kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 12 September 2004 tarukan valas
 

GEBYAR


Ada Apa dengan ''The Dancer''?

Mengenang Kelahiran Don Antonio Blanco

Tiap lukisan, konon, membawa arti sendiri. Ternyata, lukisan ''The Dancer'' karya maestro Don Antonio Blanco bukan saja membawa makna keindahan tersendiri, melainkan juga membawa sebuah kisah sejarah. Ada apa dengan lukisan itu?

INI cuplikan cerita yang dituturkan Mario Blanco, putra Don Antonio Blanco yang juga kini pelukis itu. Tahun 1960, Don Antonio Blanco kembali ke Bali setelah tiga tahun melakukan tur keliling dunia dalam rangka pameran tunggal. Blanco disertai istrinya, Ni Ronji. Tiba di rumah, ia kembali melukis dengan semangat kecintaan seorang seniman sejati. Dua tahun berkarya, Blanco berencana memamerkan karya-karya terbarunya itu di Jakarta. Satu di antara karya terbarunya berjudul "The Dancer" akan ia hadiahkan kepada presiden RI Ir. Soekarno, namun batal karena saat itu presiden sedang sangat sibuk.

"Ketika berada di kamar hotel, seseorang mengetuk pintu kamar papa," tutur Mario. Si pengetuk pintu itu seorang wanita dan setelah melihat beberapa lukisan Blanco, wanita tersebut langsung membelinya, termasuk lukisan "The Dancer". Rupanya perempuan asing itu membeli lukisan "The Dancer" untuk dihadiahkan kepada seorang kapten angkatan laut Amerika bernama Blee. Kapten Blee yang tahu bahwa lukisan itu bagus dan tahu bahwa pelukisnya tinggal di Bali, akhirnya sempat mengunjungi Don Antonio Blanco.

Pada saat berkunjung ke studio Don Antonio Blanco di Ubud, Kapten Blee hanya membeli sebuah lukisan potret kecil. Kapten Blee yang tinggal di Kalifornia, AS menuturkan, lukisan "The Dancer" itu telah melakukan "perjalanan" ke seluruh dunia, untuk akhirnya kembali ke Indonesia dan dimiliki kolektor asal Surabaya, Paulus Amijo. "Pertama kaki saya berkenalan dengan lukisan Don Antonio Blanco pada saat beliau melakukan pameran tinggal di Bali Cliff," aku Paulus sebagaimana dituturkan ulang Mario. "Saya langsung cinta berat dengan lukisan-lukisan Antonio," tambahnya. Sejak itu, Paulus hanya mengoleksi karya-karya Don Antonio Blanco. Direktur Atlantik Ocean Paint ini seringkali bertandang ke studio sang maestro dan bercakap-cakap seputar kesenian dan kehidupan guna lebih menghayati nilai kesenian sang maestro itu. "Banyak hal yang saya dapatkan dari pembicaraan saya dengan Antonio Blanco," ungkap Paulus serius saat ia berada di kediaman mendiang Don Antonio Blanco.

***

Cuplikan cerita ini memang sengaja dituturkan Mario Blanco serangkaian "mengenang" hari kelahiran Don Antonio Blanco pada 15 September. Bagi Mario sendiri, bahkan mungkin bagi jagad seni rupa Bali khususnya dan dunia umumnya, Antonio Blanco bukan saja dikenang sebagai pelukis maestro yang menguatkan citra budaya Bali. "Papa juga adalah sosok seniman-budayawan yang menjadi saksi sejarah atas republik ini. Hubungan baiknya dengan presiden Soekarno adalah penanda bahwa Don Antonio Blanco memang sangat berarti sebagai seniman-budayawan yang diperhitungkan ketika itu. Papa memiliki hubungan kesejarahan dengan Presiden Soekarno," ujar Mario.

Jika mengingat tanggal kelahiran almarhum ayahnya, Mario Blanco mengaku tak akan melupakan pesan-pesan ayahnya untuk selalu menjaga nama Bali. "Yang paling sering dinasihati kepada kami ketika papa masih hidup adalah bagaimana mengabdi kepada tanah kelahiran kami, yaitu Bali," ungkap Mario. The Blanco Renaissance Museum yang memajang khusus karya-karya ayahnya, menurut mario, dibuat memang atas permintaan Don Antonio Blanco. "Semua itu memang dipersembahkan dan diabdikan papa untuk Bali dan Indonesia," jelas Mario. (tin)

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com