Ada Apa dengan ''The
Dancer''?
Mengenang Kelahiran Don Antonio Blanco
Tiap lukisan, konon,
membawa arti sendiri. Ternyata, lukisan ''The Dancer'' karya
maestro Don Antonio Blanco bukan saja membawa makna keindahan
tersendiri, melainkan juga membawa sebuah kisah sejarah. Ada apa
dengan lukisan itu?
INI
cuplikan cerita yang dituturkan Mario Blanco, putra Don Antonio
Blanco yang juga kini pelukis itu. Tahun 1960, Don Antonio
Blanco kembali ke Bali setelah tiga tahun melakukan tur keliling
dunia dalam rangka pameran tunggal. Blanco disertai istrinya, Ni
Ronji. Tiba di rumah, ia kembali melukis dengan semangat
kecintaan seorang seniman sejati. Dua tahun berkarya, Blanco
berencana memamerkan karya-karya terbarunya itu di Jakarta. Satu
di antara karya terbarunya berjudul "The Dancer" akan
ia hadiahkan kepada presiden RI Ir. Soekarno, namun batal karena
saat itu presiden sedang sangat sibuk.
"Ketika berada di
kamar hotel, seseorang mengetuk pintu kamar papa," tutur
Mario. Si pengetuk pintu itu seorang wanita dan setelah melihat
beberapa lukisan Blanco, wanita tersebut langsung membelinya,
termasuk lukisan "The Dancer". Rupanya perempuan asing
itu membeli lukisan "The Dancer" untuk dihadiahkan
kepada seorang kapten angkatan laut Amerika bernama Blee. Kapten
Blee yang tahu bahwa lukisan itu bagus dan tahu bahwa pelukisnya
tinggal di Bali, akhirnya sempat mengunjungi Don Antonio Blanco.
Pada saat berkunjung ke
studio Don Antonio Blanco di Ubud, Kapten Blee hanya membeli
sebuah lukisan potret kecil. Kapten Blee yang tinggal di
Kalifornia, AS menuturkan, lukisan "The Dancer" itu
telah melakukan "perjalanan" ke seluruh dunia, untuk
akhirnya kembali ke Indonesia dan dimiliki kolektor asal
Surabaya, Paulus Amijo. "Pertama kaki saya berkenalan
dengan lukisan Don Antonio Blanco pada saat beliau melakukan
pameran tinggal di Bali Cliff," aku Paulus sebagaimana
dituturkan ulang Mario. "Saya langsung cinta berat dengan
lukisan-lukisan Antonio," tambahnya. Sejak itu, Paulus
hanya mengoleksi karya-karya Don Antonio Blanco. Direktur
Atlantik Ocean Paint ini seringkali bertandang ke studio sang
maestro dan bercakap-cakap seputar kesenian dan kehidupan guna
lebih menghayati nilai kesenian sang maestro itu. "Banyak
hal yang saya dapatkan dari pembicaraan saya dengan Antonio
Blanco," ungkap Paulus serius saat ia berada di kediaman
mendiang Don Antonio Blanco.
***
Cuplikan cerita ini memang
sengaja dituturkan Mario Blanco serangkaian "mengenang"
hari kelahiran Don Antonio Blanco pada 15 September. Bagi Mario
sendiri, bahkan mungkin bagi jagad seni rupa Bali khususnya dan
dunia umumnya, Antonio Blanco bukan saja dikenang sebagai
pelukis maestro yang menguatkan citra budaya Bali. "Papa
juga adalah sosok seniman-budayawan yang menjadi saksi sejarah
atas republik ini. Hubungan baiknya dengan presiden Soekarno
adalah penanda bahwa Don Antonio Blanco memang sangat berarti
sebagai seniman-budayawan yang diperhitungkan ketika itu. Papa
memiliki hubungan kesejarahan dengan Presiden Soekarno,"
ujar Mario.
Jika mengingat tanggal
kelahiran almarhum ayahnya, Mario Blanco mengaku tak akan
melupakan pesan-pesan ayahnya untuk selalu menjaga nama Bali.
"Yang paling sering dinasihati kepada kami ketika papa
masih hidup adalah bagaimana mengabdi kepada tanah kelahiran
kami, yaitu Bali," ungkap Mario. The Blanco Renaissance
Museum yang memajang khusus karya-karya ayahnya, menurut mario,
dibuat memang atas permintaan Don Antonio Blanco. "Semua
itu memang dipersembahkan dan diabdikan papa untuk Bali dan
Indonesia," jelas Mario. (tin)
|