Mengusut Asal
Mula dan Pemahaman Desain
Pengenalan seni rupa dan
desain sangat diperlukan terutama bagi para lulusan SMU dan SMK
yang ingin melanjutkan dan menentukan perguruan tinggi mana yang
akan ditempuh. Penjelasan akan pengertian seni rupa dan desain
ini dimaksudkan untuk membuka wawasan para calon mahasiswa.
Demikian pula bagi para perajin dan seniman yang menggeluti seni
rupa atau siapa saja yang ingin tahu asal muasal seni rupa dan
desain.
MASYARAKAT
agraris tradisional di masa lampau tidaklah membedakan antara
seni, ilmu pengetahuan, teknologi dan keagamaan, melainkan lebih
banyak menyatu dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan
keagamaan itu sendiri. Indonesia pada peralihan zaman batu ke
zaman perunggu, dikenal sebagai masa "perundagian" --
yaitu suatu masa "kemahiran teknik" mengolah bahan dan
mengukir logam, dan para ahli ketukangan disebut undagi.
Orang-orang cerdik pandai atau ahli-ahli pada masa lampau di
Indonesia sering pula disebut empu. Pada masa kerajaan Hindu ada
disebut Empu Gandring sebagai ahli pembuat keris, Empu Tantular
sebagai cerdik pandai dengan kitab sastra "Sutasoma",
Empu Prapanca dengan kitab "Negara Kertagama" dan
lain-lain.
Bali yang merupakan bagian
dari wilayah Majapahit pernah memperoleh sekotak wayang dari
Raja Hayam Wuruk yang diterima oleh Raja Gelgel, Dalem Semara
Kepakisan, seusai upacara pensucian roh (srada) dari Rajapatni,
nenek Hayam Wuruk, pada tahun 1362. Tersebutlah nama Raden
Sangging Prabngkara (Putra Brawijaya terakhir) yang telah
melakukan perubahan dan penyempurnaan warna-warna pada pakaian
wayang sesuai dengan martabat ketokohannya, sehingga ahli seni
rupa atau desainer pada zaman Majapahit ini namanya juga dipakai
sebagai gelar atau sebutan untuk para ahli seni rupa atau
perancang desain yakni sangging, sungging, atau prabangkara.
Pengertian seni bagi orang
Jawa adalah kencing atau buang air kecil dan air kencing itu
sering pula disebut sebagai "air seni". Perkataan
"seni" juga untuk menyatakan suatu benda berukuran
kecil, mungil, atau "menjelimet" dan rumit. Orang Jawa
sering pula menyebut suatu produk hasil dari kehalusan jiwa
manusia yang indah-indah dengan istilah kagunan sebagai sesuatu
yang bermanfaat. Sering pula disebut ngrawit, dimana pada
umumnya produk yang dihasilkan memang mempunyai tekanan pada
"halus" atau "rumit" dalam pengerjaannya,
yang umumnya disebut kerajinan atau kriya yang memerlukan
ketrampilan atau keprigelan.
Kata technic atau teknik
yang berasal dari bahasa Yunani techne dipadankan dengan kata
ars (Latin), memiliki makna kecakapan atau ketramilan yang
berguna. Ini merupakan cikal-bakal dari sebutan seni, ilmu
pengetahuan dan teknologi yang ada kemiripannya dengan arti
kagunan.
Sebelum Revolusi Industri
di Eropa, kata ars mencakup disiplin ilmu tata bahasa logika dan
astrologi. Pada abad pertengahan di Eropa terjadi pembedaan
kelompok ars yaitu artes liberates atau kelompok seni tinggi
yang terdiri dari bidang tata bahasa, dialektika, retorika,
aritmatika, geometri, musik dan astronomi. Sementara artes
serviles atau kelompok seni rendah yang mengandalkan tenaga
kasar dan berkonotasi "pertukangan". Dari tujuh bidang
keahlian, hanya musik yang masuk seni tinggi, sedangkan lukis,
patung, arsitektur, pembuatan senjata dan alat-alat transportasi
termasuk katagori seni rendah.
