kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 12 Desember 2004 tarukan valas
 

KELUARGA


Singa dan Harimau
Tokoh Serakah? (1)

ORANG-ORANG bijaksana zaman dahulu amat pintar membuat dongeng, khususnya fabel yakni cerita tentang binatang. Sebetulnya apa yang diceritakan dalam dongeng itu adalah cerminan kehidupan manusia. Melalui tokoh-tokoh margasatwa yang beraneka bentuk dan warna itu kita mengenal sifat-sifat manusia yang berbeda satu sama lainnya.

Ingat misalnya cerita "Ni Diah Tantri". Kisah antar-binatang yang terjadi dalam hutan itu adalah kisah konflik manusia di muka bumi. Demikianlah sifat cerdik dan licik manusia diumpamakan kera, sifat pengadu domba diumpamakan serigala, dan sifat serakah disamakan dengan singa atau harimau.

Penyamaan sifat itu berdasarkan pengamatan yang cermat. Ambil sebuah contoh seekor singa atau harimau yang disamakan dengan sifat serakah. Tubuhnya besar dan kekar, kukunya tajam, gigi taringnya panjang dan beracun, larinya kencang dan lompatannya tinggi dan jauh. Lihat wajahnya, kalau sedang marah atau berhadapan dengan pesaingnya, amat garang dan menakutkan. Ia mengangkat kepala, memperlihatkan semua giginya yang tajam, memelototkan matanya yang bulat dan menggerakkan cuping telinga dan misinya.

Sifat-sifat margasatwa seperti singa dan harimau itu adalah serakah, mementingkan diri sendiri, suka mengorbankan yang lain, selalu ingin berkuasa, dan sebagainya. Namun tanpa disadarinya, dalam sifat-sifat itu melekat pula sifat-sifat lain yang mungkin akan menjerumuskannya. Bagaimanakah sifat-sifat yang lain itu? Ikutilah sebuah contoh dongeng Melayu berikut ini.

***

Di sebuah hutan tinggal seekor harimau, Ia mengaku menjadi raja hutan, tetapi ia tidak pernah melindungi rakyatnya. Ia selalu memburu hewan-hewan yang lemah, lalu memangsanya. Kalau perutnya lagi kenyang, ia tinggal bermalas-malasan di dalam gua. Kalau perutnya lapar barulah ia meninggalkan istananya. Kijang, kambing, sapi, ya apa saja yang dijumpainya di tengah jalan pasti dimangsanya.

Untuk mengatasi keadaan yang meresahkan seluruh penghuni hutan itu, Kancil yang cerdik merapatkan teman-temannya. Atas kepercayaan satwa seluruh hutan, sang Kancil diutus untuk menghadap ke istana. ''Daulat Tuanku!'' katanya. ''Daripada Tuanku berpayah-payah memburu mangsa, lebih baik kami bergiliran menghaturkan diri kepada Paduka.''

Harimau yang serakah dan gila hormat itu amat senang mendengarkan usul sang Kancil. Ia tinggal tidur-tiduran saja di istana. Toh tiap saat makanan yang enak akan diantarkan kepadanya. Kebetulan giliran pertama jatuh kepada sang Kancil. Dengan tubuh berlumuran lumpur ia menghadap kepada raja.

''Mengapa kau terlambat, Kancil?'' tanya Harimau yang sejak tadi menahan perutnya yang lapar. ''Maaf, Paduka! Di tengah jalan hamba dicegat oleh seekor harimau yang mengaku sebagai raja. Hamba mau disergapnya, tetapi syukurlah, hamba berhasil menyelamatkan diri.''

''Apa katamu? Ada harimau lain yang mengaku sebagai raja?''
''Benar, Paduka! Harimau itu sama besar dan sama kuatnya dengan Tuanku, Ia bersembunyi dalam sumur.'' Tanpa berpikir panjang, sang raja hutan itu mendatangi harimau yang ditunjukkan oleh Kancil. Benar segala yang dikatakan Kancil. Harimau pesaingnya itu bersembunyi di dalam sumur. Ia sangat garang. Tak sedikit pun merasa takut akan tantangan sang raja. Betapa murkanya sang raja. Auuum...! Ia segera terjun, menyambar dan mencakar musuhnya. Tak lama kemudian harimau yang serakah itu mati sendirian di dalam sumur.

***

Ternyata harimau si raja itu menjadi korban oleh sifat-sifat yang seharusnya tidak terdapat pada seorang pemimpin. Sifat apa itu? Serakah, malas, gila puji, bodoh, dan tidak berpikir panjang. Di samping itu, harimau yang berbadan kekar itu tidak pernah melindungi rakyatnya. Itulah sebabnya, ketika satwa-satwa hutan itu mendengar sang raja mati, mereka berpesta pora di sekeliling sumur.

* made taro

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com