kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 6 Juni 2004 tarukan valas
 

OPINI


Tuhan, Asli atau Palsu

JARAK tidak membatasi kehendak orang untuk melampiaskan kesumpekan batinnya. Keluhan batin Ida Bagus Tamtam Setiawan berbeda dengan tangisan Nirmala Bonat, meski kini keduanya berada di Malaysia sebagai TKI. Nirmala merintih karena kemanusiaannya dijatuhkan ke tingkat benda mati, dijadikan semacam bantalan seterika oleh majikan yang mengalami psikopat. Tamtam menjerit melihat tayangan produk TV swasta Indonesia bertajuk ''Gentayangan''. Suasana batin yang masih tebal diselaputi keyakinan agama yang diwarisinya dari leluhur, yakni Hindu, seperti dilecehkan. Kegusaran yang meski disampaikan tidak secara emosional, lewat rubrik ''Surat Pembaca'' di Bali Post (1/6), justru disikapi adem ayem oleh orang-orang Bali yang ironisnya terus berteriak tentang ''Ajeg Bali''. Padahal tayangan tersebut, menurut dugaan Tamtam, bisa dipirsa lebih jelas di Bali dibanding tempat domisilinya di Malaysia.

Rubag pun awalnya menyikapi surat pembaca di koran tersebut biasa-biasa saja, karena dia tahu kalau di Bali ada kelompok-kelompok yang cepat bereaksi bila melihat hal-hal yang dianggap melecehkan agama Hindu dan budaya Bali. Berbagai demo dan protes pernah dilakukan terhadap menteri, majalah, novel, sinetron maupun bangunan, yang dengan sengaja maupun tidak, dianggap melecehkan agama yang dianut mayoritas masyarakat Bali ini. Namun sekarang, entah apatis atau tersedot perhatiannya untuk ikut jadi anggota tim-tim sukses para Capres/Cawapres untuk Pemilu 5 Juli mendatang, program ''Gentayangan'' seperti tidak terhiraukan. Justru Tamtam yang berada di rantau merasa terusik dan menyayangkan ketidakhirauan pemuka desa adat, yang seolah-olah mengizinkan wilayah suci digunakan sebagai tempat syuting dan ajang pembuktian kekuatan magis mengusir roh.

''Saya juga tidak bisa menerima aktivitas yang menunjukkan arogansi manusia di wilayah suci itu, Pak! Saya menetap di Mataram, sekarang jadi warga Lombok, tapi tetap menganut Hindu sebagai dasar keyakinan saya sekeluarga. Saya juga melihat tayangan itu. Dari pengamatan saya, sudah banyak cara digunakan orang untuk menyerang dan melumpuhkan keyakinan penganut Hindu sebagai kelompok minoritas di Tanah Air. Padahal, baik di UUD 1945 maupun paham demokrasi, jelas-jelas ada kalimat yang menjamin kebebasan bagi warga negara untuk memeluk agama sesuai keyakinannya. Mengapa serangan halus maupun kasar tetap berlanjut, malah justru ketika kita semua menyebut diri manusia modern? Apakah semangat Perang Salib dan Perang Sabil yang sebenarnya mutlak masalah bangsa Timur Tengah abad XI mau dibangkitkan lagi?'' ujar seseorang lewat telepon dari Mataram, yang memperkenalkan dirinya dengan nama I Gusti Made Hiswara dan mengaku pernah berkeliling di Eropa dan Amerika Serikat.

Telepon Hiswara dari Lombok tersebut menyebabkan kaki Rubag melangkah setengah sadar ke rak bukunya. Dia mengambil lima dari belasan buku yang mengungkap tentang agama-agama manusia di dunia, karena kelima buku tersebut berkisah tentang darah yang harus tumpah akibat konflik agama. Kelimanya berkaitan dengan ucapan orang yang dikenalnya hanya lewat percakapan telepon itu. ''Holy War: The Crusades and Their Impact on Today's World'' dan ''A History of God: The 4000 Year Quest of Judaism, Christianity and Islam'', keduanya ditulis Karen Armstrong, sarjana teologi dan sastra yang harus berkelana bertahun-tahun di kawasan Timur Tengah untuk menyelami kisah lahir dan sejarah agama-agama monotheis, yang dipeluk manusia hingga saat ini.

Juga, ''Terror in The Mind of God, The Global Rise of Religious Violence'' tulisan Mark, ''Juergensmever, One True God; Historical Consequences of Monotheism'' karya Rodney Stark serta ''Seven Theories of Religion'' karya Daniel L. Pals melengkapi puyengnya otak Rubag untuk memahami perilaku manusia, yang tega saling bunuh meski sama-sama mengaku ber-Tuhan Yang Satu. Sebab, jangan di buku yang berbeda di antara kelima buku yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia itu, dalam satu buku yang berbeda subjudul saja terjadi perbedaan konsep tentang Tuhan.

