kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 30 Mei 2004 tarukan valas
 

POTRET


Tjokorda Gde Abinanda Sukawati

Banyak Wanita Bali Ingin Tampil Beda

Bali sekarang adalah Bali yang sedang berubah. Salah satu yang sedang berubah itu adalah gaya berbusana perempuan Bali yang makin fashionable. Lantas, atas fenomena ini, banyak kalangan menganggap Bali cocok dijadikan pusat mode dunia. Salah satu desainer asal Bali yang terobsesi untuk lebih memasyarakatkan gaya perempuan Bali berbusana adalah Tjokorda Gde Abinanda Sukawati. Bahkan kain-kain sakral pun diliriknya untuk dijadikan inspirasi. Bahkan Tjok. Abi -- begitu ayah satu putra ini biasa dipanggil -- ingin membawa kain endek Bali menjadi sepopuler batik. Berikut wawancara Bali Post dengan putra Bali yang memang memilih hidup sebagai desainer ini.

BAGAIMANA Anda melihat perkembangan mode di Bali?
Bali tidak bisa disamakan dengan di Jakarta, Bandung, atau Surabaya yang perkembangan modenya cukup pesat. Saya melihat di Bali belum begitu banyak yang suka mengikuti trend. Sebelum melangkah, mereka masih menoleh ke kiri dan ke kanan dulu. Mereka masih bertanya-tanya, ada nggak orang lain yang memakai pakaian yang begitu. Mereka takut terlihat lain dan aneh. Padahal, ikut fashion bukan berarti harus tampil aneh. Ada desain khusus untuk perempuan Bali, kebaya modern misalnya.

Apa yang membuat perempuan Bali takut mengikuti trend?
Mungkin kultur. Tetapi saya juga merasa agak aneh, kalau di lomba fashion mereka mau menggunakan baju yang ditentukan panitia. Walaupun aneh dan tidak cocok, setelah selesai lomba mereka kembali seperti apa adanya.

Berarti karier sebagai desainer bukan hal yang menjanjikan di Bali?
Tidak juga. Saya sedang berusaha untuk memperkenalkan desain-desain kuno perempuan Bali berdandan. Saya tahu masih banyak wanita Bali yang sadar dan ingin tampil beda. Memang di Bali trend tidak jadi suatu hal yang ekstrem seperti kota besar lain di Indonesia. Namun, kebaya berpeluang lebih baik di sini. Pengalaman saya mendandani finalis Putri Indonesia wilayah Bali membuat saya yakin. Mereka bisa tampil sangat modern, tetapi tetap dengan karakter khas Bali. Mengenakan songket tetapi tetap terlihat modern. Jadi kebaya adalah pilihan yang paling tepat untuk perempuan Bali.

Apalagi yang bisa Anda kembangkan?
Sanggul. Luar biasa kalau kita mau melihat sanggul-sanggul kuno. Makanya, saat memulai karier di Bali, banyak hal yang menjadi pertimbangkan saya. Walaupun hidup lama di budaya kosmopolit, saya sadar saya ini orang Bali dari puri, sehingga saya harus mulai menjajal diri saya sendiri. Sanggupkah saya sebagai orang muda Bali yang tahu persis nilai ritual budaya Bali bisa mengembangkan fashion yang berciri khas Bali. Misalnya mengembangkan kain endek, agar lebih mudah dirawat atau justru jadi pakaian pilihan di acara-acara formal seperti batik. Memang masih impian, karena mengembangkan endek tidak mungkin saya kerjakan sendiri. Harus kerja sama dengan perajin atau Departemen Perindustrian agar endek bisa dibuat lebih banyak dan perawatannya tidak rumit. Endek itu kain yang luar biasa, motif-motif kunonya sangat cantik.

