Hamid Jabbar,
Mahasiswa dan Demonstrasi
Proklamasi 2
kami bangsa Indonesia
dengan ini menyatakan
kemerdekaan Indonesia
untuk kedua kalinya
hal-hal yang mengenai
hak-hak asasi manusia
utang piutang dan lain-lain
yang tak habis-habisnya
isya allah
akan habis
diselenggarakan dengan
cara seksama dan dalam
tempo yang sesingkat-singkatnya
Jakarta, 25 Maret
1992
Atas Nama Bangsa Indonesia
Boleh Siapa Saja
***
MALAM
kelabu. Udara dingin dan basah sehabis hujan. Di langit awan
masih nampak tebal. Bulan yang hampir purnama berjuang menembus
ketebalan awan untuk sekadar membagi cahayanya bagi bumi. Namun
hanya pendar-pendar cahayanya saja yang sampai ke bumi.
Lilin-lilin kecil kemudian dinyalakan. Haru-biru suasana semakin
kental terasa. Sejumlah mahasiswa tegak berdiri di antara cahaya
lilin. Mereka serempak mengacungkan kepalan tangan kiri ke udara,
sebagai sebuah simbol bahwa perjuangan mahasiswa belum selesai.
Dan sedetik kemudian berkumandanglah ''Proklamasi 2'', sebuah
puisi karya penyair Hamid Jabbar yang memparodikan teks asli
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sejumlah aktivitas kampus
yang berkumpul saat itu berasal dari Fakultas Sastra, Fakultas
Hukum Unud, ISI Denpasar, dan Universitas Warmadewa. Selain
membacakan puisi-puisi Hamid Jabbar, mereka juga melantunkan
musik dan orasi-orasi yang mengingatkan bahwa perjuangan
demokrasi belum selesai. Sesekali terdengar mereka meneriakkan
slogan ''merdeka'' dan ''hidup rakyat''.
Tetapi, ini bukanlah
persiapan dan ajakan aksi turun ke jalan, seperti yang pernah
dilakukan mahasiswa pada Mei 1998. Acara yang digelar oleh ''Komunitas
Peduli Sastra'' di lapangan parkir Fakultas Sastra Universitas
Udayana, Selasa (1/6), pukul 20.000 wita itu, memang dirancang
khusus untuk doa bersama dan mengenang wafatnya penyair Hamid
Jabbar. Bang Hamid -- begitu kawan-kawan sastrawan biasa
memanggilnya, meninggal dengan indah pada saat menunaikan tugas
mulianya sebagai penyair, yaitu membaca puisinya sendiri pada
acara seni untuk perdamaian di Universitas Islam Negeri Syarief
Hidayatullah Jakarta, Sabtu (29/5), pukul 23.00 wib, bertepatan
dengan malam Hari Raya Saraswati. Pada acara itu hadir juga
sastrawan Putu Wijaya, budayawan Frans Magnis Suseno, dan
penyanyi Franky Sahilatua.
Penyair Hamid Jabbar
dilahirkan di Kotagadang, Sumatera Barat, 27 Juli 1949. Penyair
yang pernah menjadi wartawan Indonesia Ekspress, Singgalang,
redaktur Balai Pustaka, terakhir redaktur senior Majalah Sastra
Horison ini, telah menerbitkan sejumlah antologi puisi, antara
lain ''Paco-paco'' (1974), ''Dua Warna'' (1975), ''Wajah Kita''
(1981) dan terakhir ''Super Hilang Segerobak Sajak'' (1998).
Antologi puisi terakhirnya ini memenangkan Hadiah Yayasan Buku
Utama dan Penghargaan Seni dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa.
Puisi-puisi penyair
bertubuh kecil ini dikenal sebagai puisi yang sarat kritik
sosial, bernuansa politis, penuh parodi. Pada saat di Bandung,
bersama Remy Silado, Sutarji Calzoum Bachri, Jeihan, ia pernah
terlibat dalam gerakan ''puisi mbeling'', suatu arus yang
memberontak pada kemapanan puisi yang terlalu serius dan sangat
mengagungkan estetika pada saat itu.
Sedangkan di kalangan
aktivis kampus, puisi-puisi Hamid Jabbar, terlebih yang berjudul
''Proklamasi 2'' yang provokatif itu, merupakan sumber inspirasi
dan sering dibacakan pada saat demonstrasi menumbangkan rezim
Soeharto pada Mei 1998. Pada saat itu puisi-puisi Hamid Jabbar
selalu berdampingan dengan puisi-puisi kritik sosial karya Wiji
Thukul dan Rendra. Bahkan pada tahun 1995 di cover belakang
Majalah Kanaka -- terbitan mahasiswa Fakultas Sastra Unud --
puisi itu pernah terpampang gagah. Puisi itu pula yang
sesungguhnya menjadi salah satu alasan dibredelnya Majalah
Kanaka karena dianggap subversif dan mengganggu kenyamanan dan
stabilitas keamannan negara.
Meski Kanaka dibredel,
mahasiswa tidak kekurangan akal untuk mensosialisasikan puisi
itu. Setiap tahun ajaran baru, puisi itu ditulis besar-besar
dengan huruf kapital di baliho yang terbuat dari terpal, dan
dipajang di depan kampus Fakultas Sastra Unud. Puisi itu
menjelma jadi alat doktrinasi dan teks yang wajib dihafal oleh
mahasiswa baru yang bersiap memasuki dunia aktivis kampus,
menjadi suatu sarana penyadaran.
Kini, penyair yang dikenal
riang dan cepat akrab dengan orang itu telah pergi untuk
selamanya. Namun, spirit perjuangannya tetap akan melekat dalam
jiwa aktivis kampus. Akan selalu menjadi bara api revolusi.
* wayan sunarta,
mantan aktivis kampus
|