Kemudian Leonardo da Vinci
(1452-1519), pelukis Italia dari masa Renaissance, mempelopori
perjuangan dan berhasil memasukkan atau menaikkan seni lukis ke
dalam status seni tinggi. Sebagai orang yang serba bisa dan
memiliki kemampuan sebagai arsitek dan ilmuwan itu, Leonardo
beragumentasi bahwa melukis juga memerlukan pengetahuan teoritis
seperti matematika, perspektif, dan anatomi, serta mempunyai
tujuan moral seperti puisi lewat penggambaran sikap dan ekspresi
wajah dalam lukisan.
Benturan Seni dan
Industri
Suatu fenomena kemudian terjadi bersamaan dengan Revolusi
Industri di Eropa akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-19, di
mana masyarakat industri yang baru tumbuh menuntut adanya
pembagian kerja dan spesialisasi kerja dalam mengembangkan
proses produksi. Dalam masyarakat industri status seni menjadi
tiga kelompok yaitu seni tinggi (high art), seni menengah
(middle art), dan seni rendah (low art). Kategori ini masih
memperlihatkan kelanjutan tradisi klasik, yaitu semakin tinggi
kedudukan seni apabila semakin dekat atau tinggi tingkat
integrasinya dengan industri. Demikian pula sebaliknya, makin
jauh tingkat hubungannya dengan industri maka makin rendah pula
kedudukan seninya. Pertemuan seni dan industri tersebut
mengakibatkan banyak benturan. Penemuan-penemuan mesin-mesin
produksi massal mendorong kalangan industri untuk mengembangkan
teknik produksi dan hanya menempelkan reproduksi karya-karya
seni klasik yang berstandar pada bentuk produk yang dihasilkan.
Hal ini menimbulkan reaksi keras dan serius dari kalangan
seniman, sebab standariasi dan mekanisasi serta penempelan
begitu saja karya-karya klasik pada produk merupakan ancaman
bagi kelangsungan hidup seni, di samping tidak sesuai bentuk
dengan motif dekorasi yang ditempelkan tersebut.
Sehingga, akhirnya seni
harus memutuskan hubungan dengan ikatan-ikatan seni masa lalu
yang dianggap membelenggu dan membatasi perkembangan seni,
karena tidak ada hubungannya dengan nilai-nilai estetika.
Otonomi seni diharapkan dapat mempertegas dan meningkatkan
standar nilai estetik secara terus-menerus atau berkelanjutan.
Pada akhirnya, seni selalu melahirkan norma yang menjunjung
nilai kebaruan, nilai keaslian dan nilai kreativitas yang lebih
lanjut mendasari pandangan seni modern pada abad ke-19-20.
Ketika seni telah menjadi
komoditi dan tunduk pada hukum permintaan dan penawaran ekonomi,
maka seni dianggap jatuh pada selera massa yang rendah dan seni
itu menjadi seni picisan atau kitsch. Status rendah ini
dikarenakan seni telah kehilangan "roh" atau "jiwa".
Jelaslah kiranya pengertian seni yang sekarang dan sepadan
dengan art adalah datangnya dari Dunia Barat yang terbentuk pada
abad ke-18 sampai abad 20.
Istilah seni rupa di
Indonesia muncul dalam surat-surat kabar untuk pertama kali pada
masa pendudukan Jepang, dalam laporan dan resensi tentang
pameran lukisan. Oleh pemerintah pendudukan, secara resmi
istilah itu dipakai dalam sebutan "bagian seni rupa"
yaitu nama bagian Keimin Bunka Shidosho (Pusat Kebudayaan) yang
berurusan terutama dalam lukis-melukis. Para seniman sebelumnya
tidak begitu populer menggunakan istilah seni atau seniman yang
sepadan dengan art atau artis, tetapi masih mempergunakan
istilah "ahli gambar" pada nama Persatuan Ahli Gambar
Indonesia (Persagi), Balai Pendidikan Universitas Guru Gambar,
dan sebagainya.
Sejumlah
Pengertian soal Seni
Kamus Modern Bahasa Indonesia dari Mohammad Zain yang terbit
sekitar tahun 1950, menerangan bahwa yang masuk seni rupa ialah
seni lukis, seni pahat dan seni patung. Memang hingga kini dalam
pemakaian populer, istilah "seni rupa" sering
digunakan dengan lingkup pengertian yang terbatas pada seni
lukis, dan seni pahat atau seni patung. Namun, pendidikan formal
seni rupa di Indonesia dalam perkembangannya telah memperluas
lingkup pengertian istilah itu. Pendidikan tinggi seni rupa
dapat menyelenggarakan sejumlah keahlian seperti seni grafis
atau desain grafis atau komunikasi visual, desain industri atau
desain produk, desain interior atau arsitektur interior, desain
tekstil, seni keramik, seni lukis, seni patung dan kriya kayu,
logam, kulit, keramik, dan sebagainya.
