Kiky, Melukis dengan
Komputer
Hari Ini Gelar Pameran
Melukis dengan komputer?
Ini sudah lumrah dilakukan banyak orang. Namun, bagaimana print
out itu kemudian sama persis dengan hasil karya lukis
konvensional, agaknya, ini yang istimewa. Kerja kreatif ini
sudah dilakukan K. Walmiki Dharmaputra -- akrab dipanggil Kiky.
PADA
1980-an, ketika di Denpasar semarak bertumbuh grup-grup musik
rock belia, muncul pula sejumlah gitaris berbakat yang bisa
dihitung dengan jari sebelah tangan. Salah satu di antaranya
adalah K. Walmiki Dharmaputra, akrab dipanggil Kiky. Di panggung
dengan kelompok musiknya, Snazy, Kiky termasuk gitaris yang
berkelas dan kharismatik.
Kini, meski ia tak begitu
aktif lagi bermusik, hobi lain Kiky malah mengedepan. Melukis,
misalnya. Salah satu hobinya yang ia tekuni sejak kecil ini kini
ia eksplorasikan dalam lewat media komputer. "Saya ingin
jadi pelukis yang bersih, tak ingin kotor oleh cat," papar
Kiky kepada Bali Post di rumah sekaligus studionya, di Jalan
Sutoyo No.1 Denpasar. Apa yang dilakukan Kiky, agaknya, belum
banyak digarap seniman lain. Kiky sendiri menyebut apa yang
dilakukannya sebagai techno painting fine art. "Proses yang
saya lakukan tak jauh beda dengan proses orang mendesain sesuatu
dengan komputer pada umumnya," aku Kiky. Namun yang
membedakan, bagaimana Kiky kemudian memberi "sentuhan"
pada karya akhirnya. Ia juga memanfaatkan kepekaan-kepekaan art-nya
sebagai seorang pelukis sedang berkarya pada umumnya.
Katakanlah dalam proses
Kiky "melukis" potret wajah seseorang atau suasana
pasar. Hal yang ia lakukan pada mulanya adalah memotret wajah
atau pasar tersebut dengan kamera digital biasa, lalu dimasukkan
ke perangkat komputer, selanjutnya diproses dengan
"cat" dan "kuas" di layar komputer. Hasil
itu kemudian di-print dengan kain kanvas, penampakannya tak jauh
beda dengan lukisan konvensional dengan cat minyak atau cat air.
Barangkali, inilah inovasi
baru dalam seni rupa. Lantas, dalam kerja begini, apakah Kiky
layak disebut pelukis? Mengapa tidak? Kiky jelas bukan "budak"
teknologi, malah sebaliknya, Kiky sendiri telah "memperbudak"
teknologi. Banyak orang (baca: seniman lukis) telah mencoba
seperti halnya yang dilakukan Kiky, tapi tak berhasil. Kuncinya,
jelas ada pada Kiky. Untuk mencapai penguasaan teknologi
komputer seperti ini, sebagaimana diakui Kiky, tidak mudah.
"Saya perlu waktu yang amat panjang, bertahun-tahun,"
aku Kiky, ayah dua anak kelahiran Denpasar, 28 Oktober 1965 ini.
Bagi Kiky, teknologi itu adalah sahabat, jangan ditakuti, malah
harus dikuasai. "Mengapa kita tidak memanfaatkan teknologi?
Teknologi itu sangat menolong kita, termasuk dalam hal proses
kreatif seni. Saya kini mempergunakan teknologi komputer dengan
tidak mengurangi esensi seni. Bahkan itu memperkaya pemahaman
saya terhadap seni, terutama seni lukis itu sendiri," papar
Kiky yang juga arsitek alumnus FT Arsitektur Universitas Udayana
ini. Sebagaimana pelukis pada umumnya, Kiky juga mengaku perlu
mood dalam berkarya. Namun, keuntungan yang paling dirasakan
Kiky dalam berkarya adalah kecepatan proses itu sendiri. Jika
pelukis umumnya perlu waktu berjam-jam atau berhari-hari
menyelesaikan sebuah lukisan, Kiky justru hanya perlu waktu
dalam hitungan puluhan menit. "Dalam waktu sejam saya mampu
bikin beberapa lukisan. Dan saya tetap bersih, tanpa belepotan
cat, tanpa harus mencuci kuas, dan sebagaimnya," kata Kiky
seraya tertawa.
Inilah terobosan baru
dalam seni rupa. Setidaknya, bisa jadi alternatif baru media
seni rupa ke depan. Sejumlah karya Kiky akan ditampilkan dalam
pameran bertajuk "Techno Painting Fine Art" mulai
Minggu (12/9) hari ini, pukul 10.00 wita, di J&G (Vegetarian
Hot Pot and Juice House), Jl. Raya Puputan No.80, Renon,
Denpasar. (tin)
|