Tidak bisa disalahkan kalau Karen Armstrong dalam bab pendahuluan ''A History of God'' mengatakan bahwa Tuhan merupakan produk imajinasi kreatif manusia, sehingga gagasan tentang Tuhan yang dibentuk sekelompok manusia pada satu generasi, bisa saja menjadi tidak bermakna bagi generasi berikutnya. Artinya, setiap generasi berusaha menggagas citra Tuhan yang sesuai bagi mereka, sehingga pada kulit buku tersebut, Karen menulis, jika gagasan tentang Tuhan tidak memiliki keluwesan, niscaya ia tidak akan mampu bertahan menjadi salah satu gagasan besar umat manusia. Ketika sebuah konsepsi tentang Tuhan tidak lagi dianggap memiliki makna dan relevansi, lanjut Karen, secara diam-diam ia akan ditinggalkan penganutnya dan diganti dengan teologi baru.

Kecenderungan itu, bagi Rubag, sudah tampak di masyarakat dewasa ini, terutama akibat kapitalisme yang meruyak ke seluruh pelosok kehidupan. Banyak orang meniru sikap Karen Armstrong yang mengaku sejak kecil memiliki kepercayaan agama sangat kuat, namun sedikit keimanan kepada Tuhan. Keluhan terjadinya degradasi moral secara menyeluruh di masyarakat sering terlontar, bisa jadi merupakan jawaban bahwa teologi baru yang dianut manusia saat ini adalah uang dan kekuasaan. Korupsi, kriminalitas, penyelewengan kekuasaan, politik uang dan prostitusi serta perselingkuhan adalah ayat-ayatnya.

***

Karen yakin kalau dalam setiap agama ada kelompok yang disebut fundamentalis, yakni kelompok yang membela keyakinan agamanya lewat pedang, meski harus nyawa jadi taruhannya. Malah di benak masing-masing kelompok ini tertanam kredo, ''Tuhan kamilah yang asli dan Tuhan mereka palsu!'' yang ditambah gairah apokaliptik dan kepercayaan kental akan terjadinya ''Hari Akhir dan Hari Penyelamatan'', menyebabkan huru-hara berdarah sejak Abad Pertengahan sulit dihentikan. Pencetus dan penyeru Perang Salib, Paus Urban II dari konsili Clermont, yang mengirim ribuan peziarah atau tentara Salib ke Yerusalem, 25 November 1095, menyebabkan ribuan bahkan jutaan manusia jadi korban. Perang Salib ini pula melahirkan tentara Jihad sebagai lawan. Ironisnya, yang jadi korban paling banyak dari perang yang berlangsung hingga dua abad lebih ini, justru keturunan Abram yang berganti nama jadi Ibrahim, yakni kaum Yahudi, Kristen dan Islam. Semangat perang tersebut tetap berkelanjutan di era sains serta teknologi modern ini, meski dibalut kepentingan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Padang dan tombak diganti alat pembunuh kolosal berupa Semtex, RDX, PETN dan C4.

Bila benar manusia telah muncul di dunia sejak 40 ribu tahun silam, maka sebagian besar era manusia tidak dilandasi kehidupan beragama dan tanpa Tuhan. Barbarianisme dan kanibalisme menjadi keseharian mereka selama nyaris empat 40 millenium. Namun, begitu hebatnya tantangan yang harus dihadapi manusia, yang pada awalnya bernama mahluk Cro Magnon selanjutnya berkembang jadi homo sapiens karena otaknya berkapasitas 150 cm3, ternyata mereka bisa eksis hingga sekarang. Malah kini jumlahnya nyaris menyamai jumlah bintang di langit, seperti bunyi wahyu Yahweh kepada Abram.

Ada yang berpendapat, meskipun tidak mengenal Tuhan, bangsa-bangsa primitif sebelum agama monotheisme muncul, juga menyembah suatu kekuatan tak terlihat yang mereka anggap sebagai pelindung. Animisme dan dinamisme lalu berkembang jadi politheisme, yang juga disebut paganisme karena menyembah banyak dewa. Di atas tumpukan kepercayaan inilah monotheisme atau kepercayaan hanya kepada satu Tuhan terlahir.

''Risiko ber-Tuhan satu juga sangat besar, seperti yang diulas Rodney Stark. Berkaitan dengan pendapat Karen Armstrong, yang mengatakan bahwa masing-masing generasi menggagas citra Tuhan sesuai imajinasi dan kepentingannya. Akibatnya, berlangsunglah ironi dalam sejarah agama, dimana agama yang seharusnya berfungsi memanusiakan manusia justru dipakai dalih memerangi orang lain. Sebab, masing-masing pihak mengklaim Tuhan mereka asli, sedang Tuhan dari agama lain palsu,'' renung Rubag yang tiba-tiba teringat Tragedi Bom Legian, 12 Oktober, dua tahun silam.

***

Keluhan Tamtam dan Hiswara atas opname program tayangan TV dekat tempat suci di Bali perlu disikapi pemuka adat maupun agama. Sebab, dalam Panca Sarada, selain percaya adanya Sang Hyang Widi Wasa, kepercayaan atas Atman atau Roh menempati peringkat kedua. Jangan sampai terjadi, lewat mediator yang biasanya kesurupan atau in trance, lalu misalnya menyebut-nyebut nama Ida Bhatara Ratu Gede Mecaling atau Ida Bhatari Ratu Ayu sebagai roh-roh gentayangan yang akan mereka usir. Payung seharusnya disiapkan, meski hujan belum tentu turun.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com