I Gsuti Bagus Sugriwa
dalam tulisan "Dasar-dasar Kesenian Bali" mengatakan
bahwa seni berasal dari bahasa Sansekerta sani yang berarti
pemujaan, pelayanan, donasi, permintaan atau pencarian yang
jujur. Seni menurut WJS Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa
Indonesia (1976) yaitu suatu karya yang dibuat atau diciptakan
dengan kecapakan yang luar biasa seperti sajak, lukisan, dan
sebagainya. Atau kecakapan menciptakan sesuatu yang elok dan
indah. Sementara difinisi seni menurut Ki Hadjar Dewantara
adalah "segala perbuatan manusia yang timbul dari hidup
perasaannya dan bersifat indah, hingga dapat menggerakkan jiwa
perasaan manusia lainnya". Sedangkan Thomas Munro
mengatakan "seni adalah alat buatan manusia untuk
menimbulkan efek-efek psikologis atas manusia lainnya yang
melihat. Efek tersebut mencakup tanggapan-tanggapan yang berujud
pengamatan, pengenalan imajinasi, rasional maupun emosional".
Lebih lanjut Herbert Read
(1962) mengatakan bahwa lahirnya sebuah karya seni melalui
beberapa tahapan sebagai suatu proses. Tahap pertama, pengamatan
kualitas-kualitas bahan seperti tekstur, warna dan banyak lagi
kualitas fisik lainnya yang sulit untuk didifinisikan. Tahap
kedua, adanya penyusunan hasil dari pengamatan kualitas tadi dan
menatanya menjadi suatu susunan. Tahap ketiga, proses suatu
objektifikasi dari tahapan-tahapan di atas yang berhubungan
dengan keadaan sebelumnya. Keindahan yang berakhir pada tahapan
pertama belum dapat disebut seni, karena seni jauh telah
melangkah ke arah emosi atau perasaan. Seni telah mengarah pada
ungkapan sebagai "pengekspresian" dengan tujuan untuk
komunikasi perasaan.
Berdasarkan uraian di atas
dan pengertian secara umum seni dapat diterjemahkan atau
diinterpretasikan sebagai ungkapan atau ekspresi, bentuk, arti,
simbol, abstrak, indah, guna atau pakai, kepandaian, kepintaran,
kemahiran atau ketangkasan, wakilan (representatif), cantik,
molek, mungil atau kecil, rumit, halus, fungsi, kreasi,
imajinasi, intuisi dan lain sebagainya.
Kembali Menarik
Seni
Revolusi Industri (1745-1770 M) di Eropa kemudian menghasilkan
barang-barang pakai yang menjadi murah dalam mutu maupun ekonomi.
Memasuki suatu masa spesialisasi dan otonomi seni, dimana bidang
teknik dipisahkan dengan bidang seni, seni bukan lagi bagian
penting dalam keteknikan. Kejenuhan akan hasil industri membuat
orang-orang tertentu mulai menolak buatan mesin yang dianggap
kaku dan polos tanpa sentuhan tangan manusia.
Hal inilah yang membuat
para pengusaha dan pemilik modal kembali menarik seni di saat
barang atau produk tidak laku dan menjadi murah. Dalam hal ini,
agar produk terjual atau dapat menarik pembeli, kemudian para
pengusaha atau industriawan membeli seni seperti barang lepas
yang tidak ada hubungannya dengan produksi, kemudian menempelkan
begitu saja pada benda produksinya. Mereka membeli seni dari
berbagai masa seperti zaman klasik Yunani, gaya Neo-clasic, seni
Barok, Rococo dan Renaissance dengan menerapkannya pada produk
industri dengan seenaknya saja. Tindakan yang keliru ini
menunjukkan belum adanya pengertian terhadap persoalan yang
sebenarnya dan beranggapan bahwa seni tidak ada hubungannya
dengan mesin. Saat itu belum disadari bahwa masalah tersebut
dapat diatasi dengan perencanaan bentuk yang akan dihasilkan
mesin yang dikenal sekarang sebagai industrial design atau
desain produk. William Morris (1870) adalah salah seorang yang
mempertanyakan kembali hasil industri, dan menganjurkan untuk
kembali kepada ketrampilan, kriya, atau kerajinan tangan, yaitu
mencari kemungkinan baru dengan memadukan atau mempertemukan
antara fungsi yang praktis dengan seni sebagai unsur keindahan.