Sebetulnya, sejarah busana perempuan Bali itu dimulai dari mana?
Dari berbagai literatur yang saya baca dan juga berbagai informasi yang saya dapat dari para penglingsir puri dan foto-foto dari leluhur-leluhur saya di puri, dulu wanita Bali tidak mengenal kebaya. Mereka hanya mengenakan semacam selendang lebar yang dililitkan dari bawah payudara ke arah pinggang. Baru kemudian kebaya dikenal pemakaiannya berawal dari para wanita di lingkungan puri dan akhirnya memasyarakat ke publik luas.

Anda desainer yang paling hati-hati bicara tentang evolusi kebaya. Unsur sakral apa yang Anda tangkap pada kebaya Bali?
Sebetulnya kita tak bisa mengatakan unsur sakral pada kebaya. Tapi menurut saya, lebih kepada unsur budaya dan adat istiadat yang perlu dijaga kelestariannya.

Apa yang harus diperbaiki agar kesadaran menggunakan kebaya muncul dari seluruh perempuan Bali?
Sebetulnya bukan memperbaiki kesadaran memakai kebaya, tapi memperbaiki mereka, bagaimana memakai kebaya yang semestinya. Dilihat dari kerapian, keserasian, untuk kesempatan apa, bagaimana dan kapan kebaya-kebaya itu dapat dipakai oleh para wanita Bali.

Dalam show "Bali Fashion Week 2003", Anda mengangkat kain poleng yang dikenal sangat sakral menjadi busana yang sangat modern. Bagaimana ceritanya?
Nama show saya adalah "Taksu Poleng The Magic of Day and Night". Nilai sakral yang saya tangkap dari kain poleng adalah dalam motif poleng asli yang dibuat dari tenunan selain hitam dan putih ada yang berwarna abu-abu. Jadi, dalam hidup tidak selalu hanya ada pagi dan malam, tapi ada juga senja peralihan dari pagi menuju malam. Ini sudah filsafat yang sangat tinggi dalam hidup. Bahwa kehidupan itu luar biasa, sangat tipis beda kejahatan dan kebaikan. Tergantung bagaimana kita memandang semua ini. Silakan interpretasikan masing-masing dalam segala aspek kehidupan ini.

Bisa Anda ceritakan ritual poleng, apa mungkin kain ini bisa jadi konsumsi publik tanpa harus menjalani ritual?
Yang jelas, langkah pertama, saya bersembahyang di merajan di puri menghaturkan banten pejati mohon izin pada Ida Betara Ratu Gede Nusa yang melinggih di Pura Dalem Peed, Nusa Penida. Kemudian dimulai proses produksi dan tujuh hari sebelum show saya melakukan puasa. Yang mengerjakan produksi pun pada waktu itu mereka tidak boleh mengkonsumsi daging sapi dan yang wanita tak boleh menstruasi selama 12 hari proses produksi. Kalau secara general dilihat, sebetulnya poleng bisa dikonsumsi untuk publik tanpa upacara ritual. Namun karena di Bali masih menjunjung nilai-nilai sakral, mungkin agak susah juga kita mengharapkan kain poleng dapat dikonsumsi secara umum oleh publik.

* * *

Dunia lebih mengenal Bali daripada Indonesia, lalu kenapa unsur-unsur fashion Bali tidak muncul di forum internasional?
Mungkin karena desainer di Bali itu orientasinya banyak ke ekspor. Mungkin karena itulah bule datang ke Bali. Tak ada bule yang datang hanya memesan satu atau dua baju. Sehingga, wajar saja kemudian konsepnya lari ke garmen atau ke ekspor. Hal ini juga disebabkan animo masyarakat di Bali sangat jauh dengan di Jakarta atau di Surabaya. Saya tidak tahu kenapa bisa begitu. Jika ada lomba mereka baru bersemangat membuat berbagai bentuk. Contohnya, kalau kita membikin show tunggal, walaupun gratis, orang yang menonton hanya seberapa saja. Apalagi menjual tiket, susah sekali menghadirkan masyarakat Bali.

