kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 12 September 2004 tarukan valas
 

KELUARGA


Keinginan yang tidak Terbendung

Pendidikan yang diperoleh dan belajar dari lingkungan serta norma-norma hidup yang berlaku di masyarakat menyebabkan seseorang mampu membendung keinginan yang dianggap tidak sesuai dengan kehidupan biasa. Namun keinginan itu tidak bisa dibendung kalau yang mendasari keinginan itu untuk memenuhi kebutuhan dasar yang tersimpan rapi di dalam memorinya. Kebutuhan untuk mendapatkan rasa aman, dicintai dan disayang serta dihargai. Kebutuhan dasar ini mempengaruhi pola berpikir, emosi dan bereaksi terhadap apa yang dihadapinya.

SEORANG ibu -- sebut saja namanya Ibu Jero, menulis surat kepada saya, isinya sbb.: "Saya seorang ibu rumah tangga mempunyai seorang putri. Saya seorang kleptomania sejak kelas 3 SD. Waktu kecil seingat saya teman saya sedikit. Jika saya punya bekal berlebih barulah mereka dekat dengan saya dan jika sebaliknya mereka menjauh. Dari situ saya berpikir, kalau saya tidak punya uang cukup, saya mengambilnya dari kantong celana bapak saya.

Saya anak perempuan satu-satunya, kakak saya laki-laki semua. Sebenarnya saya sangat dimanja oleh keluarga saya. Tetapi dari mana awalnya saya tidak bisa mengakhiri semua kebiasaan itu, dari kecil-kecilan akhirnya membesar. Orangtua saya mulai curiga, guru di sekolah pun menginterogasi dan kemudian saya mengakuinya. Kalau tidak salah, itu ketika saya kelas 5 SD.

Dua tahun kemudian, kebiasaan itu muncul lagi karena saya ingin punya banyak teman dengan mentraktir mereka. Saya perlu uang untuk itu. Meskipun berkali-kali ketahuan, dihukum, dipukul oleh bapak, saya tetap saja mengulangi. Sampai SMA pun kebiasaan itu terus berlanjut dan setiap kali makin besar jumlahnya. Apalagi setelah saya punya pacar, kebiasaan itu bahkan pernah saya lakukan di rumahnya dan ketahuan, tetapi saya tak pernah mengakuinya sampai akhirnya saya tamat dan bekerja.

Baru beberapa bulan bekerja, saya sudah mencuri dan membelikan pacar saya home theatre. Kemudian saya mencuri lagi untuk ulang tahun adiknya dan untuk membeli cincin pertunangan kami. Akhirnya saya dipecat karena penggelapan dan pacar saya menikah dengan orang lain, orang yang saya kenal, bahkan dia tahu saya pacarnya. Itu karena wanita itu hamil 8 bulan. Saya berterima kasih kasus penggelapan itu tidak dibawa ke pengadilan karena kakak saya melunasi semua.

Setelah beberapa bulan menganggur, saya pun bekerja pada perusahaan distributor. Saya bertemu pria yang baik, berulang kali saya membohonginya dan mendapat uang darinya. Sampai akhirnya kami menikah dan saya melahirkan putri kami dan berhenti bekerja -- tentu saja dengan masalah penggelapan uang lagi dan suami saya membayarnya. Dia sudah memperingati saya, namun dua tahun kemudian saya lagi melakukan penggelapan perhiasan dengan nilai puluhan juta. Seluruh keluarga pun tahu, suami saya malu sekali karena kami menikah tanpa persetujuan mereka. Kami jarang pulang kampung.

Setelah itu saya membohongi ibu dan kakak saya. Saya meminta uang atas nama suami dan itu terus berlanjut sampai sekarang terutama dengan ibu. Saya pinjam uang di mana-mana, gali lubang tutup lubang. Sampai suami membuat surat perjanjian, jika saya memiliki utang lagi, dia tidak ada sangkut pautnya, itu tanggung jawab saya sendiri. Suami saya capek dengan kelakuan saya. Dia bilang, "Jika kamu berubah, itu adalah hadiah paling berharga dalam hidup saya." Sebenarnya, saya sangat ingin berubah. Karena itu saya perlu bantuan. Bagaimana cara mengendalikannya? Setiap kali saya berusaha, selalu ada keinginan lain yang membuat saya mengulanginya lagi. Saya ingin memperbaiki hubungan saya dengan suami, keluarga dan orangtua serta ketiga kakak saya. Sebenarnya apa pun yang saya kerjakan selalu berkembang tetapi kelemahannya ada pada uang. Tolonglah saya!"

