kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 6 Juni 2004 tarukan valas
 

IPTEK


Menapak Majapahit di Tanah Dompu

Menelusuri suasana pagi di Kota Dompu, Sumbawa, sangat mengasyikkan, kita dapat leluasa memanfaatkan jalan raya yang suasananya masih sepi, seperti membawakita kembali ke suasana Kota Denpasar tahun 1970-an. Sesekali melintas benhur -- kendaraan berkuda yang merupakan tumpangan umum di wilayah ini. Lokasi situs arkeologi Warukali jaraknya tidak jauh, hanya 2 km dari Kota Dompu, melewati jalan yang beraspal. Ada apa sesungguhnya dengan situs Warukali yang diteliti oleh Tim Peneliti Arkeologi Denpasar itu? Benarkah ada jejak-jejak Majapahit di sana?

KENDATI lokasi situs mudah dijangkau dengan benhur, namun kami -- Tim Peneliti Arkeologi Denpasar -- lebih memilih menempuhnya dengan berjalan kaki sambil menikmati keseharian masyarakat. Selain itu, kami pun dapat menikmati perjalanan melewati pasar tradisional yang menyuguhkan pemandangan yang cukup unik. Seperti dapat kami lihat sejumlah pedagang yang mengelilingi warungnya dengan kelambu, sejenis kain yang transparan. Jadi jika ada yang berbelanja, mereka akan disuguhkan makanan dalam ruangan tertutup kelambu. Hal ini kemungkinan dimaksudkan agar konsumen terhindari dari debu maupun nyamuk malaria yang sering berjangkit di kawasan ini.

Kami pun sempat mengalami pengalaman unik yang menggelitik di dalam sebuah warung berkelambu. Ketika itu, seorang gadis pelayan warung menyuguhkan air minum dan menyapa kami dengan bahasa daerah setempat. "Hei, Bapa mau nono oi?" katanya. Serentak salah satu teman kami terperangah karena dikira anak gadis itu menyuguhkan susunya, sebab kata nono di Bali identik artinya dengan "susu ibu", padahal maksudnya menyuguhkan air minum. Menurut bahasa Dompu, nono oi berarti minum air.

Masih di sepanjang perjalanan menuju Warukali, tepatnya di Desa Kandai, kami menemukan banyak pedagang kecil yang menjajakan buah kostal yang tidak umum kita lihat di Bali. Buah ini rasanya kecut dan biasanya dimakan dengan bumbu rujak. Buah ini sudah umum dikonsumsi di daerah ini. Setiap hajatan, buah ini selalu dijadikan hidangan pelengkap, lagi pula sebagian besar masyarakat didaerah ini memiliki pohon kostal.

Kawasan situs Warukali yang masih merupakan bagian dari Desa Kandai I, wilayahnya sangat subur karena di sekitar kawasan ini terdapat sungai Raba Laju yang mengalir sepanjang tahun. Sehingga tidak mengherankan wilayah Dompu ini termasuk gudang berasnya Pulau Sumbawa. Hawa yang sejuk karena wilayah ini dikitari perbukitan yang di sini dikenal dengan sebutan doro, di antaranya Doro Ngau, Doro Empana, Sambitangga dan Doro Bata. Penyebutan Doro Bata yang merupakan situs zaman Hindu di Dompu terkait dengan ditemukannya cukup banyak bata-bata yang berukuran besar seperti ukuran bata pada zaman Majapahit di bukit ini.

Namun, kini kondisinya sangat menyedihkan. Bangunan yang terbuat dari bata khas Majapahit yang mengelilingi kawasan bukit kecil ini sekarang sudah banyak yang hilang. Menurut informasi, bata bangunan kuno tersebut sudah dimanfaatkan penduduk setempat untuk material bangunan. Tim Arkeologi pernah mengadakan ekskavasi di lokasi ini, tetapi hanya ditemukan selasar dan sejumlah reruntuhan bangunan. Dari hasil pengamatan alam lokasi bangunan didirikan, dapat dikatakan bahwa konsep dasar yang dijadikan pegangan adalah bangunan prasejarah yaitu punden berundak dengan sentuhan arsitektur Hindu. Sepertinya meniru bentuk bangunan Candi Sukuh, sebuah piramid dengan puncak datar.

Ekspedisi Majapahit
Begitu pula situs Warukali yang diteliti Tim Balai Arkeologi Denpasar kali ini, keadaannya pun sama memprihatinkan karena sejumlah bata yang terdapat di situs ini juga banyak yang dimanfaatkan masyarakat untuk pembangunan rumah-rumah penduduk. Bahkan pernah terjadi penggalian liar di lokasi ini, karena menurut masyarakat setempat kawasan tersebut dicurigai menyimpan harta karun. Akibat penggalian liar ini adalah rusaknya sejumlah bata material bangunan kuno tersebut. Temuan bata berukuran besar ini tersebar dalam radius lebih luas di wilayah ini di antaranya di Doro Empana, Doro Ngao dan bahkan di wilayah Sambitangga, temuan bata ini digali habis untuk material pembangunan rumah.

