kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 6 Juni 2004 tarukan valas
 

KELUARGA


Jangan Biarkan Anak Bali Mati Sia-sia

Setiap hari ada berita di surat kabar bahwa ada orang Bali mati dengan bunuh diri. Seakan-akan mudah sekali melakukan tindakan itu. Seakan-akan ini jalan terbaik untuk mati. Seakan-akan wajar tindakan ini. Seakan-akan masyaraat menerima keadaan ini. Padahal masyarakat Hindu memandang mati bunuh diri adalah ulah pati -- mati yang tidak boleh dilakukan dan tidak dibenarkan oleh Tuhan. Mati dengan bunuh diri meninggalkan aib bagi keluarganya.

SEJUMLAH berita mati bunuh diri menyentakkan bagi siapapun yang membacanya. Ulasan-ulasannya pun mengharukan semua orang. Penyebab yang mendorong seseorang nekat bunuh diri kebanyakan adalah masalah kecil misalnya karena dimarahi ibunya, tidak dibelikan baju, makanan belum siap, penyakit tidak sembuh-sembuh, berkelahi dengan saudara, dan alasan lainnya. Pertanyaan yang muncul setelah membaca alasannya adalah ''Apa mungkin masalah sekecil ini mengharuskan dia mengambil sikap bunuh diri?'' Kematian yang diinginkannya bukan sekadar untuk main-main atau menakutkan orangtuanya. Malahan ada yang meninggalkan surat menyampaikan alasan bunuh diri dan memberi pesan buat mereka yang ditinggalkannya. Mereka memang benar-benar ingin mati dengan menggantung diri. Keberhasilan mati dengan menggantung diri sangat besar.

Peristiwa seperti ini pun pernah terjadi di Bali tahun 1988-1990, namun tidak senekat sekarang. Pada tahun itu tiada hari tanpa percobaan bunuh diri. Mereka ingin mengakhiri hidupnya kebanyakan dengan memakai pestisida, karena bahan itu memang mudah didapat. Daerah yang terbanyak melakukan percobaan bunuh diri di seluruh Bali adalah Buleleng dan Tabanan. Di Rumah Sakit Singaraja setiap hari ada pasien yang mencoba bunuh diri.

Pada saat penelitian dilakukan diduga karena faktor ekonomi, namun setelah dilakukan penelitian retrospektif ternyata kejadian ini menurun sampai pada tahun 1992. Pada tahun tersebut kasus percobaan bunuh diri sangat kurang. Disimpulkan pada saat itu bukan karena faktor ekonomi semata, tetapi kejenuhan melakukan kegiatan-kegiatan yang melelahkan masyarakat menyebabkan kejadian itu dan kemudian kemampuan beradaptasi cepat menyebabkan kejadian ini menurun. Kematian karena bunuh diri jarang dilaporkan baik di rumah sakit maupun di kepolisian.

Dari penelitian percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh Suryani pada penderita yang dirawat di RSU Wangaya tahun 1969-1974 dan 1982-1989, kebanyakan percobaan bunuh diri dilakukan dengan menggunakan pestisida, jarang dengan gantung diri. Mereka kebanyakan menyatakan ada sesuatu kekuatan yang mendorong untuk melakukan bunuh diri. Di dalam pikirannya hanya ada bagaimana mengambil barang-barang yang bisa mematikan, apakah pisau, pestisida, atau dengan menggantung diri. Sebelum dorongan besar menguasai dirinya, sebelum ia mampu melakukan tindakan untuk mengakhiri hidupnya, sering muncul berbagai pertimbangan dalam dirinya untuk tidak melakukannya.

Namun dalam suatu keadaan yang sulit dilukiskannya ia seperti hanya memikirkan mati saja. Pertimbangan sudah tidak ada. Ia melakukannya dengan sadar, tidak ada ketakutan saat itu. Setelah meneguk pestisida atau menggunakan pisau untuk menoreh dirinya, ia tidak merasakan apa-apa, ia merasa masuk dalam dunia lain, merasa semua gelap dan baru menyadarinya setelah berada di rumah sakit. Dan pada saat ia sudah nekat mau bunuh diri, mereka berada dalam keadaan kesurupan dikuasai oleh kekuatan tertentu yang menyebabkan kemampuan bertimbangnya tidak berfungsi. Ia seperti digiring mengambil sesuatu untuk melakukan tindakan bunuh diri. Hampir semuanya mengatakan ketakutan kalau mengenang apa yang terjadi pada dirinya, tidak ingin mengulang itu kembali.

Penyebab bunuh diri lainnya bisa karena mengalami gangguan jiwa seperti depresi, merasa putus asa, tidak ada harapan, merasa sendirian dan mati adalah jalan terbaik untuk mengakhiri penderitaannya. Ada juga karena mengalami gangguan psikotik (gila), halusinasi suara yang menyuruhnya melakukan tindakan itu. Namun penyebab lainnya pada umumnya karena kepribadian yang belum matang, belum dewasa. Pertimbangan untuk berani menghadapi tantangan hidup tidak dimilikinya, ingin meraup hasil secepat mungkin dan kalau tidak berhasil, maka mudah putus asa dan ingin mengambil jalan pintas.

