kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 12 September 2004 tarukan valas
 

IPTEK


Kiky, Melukis dengan Komputer

Hari Ini Gelar Pameran

Melukis dengan komputer? Ini sudah lumrah dilakukan banyak orang. Namun, bagaimana print out itu kemudian sama persis dengan hasil karya lukis konvensional, agaknya, ini yang istimewa. Kerja kreatif ini sudah dilakukan K. Walmiki Dharmaputra -- akrab dipanggil Kiky.

PADA 1980-an, ketika di Denpasar semarak bertumbuh grup-grup musik rock belia, muncul pula sejumlah gitaris berbakat yang bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Salah satu di antaranya adalah K. Walmiki Dharmaputra, akrab dipanggil Kiky. Di panggung dengan kelompok musiknya, Snazy, Kiky termasuk gitaris yang berkelas dan kharismatik.

Kini, meski ia tak begitu aktif lagi bermusik, hobi lain Kiky malah mengedepan. Melukis, misalnya. Salah satu hobinya yang ia tekuni sejak kecil ini kini ia eksplorasikan dalam lewat media komputer. "Saya ingin jadi pelukis yang bersih, tak ingin kotor oleh cat," papar Kiky kepada Bali Post di rumah sekaligus studionya, di Jalan Sutoyo No.1 Denpasar. Apa yang dilakukan Kiky, agaknya, belum banyak digarap seniman lain. Kiky sendiri menyebut apa yang dilakukannya sebagai techno painting fine art. "Proses yang saya lakukan tak jauh beda dengan proses orang mendesain sesuatu dengan komputer pada umumnya," aku Kiky. Namun yang membedakan, bagaimana Kiky kemudian memberi "sentuhan" pada karya akhirnya. Ia juga memanfaatkan kepekaan-kepekaan art-nya sebagai seorang pelukis sedang berkarya pada umumnya.

Katakanlah dalam proses Kiky "melukis" potret wajah seseorang atau suasana pasar. Hal yang ia lakukan pada mulanya adalah memotret wajah atau pasar tersebut dengan kamera digital biasa, lalu dimasukkan ke perangkat komputer, selanjutnya diproses dengan "cat" dan "kuas" di layar komputer. Hasil itu kemudian di-print dengan kain kanvas, penampakannya tak jauh beda dengan lukisan konvensional dengan cat minyak atau cat air.

Barangkali, inilah inovasi baru dalam seni rupa. Lantas, dalam kerja begini, apakah Kiky layak disebut pelukis? Mengapa tidak? Kiky jelas bukan "budak" teknologi, malah sebaliknya, Kiky sendiri telah "memperbudak" teknologi. Banyak orang (baca: seniman lukis) telah mencoba seperti halnya yang dilakukan Kiky, tapi tak berhasil. Kuncinya, jelas ada pada Kiky. Untuk mencapai penguasaan teknologi komputer seperti ini, sebagaimana diakui Kiky, tidak mudah. "Saya perlu waktu yang amat panjang, bertahun-tahun," aku Kiky, ayah dua anak kelahiran Denpasar, 28 Oktober 1965 ini. Bagi Kiky, teknologi itu adalah sahabat, jangan ditakuti, malah harus dikuasai. "Mengapa kita tidak memanfaatkan teknologi? Teknologi itu sangat menolong kita, termasuk dalam hal proses kreatif seni. Saya kini mempergunakan teknologi komputer dengan tidak mengurangi esensi seni. Bahkan itu memperkaya pemahaman saya terhadap seni, terutama seni lukis itu sendiri," papar Kiky yang juga arsitek alumnus FT Arsitektur Universitas Udayana ini. Sebagaimana pelukis pada umumnya, Kiky juga mengaku perlu mood dalam berkarya. Namun, keuntungan yang paling dirasakan Kiky dalam berkarya adalah kecepatan proses itu sendiri. Jika pelukis umumnya perlu waktu berjam-jam atau berhari-hari menyelesaikan sebuah lukisan, Kiky justru hanya perlu waktu dalam hitungan puluhan menit. "Dalam waktu sejam saya mampu bikin beberapa lukisan. Dan saya tetap bersih, tanpa belepotan cat, tanpa harus mencuci kuas, dan sebagaimnya," kata Kiky seraya tertawa.

Inilah terobosan baru dalam seni rupa. Setidaknya, bisa jadi alternatif baru media seni rupa ke depan. Sejumlah karya Kiky akan ditampilkan dalam pameran bertajuk "Techno Painting Fine Art" mulai Minggu (12/9) hari ini, pukul 10.00 wita, di J&G (Vegetarian Hot Pot and Juice House), Jl. Raya Puputan No.80, Renon, Denpasar. (tin)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com