kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 6 Juni 2004 tarukan valas
 

CERMIN


Mengatasi Anak Ngompol

SAYA memiliki anak perempuan yang berusia 1,5 tahun dan masih tidur dengan saya. Perkembangannya bagus Bu, sejak usia 11 bulan sudah bisa berjalan dan sekarang ada sekitar 10 kata yang sudah bisa diucapkannya. Masalahnya justru sampai sekarang masih mengompol 2-3 kali tiap malam, rasanya capek menjemur kasur tiap hari karena kalau dikasih sprei plastik anak kepanasan dan rewel tidurnya, padahal keponakan perempuan yang berusia 10 bulan sejak 6 bulan sudah tidak pernah mengompol lagi. Saya berusaha keras melatihnya buang air sebelum tidur tetapi anak sering menolak dan menangis. Apakah ada yang salah dengan saluran kencing dan pencernakan anak saya? Bagaimana melatihnya agar tidak mengompol lagi dan kalau ada yang tidak beres ke mana saya harus membawanya berobat?

Made, Kerambitan

SAYA ibu bekerja yang memiliki anak 5,5 tahun dan 2 bulan. Sudah sejak usia 2 tahun si sulung tidak mengompol lagi, tetapi sejak saya mengandung anak kedua dia mengompol lagi. Saya pikir akan hilang dengan kelahiran adiknya, ternyata malah menjadi-jadi dan sering membuat saya hilang kesabaran melihat ulahnya, apalagi saya sudah capek mengurus adiknya yang masih bayi.

WS, Jl. Suli

Masalah mengompol memang termasuk masalah yang sering dikeluhkan para orangtua. Ini sangat erat berkaitan dengan toilet training, kebiasaan melatih anak buang air sejak dini. Kebiasaan mengompol pada anak di bawah usia 2 tahun merupakan hal yang wajar, bahkan ada beberapa anak yang masih mengompol pada usia 4-5 tahun dan sesekali terjadi pada anak 7 tahun.

Anak di bawah usia 2 tahun mengombol karena belum sempurnanya kontrol kandung kemih atau toilet trainingnya. Sementara anak di atas 4 tahun yang sesekali mengompol lebih sering disebabkan karena terlalu banyak minum sebelum tidur, lupa buang air sebelum tidur, terlalu capek bermain dan udara yang terlalu dingin. Sedangkan anak yang sudah lama tidak mengombol tiba-tiba mengompol lagi lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis seperti kelahiran adik, stres akibat pindah rumah, stres pindah sekolah, habis sakit/ dirawat di rumah sakit yang cukup lama dsb.

Sementara yang menjadi masalah dalam perkembangan anak adalah bila anak masih sering mengompol padahal usianya sudah lebih dari 5 tahun.

Kebiasaan mengompol (Enuresis) secara garis besar dapat dibedakan dalam dua tipe.

Enuresis Berkesinambungan
Kebiasaan mengompol ini timbul sejak lahir dan berkelanjutan sampai anak berusia di atas 5 tahun. Penyebab gangguan ini adalah terlambatnya atau adanya gangguan dalam mekanisme kontrol kencing anak maupun kegagalan toilet training (latihan buang air). Untuk Ibu Made, kasus mengompol putrinya akan menjadi berkepanjangan kalau tidak segera dilatih secara intensif dan penuh kesabaran kebiasaan buang airnya.

Enuresis tidak Berkesinambungan
Pada kasus ini, sebelumnya anak sudah tidak memiliki kebiasaan mengompol paling tidak selama 3 bulan. Faktor penyebabnya lebih banyak dikarenakan tekanan psikologis seperti adanya stres atau krisis emosional yang membuat anak merasa cemas, misalnya perceraian atau konflik orangtua yang mengganggu rasa aman anak, kelahiran adik, pindah sekolah dsb. Hal ini yang perlu dicermati sebagai penyebab mengompol pada kasus Ibu WS.