Pertemuan antara seni dan industri sebagai "seni tengah"
yang awal kemunculannya disebut sebagai seni industri atau seni
dekoratif atau seni terapan dan pada akhirnya disebut sebagai
desain.
Gerakan "Art &
Craft" (seni dan kerajinan) memberikan nafas baru kepada
barang pakai dengan menekankan pada faktor fungsi dan dekorasi
sesuai dengan metode industri atau sistem pembuatan produk dalam
jumlah banyak. Selain desain juga kriya yang termasuk "seni
tengah" ini memiliki persamaan yang berkaitan dengan proses
penciptaan objek pakai. Sedangkan perbedaannya, desain
menghasilkan rancangan yang berupa gambar-sketsa, foto, diagram,
model, spesifikasi verbal dan numerik, maka kriya hasil akhirnya
adalah benda pakai. Dalam proses desain industri realisasi
produk dilakukan dengan proses manufaktur. Sedangkan kriya,
produk dikerjakan secara tradisional dan manual mulai dari bahan
mentah hingga menjadi produk benda pakai, sebagai tradisi techno
di masa lalu. Muncullah kemudian suatu istilah machine art atau
"seni mesin" yang menunjukkan perlunya unsur seni
diterapkan pada produk yang dihasilkan mesin. Kemudian "seni
industri" terjadi ketika mekanisasi semakin berkembang di
berbagai industri manufacturing. Sistem ini ternyata menuntut
ketrampilan ketukangan dan wawasan industri si seniman dalam
merancang produk. Baru setelah Perang Dunia II, ketika bisnis
modern yang mencanangkan modal, pemasaran dan industrialisasi
melanda Eropa Barat dan Amerika, persaingan tak terelakkan bagi
dan konsekuensinya setiap industriawan atau pengusaha harus
menyusun strategi untuk menjawab dan menjabarkan kebutuhan
konsumen yang beraneka ragam, dari daya beli, latar belakang
sosial-budaya, cita-cita dan tuntutan lainnya.
Terangkatlah kemudian
perancang yang disebut sebagai "desainer" yang
berprofesi menelaah bentuk fisik produk dan memikirkan pula
kelayakan psikologis, fisiologis-ergonomis, sosial, ekonomis,
estetis, fungsi dan teknis. Victor Papanek, seorang pemikir
desain terkenal merumuskan bahwa tujuan desain sebagai "pengubah
lingkungan manusia dan peralatannya, bahkan lebih jauh lagi
mengubah manusia itu sendiri".
Selama perjalanan sejarah
kriya dan desain, dimana teknologi telah diterima dan dipahami
oleh umat manusia serta menjadikan desain sebagai suatu kegiatan
khusus atau tersendiri dari bagian kegiatan industri. Desain
merupakan juga bagian dari proses kerja untuk dapat
merealisasikannya.
Pengertian desain menurut
terminologinya dari bahasa Latin (desionare) atau bahasa Inggris
(design). John Echols (1975) dalam kamusnya mengatakan sebagai
potongan, pola, model, mode, konstruksi, tujuan dan rencana.
Sedangkan Kamus Webster (1974), pengertiannya adalah gagasan
awal, rancangan, perencanaan, pola, susunan, rencana, proyek,
hasil yang tepat, produksi, membuat, mencipta, menyiapkan,
meningkatkan, pikiran, maksud, kejelasan dan seterusnya.
Demikian Webster berfikir jauh lebih luas akan beban makna.
Khusus dalam seni rupa,
desain dapat diartikan sebagai pengorganisasian atau penyusunan
elemen-elemen visual sedemikian rupa menjadi kesatan organik dan
harmoni antara bagian-bagian serta secara keseluruhan. Dalam
proses desain dikenal beberapa prinsip desain sebagai (1)
kesatuan, (2) keseimbangan, (3) perbandingan, (4) tekanan, (5)
irama, dan (6) keselarasan.
* agus mulyadi
utomo
|