kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 6 Juni 2004 tarukan valas
 

APRESIASI


Hamid Jabbar, Mahasiswa dan Demonstrasi

Proklamasi 2

kami bangsa Indonesia
dengan ini menyatakan
kemerdekaan Indonesia
untuk kedua kalinya
hal-hal yang mengenai
hak-hak asasi manusia
utang piutang dan lain-lain
yang tak habis-habisnya
isya allah
akan habis
diselenggarakan dengan
cara seksama dan dalam
tempo yang sesingkat-singkatnya

Jakarta, 25 Maret 1992

Atas Nama Bangsa Indonesia
Boleh Siapa Saja

***

MALAM kelabu. Udara dingin dan basah sehabis hujan. Di langit awan masih nampak tebal. Bulan yang hampir purnama berjuang menembus ketebalan awan untuk sekadar membagi cahayanya bagi bumi. Namun hanya pendar-pendar cahayanya saja yang sampai ke bumi. Lilin-lilin kecil kemudian dinyalakan. Haru-biru suasana semakin kental terasa. Sejumlah mahasiswa tegak berdiri di antara cahaya lilin. Mereka serempak mengacungkan kepalan tangan kiri ke udara, sebagai sebuah simbol bahwa perjuangan mahasiswa belum selesai. Dan sedetik kemudian berkumandanglah ''Proklamasi 2'', sebuah puisi karya penyair Hamid Jabbar yang memparodikan teks asli Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejumlah aktivitas kampus yang berkumpul saat itu berasal dari Fakultas Sastra, Fakultas Hukum Unud, ISI Denpasar, dan Universitas Warmadewa. Selain membacakan puisi-puisi Hamid Jabbar, mereka juga melantunkan musik dan orasi-orasi yang mengingatkan bahwa perjuangan demokrasi belum selesai. Sesekali terdengar mereka meneriakkan slogan ''merdeka'' dan ''hidup rakyat''.

Tetapi, ini bukanlah persiapan dan ajakan aksi turun ke jalan, seperti yang pernah dilakukan mahasiswa pada Mei 1998. Acara yang digelar oleh ''Komunitas Peduli Sastra'' di lapangan parkir Fakultas Sastra Universitas Udayana, Selasa (1/6), pukul 20.000 wita itu, memang dirancang khusus untuk doa bersama dan mengenang wafatnya penyair Hamid Jabbar. Bang Hamid -- begitu kawan-kawan sastrawan biasa memanggilnya, meninggal dengan indah pada saat menunaikan tugas mulianya sebagai penyair, yaitu membaca puisinya sendiri pada acara seni untuk perdamaian di Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Jakarta, Sabtu (29/5), pukul 23.00 wib, bertepatan dengan malam Hari Raya Saraswati. Pada acara itu hadir juga sastrawan Putu Wijaya, budayawan Frans Magnis Suseno, dan penyanyi Franky Sahilatua.

Penyair Hamid Jabbar dilahirkan di Kotagadang, Sumatera Barat, 27 Juli 1949. Penyair yang pernah menjadi wartawan Indonesia Ekspress, Singgalang, redaktur Balai Pustaka, terakhir redaktur senior Majalah Sastra Horison ini, telah menerbitkan sejumlah antologi puisi, antara lain ''Paco-paco'' (1974), ''Dua Warna'' (1975), ''Wajah Kita'' (1981) dan terakhir ''Super Hilang Segerobak Sajak'' (1998). Antologi puisi terakhirnya ini memenangkan Hadiah Yayasan Buku Utama dan Penghargaan Seni dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Puisi-puisi penyair bertubuh kecil ini dikenal sebagai puisi yang sarat kritik sosial, bernuansa politis, penuh parodi. Pada saat di Bandung, bersama Remy Silado, Sutarji Calzoum Bachri, Jeihan, ia pernah terlibat dalam gerakan ''puisi mbeling'', suatu arus yang memberontak pada kemapanan puisi yang terlalu serius dan sangat mengagungkan estetika pada saat itu.

Sedangkan di kalangan aktivis kampus, puisi-puisi Hamid Jabbar, terlebih yang berjudul ''Proklamasi 2'' yang provokatif itu, merupakan sumber inspirasi dan sering dibacakan pada saat demonstrasi menumbangkan rezim Soeharto pada Mei 1998. Pada saat itu puisi-puisi Hamid Jabbar selalu berdampingan dengan puisi-puisi kritik sosial karya Wiji Thukul dan Rendra. Bahkan pada tahun 1995 di cover belakang Majalah Kanaka -- terbitan mahasiswa Fakultas Sastra Unud -- puisi itu pernah terpampang gagah. Puisi itu pula yang sesungguhnya menjadi salah satu alasan dibredelnya Majalah Kanaka karena dianggap subversif dan mengganggu kenyamanan dan stabilitas keamannan negara.

Meski Kanaka dibredel, mahasiswa tidak kekurangan akal untuk mensosialisasikan puisi itu. Setiap tahun ajaran baru, puisi itu ditulis besar-besar dengan huruf kapital di baliho yang terbuat dari terpal, dan dipajang di depan kampus Fakultas Sastra Unud. Puisi itu menjelma jadi alat doktrinasi dan teks yang wajib dihafal oleh mahasiswa baru yang bersiap memasuki dunia aktivis kampus, menjadi suatu sarana penyadaran.

Kini, penyair yang dikenal riang dan cepat akrab dengan orang itu telah pergi untuk selamanya. Namun, spirit perjuangannya tetap akan melekat dalam jiwa aktivis kampus. Akan selalu menjadi bara api revolusi.

* wayan sunarta,
mantan aktivis kampus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com