Masa Kecil sebagai Pemicu
Ibu Jero melakukan tindakan mencuri untuk mendapatkan teman, untuk dihargai sebagai orang yang punya, orang yang royal, orang yang peduli, dan alasan lain agar ia punya tempat khusus di hati orang lain. Ia tidak bisa membendung keinginan untuk memperoleh apa yang diinginkan. Ia menilai kalau ia bisa memenuhi kebutuhan materi seseorang baru ia akan mendapat penghargaan darinya. Ia menilai uang atau kekayaan akan mengubah pandangan orang terhadap dirinya. Karena ia anak perempuan satu-satunya, dimanja dan hidup di lingkungan kakak-kakak yang semuanya laki-laki, tentu di mata kakaknya ia tidak berarti. Ia tak punya kekuatan untuk mengalahkan kakaknya. Ia tak punya kemampuan lebih dibandingkan kakaknya. Ia tak berarti di rumah karena ia anak kecil, perempuan yang dianggap lemah. Ia ingin seperti kakaknya memperoleh perhatian besar dari orangtuanya. Ia memang dimanja oleh orangtuanya, semua keinginannya pasti dipenuhi, namun satu yang tidak bisa dipenuhi bahwa ia sama dengan kakak-kakak, laki-lakinya. Ia merasakan ada sesuatu yang beda di rumahnya. Ia tak punya kebiasaan untuk berjuang. Kemungkinan untuk memenuhi keinginan materi sulit didapatkannya. Mungkin orangtuanya ketat dalam keuangan. Ia tidak begitu saja diberikan uang, kalau pun diberikan uang sebatas untuk keperluan pergi ke sekolah.

Ia perlu teman, ia perlu orang yang bisa menghargai kehadiran dirinya. Ia ingin bergaul dengan teman-temannya. Waktu kelas III SD merupakan pengalaman pemulaan penggunakan uang untuk mendekati dan mengikat kawan-kawannya akrab dengan dirinya. Ia merasakan betapa kawan-kawannya menghargai dirinya. Pengalaman disayang dan didekati oleh kawan-kawannya merupakan pengalaman yang tersimpan rapi di memorinya. Uang ternyata mampu memenuhi kebutuhan untuk dihargai oleh teman-temannya. Permulaan pula ia menggunakan kemampuan untuk memperoleh uang dengan mudah, dengan jeli melihat keadaan di sekelilingnya, jeli melihat ada uang di kantong bapaknya. Tidak memerlukan perjuangan, hasil bisa diperoleh seketika.

Pengalaman pertama ini terukir rapi di memorinya. Keinginan untuk memperoleh rasa dihargai, disayang, dan diperhatikan terus mencuat setelah ia menginjak remaja dan dewasa. Dengan pendidikan yang diperoleh, dengan pengalaman yang dialaminya, membuat ia kreatif untuk memperoleh materi agar bisa memenuhi keinginan disayang dan dihargai oleh orang lain. Ia tidak memikirkan risiko yang akan dialaminya. Ia mengetahui itu salah, namun keinginan untuk memperoleh kebutuhan dasar dihargai itu lebih kuat menguasai dirinya. Setelah mendapat hukuman, ia merasa menyesal, jera, takut kehilangan suami, takut kehilangan orang yang dicintai dan akhirnya ia terundung ketakutan, namun terus mengulang kembali keinginan itu.

Gejala Obsesif-Kompulsif
Ibu Jero tidak menderita gangguan kleptomania seperti yang ia duga. Seorang dikatakan menderita kleptomania kalau ia terdorong berulang-ulang untuk mencuri sesuatu -- entah berupa uang, barang atau benda lainnya -- dan setelah memperolehnya ia tidak gunakan, ia buang atau diberikan kepada orang lain atau dikumpulkan. Permulaan sebelum melakukan aksi, ia mengalami peningkatan ketegangan dan merasa puas pada saat melakukan aksi.

Kleptomania termasuk gangguan kebiasaan dan impluls sama halnya dengan gangguan judi patologis, bakar patologis, yang ditandai oleh aksi berulang tidak bisa dikendalikan, tidak mempunyai motivasi yang rasional dan jelas, serta umumnya merugikan kepentingan pasien sendiri dan orang lain.

Sedangkan yang dialami dialami Ibu Jero adalah keinginan untuk mengambil uang, meminjam uang, mencuri uang atau perhiasan yang kemudian uang atau benda itu ia berikan kepada orang lain. Ia merasa bahagia bisa menyenangkan orang lain, bisa menolong orang lain dan kepuasan diperolehnya dari rasa bersyukur dari orang yang dibantu atau orang yang diberikannya. Ibu Jero mempunyai motif dasar ingin memenuhi kebutuhan untuk disayang, dihargai atau diperhatikan. Ibu Jero tidak termasuk dalam katagori gangguan kebiasaan dan impuls karena aksi atau tindakan yang dilakukan berulang dan tidak bisa dicegah untuk membantu orang lain, untuk menyenangkan orang lain.

Ibu Jero mengalami gejala obsesif kompulsif dengan dasar masa kecil kebutuhan dasar untuk dihargai tidak terpenuhi. Ia menyadari itu tidak benar, namun ia tidak bisa mencegahnya dan setelah melakukannya ia tidak mengalami kepuasan atau kesenangan. Ia mengalami kepuasan dan kesenangan setelah melihat orang lain merasakan hal itu. Kemudian ia mengalami depresi dan cemas setelah menyadari akibat yang dilakukannya.

Satu-satunya cara untuk mengatasi keadaan Ibu Jero adalah dengan memperbaiki trauma masa kecil yang menyebabkan ia tidak merasa dihargai, diperbaiki cara memperoleh pemuasan kebutuhan dasar dan diperbaiki pemahaman norma-norma hidup di masyarakatnya. Ia harus menjalani terapi hypnosis untuk membawanya ke masa lampau, masa kanak-kanak.
* luh ketut suryani

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com