kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 12 September 2004 tarukan valas
 

APRESIASI


Menyingkirkan ''Hantu'' dalam Pembelajaran Menulis

SUDAH terbiasa terdengar bahwa anak tamatan sekolah menengah kurang mampu menulis sesuai dengan keperluannya. Ketika menulis surat tidak masuk sekolah saja, misalnya, antara maksud dengan apa yang tertulis kurang sesuai. Disuruh menulis proposal apalagi, katakanlah saat mereka mengadakan aktivitas dan dalam kegiatan OSIS atau Sekaa Teruna, masih terlihat jiplak sana jiplak sini untuk menghasilkan sebuah proposal. Bukan anak tamatan sekolah menengah saja yang kurang mampu, orang yang bergelar sarjana pun masih ada yang mengalami kesulitan.

Anak yang mampu menulis esai, karya ilmiah, cerpen, atau puisi masih dapat dihitung dengan jari tangan. Sangat jarang anak mampu sampai ke (salah satu) jenjang ini. Namun, di antara puluhan atau ratusan anak tentu ada yang bisa sampai kepada penulis remaja yang kreatif. Umumnya kreativitas mereka ini karena motivasi yang kuat dari dalam dirinya. Akhirnya ia belajar mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan menulis belum ditangani secara baik di sekolah. Perlu dipertanyakan, mengapa anak jarang mampu menulis? Banyak penyebabnya. Di antaranya, sistem evaluasi yang diterapkan oleh Depdiknas. Sistem ini kurang sejalan dengan harapan kurikulum. Misalnya, kurikulum menghendaki agar anak mampu menulis sesuai dengan kebutuhan (keterampilan berbahasa), atau mampu mengapresiasi karya sastra misalnya. Sedangkan evaluasinya didominasi oleh pengukuran kecerdasan atau materi yang bersifat keilmuan dengan tes pilihan ganda. Kapan anak mampu menulis sesuai dengan kebutuhannya jika demikian alat ukurnya? Lalu, kapan pula anak bisa mengungkap nilai-nilai karya secara tertulis jika evaluasinya main tebak-tebakan, seperti menjawab teka-teki silang saja?

Di samping kelemahan sistem yang diterapkan Depdiknas tersebut, guru juga menjadi salah satu biang keladinya. Guru cukup banyak menyebarkan ''hantu'' dalam pembelajaran menulis. Akibatnya, anak takut menulis karena muncul rasa takut salah setelah tulisan mereka selesai. Anak takut dibentak oleh guru. Karena ketakutan inilah akhirnya anak tidak atau kurang bisa menghasilkan tulisan yang bisa dibanggakan.

Anak yang berbakat pun sering kandas di tengah jalan. Bahkan, ada pula seorang kepala sekolah (bukan kepala sekolah di tempat penulis bertugas) kurang tertarik untuk mengarahkan anak menjadi seorang penulis. Kata kepala sekolah itu, ''Anak-anak di kota lebih baik diarahkan pandai memecahkan soal matematika atau ilmu eksak. Anak-anak kota tidak tertarik dengan tulis-menulis.'' Tentu kepala sekolah ini terlalu gegabah mengeluarkan pendapat. Karena itu, tidak mustahil majalah sekolah kurang mendapat perhatian dalam pengalokasian dana. Kini banyak majalah sekolah tidak bisa terbit karena kepala sekolahnya kurang punya wawasan.

Perlu Disingkirkan
Ada beberapa ''hantu'' yang perlu disingkirkan dalam pembelajaran menulis kreatif. Pertama, rasa takut pada anak perlu dihilangkan. Biarkan mereka menulis apa pun. Hilangkan kebiasaan yang kurang membuat anak kurang bergairah menulis. Kesalahan-kesalahan yang dapat menghantui mereka tidak perlu terlalu ditonjol-tonjolkan. Siapa yang senang kekurangannya ditonjol-tonjolkan? Jangankan seorang anak, orang dewasa pun kurang senang jika yang diungkit-ungkit selalu kekurangannya. Kemarahan pun bisa bangkit pada orang yang kesalahannya diungkit-ungkit. Jadi, lebih baik dibangkitkan rasa percaya dirinya sehingga anak merasa percaya diri dalam menghasilkan sebuah tulisan.

Kedua, kebiasaan guru menjelaskan banyak aturan (pengetahuan) dalam menulis. Hendaknya kebiasaan ini dikurangi. Kurangi sikap guru seolah serba tahu tentang tulis-menulis padahal dia sendiri belum pernah melakoninya. Memang sering ada kelucuan dalam pembelajaran menulis, guru amat cerewet dalam memberi peringatan kepada anak namun ia sendiri belum pernah memperlihatkan contoh tulisan yang layak dibaca orang lain -- sekurang-kurangnya di majalah sekolah. Jika tidak ada majalah sekolah, kekurangan guru semakin tertutupi. Tuntutan kepada anak sangat tinggi sedangkan gurunya sendiri tidak bisa berbuat seperti yang dituntut itu. Kadang ada juga guru yang galak. Galaknya seperti macan ompong, hanya bisa bersuara mengaum namun tidak mampu menerkam mangsa. ''Hantu'' seperti itulah yang biasa dilihat anak di kelas.

Agar pembelajaran menulis lebih menggairahkan, tampaknya guru perlu meniru model Tino Sidin -- pengasuh acara ''Mari Melukis'' di TVRI beberapa tahun silam. Bagaimana pun jeleknya karya anak, pastilah komentar Tino Sidin, ''Bagus!'' Selanjutnya, barulah karya anak diberi masukan untuk perbaikan sehingga anak tidak merasa direndahkan karya atau harga dirinya. Anak akan takut berkarya karena malu direndahkan di muka orang banyak.

Kalau mau jujur, keberhasilan pembelajaran menulis di sekolah masih sangat rendah. Anak-anak yang ada kemauan menulis saja belum menjadi jaminan untuk mampu menulis, apalagi aktivitas menulis yang dipaksakan. Demikian juga anak yang dibina oleh guru yang biasa menulis pun prosentasenya masih rendah, apalagi dibina oleh guru yang belum melakoni aktivitas menulis. Anak yang akhirnya mampu menulis fiski maupun nonfiksi secara profesional sesungguhnya anak yang tekun mengisi diri -- banyak membaca -- dan punya kreativitas walau hasil ujian mata pelajaran bahasanya belum memuaskan.

Walaupun kebanyakan guru bahasa (Indonesia) tidak melakoni aktivitas menulis, bukan berarti mereka tidak mampu menjadikan seorang anak menjadi penulis yang handal. Jadilah guru sebagai fasilitator dan motivator yang baik. Bangkitkan semangat dan harga diri anak karena hal itu mampu melatih kecerdasan dan keberanian mengemukakan pendapat. IQ yang tinggi tanpa diaktifkan dengan aktivitas baca-tulis tidak akan memberikan manfaat, malah merugikan.
* igk tribana

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com