Tuhan, Asli atau Palsu
JARAK
tidak membatasi kehendak orang untuk melampiaskan kesumpekan
batinnya. Keluhan batin Ida Bagus Tamtam Setiawan berbeda dengan
tangisan Nirmala Bonat, meski kini keduanya berada di Malaysia
sebagai TKI. Nirmala merintih karena kemanusiaannya dijatuhkan
ke tingkat benda mati, dijadikan semacam bantalan seterika oleh
majikan yang mengalami psikopat. Tamtam menjerit melihat
tayangan produk TV swasta Indonesia bertajuk ''Gentayangan''.
Suasana batin yang masih tebal diselaputi keyakinan agama yang
diwarisinya dari leluhur, yakni Hindu, seperti dilecehkan.
Kegusaran yang meski disampaikan tidak secara emosional, lewat
rubrik ''Surat Pembaca'' di Bali Post (1/6), justru disikapi
adem ayem oleh orang-orang Bali yang ironisnya terus berteriak
tentang ''Ajeg Bali''. Padahal tayangan tersebut, menurut dugaan
Tamtam, bisa dipirsa lebih jelas di Bali dibanding tempat
domisilinya di Malaysia.
Rubag pun awalnya
menyikapi surat pembaca di koran tersebut biasa-biasa saja,
karena dia tahu kalau di Bali ada kelompok-kelompok yang cepat
bereaksi bila melihat hal-hal yang dianggap melecehkan agama
Hindu dan budaya Bali. Berbagai demo dan protes pernah dilakukan
terhadap menteri, majalah, novel, sinetron maupun bangunan, yang
dengan sengaja maupun tidak, dianggap melecehkan agama yang
dianut mayoritas masyarakat Bali ini. Namun sekarang, entah
apatis atau tersedot perhatiannya untuk ikut jadi anggota
tim-tim sukses para Capres/Cawapres untuk Pemilu 5 Juli
mendatang, program ''Gentayangan'' seperti tidak terhiraukan.
Justru Tamtam yang berada di rantau merasa terusik dan
menyayangkan ketidakhirauan pemuka desa adat, yang seolah-olah
mengizinkan wilayah suci digunakan sebagai tempat syuting dan
ajang pembuktian kekuatan magis mengusir roh.
''Saya juga tidak bisa
menerima aktivitas yang menunjukkan arogansi manusia di wilayah
suci itu, Pak! Saya menetap di Mataram, sekarang jadi warga
Lombok, tapi tetap menganut Hindu sebagai dasar keyakinan saya
sekeluarga. Saya juga melihat tayangan itu. Dari pengamatan saya,
sudah banyak cara digunakan orang untuk menyerang dan
melumpuhkan keyakinan penganut Hindu sebagai kelompok minoritas
di Tanah Air. Padahal, baik di UUD 1945 maupun paham demokrasi,
jelas-jelas ada kalimat yang menjamin kebebasan bagi warga
negara untuk memeluk agama sesuai keyakinannya. Mengapa serangan
halus maupun kasar tetap berlanjut, malah justru ketika kita
semua menyebut diri manusia modern? Apakah semangat Perang Salib
dan Perang Sabil yang sebenarnya mutlak masalah bangsa Timur
Tengah abad XI mau dibangkitkan lagi?'' ujar seseorang lewat
telepon dari Mataram, yang memperkenalkan dirinya dengan nama I
Gusti Made Hiswara dan mengaku pernah berkeliling di Eropa dan
Amerika Serikat.
Telepon Hiswara dari
Lombok tersebut menyebabkan kaki Rubag melangkah setengah sadar
ke rak bukunya. Dia mengambil lima dari belasan buku yang
mengungkap tentang agama-agama manusia di dunia, karena kelima
buku tersebut berkisah tentang darah yang harus tumpah akibat
konflik agama. Kelimanya berkaitan dengan ucapan orang yang
dikenalnya hanya lewat percakapan telepon itu. ''Holy War: The
Crusades and Their Impact on Today's World'' dan ''A History of
God: The 4000 Year Quest of Judaism, Christianity and Islam'',
keduanya ditulis Karen Armstrong, sarjana teologi dan sastra
yang harus berkelana bertahun-tahun di kawasan Timur Tengah
untuk menyelami kisah lahir dan sejarah agama-agama monotheis,
yang dipeluk manusia hingga saat ini.
Juga, ''Terror in The Mind
of God, The Global Rise of Religious Violence'' tulisan Mark, ''Juergensmever,
One True God; Historical Consequences of Monotheism'' karya
Rodney Stark serta ''Seven Theories of Religion'' karya Daniel
L. Pals melengkapi puyengnya otak Rubag untuk memahami perilaku
manusia, yang tega saling bunuh meski sama-sama mengaku
ber-Tuhan Yang Satu. Sebab, jangan di buku yang berbeda di
antara kelima buku yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia
itu, dalam satu buku yang berbeda subjudul saja terjadi
perbedaan konsep tentang Tuhan.
