalami
peningkatan ketegangan dan merasa puas pada saat melakukan aksi.
Kleptomania termasuk
gangguan kebiasaan dan impluls sama halnya dengan gangguan judi
patologis, bakar patologis, yang ditandai oleh aksi berulang
tidak bisa dikendalikan, tidak mempunyai motivasi yang rasional
dan jelas, serta umumnya merugikan kepentingan pasien sendiri
dan orang lain.
Sedangkan yang dialami
dialami Ibu Jero adalah keinginan untuk mengambil uang, meminjam
uang, mencuri uang atau perhiasan yang kemudian uang atau benda
itu ia berikan kepada orang lain. Ia merasa bahagia bisa
menyenangkan orang lain, bisa menolong orang lain dan kepuasan
diperolehnya dari rasa bersyukur dari orang yang dibantu atau
orang yang diberikannya. Ibu Jero mempunyai motif dasar ingin
memenuhi kebutuhan untuk disayang, dihargai atau diperhatikan.
Ibu Jero tidak termasuk dalam katagori gangguan kebiasaan dan
impuls karena aksi atau tindakan yang dilakukan berulang dan
tidak bisa dicegah untuk membantu orang lain, untuk menyenangkan
orang lain.
Ibu Jero mengalami gejala
obsesif kompulsif dengan dasar masa kecil kebutuhan dasar untuk
dihargai tidak terpenuhi. Ia menyadari itu tidak benar, namun ia
tidak bisa mencegahnya dan setelah melakukannya ia tidak
mengalami kepuasan atau kesenangan. Ia mengalami kepuasan dan
kesenangan setelah melihat orang lain merasakan hal itu.
Kemudian ia mengalami depresi dan cemas setelah menyadari akibat
yang dilakukannya.
Satu-satunya cara untuk
mengatasi keadaan Ibu Jero adalah dengan memperbaiki trauma masa
kecil yang menyebabkan ia tidak merasa dihargai, diperbaiki cara
memperoleh pemuasan kebutuhan dasar dan diperbaiki pemahaman
norma-norma hidup di masyarakatnya. Ia harus menjalani terapi
hypnosis untuk membawanya ke masa lampau, masa kanak-kanak.
* luh ketut suryani
|