Menapak Majapahit di
Tanah Dompu
Menelusuri suasana pagi di
Kota Dompu, Sumbawa, sangat mengasyikkan, kita dapat leluasa
memanfaatkan jalan raya yang suasananya masih sepi, seperti
membawakita kembali ke suasana Kota Denpasar tahun 1970-an.
Sesekali melintas benhur -- kendaraan berkuda yang merupakan
tumpangan umum di wilayah ini. Lokasi situs arkeologi Warukali
jaraknya tidak jauh, hanya 2 km dari Kota Dompu, melewati jalan
yang beraspal. Ada apa sesungguhnya dengan situs Warukali yang
diteliti oleh Tim Peneliti Arkeologi Denpasar itu? Benarkah ada
jejak-jejak Majapahit di sana?
KENDATI
lokasi situs mudah dijangkau dengan benhur, namun kami -- Tim
Peneliti Arkeologi Denpasar -- lebih memilih menempuhnya dengan
berjalan kaki sambil menikmati keseharian masyarakat. Selain itu,
kami pun dapat menikmati perjalanan melewati pasar tradisional
yang menyuguhkan pemandangan yang cukup unik. Seperti dapat kami
lihat sejumlah pedagang yang mengelilingi warungnya dengan
kelambu, sejenis kain yang transparan. Jadi jika ada yang
berbelanja, mereka akan disuguhkan makanan dalam ruangan
tertutup kelambu. Hal ini kemungkinan dimaksudkan agar konsumen
terhindari dari debu maupun nyamuk malaria yang sering
berjangkit di kawasan ini.
Kami pun sempat mengalami
pengalaman unik yang menggelitik di dalam sebuah warung
berkelambu. Ketika itu, seorang gadis pelayan warung menyuguhkan
air minum dan menyapa kami dengan bahasa daerah setempat. "Hei,
Bapa mau nono oi?" katanya. Serentak salah satu teman kami
terperangah karena dikira anak gadis itu menyuguhkan susunya,
sebab kata nono di Bali identik artinya dengan "susu ibu",
padahal maksudnya menyuguhkan air minum. Menurut bahasa Dompu,
nono oi berarti minum air.
Masih di sepanjang
perjalanan menuju Warukali, tepatnya di Desa Kandai, kami
menemukan banyak pedagang kecil yang menjajakan buah kostal yang
tidak umum kita lihat di Bali. Buah ini rasanya kecut dan
biasanya dimakan dengan bumbu rujak. Buah ini sudah umum
dikonsumsi di daerah ini. Setiap hajatan, buah ini selalu
dijadikan hidangan pelengkap, lagi pula sebagian besar
masyarakat didaerah ini memiliki pohon kostal.
Kawasan situs Warukali
yang masih merupakan bagian dari Desa Kandai I, wilayahnya
sangat subur karena di sekitar kawasan ini terdapat sungai Raba
Laju yang mengalir sepanjang tahun. Sehingga tidak mengherankan
wilayah Dompu ini termasuk gudang berasnya Pulau Sumbawa. Hawa
yang sejuk karena wilayah ini dikitari perbukitan yang di sini
dikenal dengan sebutan doro, di antaranya Doro Ngau, Doro Empana,
Sambitangga dan Doro Bata. Penyebutan Doro Bata yang merupakan
situs zaman Hindu di Dompu terkait dengan ditemukannya cukup
banyak bata-bata yang berukuran besar seperti ukuran bata pada
zaman Majapahit di bukit ini.
Namun, kini kondisinya
sangat menyedihkan. Bangunan yang terbuat dari bata khas
Majapahit yang mengelilingi kawasan bukit kecil ini sekarang
sudah banyak yang hilang. Menurut informasi, bata bangunan kuno
tersebut sudah dimanfaatkan penduduk setempat untuk material
bangunan. Tim Arkeologi pernah mengadakan ekskavasi di lokasi
ini, tetapi hanya ditemukan selasar dan sejumlah reruntuhan
bangunan. Dari hasil pengamatan alam lokasi bangunan didirikan,
dapat dikatakan bahwa konsep dasar yang dijadikan pegangan
adalah bangunan prasejarah yaitu punden berundak dengan sentuhan
arsitektur Hindu. Sepertinya meniru bentuk bangunan Candi Sukuh,
sebuah piramid dengan puncak datar.
Ekspedisi
Majapahit
Begitu pula situs Warukali yang diteliti Tim Balai Arkeologi
Denpasar kali ini, keadaannya pun sama memprihatinkan karena
sejumlah bata yang terdapat di situs ini juga banyak yang
dimanfaatkan masyarakat untuk pembangunan rumah-rumah penduduk.
Bahkan pernah terjadi penggalian liar di lokasi ini, karena
menurut masyarakat setempat kawasan tersebut dicurigai menyimpan
harta karun. Akibat penggalian liar ini adalah rusaknya sejumlah
bata material bangunan kuno tersebut. Temuan bata berukuran
besar ini tersebar dalam radius lebih luas di wilayah ini di
antaranya di Doro Empana, Doro Ngao dan bahkan di wilayah
Sambitangga, temuan bata ini digali habis untuk material
pembangunan rumah.
