Kecerdasan Emosi
Tentukan Keberhasilan Pemimpin
Amlapura (Bali
Post) -
Kecerdasan emosi dua kali lebih penting di dalam menentukan
keberhasilan pemimpin, dibandingkan kepintaran. Dengan
kecerdasan emosi, seorang pemimpin akan mudah menggerakkan
masyarakatnya dengan keterampilan sosial yang dimilikinya.
Psikolog Drs. I Made
Rustika, M.Si. menyampaikan hal itu pada seminar sehari bertema
''Pendidikan Millennium Berbasis Kecerdasan Emosi dan
Spiritual'', Kamis (9/9) serangkaian HUT ke-23 Radio SWiB
Karangasem. Rustika mengatakan seorang pemimpin mesti mampu
mengayomi meski dikritik pedas terkait kebijakannya oleh
rakyatnya. Jika seorang pemimpin tak memiliki kecerdasan emosi,
dia akan kian jatuh. ''Seorang pemimpin, baik pemimpin politik
atau pun perusahaan bukan tak boleh marah. Tetapi, dia mesti
cerdas mengatur emosi, kapan boleh marah di mana dan bagaimana
caranya. Hal itu penting, agar marahnya itu bukan membabi buta,
tetapi mampu mendidik bawahannya,'' katanya. HUT ke-23 Radio
Swara Widya Besakih (SWiB), Sabtu (11/9) kemarin dirayakan
dengan sederhana yakni persembahyangan dan ramah tamah kru radio
satu-satunya di bumi lahar itu.
Sementara itu, dalam
seminar yang diikuti kalangan guru TK-SLTA itu psikiater Prof.
Dr. dr. LK Suryani, Sp.KJ. mengatakan, ''bertapa'' selama
sembilan bulan bagi pasangan suami-istri yang bakal mempunyai
anak sangat menentukan karakter anak yang akan dilahirkan. Kalau
orangtua berhasil ''bertapa'' sembilan bulan saat calon ibu
hamil, maka anak yang lahir akan menjadi anak yang baik, dan
cerdas.
Ia mengatakan, generasi
muda Bali kini lebih banyak lahir dengan pencemaran, polusi
suara kendaraan dan musik rock. Ditambah lagi dengan kesibukan
orangtuanya saat sudah melahirkan anak, menyebabkan anak kurang
mendapat pendampingan dan kasih sayang. Akibatnya, generasi kini
sifat individualnya menonjol.
Selain Rustika dan Suryani,
tampil juga sebagai pembicara praktisi meditasi ''Matahari
Terbit'' Drs. IG Arsa Dana, dan aktivis Educare Bali Dr. Anuraga
Duarsa. (013)
|