Jangan Biarkan Anak
Bali Mati Sia-sia
Setiap hari ada berita di
surat kabar bahwa ada orang Bali mati dengan bunuh diri.
Seakan-akan mudah sekali melakukan tindakan itu. Seakan-akan ini
jalan terbaik untuk mati. Seakan-akan wajar tindakan ini.
Seakan-akan masyaraat menerima keadaan ini. Padahal masyarakat
Hindu memandang mati bunuh diri adalah ulah pati -- mati yang
tidak boleh dilakukan dan tidak dibenarkan oleh Tuhan. Mati
dengan bunuh diri meninggalkan aib bagi keluarganya.
SEJUMLAH
berita mati bunuh diri menyentakkan bagi siapapun yang
membacanya. Ulasan-ulasannya pun mengharukan semua orang.
Penyebab yang mendorong seseorang nekat bunuh diri kebanyakan
adalah masalah kecil misalnya karena dimarahi ibunya, tidak
dibelikan baju, makanan belum siap, penyakit tidak sembuh-sembuh,
berkelahi dengan saudara, dan alasan lainnya. Pertanyaan yang
muncul setelah membaca alasannya adalah ''Apa mungkin masalah
sekecil ini mengharuskan dia mengambil sikap bunuh diri?''
Kematian yang diinginkannya bukan sekadar untuk main-main atau
menakutkan orangtuanya. Malahan ada yang meninggalkan surat
menyampaikan alasan bunuh diri dan memberi pesan buat mereka
yang ditinggalkannya. Mereka memang benar-benar ingin mati
dengan menggantung diri. Keberhasilan mati dengan menggantung
diri sangat besar.
Peristiwa seperti ini pun
pernah terjadi di Bali tahun 1988-1990, namun tidak senekat
sekarang. Pada tahun itu tiada hari tanpa percobaan bunuh diri.
Mereka ingin mengakhiri hidupnya kebanyakan dengan memakai
pestisida, karena bahan itu memang mudah didapat. Daerah yang
terbanyak melakukan percobaan bunuh diri di seluruh Bali adalah
Buleleng dan Tabanan. Di Rumah Sakit Singaraja setiap hari ada
pasien yang mencoba bunuh diri.
Pada saat penelitian
dilakukan diduga karena faktor ekonomi, namun setelah dilakukan
penelitian retrospektif ternyata kejadian ini menurun sampai
pada tahun 1992. Pada tahun tersebut kasus percobaan bunuh diri
sangat kurang. Disimpulkan pada saat itu bukan karena faktor
ekonomi semata, tetapi kejenuhan melakukan kegiatan-kegiatan
yang melelahkan masyarakat menyebabkan kejadian itu dan kemudian
kemampuan beradaptasi cepat menyebabkan kejadian ini menurun.
Kematian karena bunuh diri jarang dilaporkan baik di rumah sakit
maupun di kepolisian.
Dari penelitian percobaan
bunuh diri yang dilakukan oleh Suryani pada penderita yang
dirawat di RSU Wangaya tahun 1969-1974 dan 1982-1989, kebanyakan
percobaan bunuh diri dilakukan dengan menggunakan pestisida,
jarang dengan gantung diri. Mereka kebanyakan menyatakan ada
sesuatu kekuatan yang mendorong untuk melakukan bunuh diri. Di
dalam pikirannya hanya ada bagaimana mengambil barang-barang
yang bisa mematikan, apakah pisau, pestisida, atau dengan
menggantung diri. Sebelum dorongan besar menguasai dirinya,
sebelum ia mampu melakukan tindakan untuk mengakhiri hidupnya,
sering muncul berbagai pertimbangan dalam dirinya untuk tidak
melakukannya.
Namun dalam suatu keadaan
yang sulit dilukiskannya ia seperti hanya memikirkan mati saja.
Pertimbangan sudah tidak ada. Ia melakukannya dengan sadar,
tidak ada ketakutan saat itu. Setelah meneguk pestisida atau
menggunakan pisau untuk menoreh dirinya, ia tidak merasakan
apa-apa, ia merasa masuk dalam dunia lain, merasa semua gelap
dan baru menyadarinya setelah berada di rumah sakit. Dan pada
saat ia sudah nekat mau bunuh diri, mereka berada dalam keadaan
kesurupan dikuasai oleh kekuatan tertentu yang menyebabkan
kemampuan bertimbangnya tidak berfungsi. Ia seperti digiring
mengambil sesuatu untuk melakukan tindakan bunuh diri. Hampir
semuanya mengatakan ketakutan kalau mengenang apa yang terjadi
pada dirinya, tidak ingin mengulang itu kembali.
Penyebab bunuh diri
lainnya bisa karena mengalami gangguan jiwa seperti depresi,
merasa putus asa, tidak ada harapan, merasa sendirian dan mati
adalah jalan terbaik untuk mengakhiri penderitaannya. Ada juga
karena mengalami gangguan psikotik (gila), halusinasi suara yang
menyuruhnya melakukan tindakan itu. Namun penyebab lainnya pada
umumnya karena kepribadian yang belum matang, belum dewasa.