Di lokasi ini juga
ditemukan sejumlah keramik yang masih utuh semacam piring dan
mangkok Cina yang diperkirakan berasal dari Dinasti Yuan (abad
14 - 15 M). Sehingga secara makro, hubungan antara kawasan
sekitarnya ini merupakan kesatuan wilayah dan budaya pada masa
lalu, dilihat dari penemuan sejumlah benda arkeologi seperti
keramik. Temuan data ini juga didapat di areal kuburan
bersebelahan situs Warukali. Menurut informasi masyarakat
setempat, bata kuno tersebut ditemukan cukup banyak di areal
kuburan, sehingga pada waktu penggalian liang kubur, bata-bata
ini diangkat dari dalam galian sedalam 1 m dari permukaan tanah.
Nama Warukali yang dikenal
sekarang pada mulanya merupakan gelar penobatan seorang tokoh
agama Islam -- gelar tersebut mengandung simbol delapan sifat
kepemimpinan yang harus ditaati seorang tokoh atau pemimpin.
Adanya dugaan penobatan tokoh di wilayah ini kemungkinan karena
secara historis wilayah tersebut dipandang penting sejak zaman
Hindu, sehingga dalam perkembangan belakangan pada masa masuknya
pengaruh Islam kawasan ini juga diberikan kehormatan sebagai
tempat penobatan tokoh penyebar agama Islam.
Nama Warukali secara
monumental tetap dikenal sampai sekarang. Berdasarkan
bukti-bukti sejarah Walwaktikta, kebesaran Majapahit memang
sampai menguasai wilayah ini. Seperti disebutkan dalam kitab
Negara Kertagama, bahwa dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk
(1350 - 1389), seluruh negeri di Pulau Sumbawa yaitu pulau
Taliwang, Dompu, Sapi, Sanghiang Api, Bima, Seran, dan Utan
Kadali menjadi daerah Kerajaan Majapahit.
Dalam cerita mengenai
kerajaan Dompu pada zaman pemerintahan Mawaa Taho, yaitu tahun
1357, ekspedisi Majapahit yang dipimpin oleh Laksamana Nala dan
dibantu oleh laskar dari Bali yang dipimpin oleh Pasung Gerigis
berhasil menaklukan Dompu dan daerah sekitarnya. Sejak saat
itulah Dompu bernaung di bawah kekuasaan Majapahit.
Tercatatnya Kerajaan Dompu
sebagai salah satu target penguasaan Majapahit karena dipandang
Kerajaan Dompu strategis pada saat itu. Kerajaan Dompu sudah
dikenal petinggi Majapahit sejak pemerintahan Tribuwana (1328 -
1350).
Dalam sejarah Dompu
disebutkan, kelahiran Dompu sebagai cikal bakal kerajaan telah
dimulai sejak abad ke-7 yaitu pada zaman Sriwijaya. Sebab, dalam
cerita rakyat yang berkembang di Dompu disebut-sebut bahwa Sang
Kula (cikal bakal Raja Dompu) yang juga dikenal dengan sebutan
Ncuhi Patikula mempunyai seorang putri yang ia kawinkan dengan
putra Raja dari Tulang Bawang dan atas kesepakatan para Ncuhi ia
dinobatkan sebagai raja Dompu yang berkedudukan di Negeri Tonda
-- sekitar 10 km arah selatan Dompu. Sampai kini, jejak budaya
Majapahit masih tersebar di kawasan ini.
Bentuk Bangunan
Hasil ekskavasi yang diadakan Tim Peneliti Arkeologi selama 14
hari pada pertengahan Mei 2004 di situs Warukali dekat Doro Bata
ditemukan sejumlah rerutuhan dan susunan struktur yang tidak
beraturan. Secara morfologi, bentuk bangunan diperkirakan
berteras dengan konstruksi kayu pada bangunan atas. Pertimbangan
ini didasari adanya perbedaan ketinggian temuan struktur atas
dan bawah dengan selisih ketinggian 160 cm. Bangunan berteras
semacam ini masih mentradisi di Bali yang lebih dikenal dengan
bangunan gunung rata.
Memperhatikan material
yang dipergunakan yaitu bata pecah dan batu kali, sepertinya
merupakan material sisa dari pembuatan bangunan suci. Ini
merupakan indikasi, kemungkinan bangunan tersebut merupakan
bangunan profan, yang menurut kepercayaan bahwa material
bangunan profan tidak boleh sama atau lebih baik dari bangunan
suci. Memperhatikan lokasinya yang memilih tempat yang tinggi
terkait dengan fungsi bangunan itu, secara hirarki merupakan
permukaan tokoh keagamaan atau bangsawan (Ncuhi) pada masa itu.
Indikasi ini diperkuat pula dengan temuan aktivitas keseharian
yang terbuat dari keramik yang mempunyai nilai tinggi pada masa
itu.
Sedangkan bangunan suci
keagamaannya berada di Doro Bata yang letaknya di pusat kawasan
dari keempat wilayah Doro Empana, Doro Ngao, Sambitangga, dan
Doro Swete. Keberadaan keempat wilayah tersebut mengitari Doro
Bata, dari empat arah penjuru mata angin yang terminologinya di
Bali dikenal dengan konsep "nyatur desa". Dugaan ini
diperkuat oleh pendapat yang menyebutkan situs hunian pada
umumnya berada tidak jauh dari kawasan bangunan suci.
* made geria
|