Apa kira-kira kendalanya?
Mungkin karena basic. Mereka mungkin menganggap fashion tidak sebagai bagian dari hidup untuk memperbaiki diri. Dalam keseharian mungkin ini tidak terlalu melekat atau tak jadi kebutuhan penting bagi mereka. Sebenarnya yang terpenting di sini adalah kultur. Harus diakui bahwa masyarakat Bali juga sibuk dengan urusan adat dan agama yang kita masih jalani serta belum lagi kerja untuk urusan kantoran yang membuat diri semakin sibuk.

Tapi kan sudah banyak wanita modern yang sudah sadar?
Walaupun itu ada, tetapi tak sebanyak yang diharapkan. Kesadaran wanita Bali yang agak modern ada sekitar 15 persen saja. Saya tidak mengerti dengan jumlah sedemikian itu. Kalau dibilang masalah ekonomi, saya rasa tidak, karena ekonominya rata-rata oke. Contoh kecil saja, banyak wanita Bali memakai baju yang bahannya berharga jutaan. Tetapi menjahitnya tidak mau mencari ahlinya dengan bahan yang sekian juta itu. Mereka beranggapan, yang penting sudah kelihatan memakai baju yang bahannya jutaan. Saya sering melihat kejadian seperti itu, baik di pesta upacara adat atau agama. Baju yang dipakai harganya sekian jutaan dan memiliki kualitas yang sangat bagus, tetapi bentuknya kok begitu -- tidak pas di tubuh. Kenapa banyak yang membeli bahan mahal, tetapi tidak memperhatikan bentuknya? Saya tidak juga mengatakan kebaya saya fit. Tetapi paling tidak saya car, seperti hati-hati membuatnya.

Mungkin mereka beranggapan pergi ke desainer itu mahal dan bukan sebuah kebutuhan?
Itu anggapan salah. Apa Anda tak sayang dengan uang Anda? Sayang kan? Dalam dua tahun saya berbisnis menjadi desainer di Bali ini, saya malah sebaliknya. Saya pilih bahan yang murah, tetapi membuat bentuknya yang lain tidak seperti kebaya biasanya. Saya tetap membuat yang full dan sopan. Hanya saja, saya membuat yang lebih modern.

Menurut Anda, apa ada nilai sakral yang terkandung dalam kebaya?
Dari segi kreativitas, tidak. Tetapi, kalau saya membuat kebaya, saya harus memikirkan fungsinya. Baju untuk ke mana, kapan, di mana dan untuk apa. Kalau membuat kebaya untuk ke pura sudah tentu harus sesuai dengan pakem. Boleh saja ada sedikit kreasi untuk menciptakan kesenangan. Saya juga merasa riskan kalau melihat ada orang berbaju kebaya yang tipis sampai kelihatan torso-nya di pura. Saya pernah debat dengan teman, ia mengatakan, kenapa kebaya tidak boleh kelihatan torso-nya di dalam. Katanya, dulu saja orang hanya memakai lelunakan. Ketika ditanya begitu, saya tidak menjawab. Sebetulnya sangat jelas, lelunakan ya tetap lelunakan. Persepsi orang, itu baju lelunakan. Sama seperti halnya baju menari, orang tak akan terlihat porno karena itu adalah baju menari. Lalu kalau sekarang ke pura berbaju tipis kelihatan torso-nya, orang akan bilang itu kan baju dalamnya kelihatan. Jadi, persepsinya sudah beda. Saya sarankan, kalau untuk ke pura beli brokat yang agak rapat, jangan yang tipis.

Lalu, kebaya yang tipis itu cocok untuk ke mana?
Ya, untuk ke pesta. Pesta perkawinan adat, atau undangan-undangan upacara adat. Kalau mau pakai brokat tipis ke pura, silakan, asal torso-nya bagus dan rapi. Apalagi ditutup dengan angkin di luarnya, itu akan kelihatan lebih bagus, lebih cantik.

