Menyingkirkan ''Hantu''
dalam Pembelajaran Menulis
SUDAH
terbiasa terdengar bahwa anak tamatan sekolah menengah kurang
mampu menulis sesuai dengan keperluannya. Ketika menulis surat
tidak masuk sekolah saja, misalnya, antara maksud dengan apa
yang tertulis kurang sesuai. Disuruh menulis proposal apalagi,
katakanlah saat mereka mengadakan aktivitas dan dalam kegiatan
OSIS atau Sekaa Teruna, masih terlihat jiplak sana jiplak sini
untuk menghasilkan sebuah proposal. Bukan anak tamatan sekolah
menengah saja yang kurang mampu, orang yang bergelar sarjana pun
masih ada yang mengalami kesulitan.
Anak yang mampu menulis
esai, karya ilmiah, cerpen, atau puisi masih dapat dihitung
dengan jari tangan. Sangat jarang anak mampu sampai ke (salah
satu) jenjang ini. Namun, di antara puluhan atau ratusan anak
tentu ada yang bisa sampai kepada penulis remaja yang kreatif.
Umumnya kreativitas mereka ini karena motivasi yang kuat dari
dalam dirinya. Akhirnya ia belajar mandiri. Hal ini menunjukkan
bahwa pelatihan menulis belum ditangani secara baik di sekolah.
Perlu dipertanyakan, mengapa anak jarang mampu menulis? Banyak
penyebabnya. Di antaranya, sistem evaluasi yang diterapkan oleh
Depdiknas. Sistem ini kurang sejalan dengan harapan kurikulum.
Misalnya, kurikulum menghendaki agar anak mampu menulis sesuai
dengan kebutuhan (keterampilan berbahasa), atau mampu
mengapresiasi karya sastra misalnya. Sedangkan evaluasinya
didominasi oleh pengukuran kecerdasan atau materi yang bersifat
keilmuan dengan tes pilihan ganda. Kapan anak mampu menulis
sesuai dengan kebutuhannya jika demikian alat ukurnya? Lalu,
kapan pula anak bisa mengungkap nilai-nilai karya secara
tertulis jika evaluasinya main tebak-tebakan, seperti menjawab
teka-teki silang saja?
Di samping kelemahan
sistem yang diterapkan Depdiknas tersebut, guru juga menjadi
salah satu biang keladinya. Guru cukup banyak menyebarkan ''hantu''
dalam pembelajaran menulis. Akibatnya, anak takut menulis karena
muncul rasa takut salah setelah tulisan mereka selesai. Anak
takut dibentak oleh guru. Karena ketakutan inilah akhirnya anak
tidak atau kurang bisa menghasilkan tulisan yang bisa
dibanggakan.
Anak yang berbakat pun
sering kandas di tengah jalan. Bahkan, ada pula seorang kepala
sekolah (bukan kepala sekolah di tempat penulis bertugas) kurang
tertarik untuk mengarahkan anak menjadi seorang penulis. Kata
kepala sekolah itu, ''Anak-anak di kota lebih baik diarahkan
pandai memecahkan soal matematika atau ilmu eksak. Anak-anak
kota tidak tertarik dengan tulis-menulis.'' Tentu kepala sekolah
ini terlalu gegabah mengeluarkan pendapat. Karena itu, tidak
mustahil majalah sekolah kurang mendapat perhatian dalam
pengalokasian dana. Kini banyak majalah sekolah tidak bisa
terbit karena kepala sekolahnya kurang punya wawasan.
Perlu Disingkirkan
Ada beberapa ''hantu'' yang perlu disingkirkan dalam
pembelajaran menulis kreatif. Pertama, rasa takut pada anak
perlu dihilangkan. Biarkan mereka menulis apa pun. Hilangkan
kebiasaan yang kurang membuat anak kurang bergairah menulis.
Kesalahan-kesalahan yang dapat menghantui mereka tidak perlu
terlalu ditonjol-tonjolkan. Siapa yang senang kekurangannya
ditonjol-tonjolkan? Jangankan seorang anak, orang dewasa pun
kurang senang jika yang diungkit-ungkit selalu kekurangannya.
Kemarahan pun bisa bangkit pada orang yang kesalahannya
diungkit-ungkit. Jadi, lebih baik dibangkitkan rasa percaya
dirinya sehingga anak merasa percaya diri dalam menghasilkan
sebuah tulisan.
Kedua, kebiasaan guru
menjelaskan banyak aturan (pengetahuan) dalam menulis. Hendaknya
kebiasaan ini dikurangi. Kurangi sikap guru seolah serba tahu
tentang tulis-menulis padahal dia sendiri belum pernah
melakoninya. Memang sering ada kelucuan dalam pembelajaran
menulis, guru amat cerewet dalam memberi peringatan kepada anak
namun ia sendiri belum pernah memperlihatkan contoh tulisan yang
layak dibaca orang lain -- sekurang-kurangnya di majalah sekolah.
Jika tidak ada majalah sekolah, kekurangan guru semakin
tertutupi. Tuntutan kepada anak sangat tinggi sedangkan gurunya
sendiri tidak bisa berbuat seperti yang dituntut itu. Kadang ada
juga guru yang galak. Galaknya seperti macan ompong, hanya bisa
bersuara mengaum namun tidak mampu menerkam mangsa. ''Hantu''
seperti itulah yang biasa dilihat anak di kelas.
Agar pembelajaran menulis
lebih menggairahkan, tampaknya guru perlu meniru model Tino
Sidin -- pengasuh acara ''Mari Melukis'' di TVRI beberapa tahun
silam. Bagaimana pun jeleknya karya anak, pastilah komentar Tino
Sidin, ''Bagus!'' Selanjutnya, barulah karya anak diberi masukan
untuk perbaikan sehingga anak tidak merasa direndahkan karya
atau harga dirinya. Anak akan takut berkarya karena malu
direndahkan di muka orang banyak.
Kalau mau jujur,
keberhasilan pembelajaran menulis di sekolah masih sangat rendah.
Anak-anak yang ada kemauan menulis saja belum menjadi jaminan
untuk mampu menulis, apalagi aktivitas menulis yang dipaksakan.
Demikian juga anak yang dibina oleh guru yang biasa menulis pun
prosentasenya masih rendah, apalagi dibina oleh guru yang belum
melakoni aktivitas menulis. Anak yang akhirnya mampu menulis
fiski maupun nonfiksi secara profesional sesungguhnya anak yang
tekun mengisi diri -- banyak membaca -- dan punya kreativitas
walau hasil ujian mata pelajaran bahasanya belum memuaskan.
Walaupun kebanyakan guru
bahasa (Indonesia) tidak melakoni aktivitas menulis, bukan
berarti mereka tidak mampu menjadikan seorang anak menjadi
penulis yang handal. Jadilah guru sebagai fasilitator dan
motivator yang baik. Bangkitkan semangat dan harga diri anak
karena hal itu mampu melatih kecerdasan dan keberanian
mengemukakan pendapat. IQ yang tinggi tanpa diaktifkan dengan
aktivitas baca-tulis tidak akan memberikan manfaat, malah
merugikan.
* igk tribana
|