Tidak bisa disalahkan
kalau Karen Armstrong dalam bab pendahuluan ''A History of God''
mengatakan bahwa Tuhan merupakan produk imajinasi kreatif
manusia, sehingga gagasan tentang Tuhan yang dibentuk sekelompok
manusia pada satu generasi, bisa saja menjadi tidak bermakna
bagi generasi berikutnya. Artinya, setiap generasi berusaha
menggagas citra Tuhan yang sesuai bagi mereka, sehingga pada
kulit buku tersebut, Karen menulis, jika gagasan tentang Tuhan
tidak memiliki keluwesan, niscaya ia tidak akan mampu bertahan
menjadi salah satu gagasan besar umat manusia. Ketika sebuah
konsepsi tentang Tuhan tidak lagi dianggap memiliki makna dan
relevansi, lanjut Karen, secara diam-diam ia akan ditinggalkan
penganutnya dan diganti dengan teologi baru.
Kecenderungan itu, bagi
Rubag, sudah tampak di masyarakat dewasa ini, terutama akibat
kapitalisme yang meruyak ke seluruh pelosok kehidupan. Banyak
orang meniru sikap Karen Armstrong yang mengaku sejak kecil
memiliki kepercayaan agama sangat kuat, namun sedikit keimanan
kepada Tuhan. Keluhan terjadinya degradasi moral secara
menyeluruh di masyarakat sering terlontar, bisa jadi merupakan
jawaban bahwa teologi baru yang dianut manusia saat ini adalah
uang dan kekuasaan. Korupsi, kriminalitas, penyelewengan
kekuasaan, politik uang dan prostitusi serta perselingkuhan
adalah ayat-ayatnya.
***
Karen yakin kalau dalam
setiap agama ada kelompok yang disebut fundamentalis, yakni
kelompok yang membela keyakinan agamanya lewat pedang, meski
harus nyawa jadi taruhannya. Malah di benak masing-masing
kelompok ini tertanam kredo, ''Tuhan kamilah yang asli dan Tuhan
mereka palsu!'' yang ditambah gairah apokaliptik dan kepercayaan
kental akan terjadinya ''Hari Akhir dan Hari Penyelamatan'',
menyebabkan huru-hara berdarah sejak Abad Pertengahan sulit
dihentikan. Pencetus dan penyeru Perang Salib, Paus Urban II
dari konsili Clermont, yang mengirim ribuan peziarah atau
tentara Salib ke Yerusalem, 25 November 1095, menyebabkan ribuan
bahkan jutaan manusia jadi korban. Perang Salib ini pula
melahirkan tentara Jihad sebagai lawan. Ironisnya, yang jadi
korban paling banyak dari perang yang berlangsung hingga dua
abad lebih ini, justru keturunan Abram yang berganti nama jadi
Ibrahim, yakni kaum Yahudi, Kristen dan Islam. Semangat perang
tersebut tetap berkelanjutan di era sains serta teknologi modern
ini, meski dibalut kepentingan politik, ekonomi, sosial dan
budaya. Padang dan tombak diganti alat pembunuh kolosal berupa
Semtex, RDX, PETN dan C4.
Bila benar manusia telah
muncul di dunia sejak 40 ribu tahun silam, maka sebagian besar
era manusia tidak dilandasi kehidupan beragama dan tanpa Tuhan.
Barbarianisme dan kanibalisme menjadi keseharian mereka selama
nyaris empat 40 millenium. Namun, begitu hebatnya tantangan yang
harus dihadapi manusia, yang pada awalnya bernama mahluk Cro
Magnon selanjutnya berkembang jadi homo sapiens karena otaknya
berkapasitas 150 cm3, ternyata mereka bisa eksis hingga sekarang.
Malah kini jumlahnya nyaris menyamai jumlah bintang di langit,
seperti bunyi wahyu Yahweh kepada Abram.
Ada yang berpendapat,
meskipun tidak mengenal Tuhan, bangsa-bangsa primitif sebelum
agama monotheisme muncul, juga menyembah suatu kekuatan tak
terlihat yang mereka anggap sebagai pelindung. Animisme dan
dinamisme lalu berkembang jadi politheisme, yang juga disebut
paganisme karena menyembah banyak dewa. Di atas tumpukan
kepercayaan inilah monotheisme atau kepercayaan hanya kepada
satu Tuhan terlahir.
''Risiko ber-Tuhan satu
juga sangat besar, seperti yang diulas Rodney Stark. Berkaitan
dengan pendapat Karen Armstrong, yang mengatakan bahwa
masing-masing generasi menggagas citra Tuhan sesuai imajinasi
dan kepentingannya. Akibatnya, berlangsunglah ironi dalam
sejarah agama, dimana agama yang seharusnya berfungsi
memanusiakan manusia justru dipakai dalih memerangi orang lain.
Sebab, masing-masing pihak mengklaim Tuhan mereka asli, sedang
Tuhan dari agama lain palsu,'' renung Rubag yang tiba-tiba
teringat Tragedi Bom Legian, 12 Oktober, dua tahun silam.
***
Keluhan Tamtam dan Hiswara
atas opname program tayangan TV dekat tempat suci di Bali perlu
disikapi pemuka adat maupun agama. Sebab, dalam Panca Sarada,
selain percaya adanya Sang Hyang Widi Wasa, kepercayaan atas
Atman atau Roh menempati peringkat kedua. Jangan sampai terjadi,
lewat mediator yang biasanya kesurupan atau in trance, lalu
misalnya menyebut-nyebut nama Ida Bhatara Ratu Gede Mecaling
atau Ida Bhatari Ratu Ayu sebagai roh-roh gentayangan yang akan
mereka usir. Payung seharusnya disiapkan, meski hujan belum
tentu turun.
* aridus
|