Untuk mengatasi kebiasaan mengompol ini memerlukan kerja sama yang baik antara anak dengan orangtua serta lingkungan yang memadai sebagai penunjangnya. Mengabaikan tentu bukanlah cara yang bijaksana, tetapi juga jangan terlalu keras dalam melatih kemampuan buang airnya (toilet training). Menghukum, membentak, menyindir atau mempermalukan bagi anak yang lebih besar tidak akan mengatasi masalah justru akan membuat anak makin cemas, merasa bersalah dan tidak berdaya yang tidak akan memperbaiki keadaan.

Cara-cara berikut mungkin perlu diterapkan pada anak.

Batasi Minum & Ritual Buang Air Sebelum Tidur
Membatasi minum anak setelah jam 7 malam dan mengingatkannya untuk buang air kecil terlebih dulu sebelum tidur merupakan cara yang paling mudah untuk dijadikan kebiasaan bagi anak. Bagi anak yang suka menolak dan menangis kemungkinan besar karena acara buang airnya terlalu dekat dengan jam tidur sehingga anak sudah dalam keadaan mengantuk maka mereka akan cenderung menolaknya. Ciptakan suasana yang menyenangkan sebelum tidur, paling tidak setengah jam sebelum anak mengantuk bawa anak ke kamar mandi, kencing tidak kencing ajaklah anak duduk di kloset atau jongkok di kamar mandi.

Menurunkan Kadar Stres
Untuk menurunkan ketegangan serta kadar stres terutama pada anak-anak yang sebelumnya sudah tidak mengompol lagi dapat dilakukan dengan mengajaknya berbincang-bincang atau membacakan cerita sebelum tidur. Perlakuan ini akan membuat anak merasa aman dan yakin atas perhatian serta kasih sayang dari lingkungannya. Untuk kasus Ibu WS, ini merupakan gejala dimana anak membutuhkan lebih banyak perhatian Anda.

Mintalah bantuan suami atau orang lain yang bisa diandalkan untuk membantu tugas mengasuh si bayi sehingga Anda punya waktu ekstra untuk si sulung. Perilaku mengompol merupakan caranya keluar dari kecemasan akan kehilangan perhatian ibunya serta manifestasi rasa cemburunya akan kehadiran adik yang ditakutkannya akan membuat lingkungan tidak perhatian lagi padanya.

Bangun Malam
Perhatikan kira-kira pada jam berapa anak biasanya mengompol atau kira-kira berapa jam setelah tidur akan mengompol. Bila pada jam 12.00 biasanya anak mengompol, bangunkan dia pada setengah jam sebelumnya untuk kencing ke kamar mandi. Atau bila anak mengompol setelah 3 jam tidur maka bangunkan anak untuk pergi kencing setelah anak tidur 2« jam. Pada anak yang lebih kecil sering akan rewel tetapi tidak perlu cemas anak akan kekurangan tidurnya. Bila ini terus menerus dilakukan, lama kelamaan anak akan terbiasa bangun dengan sendirinya tanpa bantuan orang lain ataupun berusaha mengontrol dirinya untuk tidak mengompol.

Pemberian Pujian dan Hukuman
Untuk memotivasi anak, jangan lupa berikan hadiah kecil, pujian atau pelukan hangat bila anak berhasil mengontrol kencingnya. Sistem pemberian bintang pada umumnya cukup berhasil. Misalnya tiap tidak mengompol maka anak mendapatkan satu bintang yang dapat dikumpulkannya untuk ditukarkan dengan mainan atau buku kesukaannya. Pemberian hukuman juga diperlukan untuk mengajarkan anak tangung jawab dan konsekuensi dari perbuatannya. Terutama untuk anak-anak yang sudah sekolah, suruh anak mengganti sprai atau menjemur bantal serta melihat bagaimana repotnya harus membersihkan dan menjemur kasur.

Namun, bila hal-hal tersebut sudah dilakukan dan anak kelihatan masih melanjutkan kebiasaan mengompolnya, mungkin Anda perlu berkonsultasi ke Psikolog untuk menelusuri kemungkinan adanya faktor psikologis dalam diri anak atau ke Urolog (Dokter Spesialis saluran kencing) untuk mendapatkan bantuan medisnya, sebelum semuanya makin parah.

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com