* * *

Apa obsesi Anda bagi perkembngan fashion di Bali?
Saya berobsesi mengangkat kain Bali. Hanya saja, kendalanya susah pemeliharaan. Kain endek misalnya, dicuci dua kali saja sudah berubah warna. Untuk ke depan mungkin yang perlu diperhatikan adalah pencelupan warna dari benangnya, menenunnya harus lebih rapat, dan jenis benangnya mungkin harus lebih tebal. Sehingga tidak cepat pudar kalau kena sinar matahari. Contohnya, beberapa waktu lalu saya mengangkat songket. Sebenarnya kan sudah banyak orang yang lupa sama songket, kesannya berat dan ribet. Saya coba siasati agar terkesan elegan dan tidak konservatif. Hasilnya, bisa Anda lihat pada para finalis Putri Indonesia wilayah Bali, mereka terlihat sama. Cantik, anggun, dan feminin.

Lalu bagaimana Anda mempertahankan konsep mode Bali? Apa pula kecemasan yang Anda rasakan?
Sebetulnya bukan berawal dari kecemasan. Saya hanya melihat wanita Bali itu kalau memakai kebaya dan kain kelihatan cantik. Lalu, kenapa saya tidak mencoba untuk mengembangkannya. Lagi pula, bagi wanita Bali, kebaya sudah semacam parfum bagi perempuan modern. Mereka harus punya kebaya, karena seringnya ada upacara adat yang mewajibkan mereka mengenakan kebaya. Di Jakarta saja kebaya sudah booming, lalu kenapa di Bali tidak. Ini tugas para desainer tentu, dengan membuat rancangan yang bisa diterima publik.

Sebetulnya banyak wanita ingin membuat baju yang pas untuk mereka. Banyak juga yang ingin datang ke desainer, tetapi mereka segan, terutama takut mahal, dan tidak terbiasa. Apa pendapat Anda?
Saya pikir ukuran mahal itu relatif. Buktinya banyak perempuan Bali memakai kebaya yang harganya jutaan. Tetapi, jika bisa ketemu langsung dengan desainer, mereka bisa minta pertimbangan dan pendapat. Desainer itu ibarat dokter, mendiagnosa struktur tubuh mereka, memberi saran mana yang pantas dan tidak untuk masalah bentuk tubuh, gaya, warna, model, dan sebagainya. Semua itu bisa dikonsultasikan. Jika sudah ada dialog, pelanggan bisa lebih mengerti. Kemudian, dibuatkan desain, terus dibuat baju, kemudian dicoba. Ya, begitulah kerjanya desainer. Mungkin karena kelebihan dapat berkonsultasi itulah, kenapa membuat baju di desainer itu lebih mahal. Lagi pula saya sadari juga, masyarakat Bali belum terbiasa.

Anda sering mengangkat desain-desain kuno dan cara perempuan bangsawan Bali berdandan ke pangung "catwalk". Apa yang ingin Anda sampaikan ke publik Bali?
Salah satunya mengingatkan. Juga ingin membudayakan.

Di Bali kan sangat sensitif sekali. Segala sesuatu ada nilai sakralnya. Bagaimana Anda menyiasatinya?
Ya, saya tahu itu. Mungkin salah satunya karena saya dari puri. Mungkin juga dianggap sedikit mengerti tentang aturan-aturan tak tertulis, mana yang layak dikonsumsi dan mana tidak. Sakral dan profan saya ketahui sedikit dari para penglingsir. Tujuan saya positif, agar teknik berbusana Bali juga bisa jadi konsumsi publik dan layak dipakai oleh siapa saja.

Ketika memulai mengambil sesuatu yang sedikit sakral untuk konsumsi publik, ada kecemasan yang Anda rasakan?
Tentu. Kalau sudah ada aturan yang ketat, saya pun tidak akan berani melanggarnya. Misalnya saja, busana perkawinan. Kalau dulu itu dipakai di puri, tetapi perkembangannya, berkembang juga di luar. Dipakai oleh semua orang. Ternyata tidak ada masalah. Dari sinilah saya mulai bergerak, memperdalam lagi esensinya, lalu baru membuat modifikasi agar terlihat lebih fleksibel dan layak dikonsumsi siapa saja.