Di lokasi ini juga ditemukan sejumlah keramik yang masih utuh semacam piring dan mangkok Cina yang diperkirakan berasal dari Dinasti Yuan (abad 14 - 15 M). Sehingga secara makro, hubungan antara kawasan sekitarnya ini merupakan kesatuan wilayah dan budaya pada masa lalu, dilihat dari penemuan sejumlah benda arkeologi seperti keramik. Temuan data ini juga didapat di areal kuburan bersebelahan situs Warukali. Menurut informasi masyarakat setempat, bata kuno tersebut ditemukan cukup banyak di areal kuburan, sehingga pada waktu penggalian liang kubur, bata-bata ini diangkat dari dalam galian sedalam 1 m dari permukaan tanah.

Nama Warukali yang dikenal sekarang pada mulanya merupakan gelar penobatan seorang tokoh agama Islam -- gelar tersebut mengandung simbol delapan sifat kepemimpinan yang harus ditaati seorang tokoh atau pemimpin. Adanya dugaan penobatan tokoh di wilayah ini kemungkinan karena secara historis wilayah tersebut dipandang penting sejak zaman Hindu, sehingga dalam perkembangan belakangan pada masa masuknya pengaruh Islam kawasan ini juga diberikan kehormatan sebagai tempat penobatan tokoh penyebar agama Islam.

Nama Warukali secara monumental tetap dikenal sampai sekarang. Berdasarkan bukti-bukti sejarah Walwaktikta, kebesaran Majapahit memang sampai menguasai wilayah ini. Seperti disebutkan dalam kitab Negara Kertagama, bahwa dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 - 1389), seluruh negeri di Pulau Sumbawa yaitu pulau Taliwang, Dompu, Sapi, Sanghiang Api, Bima, Seran, dan Utan Kadali menjadi daerah Kerajaan Majapahit.

Dalam cerita mengenai kerajaan Dompu pada zaman pemerintahan Mawaa Taho, yaitu tahun 1357, ekspedisi Majapahit yang dipimpin oleh Laksamana Nala dan dibantu oleh laskar dari Bali yang dipimpin oleh Pasung Gerigis berhasil menaklukan Dompu dan daerah sekitarnya. Sejak saat itulah Dompu bernaung di bawah kekuasaan Majapahit.

Tercatatnya Kerajaan Dompu sebagai salah satu target penguasaan Majapahit karena dipandang Kerajaan Dompu strategis pada saat itu. Kerajaan Dompu sudah dikenal petinggi Majapahit sejak pemerintahan Tribuwana (1328 - 1350).

Dalam sejarah Dompu disebutkan, kelahiran Dompu sebagai cikal bakal kerajaan telah dimulai sejak abad ke-7 yaitu pada zaman Sriwijaya. Sebab, dalam cerita rakyat yang berkembang di Dompu disebut-sebut bahwa Sang Kula (cikal bakal Raja Dompu) yang juga dikenal dengan sebutan Ncuhi Patikula mempunyai seorang putri yang ia kawinkan dengan putra Raja dari Tulang Bawang dan atas kesepakatan para Ncuhi ia dinobatkan sebagai raja Dompu yang berkedudukan di Negeri Tonda -- sekitar 10 km arah selatan Dompu. Sampai kini, jejak budaya Majapahit masih tersebar di kawasan ini.

Bentuk Bangunan
Hasil ekskavasi yang diadakan Tim Peneliti Arkeologi selama 14 hari pada pertengahan Mei 2004 di situs Warukali dekat Doro Bata ditemukan sejumlah rerutuhan dan susunan struktur yang tidak beraturan. Secara morfologi, bentuk bangunan diperkirakan berteras dengan konstruksi kayu pada bangunan atas. Pertimbangan ini didasari adanya perbedaan ketinggian temuan struktur atas dan bawah dengan selisih ketinggian 160 cm. Bangunan berteras semacam ini masih mentradisi di Bali yang lebih dikenal dengan bangunan gunung rata.

Memperhatikan material yang dipergunakan yaitu bata pecah dan batu kali, sepertinya merupakan material sisa dari pembuatan bangunan suci. Ini merupakan indikasi, kemungkinan bangunan tersebut merupakan bangunan profan, yang menurut kepercayaan bahwa material bangunan profan tidak boleh sama atau lebih baik dari bangunan suci. Memperhatikan lokasinya yang memilih tempat yang tinggi terkait dengan fungsi bangunan itu, secara hirarki merupakan permukaan tokoh keagamaan atau bangsawan (Ncuhi) pada masa itu. Indikasi ini diperkuat pula dengan temuan aktivitas keseharian yang terbuat dari keramik yang mempunyai nilai tinggi pada masa itu.

Sedangkan bangunan suci keagamaannya berada di Doro Bata yang letaknya di pusat kawasan dari keempat wilayah Doro Empana, Doro Ngao, Sambitangga, dan Doro Swete. Keberadaan keempat wilayah tersebut mengitari Doro Bata, dari empat arah penjuru mata angin yang terminologinya di Bali dikenal dengan konsep "nyatur desa". Dugaan ini diperkuat oleh pendapat yang menyebutkan situs hunian pada umumnya berada tidak jauh dari kawasan bangunan suci.

* made geria

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com