Epoeng
Mungkin Bisa
Menghibur
MESKI tak
sepopuler karya tari Bali lainnya, namun koreografer muda yang
akrab dipanggil Epoeng ini cukup bangga. Karena, tari Jogepong
yang digarapnya dalam waktu 10 hari beberapa waktu lalu, setelah
dipentaskan sanggup menghibur penontonnya. "Saya sangat
puas. Jogepong mungkin bisa menghibur penonton. Memang, ide awal
dari penggarapan tari ini adalah untuk menghibur penonton, di
samping untuk menguji kemampuan di bidang mencipta tari,"
papar alumnus STSI (sekarang ISI) Denpasar ini.
Pemilik nama lengkap Made
Ayu Lingriati ini, tari Jogepong lebih banyak menampilkan
berbagai gerak erotis. Dia mengaku, gerak ini terinspirasi dari
gerak tari Joged Bumbung (Bali) dan Jaipongan (Jawa Barat).
Tetapi, dalam pengembangnnya, anak kedua dari empat saudara
putri pasangan I Wayan Gustra dan Made Dawita ini mengaku juga
memasukkan gerak-gerak tari Barong Landung. Boleh dibilang, tari
Jogepong merupakan perpaduan antara Joged dengan Jaipongan.
"Saya ingin menampilkan dua karakter yang berbeda, yang
sanggup dibawakan oleh seorang penari di atas pentas," kata
wanita kelahiran Lombok, 24 Mei 1975 ini.
Jogepong didukung enam
penari wanita dan menggunakan iringan musik dari kaset. Lalu
bagaimana cara menata koreografinya? Guru tari TK dan SD ini
berkata, "Mula-mula para penari wanita ini memperagakan
gerak tari putri Bali. Mereka bergerak-gerak sangat lembut,
lemah gemulai dan ekspresi mukanya sangat kalem, namun tetap
mengundang perhatian penonton dengan seledet mata dan senyumnya
yang khas itu. Hanya saja, para penari ini tidak menampilkan
wajah secara keseluruhan, karena memakai cadar. Setelah cadar
dibuka, penari kemudian memperlihatkan bentuk mulutnya yang
lucu-lucu. Dan seketika itu pula dilakukan penyesuaian gerak
tari dengan lebih banyak melakukan gerakan erotis. Pada babak
ini para penari mengajak penonton ikut menari atau ngibing,"
papar penata gerak tari LCKG (1997) dan (2000) dan pernah
sebagai peserta "Temu Kader Koreografer Wanita
Indonesia" di Solo pada 2001 ini. (buda)
|