Apa pernah ada intervensi?
Pernah. Ketika saya menggunakan kain poleng. Anggota Yayasan Pencinta Budaya Bebali sempat protes. Padahal sebelumnya sudah diizinkan oleh ketuanya untuk menggunakan kain poleng itu. Asal sebelumnya harus dapat melihat jenis desain saya. Tetapi, setelah diterangkan akhirnya mereka mengerti.

Kira-kira apa yang Anda ketahui tentang konsep "poleng"? Poleng itu kan duwene Ida Bhatara Dalem Peed, beliau adalah penjaga dunia. Makanya di setiap rumah orang Bali itu ada tugu penunggun karang yang dihiasi saput warna poleng. Kalau tidak benar mengurusnya, kita akan mendapat sanksi dari beliau. Walaupun saya besar di Jakarta, tetapi saya sangat percaya sekali dengan hal itu. Saya juga tak habis pikir, kenapa saya justru ingin mengangkat poleng itu. Terus terang secara ide datang saja. Saya berpikir orang yang memakai kain poleng akan kelihatan cantik di panggung dan tetap ada nilai sakralnya. Sehingga penampilannya, selain menarik dan bagus, juga terkesan magis. Makanya sebelum show "Bali Fashion Week" tahun lalu yang menggunakan konsep poleng itu, saya selalu hati-hati juga tetap melakukan ritualnya seperti melakukan sembahyang.

Fashion kan kesannya harus glamour, apakah Anda sulit beradaptasi? Bagaimana dengan aksesori?
Saya sempat kebingungan dengan perhiasan atasnya. Saya sudah menyuruh orang untuk membuatnya tetapi tidak bisa. Sehingga saya menjadi putus asa. Lalu, pada saat saya pergi ke rumah teman dan melihat di pura, penunggun karang-nya dibalut kain poleng dan di atas daksina-nya ada lontar dan bunga emasnya, seketika itu saya mencoba untuk menirunya. Saya menggunakan hiasan lontar, bunga emas dan uang kepeng. Bunga emas itu serasi dan bisa menjadi hidup dengan poleng. Uang kepeng itu identik dengan sakral dan nilai magisnya. Saya pikir aksesori di Bali sebetulnya tidak ada silver-nya, semuanya emas.

Jadi, bagi Anda "poleng" itu tidak selalu seram?
Tetap ada unsur magisnya. Hanya saya ini kan kreator. Ide datang dari berbagai sudut dan arah. Sebagai orang Bali, tentu ide saya muncul dari keseharian aktivitas manusia Bali.

* * *

Menurut Anda, bagaimana caranya agar fashion di Bali maju? Padahal sudah ada banyak kegiatan mode, fashion di Bali tidak semegah Hongkong atau Paris. Apa kira-kira penyebabnya?
Saya kira itu kulturnya. Berapa sih ada kegiatan fashion yang besar? Kegiatan fashion yang besar itu kan hanya "Bali Fashion Week" saja. Sedangkan show reguler itu buat orang asing, bukan untuk orang lokal. Untuk lokal hanya ada pada lomba saja. Tetapi lomba itu bukan untuk menunjukkan kepada masyarakat luas. Misalnya, ini lho baju yang pantas untuk dipakai. Namun kebanyakan, kalau lomba itu kan memakai baju yang bagus untuk dirinya masing-masing. Bukan kegiatan show reguler yang di balai banjar atau balai masyarakat. Kalau majalah, apakah animo masyarakat Bali mau membaca yang sudah begitu sibuknya. Saya pikir, show-show harus dilakukan lebih sering lagi, untuk konsumsi masyarakat. "Bali Fashion Week" tahun lalu sudah berusaha mengajak masyarakat ikut menyaksikan langsung desain para perancang. Hasilnya? Panitia sudah kerja keras, minat belum ada. Jadi saya pikir masih perlu proses.

