Mengatasi Anak Ngompol
SAYA
memiliki anak perempuan yang berusia 1,5 tahun dan masih tidur
dengan saya. Perkembangannya bagus Bu, sejak usia 11 bulan sudah
bisa berjalan dan sekarang ada sekitar 10 kata yang sudah bisa
diucapkannya. Masalahnya justru sampai sekarang masih mengompol
2-3 kali tiap malam, rasanya capek menjemur kasur tiap hari
karena kalau dikasih sprei plastik anak kepanasan dan rewel
tidurnya, padahal keponakan perempuan yang berusia 10 bulan
sejak 6 bulan sudah tidak pernah mengompol lagi. Saya berusaha
keras melatihnya buang air sebelum tidur tetapi anak sering
menolak dan menangis. Apakah ada yang salah dengan saluran
kencing dan pencernakan anak saya? Bagaimana melatihnya agar
tidak mengompol lagi dan kalau ada yang tidak beres ke mana saya
harus membawanya berobat?
Made, Kerambitan
SAYA ibu
bekerja yang memiliki anak 5,5 tahun dan 2 bulan. Sudah sejak
usia 2 tahun si sulung tidak mengompol lagi, tetapi sejak saya
mengandung anak kedua dia mengompol lagi. Saya pikir akan hilang
dengan kelahiran adiknya, ternyata malah menjadi-jadi dan sering
membuat saya hilang kesabaran melihat ulahnya, apalagi saya
sudah capek mengurus adiknya yang masih bayi.
WS, Jl. Suli
Masalah mengompol memang
termasuk masalah yang sering dikeluhkan para orangtua. Ini
sangat erat berkaitan dengan toilet training, kebiasaan melatih
anak buang air sejak dini. Kebiasaan mengompol pada anak di
bawah usia 2 tahun merupakan hal yang wajar, bahkan ada beberapa
anak yang masih mengompol pada usia 4-5 tahun dan sesekali
terjadi pada anak 7 tahun.
Anak di bawah usia 2 tahun
mengombol karena belum sempurnanya kontrol kandung kemih atau
toilet trainingnya. Sementara anak di atas 4 tahun yang sesekali
mengompol lebih sering disebabkan karena terlalu banyak minum
sebelum tidur, lupa buang air sebelum tidur, terlalu capek
bermain dan udara yang terlalu dingin. Sedangkan anak yang sudah
lama tidak mengombol tiba-tiba mengompol lagi lebih banyak
disebabkan oleh faktor psikologis seperti kelahiran adik, stres
akibat pindah rumah, stres pindah sekolah, habis sakit/ dirawat
di rumah sakit yang cukup lama dsb.
Sementara yang menjadi
masalah dalam perkembangan anak adalah bila anak masih sering
mengompol padahal usianya sudah lebih dari 5 tahun.
Kebiasaan mengompol
(Enuresis) secara garis besar dapat dibedakan dalam dua tipe.
Enuresis
Berkesinambungan
Kebiasaan mengompol ini timbul sejak lahir dan berkelanjutan
sampai anak berusia di atas 5 tahun. Penyebab gangguan ini
adalah terlambatnya atau adanya gangguan dalam mekanisme kontrol
kencing anak maupun kegagalan toilet training (latihan buang
air). Untuk Ibu Made, kasus mengompol putrinya akan menjadi
berkepanjangan kalau tidak segera dilatih secara intensif dan
penuh kesabaran kebiasaan buang airnya.
Enuresis tidak
Berkesinambungan
Pada kasus ini, sebelumnya anak sudah tidak memiliki kebiasaan
mengompol paling tidak selama 3 bulan. Faktor penyebabnya lebih
banyak dikarenakan tekanan psikologis seperti adanya stres atau
krisis emosional yang membuat anak merasa cemas, misalnya
perceraian atau konflik orangtua yang mengganggu rasa aman anak,
kelahiran adik, pindah sekolah dsb. Hal ini yang perlu dicermati
sebagai penyebab mengompol pada kasus Ibu WS.
Untuk mengatasi kebiasaan
mengompol ini memerlukan kerja sama yang baik antara anak dengan
orangtua serta lingkungan yang memadai sebagai penunjangnya.