Pertimbangan untuk berani menghadapi tantangan hidup tidak
dimilikinya, ingin meraup hasil secepat mungkin dan kalau tidak
berhasil, maka mudah putus asa dan ingin mengambil jalan pintas.
Apa yang harus
Dilakukan?
Masalah bunuh diri bukan masalah kecil. Masalah ini begitu marak
menunjukkan keadaan masyarakat Bali sudah dalam ambang kritis.
Kemampuan masyarakat melakukan pertimbangan jernih sudah tidak
ada lagi. Masalah bunuh diri tidak lagi masalah pribadi, tetapi
masalah masyarakat, masalah pemerintah dan masalah kita semua.
Pemerintah harus mengambil tindakan cepat untuk belajar dari apa
yang pernah terjadi, belajar dari apa yang dilakukan dan belajar
dari negara-negara lainnya. Seharusnya pemerintah merasa bahwa
sesuatu yang tidak wajar sedang terjadi di masyarakat yang
dipimpinnya.
Bisakah pemerintah
mengundang instansi yang terkait seperti dinas pendidikan, dinas
agama, dan bagian psikiatri, mengundang tokoh-tokoh masyarakat
dan desa pekraman, mengundang antropolog dan sosiolog untuk
duduk bersama memecahkan masalah ini secara holistik (menyeluruh).
Masalah ini adalah masalah besar, masalah masa depan orang Bali.
Belajar dari kasus-kasus percobaan bunuh diri dan bunuh diri
yang terjadi di Bali maka perlu dipikirkan:
1. Bisakah memperkuat
mental anak, memperkuat kepribadian anak sehingga ajaran agama
merupakan rambu-rambu di dalam menghadapi stres yang berat.
Pendidikan harus dimulai sejak janin dalam kandungan yang
dilakukan oleh orang tuanya untuk meletakkan dasar-dasar berani
menghadapi tantangan, mau belajar dan adanya rasa ingin tahu
yang besar. Yang perlu diberikan oleh orangtuanya setelah anak
lahir adalah dasar-dasar bagaimana anak bereaksi bila ada
tantangan dari luar dirinya. Pembentukan mekanisme pertahanan
akan mampu mengarahkan anak untuk berani menghadapi tantangan.
Pendidikan dari orangtua, lingkungan dan udaya akan menentukan
kebutuhan hidup anak itu, apakah hubungan baik, prestise, atau
prestasi yang menentukan keberhasilan seseorang. Bercerita
sebelum tidur, musik dan gamelan serta situasi lingkungan
spiritual menghantarkan anak berkembang wajar.
2. Bisakah membuat
masyarakat hidup nyaman dengan ada waktu untuk istirahat dan ada
waktu untuk kerja. Upacara-upacara agama harus dimaknai bukan
dengan logika tetapi dengan intuisi, dengan hati nurani sehingga
makna upacara agama memang untuk menjernihkan pikiran seseorang
dan menghantarkan mereka untuk memperbaiki karma di dunia ini
untuk mencapai moksah di kemudian hari. Perlu ditelusuri kembali
pemahaman agama yang telah diberikan oleh leluhur Bali. Leluhur
Bali tidak pernah mengajarkan kepada turunannya untuk sibuk
melakukan upacara agama, tetapi selalu ditanamkan agar bisa
hidup seimbang dan harmonis. Ada masa-masa di mana orang Bali
tidak boleh melakukan upacara yang besar.
3. Bisakah pendidikan di
sekolah mengikutsertakan konsep budaya Bali, dimasukkan melalui
cerita-cerita. Pada saat TK anak-anak diberikan bermain
sepuas-puasnya dan melalui permainan dimasukkan usnur pendidikan
dan filosofi agama, ditanamkan keberanian menghadapi perubahan
dan tantangan, dididikk untuk mempunyai semangat juang, dan
diberikan dasar-dasar untuk pengembangan otak belahan sebelah
kiri dan kanan. Dengan demikian diharapkan lahir anak-anak yang
pandai, kreatif, mandiri dan sehat. Setelah SMP dan SMA mulai
diperkenankan bahwa anak harus mampu mengatasi hidup ini dengan
konsep belajar dari pengalaman, yang lewat biarlah lewat,
kehidupan mulai hari ini dan yang akan datang.
4. Bisakah pendidikan
agama memberikan masukan melalui cerita agar anak-anak memahami
apa yang dimaksud dalam agama, namun pemahaman itu biarkan anak
mencernanya dengan menggunakan intuisi dan logika bersama-sama
sehingga anak-anak merasakan manfaatnya agama ini untuk
menuntunnya ke jalan yang benar dalam mengarungi kehidupan ini.
5. Bisakah pemerintah dan
desa pekraman menyediakan sarana dan prasarana agar masyarakat
mampu mengekspresikan emosinya. Ada tempat-tempat untuk bermain,
ngobrol dan menyalurkan hobi mereka. Masyarakat tidak hanya
diarahkan untuk bekerja saja. Mengekspresikan emosi melalui kata,
gerak, melukis dan menikmati alam semesta akan memberikan
inspirasi buatnya untuk berkarya buat dirinya dan buat
kepentingan masyarakat.
* luh ketut suryani
|