Kalau kegiatan mode selama ini untuk apa?
Kalau kegiatan show reguler di kafe atau di hotel itu ditujukan untuk tamu asing atau tamu hotel. Sebetulnya, sebelum saya melakukan show tunggal saya ingin melakukan di Ubud, di wantilan balai banjar. Rencananya, saya akan menampilkan kebaya katun, brokat dan juga diselipkan sedikit poleng. Hanya saja belum terealisasi, karena belum ada dananya.

Jadi, masih ada harapan Bali jadi pusat mode?
Kita harus optimis. "Bali Fashion Week", gaungnya sudah internasional. Ika Mardiana sudah membuat sesuatu yang disorot di Bali. Makanya dengan adanya Asosiasi Mobbas, APPMI, inilah yang diharapkan untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat Bali. Atau itu bisa dilakukan lewat Pesta Kesenian Bali (PKB) nanti. Saya sering bermimpi, alangkah indahnya kalau para desainer diberikan ruang untuk ikut PKB. Tentu akan lebih dikenal publik, bukankah berbusana bagian dari kebudayaan juga?

Apalagi yang Anda inginkan?
Saya ingin membuka anima di masyarakat tentang fashion. Agar kesannya tidak identik dengan glamour saja. Atau untuk kalangan tertentu. Fashion itu milik siapa pun. Bukankah setiap hari kita juga berbusana? Saya tahu, ini masih perlu waktu. Kenyataannya, sudah digratiskan, jarang juga ada yang datang. Padahal nonton fashion show juga bagian dari hiburan. Saya berharap dari Bali TV yang membuat program wanita yang mengulas wanita Bali yang tidak cuma mejejahitan saja, tetapi juga meboreh, loloh, berpakaian dan berhias. Karena, media TV lebih cepat dari media baca. Isinya nanti ada wawancara menjaga penampilan, fashion show, dan sebagainya.

Selama menjalani karier sebagai desainer, ada pengalaman yang mmbuat Anda merasa tersanjung?
Saya senang ada yang memakai desain saya. Beberapa waktu lalu ada orang yang terang-terangan mengatakan bahwa ia melihat desain saya di koran bagus. Kemudian desain saya itu dicontoh. Mengalami kejadian seperti itu, saya tidak merasa payuk nasi saya diambil orang. Tetapi ada arti lain, yakni dengan begitu desain saya bisa mereka contoh. Walaupun busana itu bukan dibuat di tempat saya, saya tidak apa-apa, malah saya merasa senang kerena masyarakat Bali sudah memiliki keinginan untuk tampil agak berbeda. Dengan begitu sudah ada kesadaran untuk berbusana seperti yang saya contohkan. Itu artinya saya sudah berhasil menjadi desainer. Sederhana.

* pewawancara:
oka rusmini
budarsana

BIODATA

Nama : Tjokorda Gde Abinanda Sukawati
Tmp/tgl. lahir : Denpasar, 13 Januari 1968
Istri : Tjokorda Istri Juni Astuti, S.E.
Anak : Tjokorda Gde Pratama Wibawa Sukawati

Pendidikan :
1974 - TK Iskandaria Jakarta
1980 - SD Yayasan Budi Waluyo Jakarta
1983 - SMP Negeri 13 Jakarta
1986 - SMA Negeri 66 Jakarta
1993 - S1 Ekonomi Manajemen Univ. Trisakti Jakarta
1995 - Diploma Fashion Design Cavendish College London

Nama orangtua : Ayah, Dr. Ir. Tjokorda Raka Sukawati
Ibu, Tjokorda Istri Rai Pemayun, B.A.

Prestasi :
The Best Ten Sellected Indonesia Designer by FTV France pada Bali Fashion Week III 2002

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com