Apa yang harus Dilakukan?
Masalah bunuh diri bukan masalah kecil. Masalah ini begitu marak menunjukkan keadaan masyarakat Bali sudah dalam ambang kritis. Kemampuan masyarakat melakukan pertimbangan jernih sudah tidak ada lagi. Masalah bunuh diri tidak lagi masalah pribadi, tetapi masalah masyarakat, masalah pemerintah dan masalah kita semua. Pemerintah harus mengambil tindakan cepat untuk belajar dari apa yang pernah terjadi, belajar dari apa yang dilakukan dan belajar dari negara-negara lainnya. Seharusnya pemerintah merasa bahwa sesuatu yang tidak wajar sedang terjadi di masyarakat yang dipimpinnya.

Bisakah pemerintah mengundang instansi yang terkait seperti dinas pendidikan, dinas agama, dan bagian psikiatri, mengundang tokoh-tokoh masyarakat dan desa pekraman, mengundang antropolog dan sosiolog untuk duduk bersama memecahkan masalah ini secara holistik (menyeluruh). Masalah ini adalah masalah besar, masalah masa depan orang Bali. Belajar dari kasus-kasus percobaan bunuh diri dan bunuh diri yang terjadi di Bali maka perlu dipikirkan:

1. Bisakah memperkuat mental anak, memperkuat kepribadian anak sehingga ajaran agama merupakan rambu-rambu di dalam menghadapi stres yang berat. Pendidikan harus dimulai sejak janin dalam kandungan yang dilakukan oleh orang tuanya untuk meletakkan dasar-dasar berani menghadapi tantangan, mau belajar dan adanya rasa ingin tahu yang besar. Yang perlu diberikan oleh orangtuanya setelah anak lahir adalah dasar-dasar bagaimana anak bereaksi bila ada tantangan dari luar dirinya. Pembentukan mekanisme pertahanan akan mampu mengarahkan anak untuk berani menghadapi tantangan. Pendidikan dari orangtua, lingkungan dan udaya akan menentukan kebutuhan hidup anak itu, apakah hubungan baik, prestise, atau prestasi yang menentukan keberhasilan seseorang. Bercerita sebelum tidur, musik dan gamelan serta situasi lingkungan spiritual menghantarkan anak berkembang wajar.

2. Bisakah membuat masyarakat hidup nyaman dengan ada waktu untuk istirahat dan ada waktu untuk kerja. Upacara-upacara agama harus dimaknai bukan dengan logika tetapi dengan intuisi, dengan hati nurani sehingga makna upacara agama memang untuk menjernihkan pikiran seseorang dan menghantarkan mereka untuk memperbaiki karma di dunia ini untuk mencapai moksah di kemudian hari. Perlu ditelusuri kembali pemahaman agama yang telah diberikan oleh leluhur Bali. Leluhur Bali tidak pernah mengajarkan kepada turunannya untuk sibuk melakukan upacara agama, tetapi selalu ditanamkan agar bisa hidup seimbang dan harmonis. Ada masa-masa di mana orang Bali tidak boleh melakukan upacara yang besar.

3. Bisakah pendidikan di sekolah mengikutsertakan konsep budaya Bali, dimasukkan melalui cerita-cerita. Pada saat TK anak-anak diberikan bermain sepuas-puasnya dan melalui permainan dimasukkan usnur pendidikan dan filosofi agama, ditanamkan keberanian menghadapi perubahan dan tantangan, dididikk untuk mempunyai semangat juang, dan diberikan dasar-dasar untuk pengembangan otak belahan sebelah kiri dan kanan. Dengan demikian diharapkan lahir anak-anak yang pandai, kreatif, mandiri dan sehat. Setelah SMP dan SMA mulai diperkenankan bahwa anak harus mampu mengatasi hidup ini dengan konsep belajar dari pengalaman, yang lewat biarlah lewat, kehidupan mulai hari ini dan yang akan datang.

4. Bisakah pendidikan agama memberikan masukan melalui cerita agar anak-anak memahami apa yang dimaksud dalam agama, namun pemahaman itu biarkan anak mencernanya dengan menggunakan intuisi dan logika bersama-sama sehingga anak-anak merasakan manfaatnya agama ini untuk menuntunnya ke jalan yang benar dalam mengarungi kehidupan ini.

5. Bisakah pemerintah dan desa pekraman menyediakan sarana dan prasarana agar masyarakat mampu mengekspresikan emosinya. Ada tempat-tempat untuk bermain, ngobrol dan menyalurkan hobi mereka. Masyarakat tidak hanya diarahkan untuk bekerja saja. Mengekspresikan emosi melalui kata, gerak, melukis dan menikmati alam semesta akan memberikan inspirasi buatnya untuk berkarya buat dirinya dan buat kepentingan masyarakat.
* luh ketut suryani

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com