Mengabaikan tentu bukanlah cara yang bijaksana, tetapi juga
jangan terlalu keras dalam melatih kemampuan buang airnya
(toilet training). Menghukum, membentak, menyindir atau
mempermalukan bagi anak yang lebih besar tidak akan mengatasi
masalah justru akan membuat anak makin cemas, merasa bersalah
dan tidak berdaya yang tidak akan memperbaiki keadaan.
Cara-cara berikut mungkin
perlu diterapkan pada anak.
Batasi Minum &
Ritual Buang Air Sebelum Tidur
Membatasi minum anak setelah jam 7 malam dan mengingatkannya
untuk buang air kecil terlebih dulu sebelum tidur merupakan cara
yang paling mudah untuk dijadikan kebiasaan bagi anak. Bagi anak
yang suka menolak dan menangis kemungkinan besar karena acara
buang airnya terlalu dekat dengan jam tidur sehingga anak sudah
dalam keadaan mengantuk maka mereka akan cenderung menolaknya.
Ciptakan suasana yang menyenangkan sebelum tidur, paling tidak
setengah jam sebelum anak mengantuk bawa anak ke kamar mandi,
kencing tidak kencing ajaklah anak duduk di kloset atau jongkok
di kamar mandi.
Menurunkan Kadar
Stres
Untuk menurunkan ketegangan serta kadar stres terutama pada
anak-anak yang sebelumnya sudah tidak mengompol lagi dapat
dilakukan dengan mengajaknya berbincang-bincang atau membacakan
cerita sebelum tidur. Perlakuan ini akan membuat anak merasa
aman dan yakin atas perhatian serta kasih sayang dari
lingkungannya. Untuk kasus Ibu WS, ini merupakan gejala dimana
anak membutuhkan lebih banyak perhatian Anda.
Mintalah bantuan suami
atau orang lain yang bisa diandalkan untuk membantu tugas
mengasuh si bayi sehingga Anda punya waktu ekstra untuk si
sulung. Perilaku mengompol merupakan caranya keluar dari
kecemasan akan kehilangan perhatian ibunya serta manifestasi
rasa cemburunya akan kehadiran adik yang ditakutkannya akan
membuat lingkungan tidak perhatian lagi padanya.
Bangun Malam
Perhatikan kira-kira pada jam berapa anak biasanya mengompol
atau kira-kira berapa jam setelah tidur akan mengompol. Bila
pada jam 12.00 biasanya anak mengompol, bangunkan dia pada
setengah jam sebelumnya untuk kencing ke kamar mandi. Atau bila
anak mengompol setelah 3 jam tidur maka bangunkan anak untuk
pergi kencing setelah anak tidur 2« jam. Pada anak yang lebih
kecil sering akan rewel tetapi tidak perlu cemas anak akan
kekurangan tidurnya. Bila ini terus menerus dilakukan, lama
kelamaan anak akan terbiasa bangun dengan sendirinya tanpa
bantuan orang lain ataupun berusaha mengontrol dirinya untuk
tidak mengompol.
Pemberian Pujian
dan Hukuman
Untuk memotivasi anak, jangan lupa berikan hadiah kecil, pujian
atau pelukan hangat bila anak berhasil mengontrol kencingnya.
Sistem pemberian bintang pada umumnya cukup berhasil. Misalnya
tiap tidak mengompol maka anak mendapatkan satu bintang yang
dapat dikumpulkannya untuk ditukarkan dengan mainan atau buku
kesukaannya. Pemberian hukuman juga diperlukan untuk mengajarkan
anak tangung jawab dan konsekuensi dari perbuatannya. Terutama
untuk anak-anak yang sudah sekolah, suruh anak mengganti sprai
atau menjemur bantal serta melihat bagaimana repotnya harus
membersihkan dan menjemur kasur.
Namun, bila hal-hal
tersebut sudah dilakukan dan anak kelihatan masih melanjutkan
kebiasaan mengompolnya, mungkin Anda perlu berkonsultasi ke
Psikolog untuk menelusuri kemungkinan adanya faktor psikologis
dalam diri anak atau ke Urolog (Dokter Spesialis saluran kencing)
untuk mendapatkan bantuan medisnya, sebelum semuanya makin parah.
|